NovelToon NovelToon
Melati Diantara Lima Cinta

Melati Diantara Lima Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: JulinMeow20

Melati hanyalah gadis desa yang tak pernah bermimpi menjadi pusat dunia. Namun satu langkah ke istana menyeretnya ke dalam permainan cinta, kekuasaan, dan rahasia yang berbahaya.

Lima pria dari lima dunia berbeda datang dengan janji, ambisi, dan perasaan yang tak sederhana. Di balik gaun indah dan perjamuan megah, Melati belajar membaca kebohongan, membangun aliansi, dan melindungi harga dirinya.

Ketika gosip menjadi senjata dan cinta menjadi strategi, Melati harus memilih: bertahan sebagai pion… atau bangkit sebagai pemain yang mengubah sejarah.

Karena di tengah intrik dan perasaan yang rumit, satu kebenaran perlahan muncul — Melati bukan sekadar perempuan yang diperebutkan.
Ia adalah simbol masa depan yang belum ditentukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: JANJI PALSU PANGERAN PRIYAYI

Sungai itu mengalir seperti biasa—tenang di permukaan, membawa lumpur dan rahasia di bawahnya.

Pagi masih muda ketika Melati datang. Kabut tipis menggantung di atas air, membuat dunia terasa seolah belum sepenuhnya bangun. Ia membawa kendi kosong, alasan sederhana yang cukup untuk menjelaskan keberadaannya jika ada yang bertanya.

Namun ia tahu.

Ia tidak datang hanya untuk air.

Sejak kejadian kemarin, desa memandangnya berbeda. Tidak terang-terangan, tetapi terasa. Bisik-bisik yang berhenti saat ia lewat. Tatapan yang antara iba dan takut.

Ia berjongkok di tepi sungai.

Air dingin menyentuh jari-jarinya. Ia menatap bayangannya—wajah yang sama, tetapi hidup yang terasa bergeser.

Langkah kaki terdengar di belakang.

Pelan. Ragu.

Melati tidak menoleh langsung. Hatinya sudah tahu siapa.

“Melati…”

Suara itu lembut. Terlalu lembut untuk dunia yang sedang runtuh di sekitarnya.

Ia menoleh.

Pangeran Aris berdiri beberapa langkah darinya. Pakaian priyayi rapi, tetapi wajahnya tidak setenang biasanya. Ada sesuatu di sana—gelisah yang disembunyikan terlalu lama.

“Kanjeng Pangeran,” kata Melati pelan sambil menunduk.

Aris menghela napas kecil.

“Jangan memanggilku begitu saat kita berdua.”

Melati tidak menjawab.

Jarak di antara mereka bukan soal langkah. Itu soal dunia.

Aris mendekat satu langkah.

“Aku mencari kau sejak kemarin.”

“Ada apa, Tuan?”

Nada Melati sopan. Hati-hati. Seperti seseorang yang sudah belajar bahwa harapan bisa berbahaya.

Aris menatapnya lama. Sungai di belakang mereka mengalir, seolah waktu memberi ruang bagi kata-kata yang sulit keluar.

“Aku mendengar tentang kedatangan ratu,” katanya akhirnya.

Melati mengangguk kecil.

“Aku seharusnya ada di sana.”

Melati menunduk.

“Itu tidak akan mengubah apa pun.”

Jawaban itu membuat Aris terdiam.

Ia duduk di batu tidak jauh dari Melati, sesuatu yang seorang pangeran jarang lakukan tanpa saksi.

“Aku tidak suka cara mereka memperlakukanmu.”

Melati menatap air.

“Tidak perlu disukai. Itu sudah biasa bagi orang seperti kami.”

Kata-kata itu tidak keras. Justru tenang. Dan ketenangan itu membuat Aris semakin gelisah.

“Melati…” suaranya melemah. “Aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi padamu.”

Kalimat itu terdengar seperti janji.

Melati memejamkan mata sesaat.

Janji adalah hal yang paling indah dan paling berbahaya.

“Tuan,” katanya pelan, “Tuan tidak perlu mengatakan itu.”

“Aku perlu.”

Melati menoleh. Untuk pertama kalinya ia melihat Aris bukan sebagai pangeran, tetapi sebagai seorang laki-laki yang tampak… tidak siap.

“Aku bisa melindungimu,” lanjut Aris cepat, seperti takut kehilangan keberanian. “Aku punya pengaruh. Aku bisa bicara dengan orang Belanda. Aku bisa—”

“Tuan sudah dijodohkan.”

Kalimat Melati memotongnya lembut tetapi tepat.

Sunyi.

Kabut di atas sungai perlahan menipis.

Aris mengalihkan pandangannya. Rahangnya menegang.

“Itu urusan keluarga.”

“Itu masa depan Tuan.”

Nama itu tidak disebut, tetapi keduanya tahu.

Gusti Ajeng Sekar.

Perempuan bangsawan. Selevel. Diterima dunia Aris.

Aris mengusap wajahnya pelan. Untuk sesaat, ia terlihat sangat muda.

“Aku tidak memilihnya.”

Melati tersenyum kecil. Bukan senyum bahagia—senyum seseorang yang memahami sesuatu terlalu baik.

“Kami jarang memilih.”

Aris menatapnya, ada rasa bersalah yang nyata.

“Aku bisa menunda pernikahan itu.”

“Dan setelah ditunda?”

Aris tidak langsung menjawab.

Air sungai bergerak pelan, memantulkan cahaya pagi.

“Aris,” Melati berkata sangat pelan, pertama kalinya menyebut namanya tanpa gelar, “Tuan tidak berani melawan orang tua Tuan.”

Kebenaran itu jatuh pelan.

Aris menatap tanah.

“Aku mencoba.”

“Kapan?”

Ia membuka mulut. Menutupnya lagi.

Tidak ada jawaban.

Melati merasakan sesuatu di dadanya retak—bukan karena Aris jahat, tetapi karena ia baik… dan tidak cukup kuat.

“Aku tidak menyalahkan Tuan,” katanya. “Dunia Tuan juga punya aturan.”

Aris menatapnya cepat.

“Dan dunia itu salah.”

“Mungkin,” Melati berkata, “tapi dunia itu tetap ada.”

Aris berdiri, berjalan beberapa langkah, lalu kembali. Gelisah seperti seseorang yang ingin menjadi berani tetapi tidak tahu caranya.

“Aku tidak ingin kau sendirian menghadapi mereka.”

Melati memandang sungai lagi.

“Aku memang sendirian sejak awal.”

Aris menggeleng. “Tidak. Kau punya aku.”

Kalimat itu indah.

Dan kosong.

Melati merasakannya.

“Aku punya Tuan sampai kapan?” tanyanya lembut.

Aris terdiam.

Burung melintas di atas air. Waktu bergerak.

“Aku…” ia berhenti. “Aku akan mencari jalan.”

Melati mengangguk kecil.

Itu bukan jawaban. Itu harapan yang ditunda.

Ia berdiri, mengangkat kendi.

Aris menatapnya, panik kecil muncul di wajahnya.

“Kau tidak percaya padaku?”

Melati menatapnya lama.

Di sana ada kebaikan. Ada keinginan menolong. Ada rasa yang mungkin tulus.

Tetapi juga ada batas.

“Aku percaya Tuan ingin menolong,” katanya.

“Itu berbeda dengan bisa.”

Kata-kata itu lembut, namun Aris terlihat seperti baru saja ditampar kenyataan.

“Aku benci melihatmu bicara seperti kau sudah menyerah,” katanya pelan.

Melati tersenyum tipis.

“Aku tidak menyerah. Aku hanya melihat.”

Angin pagi lewat di antara mereka.

Aris menurunkan suaranya.

“Jika Willem memanggilmu… kau tidak harus pergi.”

Melati menatapnya.

“Lalu?”

“Aku akan mengurusnya.”

Bagaimana? Melati ingin bertanya.

Namun ia sudah tahu jawabannya: Aris tidak tahu.

Ia hanya ingin menjadi seseorang yang bisa menyelamatkan.

“Tuan baik,” kata Melati.

“Tapi kebaikan tidak selalu menang.”

Aris menutup mata sebentar.

“Kau membuatku merasa pengecut.”

Melati langsung menggeleng.

“Tidak. Tuan hanya anak dari keluarga besar.”

Kalimat itu menjelaskan segalanya.

Aris tertawa kecil, pahit.

“Di istana kami diajari kehormatan. Tapi tidak diajari bagaimana melawan keluarga sendiri.”

Melati memegang kendi lebih erat.

“Aku tidak ingin menjadi alasan Tuan kehilangan semuanya.”

“Aku tidak peduli.”

Melati menatapnya tajam untuk pertama kalinya.

“Tuan peduli.”

Sunyi.

Dan Aris tidak membantah.

Itulah jawabannya.

Beberapa saat mereka hanya berdiri, mendengar sungai.

“Aku berharap…” Aris berkata pelan, “kau lahir di dunia yang berbeda.”

Melati tersenyum sedih.

“Aku berharap Tuan lebih berani.”

Keduanya sama-sama berharap sesuatu yang tidak ada.

Aris mendekat satu langkah.

“Apa yang kau rasakan sekarang?”

Pertanyaan itu sederhana. Sulit dijawab.

Melati menatap air.

“Seperti menunggu hujan yang mungkin tidak datang,” katanya.

“Dan tetap harus menanam.”

Aris menelan.

“Aku tidak ingin kau menderita.”

Melati mengangguk.

“Aku juga tidak.”

Ia mulai berjalan pergi.

Aris memanggil, suara lebih rapuh dari sebelumnya.

“Melati… jika suatu hari aku berani… apakah sudah terlambat?”

Melati berhenti.

Tidak menoleh.

Angin menggerakkan ujung kainnya.

“Keberanian selalu datang terlambat bagi seseorang,” katanya pelan.

“Pertanyaannya… apakah orang yang ditunggu masih ada.”

Ia berjalan lagi.

Aris tidak mengejar.

Karena untuk mengejar Melati, ia harus mengejar keputusan yang belum ia buat.

Di rumah, Melati duduk lama setelah kembali.

Ibunya melihat wajahnya dan tidak bertanya. Ada percakapan yang terlalu sunyi untuk dijelaskan.

Malam datang.

Melati kembali ke tikar salat.

Namun kali ini bukan penghinaan ratu yang memenuhi pikirannya.

Melainkan Aris.

Seorang pangeran yang ingin menolong tetapi terikat. Seorang laki-laki yang mungkin mencintai… tetapi tidak cukup bebas.

Ia berzikir pelan.

“Aku rakyat jelata,” bisiknya dalam hati.

“Dan mereka semua punya dunia yang tidak bisa kumasuki.”

Air mata jatuh, tetapi tidak deras.

Lebih seperti hujan tipis yang tahu tanahnya sudah lama kering.

Ia tidak marah pada Aris.

Itulah bagian yang paling menyakitkan.

Karena jika Aris jahat, lebih mudah melupakan. Namun Aris baik—dan tetap tidak bisa menjadi tempat bergantung.

Di luar, malam desa tenang.

Namun di dalam hati Melati, sesuatu berubah: harapan tidak hilang, tetapi ia berhenti menggantungkan pada manusia.

Dan di tepi sungai pagi itu, tanpa disadari Aris, seorang gadis desa telah melepaskan kemungkinan kecil yang dulu ia simpan diam-diam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!