NovelToon NovelToon
Universe Network

Universe Network

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Zombie / Fantasi
Popularitas:638
Nilai: 5
Nama Author: Candra S

Beberapa bulan setelah Leon lulus dari SMA, gurunya menawarkan Leon untuk bekerja di villa sang guru. Setahun setelah itu, Leon berhasil menembus tahap pemurnian qi level satu, dan secara resmi dijadikan murid oleh sang guru. Pada malam peresmian murid, gurunya memberikan sebuah bola hitam misterius kepada Leon. Keesokan harinya, kehidupan Leon mulai berubah secara drastis!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Candra S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Memulihkan Mata Joe

Robenyo hanya ingin memastikan asumsi pribadinya. Namun, dia terkejut ketika melihat bukan pemuda dihadapannya yang mengerutkan wajah terlebih dahulu, melainkan kepala bodyguardnya!

"Hohohoho, jadi kamu dari sisi itu. Baik Joe, sudah cukup."

Joe menarik tangannya kembali, yang dilepaskan Leon dengan mudah. Tentu Leon hanya menunjukkan sedikit kemampuannya dihadapan Joe. Berdasarkan perbandingan, Leon berpikir bahwa Frank, seorang pria yang pernah beradu panco dengannya, sedikit lebih kuat daripada Joe ini.

"Orang-orang dari sisi itu jarang menampakkan diri dalam masyarakat. Saya minta maaf karena sudah mencoba membuktikannya secara diam-diam."

"Tidak apa-apa. Guruku tidak memberikan larangan apapun terhadapku."

Melihat seorang pria yang lebih tua darinya menundukkan kepala dengan tulus, Leon langsung memaafkan perbuatan semena-mena yang baru saja terjadi.

"Karena sudah waktunya makan siang, bagaimana jika kita mencari tempat yang lebih nyaman?"

"Tentu. Tapi saya bersama dengan adik perempuan saya dan temannya. Keduanya tidak mengetahui perihal emas ataupun sisi itu."

"Saya mengerti."

Setelah menuruni panggung, Leon berjalan ke arah Wilona dan Elisa.

"Kakak, apa yang kakak bicarakan dengan pak Robenyo?"

"Aku membahas sebuah bisnis dengannya."

"Bisnis?"

Wilona memiringkan kepala dengan bingung.

"Tidak perlu banyak bertanya. Pak Robenyo mengundang kita untuk makan siang. Ayo kita pergi."

"Benarkah? Kakak tidak berbohong?"

"Kapan kakakmu pernah berbohong padamu?"

"Dulu waktu kecil kakak sering.... Aduh!"

Leon mengetuk ringan kepala Wilona.

Robenyo dan rombongannya membawa tiga buah mobil. Mobil pertama berisi. Seorang supir, asisten Robenyo yang merupakan seorang wanita, dan Wilona serta Elisa yang duduk di bangku tengah.

Mobil kedua berisi empat orang. Selain supir, Joe berada di kursi depan. Kemudian Robenyo dan Leon duduk dibelakang mereka.

Yang terakhir seharusnya berisikan empat pengawal Robenyo. Namun dikarenakan dua diantaranya membawa motor Leon dan Wilona, mobil ketiga hanya berisi dua orang.

"Aku baru mengetahui tentang sisi lain setelah bertemu dengan Joe. Sebelumnya, dia merupakan seorang tentara bayaran di timur tengah."

Robenyo dan Leon mulai berbincang-bincang di dalam mobil.

"Kenapa kamu pulang ke Indonesia Joe?"

"Saya menerima cedera permanen pak Leon. Ketika saya sedang bekerja, saya tertangkap oleh musuh dan diinterogasi. Hasilnya mata kiri saya hilang."

Bagian mata Joe sudah diisi dengan bola mata palsu. Juga, Joe selalu menggunakan kacamata hitam, termasuk ketika bertemu dengan Leon sebelumnya. Karena itulah Leon tidak menyadari bahwa Joe mengalami cacat permanen pada matanya.

Karena mereka akan saling terkait, Leon ingin mengetes sedikit dari kepribadian Robenyo ini.

"Hmmm.... Kebetulan aku memiliki sesuatu yang dapat meregenerasi anggota tubuh. Namun saat ini aku hanya punya dua."

"Be-benarkah Leon? Kalau begitu tolong berikan satu kepada Joe. Saya akan membelinya berapapun harga yang kamu minta!"

Robenyo langsung memohon atas nama Joe. Joe telah bekerja untuknya selama sepuluh tahun. Dia merupakan bawahan yang cakap dan bertanggung jawab. Selain itu, Joe merupakan satu-satunya kultivator diantara para pengawal Robenyo!

"Barang ini tidak bernilai uang pak Robenyo. Sebagai orang yang mengetahui sisi lain, anda seharusnya tahu hal ini dengan baik."

Robenyo mengangguk. Bahkan selama bertahun-tahun, dia belum pernah mendengar sesuatu yang dapat meregenerasi anggota tubuh.

"Lalu apa yang kamu inginkan?"

"Biarkan aku berpikir. Hmmm.... Bagaimana dengan ini, cukup tanamkan dalam diri pak Robenyo bahwa saya pernah memberikan sesuatu yang tidak ternilai harganya."

Hutang budi seorang pengusaha besar seperti Robenyo jauh lebih besar dibandingkan uang. Selain itu, ramuan pemulihan penuh memang sangat mahal. Itu merupakan item termahal yang pernah dibeli Leon selama ini.

"Kalau begitu saya berjanji."

"Baiklah, ini dia."

Leon mengeluarkan sebuah tabung kaca 100 mililiter berisi cairan biru. Sebelum memberikannya kepada Joe, Leon menjelaskan.

"Ramuan ini dapat memulihkan semua kerusakan tubuh. Bahkan cacat permanen yang sudah lama terjadi. Tapi ada satu kekurangan."

"Apa itu?"

"Apa itu pak Leon?"

Robenyo dan Joe cukup cemas mendengar terdapat sebuah kekurangan.

"Joe, apakah kamu memiliki bekas luka yang menjadi tanda pengingat atau medali dan lainnya?"

"Hahahaha, aku bukanlah orang seperti itu pak Leon."

Robenyo juga memahami maksud tujuan kalimat tersebut dan tertawa bersama.

"Kalau begitu tidak ada masalah sama sekali. Apakah kamu bisa melepaskan bola mata palsu itu sekarang?"

"Yah, itu cukup sulit."

Robenyo kemudian masuk ke dalam percakapan.

"Kalau begitu beritahu mobil lain untuk menepi sementara."

"Baik pak Robenyo."

Leon tidak menawarkan ramuan pemulihan penuh tanpa alasan. Karena dia belum pernah melihat efeknya, Leon ingin melihat bagaimana pemulihan itu bekerja secara langsung.

Setelah mobil menepi, Joe dengan hati-hati mengeluarkan bola mata palsunya. Diperhatikan secara seksama oleh supir, Robenyo, dan Leon, membuat Joe cukup gugup untuk meminum ramuan tersebut.

"Apakah ini benar-benar akan berhasil?"

"Saya belum pernah mencobanya. Karena saya kebetulan punya dua, dan ada Joe sebagai kelinci percobaan, makanya saya bersedia memberikan ramuan itu."

Robenyo tertawa kecil. Joe bahkan hampir menangis mendengar percakapan Leon dan bosnya.

"Baiklah, saya akan mulai meminumnya."

Sesaat setelah Joe meminum ramuan, cahaya biru berpendar disekitar Joe. Gumpalan daging aneh bergerak-gerak di dalam rongga mata Joe dan mulai berkumpul membentuk sebuah bola mata.

Hanya dalam waktu yang singkat, bola mata Joe telah kembali pulih. Namun pendaran cahaya biru masih bertahan. Setelah sepuluh detik sejak Joe meminum ramuan, cahaya yang berpendar akhirnya menghilang secara perlahan.

"Bagaimana Joe?"

Nada kekhawatiran terdengar dalam suara Robenyo.

"Aku benar-benar dapat melihat dengan mata kiriku lagi pak. Terimakasih pak Robenyo, saya akan mengabdikan hidup saya kepada bapak. Juga, terimakasih pak Leon, saya akan mengingat hutang ini untuk selamanya."

Semua orang di dalam mobil itu menawarkan kata-kata selamat kepada Joe. Dengan ini, akhirnya Leon benar-benar yakin dengan efek ramuan pemulihan.

Rombongan itu tiba di sebuah hotel bintang lima. Robenyo memiliki beberapa bagian di dalamnya. Jadi, Robenyo ingin menunjukkan yang terbaik kepada Leon demi hubungan mereka ke depannya.

Hotel ini berdampingan dengan dua gedung lain, yang berada di dalam satu lokasi area. Di bagian pucuk tiga gedung tersebut, terdapat bangunan menyerupai kapal pesiar yang saling menghubungkan ketiga gedung.

"Apa kamu mau makan di tempat terbuka? Atau lebih baik kita memesan sebuah ruangan?"

Robenyo menanyakan pendapat Leon. Karena Leon tidak memiliki masalah dengan keduanya, Leon lebih baik meminta apa yang para gadis inginkan. Dia berbalik dan bertanya kepada Wilona dan Elisa sambil menunjuk ke arah bangunan berbentuk kapal di atas gedung.

"Bagaimana dengan kalian? Ingin makan di atas sana atau memesan sebuah ruangan?"

"Aku ingin makan di sana!"

"Mmm, aku juga."

Meskipun keduanya tidak mengerti mengapa Robenyo terlihat sangat sopan bahkan menanyakan pendapat Leon, keduanya merasa terpesona dengan pemandangan kapal di atas tiga gedung itu.

"Hohohoho, kalau begitu kita akan makan di bagian paling atas."

Restoran tidak hanya berada di bagian terbuka di atas kapal. Namun untuk memesan tempat tersebut, dibutuhkan uang ekstra yang cukup banyak. Tapi itu semua tidak berlaku dengan kehadiran Robenyo yang memiliki bagian besar saham di tempat ini.

"Apa kamu ingin memesan minuman Leon?"

"Tentu pak Robenyo. Apa yang kamu rekomendasikan?"

"Hohohoho, baiklah, baiklah mari kita lihat...."

Wilona memutar matanya. Dia bingung bagaimana keduanya dapat menjadi akrab dengan cukup cepat.

Setelah melihat-lihat menu, Robenyo dan Joe memesan steak, Wilona memesan gratin udang, Elisa memesan ikan bakar dengan sayuran, dan asisten Robenyo memesan pot-au-feu. Disisi lain, Leon memesan dari halaman masakan cina yaitu udang karang pedas.

"Selera makanmu benar-benar hebat Leon."

"Ini karena benar-benar enak."

Robert tertawa melihat Leon mengabaikan tatapan dari meja lain. Leon mengupas udang besar itu dengan tangannya sebelum mencocol saus pedas. Rasa daging udang yang diselimuti kepedasan saus memenuhi mulutnya.

"Kakak, kita berada di restoran mewah!"

"Siapa peduli? Kita bisa datang kemari kapan saja asalkan membayar. Tidak ada yang melarang bukan?"

"Hahahaha, benar, benar... Nanti aku akan mengirimkan kontak manager kepadamu Leon. Jadi kamu bisa datang ke tempat ini kapan saja membawa adik dan pacarmu."

Setelah menghabiskan hidangan, Robenyo memesan makanan manis untuk para gadis. Meja itu kemudian dipenuhi parfait cokelat, mille-feuille, matcha, fondant, dan es krim.

Kemudian Robenyo dan Leon meninggalkan Wilona dan Elisa di meja. Karena mereka ditemani oleh Joe dan asisten Robenyo, Leon tidak perlu khawatir meninggalkan keduanya di sana untuk sementara.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!