NovelToon NovelToon
Bangkitnya Tuan Muda Cacat

Bangkitnya Tuan Muda Cacat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Fantasi Timur
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mukaram Umamit

Di dunia di mana kekuatan energi adalah segalanya, Zian lahir sebagai lelucon. Saluran energinya cacat total. Meski berstatus sebagai pewaris Keluarga Zian, semua orang di kota diam-diam memanggilnya "Tuan Muda Sampah".

Puncak kehinaannya terjadi di siang bolong. Tunangannya yang merupakan jenius dari Sekte Bintang Es datang membatalkan perjodohan secara sepihak. Saat Zian menolak harga diri keluarganya diinjak-injak, pengawal sang tunangan menghajarnya sampai nyaris mati, mematahkan tulang-tulangnya di depan tatapan meremehkan semua orang.

"Kodok bopeng tidak pantas memakan daging angsa," cibir mereka.

Namun, mereka tidak tahu bahwa darah Zian yang menetes di altar kuil malam itu justru membangunkan sesuatu yang sudah lama tertidur. Sebuah kekuatan kuno dari leluhur pertamanya: Warisan Tulang Asura.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mukaram Umamit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Neraka Penempaan Tulang

BUMMM!!!

Ledakan udara memekakkan telinga merobek seisi arena bawah tanah. Tinju kiri Zian menghantam tepat di tengah dahi berlapis baja milik Gorgon Hitam.

Gelombang sonik dari pukulan itu meledak ke segala arah. Angin padat yang tercipta membelah lahar racun ungu sang monster menjadi dua bagian, mementalkannya ke dinding arena hingga melelehkan bebatuan tebal.

KRAAAAK!

Bunyi patahan tulang raksasa terdengar sangat mengerikan. Sisik baja di kepala Gorgon Hitam hancur berkeping-keping. Tenaga murni dari Tulang Asura Zian menembus lurus ke dalam tengkorak monster itu, meremukkan otaknya dalam sekejap mata.

Tubuh raksasa Gorgon Hitam menegang kaku di udara. Mata kuningnya langsung kehilangan cahaya kehidupan.

Brak!

Monster mutasi tingkat Raja Puncak itu jatuh terhempas ke atas pasir berdarah. Tanah arena bergetar hebat. Monster itu mati seketika tanpa sempat mengeluarkan suara rintihan.

Keheningan total menyelimuti seluruh arena.

Ribuan penonton yang tadinya bersorak liar kini mematung dengan mulut terbuka lebar. Mereka tidak berani bernapas. Mata mereka menatap ngeri pada pemuda berbaju hitam yang kini berdiri santai di atas bangkai monster raksasa tersebut.

"M-mustahil..." gumam seorang kultivator bayaran dengan tubuh gemetar.

"Dia membunuh Gorgon Hitam? Hanya dengan satu tangan kiri? Dan tanpa energi sihir sedikit pun?!" teriak penonton lain memecah keheningan.

Kepanikan dan rasa takjub meledak serentak di bangku penonton. Mereka baru saja menyaksikan monster yang membantai puluhan elit mati seperti serangga di tangan seorang pemuda yang terlihat cacat.

Zian tidak mempedulikan teriakan mereka. Dia membungkuk dan merenggut salah satu tanduk tajam dari kepala Gorgon Hitam dengan tangan kirinya.

Zian mendongak menatap tribun VIP yang terbuat dari obsidian. Xyros berdiri mematung di sana. Wajah pria bermata satu itu kehilangan seluruh warnanya, dipenuhi keringat dingin ketakutan.

Wush!

Zian melemparkan tanduk raksasa itu ke atas. Tanduk tajam itu menancap keras di dinding obsidian, tepat di sebelah kepala Xyros.

"Waktuku tidak banyak," panggil Zian dengan suara sedingin es yang menggema ke seluruh arena.

"Turunkan seribu koin kristal darahku sekarang juga, Xyros."

Xyros menelan ludah dengan susah payah. Kakinya bergetar. Dia tidak berani menatap mata Zian terlalu lama. Niat membunuh pemuda itu terlalu pekat, bahkan melampaui monster purba.

"C-cepat berikan hadiahnya!" bentak Xyros panik kepada anak buahnya. "Lempar kantong koinnya ke bawah!"

Sebuah kantong kulit berukuran besar jatuh dari tribun dan mendarat di atas pasir. Zian melangkah maju, memungut kantong berat berisi Koin Kristal Darah itu dengan tangan kirinya, lalu berbalik pergi meninggalkan arena.

Tidak ada satu pun penjaga atau preman yang berani menghalangi langkahnya.

Di sebuah gang gelap dan kumuh di belakang bangunan arena, Bai Chen berdiri menopang tubuh Jian yang masih pingsan.

Langkah kaki yang berat terdengar mendekat. Zian muncul dari balik bayangan dan melemparkan kantong kulit berisi koin kristal itu tepat ke dada Bai Chen.

"Beli obat tingkat tinggi yang kau bicarakan tadi," perintah Zian singkat.

Zian menyandarkan punggungnya ke dinding batu bata basah. Dia melirik lengan kanannya yang masih hancur berantakan dan meneteskan darah.

"Waktunya memperbaiki tangan rongsokan ini."

Bai Chen membuka kantong kulit itu. Matanya berbinar melihat ribuan koin kristal yang memancarkan cahaya merah. Dia tersenyum lebar dan segera membuka kipas peraknya.

"Tunggu di sini. Aku tahu pasar gelap terbaik di Kota Baja. Aku akan mencari obat yang bisa membangunkan sel tulang matimu," jawab Bai Chen cepat.

Utusan Fraksi Langit itu langsung melesat pergi menggunakan sisa sihir anginnya, meninggalkan Zian berdua dengan Jian yang terkapar di tanah kotor.

Zian memejamkan mata, mengatur napasnya perlahan. Pertarungan tadi membuat darah di tubuhnya mendidih. Dia harus menjaga suhu tubuhnya agar Tulang Asuranya tidak memakan energi ototnya sendiri.

Hanya butuh waktu setengah jam sebelum Bai Chen kembali. Utusan itu membawa sebuah botol kaca hitam berukuran kecil. Asap merah tipis mengepul dari sela-sela tutup botol tersebut, memancarkan hawa panas yang luar biasa menyengat.

"Kita harus mencari tempat tertutup," kata Bai Chen serius. "Obat ini bernama Sari Tulang Naga Bumi."

"Ayo bergerak," balas Zian tanpa banyak tanya.

Bai Chen menyewa sebuah ruang bawah tanah sempit dan kedap suara di penginapan kumuh terdekat. Ruangan itu hanya diterangi satu lilin redup, bau apek menyengat hidung. Zian membaringkan Jian di sudut ruangan, lalu duduk bersila di tengah lantai batu.

Bai Chen meletakkan botol kaca hitam itu di depan Zian.

"Aku harus memperingatkanmu, Zian," Bai Chen menatap mata pemuda itu lekat-lekat. "Sari Tulang Naga Bumi bukan obat penyembuh biasa. Ini cairan penempa fisik paling buas di Benua Tengah."

"Bicara langsung ke intinya," potong Zian.

"Obat ini akan menghancurkan seluruh sisa tulangmu yang retak terlebih dahulu. Setelah hancur menjadi debu, obat ini baru akan memaksa tulangmu menyatu kembali menjadi lebih padat. Rasa sakitnya sebanding dengan merebus tanganmu hidup-hidup di dalam kawah lahar," jelas Bai Chen.

Zian menatap botol hitam itu. Ujung bibirnya perlahan tertarik ke atas, membentuk senyum buas yang sangat menakutkan.

"Sempurna," jawab Zian. "Itu persis yang aku butuhkan."

Zian mengambil botol kaca itu dengan tangan kirinya. Dia membuka perban darurat yang melilit lengan kanannya. Dagingnya robek lebar, memperlihatkan tulang lengannya yang retak parah akibat menahan serangan Kaisar Kuno tadi siang.

Tanpa ragu sedikit pun, Zian menumpahkan cairan merah mendidih itu langsung ke atas luka terbukanya.

CSSSS!!!

Suara daging terbakar terdengar sangat nyaring. Uap tebal berwarna merah darah langsung meledak menutupi lengan kanan Zian.

"Urrrgh!" Zian mengerang tertahan.

Pemuda itu langsung menggigit kerah bajunya sendiri kuat-kuat. Urat-urat di leher dan pelipisnya menonjol tebal seolah mau pecah. Matanya membelalak lebar, memancarkan kilat merah segelap darah.

Rasa sakitnya benar-benar di luar akal sehat manusia. Cairan panas itu meresap langsung ke dalam sumsum tulangnya, membakar sarafnya tanpa ampun.

"Bagus, Bocah! Nikmati rasa sakitnya!" suara tawa serak Leluhur Asura tiba-tiba menggema keras di dalam kepala Zian.

"Ini baru penempaan yang sesungguhnya! Cairan naga rendahan ini cukup bagus untuk memanaskan sumsum Asura milikmu. Jangan melawan rasa sakitnya! Tarik semua panas itu ke dalam tulangmu!" teriak sang leluhur penuh antusias.

KRAK! KRAAAK!

Bunyi tulang patah dan remuk terdengar beruntun dari dalam lengan kanan Zian. Tulangnya benar-benar hancur menjadi serpihan kecil di bawah reaksi obat keras tersebut. Zian menggigit bajunya semakin keras hingga darah mengucur dari gusinya. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya dalam hitungan detik.

Bai Chen mundur beberapa langkah hingga punggungnya menempel ke dinding. Utusan itu menatap Zian dengan rasa ngeri yang mendalam.

"Orang biasa pasti sudah mati syok karena rasa sakit ini," gumam Bai Chen tidak percaya. "Tapi dia bahkan tidak berteriak."

Lantai batu di bawah tubuh Zian mulai retak. Daya hancur dari proses penempaan itu menciptakan tekanan gravitasi murni yang menekan seluruh ruangan. Dinding bawah tanah bergetar pelan. Udara di dalam ruangan berubah menjadi sangat panas dan tipis.

Zian menutup matanya rapat-rapat. Dia memusatkan seluruh sisa tenaganya untuk mempertahankan kesadaran.

Satu jam berlalu. Lalu dua jam. Waktu terasa berjalan sangat lambat seperti siksaan neraka abadi.

Tulang-tulang di dalam lengan kanan Zian yang tadinya hancur kini mulai bereaksi. Sel-sel Tulang Asura yang kelaparan dengan rakus menyerap seluruh sari naga bumi tersebut. Serpihan tulang itu mulai menyatu kembali perlahan-lahan.

"Tulangmu mulai memadat, Zian! Terus dorong darahmu ke lengan kanan!" perintah Leluhur Asura.

Zian memaksa jantungnya memompa darah lebih cepat. Lengan kanannya yang hancur kini memancarkan cahaya merah redup dari dalam kulitnya. Otot-otot barunya tumbuh menyelimuti tulang yang kini seratus kali lebih padat dan berat dari sebelumnya.

Tekanan fisik yang keluar dari tubuh Zian semakin lama semakin mengerikan. Bai Chen bahkan kesulitan bernapas karena udara terasa seberat batu.

KRAAAK! BUM!

Lantai batu di bawah Zian amblas sedalam satu jengkal. Gelombang kejut tak kasat mata menyapu ruangan sempit itu.

Zian membuka matanya mendadak. Matanya menyala merah darah. Lengan kanannya berhenti mengeluarkan asap dan perlahan berubah warna kembali normal, namun kulitnya memancarkan kilau logam yang sangat halus.

Siksaan neraka itu mulai mereda. Zian melepaskan gigitan dari bajunya dan terengah-engah menghirup udara.

Namun, sebelum Zian sempat menguji kekuatan lengan barunya, suara langkah kaki puluhan orang yang sangat berat terdengar kasar menuruni tangga menuju ruang bawah tanah mereka.

BRAK!

Pintu kayu ruang bawah tanah itu ditendang hingga hancur berkeping-keping. Debu berterbangan ke dalam ruangan.

Xyros melangkah masuk dengan pedang besar di tangannya. Senyum licik dan sadis menghiasi wajah bermata satu pria itu. Di belakangnya, lebih dari dua puluh penjaga elit Arena Bawah Tanah berdiri membawa senjata pusaka yang diarahkan langsung ke kepala Zian.

"Kau pikir kau bisa mengambil seribu koinku dan bersembunyi di lubang tikus ini, Bocah Cacat?" ancam Xyros memecah keheningan ruangan.

Zian tetap duduk bersila di lantai. Dia tidak menoleh. Dia hanya menatap lengan kanannya yang baru saja lahir kembali. Ujung bibirnya perlahan menarik senyum yang sangat, sangat buas.

1
Dian Pravita Sari
hal fa satupun cerita yg tamat ini novel toon penipu aplikasinya abal. abal
Dian Pravita Sari
tolong pats pembaca kasih tshi says no yelp lembaga konsumen Indonesia brp mau laporkan len pulsanya dimakan to. penyajian ceritanya smbirsgdul gak da tanggung jawab hu least konyrsk
Bucek John
wadauuu.. kantong penyimpanan musuh.. sia sia gak dipunggut, harta buat mdp..
M. Zayden: hahaha iya bosku😅
total 1 replies
Joe Maggot Curvanord
ga adapake jurus apaaa tu thor
cuma tinju asal ajaaa
M. Zayden: iya bosku🙏
total 1 replies
Nanik S
Lasaanjuuuuut
M. Zayden: siap bosku kami akan up setiap hari 2 bab terimakasih🙏
total 2 replies
Nanik S
Hadir
M. Zayden
​"Halo semuanya! Terima kasih banyak ya buat yang sudah antusias minta update. Biar kualitas ceritanya tetap terjaga dan aku bisa rutin nemenin kalian, jadwal update-nya adalah 2 bab setiap hari. Selamat membaca dan jangan lupa dukungannya! ❤️"
Gege
mantabb
Gege
gasss thoor 10k kata tiap update
M. Zayden: siap bosku😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!