NovelToon NovelToon
Pewaris Terahir Murim

Pewaris Terahir Murim

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Spiritual / Sistem / Cintapertama / Balas Dendam
Popularitas:784
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Berikut sinopsis singkat yang cocok untuk sampul belakang novel atau deskripsi di platform seperti Webnovel/KakaoPage:

**Murim's Last Heir**
**Q Zlatan Ibrahim**

Di puncak kejayaan Klan Pedang Kang, Kang Ha-neul pernah menjadi jenius termuda yang ditakdirkan mengubah sejarah Murim. Namun, satu malam tragis merenggut segalanya: keluarganya dibantai, meridiannya disegel oleh kekuatan misterius, dan ia jatuh menjadi sampah yang diejek bahkan oleh saudara klannya sendiri.

Hingga darahnya menetes ke cincin pusaka ayahnya—dan dari kegelapan muncul Hyeol-geon, Iblis Pedang Berdarah, arwah legendaris yang dikhianati muridnya sendiri ratusan tahun lalu.

Dengan dendam yang membara dan satu-satunya keluarga yang tersisa—adik perempuannya Soo-ah—Ha-neul memulai perjalanan balas dendam yang akan mengguncang seluruh Murim. Dari reruntuhan menjadi pewaris sejati, ia harus membuka segel meridiannya, menguasai jurus-jurus terlarang, dan menghadapi musuh terbesar: Penguasa Sekte Iblis

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: JANJI FAJAR

Ha-neul bermimpi.

Ia berdiri di tengah padang luas yang tak berujung. Rumput-rumput hijau bergoyang tertiup angin sepoi-sepoi. Langit di atasnya biru cerah tanpa secuil awan. Di kejauhan, ia melihat sesosok tubuh berdiri membelakanginya—postur tegap, berjubah hitam, rambut panjang tergerai.

"Ayah?" panggilnya.

Sosok itu berbalik. Bukan wajah ayahnya. Tapi wajah Hyeol-geon, dengan senyum tipis yang sinis.

"Bangun, bocah. Kau bermimpi indah, ya?"

Ha-neul tersentak. Matanya terbuka lebar. Langit-langit gudang yang bocor, bau apek karung goni, dan hawa dingin menusuk tulang menyambutnya. Belum juga ia sempat mengumpulkan kesadaran, suara tua itu kembali terdengar—langsung di dalam kepalanya.

"Jangan melongo. Lihat ke luar. Masih gelap? Syukurlah. Kau tidak kesiangan."

Ha-neul menengok ke jari manisnya. Cincin giok hitam itu masih melingkar di sana, samar-samar bercahaya merah.

"Kau... kau bisa bicara lewat pikiran?"

"Iya. Lebih praktis. Sekarang bangun. Kita punya janji fajar, ingat? Lari keliling gunung."

Ha-neul mengerang pelan. Ia menatap ke luar celah dinding. Langit masih gelap gulita. Mungkin baru jam tiga pagi.

"Masih gelap..."

"Itu justru waktu terbaik. Bangun! Atau kau mau aku cubit dari dalam?"

Ha-neul segera bangkit. Ia tidak tahu apakah arwah bisa mencubit dari dalam cincin, tapi ia tidak mau ambil risiko. Dengan hati-hati, ia bangun dan melirik ke pojok ruangan. Soo-ah masih tidur dengan posisi meringkuk, napasnya terdengar teratur.

Ha-neul meraih baju tambalannya, mengenakannya pelan-pelan agar tidak berisik. Lalu ia melangkah ke pintu, membukannya dengan hati-hati.

Udara dingin langsung menyergap wajahnya. Kabut tipis menyelimuti pekarangan belakang, membuat segalanya tampak abu-abu dan misterius. Ha-neul menggigil, menggosok-gosok lengannya.

"Kenapa berhenti? Lari!" perintah Hyeol-geon.

"Tunggu... aku belum pemanasan."

"Lari adalah pemanasan! Dasar anak muda sekarang, banyak teori. Jaman dulu, murid-muridku langsung lari tanpa banyak bicara. Kalau ada yang protes, kuajari dengan ujung pedang."

Ha-neul menghela napas. Ia mulai berlari kecil, meninggalkan gudang menuju jalan setapak di belakang kompleks. Jalan ini jarang dilewati, menanjak, dan penuh batu kerikil. Dulu, saat masih kecil, ia sering berlari di sini bersama ayahnya.

"Lari lebih cepat. Jalan santai begitu namanya jalan pagi, bukan latihan."

Ha-neul memacu langkahnya. Napasnya mulai memburu. Tubuhnya yang tiga tahun jarang bergerak berat langsung protes. Otot-otot pahanya terasa seperti diiris sembilu.

"Kiri... kanan... kiri... kanan... jaga ritme. Jangan mikirin sakit. Sakit itu cuma perasaan."

"Kau... bisa... diam... tidak?" desis Ha-neul di antara napas.

"Bisa. Tapi nanti kau lari sampai matahari terbit sendirian, dan aku cuma nonton."

Ha-neul memilih diam dan terus berlari. Kabut mulai menipis seiring ia meninggalkan kompleks klan. Pepohonan pinus menjulang di kiri-kanan, sesekali daun-daun basah meneteskan air embun ke rambutnya.

Setelah satu putaran—yang terasa seperti seratus kilometer—Ha-neul berhenti di sebuah tanah lapang kecil di lereng gunung. Ia membungkuk, memegangi lutut, terengah-engah.

"Ka-kapan... tiga puturan... selesai?" tanyanya putus asa.

"Itu baru setengah putaran pertama."

"Apa?!"

"Heh, bercanda. Kau sudah hampir dua putaran. Lumayan untuk pemula."

Ha-neul ingin memaki, tapi tidak punya energi. Ia menjatuhkan diri ke rerumputan basah, membiarkan dadanya naik turun mengambil oksigen sebanyak mungkin.

Hyeol-geon muncul di sampingnya—hanya samar, hampir tak terlihat di bawah cahaya fajar yang mulai merekah. Ia duduk bersila di udara, menatap Ha-neul dengan sorot menilai.

"Kondisimu parah, bocah. Otot-otot atrofi, stamina payah, dan meridianmu... ya ampun, seperti sungai yang dibendung sampah."

Ha-neul hanya menggerutu pasrah.

"Tapi kau punya kemauan. Itu yang penting. Teknik bisa dipelajari, otot bisa dibentuk, meridian bisa dibuka. Tapi kemauan... itu bawaan lahir. Ayahmu mewariskan itu padamu."

Sebutan tentang ayah membuat Ha-neul terdiam. Ia menatap langit yang perlahan berubah jingga.

"Ayah... apa ayah tahu kau ada di cincin ini?"

"Tidak. Seperti yang kubilang, enam generasi keluargamu tidak ada yang bisa membangunkanku. Mereka semua terlalu... stabil. Hidup nyaman, mati tenang. Tidak ada keputusasaan sepertimu."

"Jadi aku harus bersyukur karena menderita?"

"Bukan bersyukur. Tapi terima. Penderitaanmu adalah alat. Bukan musuh." Hyeol-geon menatapnya tajam. "Ingat itu. Suatu hari nanti, saat kau sudah kuat, kau akan lihat bahwa semua rasa sakit ini adalah bahan bakar. Tanpanya, kau hanya akan jadi murid biasa."

Ha-neul merenung. Kata-kata itu masuk ke dalam hatinya, menyentuh sesuatu yang selama ini terpendam.

"Guru," panggilnya.

Hyeol-geon mengangkat alis. "Oh? Sudah memanggil guru?"

"Aku mau mulai. Ajari aku."

Arwah tua itu tersenyum. Bukan senyum sinis seperti biasanya, tapi senyum hangat—seorang guru yang akhirnya mendapatkan murid yang serius.

"Baik. Tapi sebelum itu, kau harus tahu bahwa teknik yang akan kuajarkan padamu... bukan teknik klan biasa. Ini adalah Iblis Pedang Seratus Bayangan, jurus pamungkas yang dulu membuat seluruh Murim gempar."

"Iblis Pedang?"

"Iya. Aku tidak mengajarkan teknik suci atau terhormat. Yang kuajarkan adalah teknik membunuh. Efisien, mematikan, dan kejam. Kau keberatan?"

Ha-neul menggeleng. "Aku sudah jadi sampah di mata mereka. Menjadi iblis pun tidak akan mengubah apa pun."

"Bagus. Tapi ingat satu hal: pedang iblis tidak berarti kau harus jadi iblis. Kau yang mengendalikan pedang, bukan pedang yang mengendalikan kau. Paham?"

"Paham."

"Sekarang, bangun. Lanjutkan putaran ketiga. Nanti setelah lari, kau akan mulai latihan dasar pedang. Dan jangan harap pakai pedang beneran. Pedang kayu dulu."

Ha-neul bangkit, meski seluruh tubuhnya terasa remuk. Ia mulai berlari lagi, kali ini dengan semangat yang sedikit berbeda.

Matahari mulai naik di ufuk timur. Sinar keemasan menembus kabut, menyinari punggung Ha-neul yang berlari di lereng gunung. Dari kejauhan, jika ada yang memperhatikan, mereka mungkin akan melihat pemuda kurus berpakaian lusuh yang berlari dengan tekad di matanya.

Dan di sampingnya, samar-samar seperti bayangan, sesosok arwah tua tersenyum bangga.

---

Dua jam kemudian, Ha-neul kembali ke gudang dengan tubuh hampir ambruk. Ia baru saja menyelesaikan tiga putaran penuh—prestasi yang bahkan ia sendiri tidak percaya bisa dilakukan. Kini ia duduk bersandar di dinding kayu, memijit betisnya yang kram.

Soo-ah sudah bangun. Ia sedang memasak bubur sederhana di tungku kecil di sudut ruangan. Aroma hangat menguar, membuat perut Ha-neul keroncongan.

"Kang Oppa, dari mana saja? Aku bangun sudah tidak lihat Oppa." Soo-ah bertanya sambil mengaduk bubur.

"Jalan pagi. Udara bagus."

Soo-ah menatapnya curiga. "Jalan pagi sampai baju basah kuyup? Dan rambut Oppa kena embun?"

Ha-neul tersenyum canggung. Untungnya Soo-ah tidak bertanya lebih lanjut. Adiknya hanya menghela napas, lalu mengambil mangkuk tanah liat dan mengisi dengan bubur.

"Ini. Makan. Oppa pasti lapar."

Ha-neul menerima mangkuk itu dengan tangan sedikit gemetar—efek lari terlalu keras. Ia meniup bubur panas itu perlahan, lalu menyendoknya ke mulut.

Hangat. Gurih. Dan penuh kasih sayang.

Ia menatap Soo-ah yang sedang menyendok bubur untuk dirinya sendiri. Adiknya ini tidak tahu apa-apa. Tidak tahu tentang cincin. Tidak tahu tentang segel. Tidak tahu tentang rencana besar yang mulai ia susun.

Dan untuk sekarang, lebih baik begitu.

"Soo-ah," panggilnya tiba-tiba.

"Eh?"

"Terima kasih."

Soo-ah menatapnya bingung. "Untuk apa?"

"Untuk... tetap di sini. Untuk tidak pergi meninggalkan Oppa."

Gadis itu tersenyum lebar. Senyum yang sama seperti saat mereka kecil dulu, sebelum semua ini terjadi.

"Oppa bilang apa, sih? Soo-ah nggak akan pergi kemana-mana. Oppa satu-satunya keluarga yang Soo-ah punya. Sampai kapan pun."

Ha-neul menunduk, menatap bubur di tangannya. Matanya terasa perih, tapi ia tahan.

Di jarinya, cincin giok hitam berkilau samar, seperti setuju dengan perkataan Soo-ah.

"Adikmu baik, Ha-neul." suara Hyeol-geon terdengar di kepalanya. "Jagalah dia. Karena suatu hari nanti, saat kau mulai naik ke puncak Murim, orang-orang mungkin akan mencoba menyakitinya untuk melukaimu."

Ha-neul menggigit bibir bawahnya.

"Tapi jangan khawatir. Aku akan membantumu menjadi cukup kuat untuk melindunginya. Itu janjiku padamu, muridku."

Ha-neul tersenyum tipis. Dalam hati, ia membalas.

Terima kasih, Guru.

Di luar, matahari semakin tinggi. Hari baru telah dimulai.

Dan Kang Ha-neul, sampah Klan Pedang Kang, perlahan-lahan mulai bangkit.

1
Riska Purwati
👍👍👍👍👍👍
maklie_
aku mampir 💪
Asepsolih Sutarman
ceritanya seru, suka banget.....top markotop
Asepsolih Sutarman
makin seru ceritanya...👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!