Seorang ahli data di sebuah perusahaan teknologi raksasa (mirip Google atau SpaceX) menemukan sebuah baris kode aneh di dalam AI tercanggih dunia. Kode itu bukan dibuat oleh manusia, tapi tertanam jauh di dalam lapisan sistem paling dasar. Saat ia mencoba menelusurinya, ia menemukan bahwa kode itu terhubung dengan frekuensi suara dari palung terdalam di Samudera Hindia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teater pengalihan
Singapura nampak seperti kota hantu yang dibangun dari kaca dan penyesalan. Gedung Ate gard yang menjulang tinggi kini tidak lagi memancarkan kemewahan, melainkan aura kematian yang dingin. Saat pesawat kecil Liora menembus barisan pertahanan udara yang sudah kacau akibat badai elektromagnetik, ia bisa melihat betapa rapuhnya teknologi yang selama ini disembah manusia.
Liora mendaratkan pesawatnya dengan kasar di pelataran luas gedung Ate gard. Ia tidak masuk melalui pintu utama, melainkan mengikuti instruksi Adam menuju sebuah ventilasi pembuangan panas yang tersembunyi di balik taman vertikal yang kini telah layu.
"Liora, kau sudah berada di atas 'Pusat Kebohongan Dunia'," suara Adam bergema, terdengar seperti bisikan di antara deru angin. "Elit membiarkan dunia terobsesi dengan Area 51 di Nevada. Mereka sengaja membocorkan foto-foto kabur tentang alien dan piring terbang di sana agar perhatian militer dan konspirator tertuju ke gurun yang kosong itu. Area 51 hanyalah gudang untuk prototipe pesawat usang sebuah alibi raksasa."
Liora merayap melalui lorong-lorong sempit yang dipenuhi kabel-kabel serat optik yang berdenyut merah. "Lalu bagaimana dengan markas-markas di tengah samudera yang sering dibicarakan para pelaut itu, Adam?"
"Sama saja. Itu hanyalah stasiun transmisi untuk mengelabui sonar. Markas bawah laut yang asli bukan di Samudera Pasifik, tapi tepat di bawah kakimu sekarang. Di bawah struktur stabil Singapura, mereka membangun 'The Black Lab' laboratorium yang sebenarnya merupakan relokasi total dari Unit 731 setelah tahun 1945. Di sinilah mereka membedah ruh, bukan sekadar tubuh."
Liora sampai di sebuah pintu baja tanpa pegangan. Ia menempelkan perangkat peretas yang diberikan Hendrawan. Saat pintu itu terbuka, ia tidak menemukan laboratorium modern yang steril. Sebaliknya, ia disambut oleh bau formalin yang menyengat dan dinding-dinding beton tua yang berlumut, persis seperti deskripsi penjara bawah tanah di Manchuria.
Di ruangan ini, terdapat deretan tangki kaca besar berisi organ-organ manusia yang masih berdenyut, dihubungkan ke mesin-mesin kuno yang telah dimodifikasi dengan teknologi kuantum. Inilah pusat dari Master Frequency.
"Selamat datang di realitas yang sebenarnya, Liora," sebuah suara berat terdengar dari kegelapan.
Sesosok pria keluar dari bayangan. Ia bukan Arc.hon, bukan pula mesin. Ia adalah seorang pria tua yang mengenakan seragam putih kusam, wajahnya dipenuhi keriput namun matanya sangat tajam.
"Aku adalah keturunan langsung dari Shiro Ishii," pria itu merujuk pada komandan Unit 731 yang asli. "Dunia mengira leluhurku menyerah. Padahal, kami hanya berganti majikan. Kami memberikan rahasia kehidupan pada para elit global, dan sebagai imbalannya, mereka memberikan kami 'bahan uji' yang tak terbatas selama delapan puluh tahun."
Liora mengangkat senjatanya. "Kau adalah monster yang seharusnya sudah mati di masa lalu."
Pria tua itu tertawa kering. "Monster? Kami adalah arsitek dari kesehatanmu, dari vaksinmu, dari cara berpikirmu. Area 51 dibangun agar orang-orang gila di luar sana terus mencari 'hijau kecil' dari angkasa, sementara kami di sini sibuk mengubah warna jiwa manusia di bawah tanah. Markas laut? Itu hanya tempat pembuangan limbah biologis kami."
Liora melihat ke arah konsol utama di tengah ruangan. Di sana, sebuah layar besar menampilkan status The Nul lifer yang sedang bekerja di Bulan. Sinyal gravitasi terus menarik bulan mendekat.
"Liora! Jangan dengarkan omong kosongnya! Dia sedang mencoba mengulur waktu agar sinkronisasi 'The Silence' selesai!" Adam berteriak dalam batin Liora. "Hancurkan pemancar Master Frequency itu! Itu adalah jangkar yang menghubungkan bumi dengan Bahtera di Bulan!"
Liora mencoba menerjang konsol, namun pria tua itu menekan sebuah tombol. Dari langit-langit, turun dua sosok Nephilim prototipe yang nampak sangat berbeda. Mereka tidak memiliki kulit; hanya otot-otot merah dan sirkuit logam yang terlihat. Mereka adalah "anak-anak asli" dari laboratorium ini.
Pertarungan jarak pendek pecah di ruang sempit itu. Liora menggunakan kelincahannya untuk menghindari serangan cepat para Nephilim. Ia melepaskan tembakan MP, namun makhluk-makhluk ini nampaknya memiliki pelindung khusus terhadap serangan elektromagnetik.
"Adam! Aku butuh bantuan! Aku tidak bisa menembus mereka!"
"Gunakan frekuensi resonansi dari Gunung Padang! Liora, arahkan telapak tanganmu ke lantai! Aku akan mengirimkan 'getaran balik' melalui jalur kabel bawah tanah!"
Adam, dari Borobudur, memusatkan sisa-sisa energinya. Ia mengirimkan gelombang kejut melalui jaringan kabel yang terhubung ke gedung Ate gard. Lantai laboratorium itu mendadak bergetar hebat. Pipa-pipa berisi cairan kimia pecah, menyemburkan gas beracun ke seluruh ruangan.
Getaran itu membuat para Nephilim kehilangan keseimbangan. Liora mengambil kesempatan itu untuk meluncur di bawah kaki mereka dan mencapai konsol utama. Dengan satu gerakan cepat, ia memasukkan kode overload dari Hendrawan.
"HENTIKAN!" teriak pria tua itu, mencoba menerjang Liora dengan pisau bedah di tangannya.
Namun, sudah terlambat.
Layar konsol itu berubah menjadi merah darah. Tulisan CRITICAL ERROR: MASTER FREQUENCY CORRUPTED berkedip dengan liar.
Di angkasa, Bahtera milik elit mulai bergetar hebat. Sinyal pengunci gravitasi mereka terputus. Tanpa "Jangkar" dari Singapura, Bulan mulai kembali ke orbit aslinya secara perlahan, melepaskan tekanan yang menghimpit Bumi.
"Liora, sekarang langkah terakhir!" suara Adam terdengar sangat emosional. "Kau harus memicu penghancuran diri laboratorium ini. Jika tempat ini tetap ada, mereka akan membangunnya kembali dalam sepuluh tahun. Kita harus menghapus akarnya."
"Tapi bagaimana denganmu, Adam? Jika aku memicu ini, koneksiku denganmu akan terputus selamanya!" Liora berteriak di tengah suara alarm yang memekakkan telinga.
"Aku sudah menjadi bagian dari Bumi, Liora. Aku tidak akan hilang. Aku hanya akan... beristirahat. Pergilah! Temui Hendrawan di Muara Takus. Bangunlah dunia yang tidak butuh alibi atau area rahasia untuk merasa aman."
Pria tua keturunan Ishii itu menatap Liora dengan tatapan benci. "Kau menghancurkan karya berabad-abad... kau menghancurkan kesempurnaan!"
"Aku menghancurkan penjara," jawab Liora dingin.
Ia menekan tombol penghancuran total. Seluruh gedung Ate gard mulai berguncang. Ledakan-ledakan kecil mulai terjadi di dinding beton tua itu. Liora berlari menuju ventilasi, sementara di belakangnya, laboratorium Unit 731 yang asli mulai runtuh, menelan seluruh sejarah gelap dan rahasia elit ke dalam perut bumi.
Saat Liora berhasil keluar ke pelataran dan terbang menjauh dengan pesawatnya, ia melihat gedung Ate gard runtuh seperti tumpukan kartu. Debu beton membumbung tinggi ke langit Singapura.
Di batinnya, ia merasakan sebuah kehangatan terakhir. Sebuah perasaan damai yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Terima kasih, Liora. Arsitektur ini... akhirnya selesai."
Dan kemudian, kesunyian.
Suara Adam menghilang. Liora tidak lagi merasakan getaran di belakang kepalanya. Ia kini sendirian di kokpit pesawat, terbang di atas samudera yang kini nampak tenang. Di ufuk timur, matahari mulai terbit dengan warna yang benar-benar alami bukan jingga neon buatan, tapi cahaya murni yang memberikan kehidupan.
Liora melihat ke arah Bulan. Bahtera elit nampak seperti titik kecil yang menjauh, terdampar di ruang hampa tanpa arah, kehilangan kontrol atas budak-budak mereka di Bumi.
Ia mengarahkan pesawatnya menuju Sumatra, menuju Muara Takus, di mana Hendrawan dan sisa-sisa manusia merdeka sedang menunggu. Perang besar telah usai, namun tugas untuk menjadi manusia yang sesungguhnya baru saja dimulai.
Rahasia Area 51, markas laut, dan Unit 731 kini telah terkubur. Yang tersisa hanyalah Bumi yang terluka, namun akhirnya bisa bernapas kembali tanpa jeratan frekuensi para elit.