Di bawah langit California yang selalu cerah, keluarga Storm adalah simbol kesempurnaan. Namun, di dalam kediaman megah mereka, dua badai yang berbeda sedang bergolak.
Luna Storm adalah anak emas. Cantik, lembut, dan selalu menempati peringkat tiga besar dalam daftar pesona konglomerat kota. Hidupnya adalah rangkaian jadwal ketat antara balet dan piano, sebuah pertunjukan tanpa henti untuk memuaskan ambisi sang ayah. Di balik senyum porselennya, Luna menyimpan rahasia patah hati dari masa SMA dengan Zayn Karl Graciano, satu-satunya lelaki yang pernah membuatnya merasa hidup, namun pergi karena Luna lebih memilih tuntutan keluarga daripada cinta.
Di sisi lain, ada Hera Storm. Kembaran tidak identik Luna yang mewarisi fitur wajah tajam ibunya dan jiwa pemberontak sejati. Hera adalah antitesis dari Luna, ia jomblo sejati, penunggang motor sport, dan lebih suka bergaul di bengkel daripada di aula dansa. Ia bebas, sesuatu yang sangat dicemburui oleh Luna.
.
.
SELAMAT BACA DEAR 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#13
Zayn bangkit lebih dulu. Tanpa banyak bicara, ia memungut pakaian Luna yang berserakan di lantai. Dengan gerakan yang telaten namun terasa ada jarak, ia membantu Luna memakaikan kembali kemejanya.
Jemari Zayn yang dipenuhi tato itu bergerak cekatan mengancingkan pakaian Luna satu per satu, namun matanya tidak lagi menatap langsung ke mata Luna. Tembok es itu seolah sedang dibangun kembali, batu demi batu.
"Aku akan pulang malam ini," bisik Luna, memecah kesunyian. Ia menatap Zayn, berharap pria itu akan menahannya atau setidaknya memintanya tinggal lebih lama.
Zayn hanya mengangguk kecil. Wajahnya kembali datar, seolah kejadian panas beberapa menit lalu hanyalah sebuah jeda dari kenyataan pahit mereka. "Aku akan mengantarmu sampai depan jalan besar. Hera pasti menunggumu," jawabnya dingin.
Luna merasakan sesak itu kembali. Bagaimana bisa Zayn kembali menjadi asing secepat ini? Saat Zayn berbalik untuk mengambil jaket kulitnya, Luna menahan lengan pria itu. Ia mencoba mencairkan suasana dengan sesuatu yang hanya mereka berdua yang tahu.
"Zayn... apa kau tidak ingin menyapa mereka sebelum aku pergi?" tanya Luna dengan senyum tipis yang menggoda sekaligus sedih.
Deg. Zayn tertegun. Langkahnya membeku.
Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat. Ia perlahan menoleh, menatap perut rata Luna yang kini tertutup kemeja putih.
"Menyapa mereka?" Zayn mengulang kata-kata itu dengan suara yang serak.
Itu adalah lelucon rahasia mereka saat SMA. Dulu, setiap kali mereka melakukan hubungan intim dan Zayn melepaskannya di dalam, Zayn selalu menempelkan telinganya ke perut Luna sambil membisikkan kata-kata konyol seperti, "Hei jagoan, jangan nakal di dalam sana, ya," seolah-olah benih yang ia tinggalkan bisa langsung mendengar suaranya. Itu adalah cara Zayn menunjukkan betapa ia memuja setiap inci dari diri Luna dan masa depan yang pernah mereka impikan bersama.
Zayn menatap Luna cukup lama. Matanya yang kelabu tampak bergetar, pertahanannya goyah dihantam memori manis itu. Bayangan tentang keluarga kecil, tentang anak-anak yang memiliki mata tajamnya dan senyum manis Luna, sempat melintas di benaknya.
"Luna..." Zayn berbisik, suaranya kini tidak lagi dingin. Ia melangkah mendekat, tangannya yang besar hampir menyentuh perut Luna, namun ia menariknya kembali dengan ragu.
"Kenapa? Sekarang kau tidak mau pamit?" goda Luna lagi, meski matanya mulai berkaca-kaca. "Bukankah kau selalu bilang mereka harus tahu ayahnya adalah pria paling hebat di California?"
Zayn memejamkan matanya erat. Ia menarik napas panjang, lalu tiba-tiba ia berlutut di depan Luna. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Luna dan menyandarkan keningnya di perut gadis itu. Untuk sejenak, pria tangguh setinggi 188 cm itu tampak begitu rapuh.
"Tumbuhlah dengan baik di sana," bisik Zayn sangat pelan, hampir tidak terdengar. "Jangan biarkan ibumu menangis lagi."
Luna mengusap rambut hitam Zayn, merasakan getaran di tubuh pria itu.
Ada rasa bersalah yang menghujam hatinya Zayn, namun ego pria itu masih terlalu tinggi untuk mengakui bahwa "kekasih di London" itu hanyalah fiktif.
Zayn mengenakan jaket kulitnya kembali, lalu menatap Luna yang sedang merapikan rambutnya dengan tangan gemetar. Wajah Luna tampak kuyu, namun ada semburat ketenangan yang aneh di sana, seolah beban berat yang ia pikul selama dua tahun telah sedikit terangkat, meski ia tahu ia baru saja menyerahkan dirinya pada pria yang "milik orang lain".
"Ayo," bisik Zayn serak. "Aku antar ke depan. Hera pasti sudah menunggumu."
Zayn membimbing Luna berjalan melewati lorong sempit markas yang dipenuhi mesin-mesin tua. Saat mereka sampai di ambang pintu besar markas, angin malam yang dingin menyapu wajah mereka. Di kejauhan, lampu mobil Hera berkedip dua kali, menandakan adiknya sudah bersiap untuk membawa Luna kembali ke sangkar emasnya.
Langkah Zayn terhenti di dekat pagar besi. Ia tidak berani melangkah lebih jauh karena lampu jalanan bisa memperlihatkan wajahnya pada pengawal yang mungkin membuntuti Hera.
Zayn membalikkan tubuh Luna agar menghadapnya. Ia menatap gadis itu lekat-lekat, jemarinya yang kasar mengusap sisa air mata di pipi Luna. "Ingat janjimu, Luna. Ini yang terakhir. Jangan pernah kembali ke sini lagi. Hiduplah sebagai calon dokter yang hebat, lupakan pria jalanan seperti aku."
Luna tersenyum pahit, tangannya menyentuh dada Zayn, tepat di atas tato namanya yang tersembunyi di balik jaket. "Aku akan pergi, Zayn. Semoga kekasihmu di London bisa mencintaimu lebih dari keberanianku."
Zayn hanya terdiam, tenggorokannya tercekat. Saat Luna berbalik dan berjalan menuju mobil Hera, Zayn merasakan dadanya berdenyut hebat. Ia ingin berteriak bahwa tidak ada wanita lain, bahwa hanya nama Luna yang terukir di kulit dan jiwanya. Namun, ia hanya bisa berdiri terpaku di sana, menatap lampu belakang mobil Hera yang perlahan menjauh dan menghilang di kegelapan malam.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰