"Jangan pernah berpikir untuk lari, karena setiap jengkal napasmu adalah milikku." _Azeus (Versi Novel).
Aluna benci Azeus. Bukan Azeus si CEO dalam novel favorit yang tengah ia baca, melainkan Azeus di dunia nyata, seorang cowok narsis, tukang pamer motor 1000cc, dan hobi ugal-ugalan yang hampir membuatnya celaka dua kali!
Aluna mengira hidupnya akan setragis tokoh di dalam bukunya: diculik, disiksa, dan menderita. Namun, kenyataannya malah jauh lebih merepotkan. Alih-alih cambukan, Aluna justru dihujani gombalan narsis, traktiran boba, dan aksi protektif yang ugal-ugalan dari geng motor paling populer di Jakarta.
Saat garis antara fiksi dan realita mulai kabur, Aluna tersadar satu hal, Apakah dia akan berakhir tragis seperti di dalam novel, atau justru terjebak dalam obsesi manis si cowok ugal-ugalan yang diam-diam mencuri hatinya?
"Lo boleh benci Azeus yang di buku itu, tapi jangan harap bisa lepas dari Azeus yang di depan mata lo sekarang."
Karya ini berisi Novel dalam Novel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andara Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencoba menjaga jarak
Azeus menyadari bahwa setiap inci tubuh Aluna adalah magnet yang bisa menghancurkan pertahanannya. Ia merasa kedekatannya dengan gadis itu hanya akan membuatnya gila dan bertindak di luar kendali. Demi menjaga kehormatan Aluna dan masa depan gadis itu, Azeus bertekad untuk jaga jarak. Malam itu, ia langsung pamit masuk ke kamarnya tanpa menoleh lagi, mengunci pintu rapat-rapat untuk meredam gejolak di dadanya
Keesokan paginya, suasana rumah mewah itu terasa asing bagi Aluna. Biasanya, deru mesin motor atau suara siulan narsis Azeus sudah menggema di koridor lantai dua sejak fajar, tapi pagi ini senyap. Aluna keluar dari kamarnya dengan perasaan heran. Ia berjalan pelan, melangkah mengelilingi lantai dua sambil sesekali melirik kecil ke arah pintu kamar Azeus yang tertutup rapat.
Tak ada suara, tak ada tanda-tanda pria itu ada di dalam.
Di dekat kamar Ayah Azeus, Aluna melihat seorang asisten rumah tangga sedang sibuk mengumpulkan pakaian kotor. Kamar mereka memang terletak berdampingan di lantai dua yang luas itu.
"Bi... Kak Azeus sudah bangun belum ya?" tanya Aluna ragu-ragu, suaranya pelan dan pemalu.
Si Bibi menoleh, lalu tersenyum ramah.
"Aduh, Non Aluna. Den Azeus mah sudah pergi dari jam enam pagi tadi. Katanya ada urusan penting."
Aluna tertegun. Jam enam pagi? Padahal biasanya Azeus adalah tipe yang baru bangun saat matahari sudah tinggi jika tidak ada kelas pagi.
"Tumben... sepagi itu ya, Bi?" gumam Aluna, merasa ada yang aneh.
Waktu terus bergulir. Aluna mencoba menyibukkan diri dengan buku-buku yang dibelikan Azeus kemarin, tapi fokusnya buyar. Sampai sore hari, Azeus belum juga pulang. Aluna berkali-kali menatap ponsel barunya, berharap ada pesan masuk dari kontak bernama "Ayang ❤️" itu, tapi layarnya tetap gelap.
Hingga malam hari tiba, kecemasan Aluna memuncak. Azeus benar-benar menghilang seharian tanpa kabar. Rumah mewah itu terasa dingin tanpa kehadiran pria badboy yang biasanya tak henti menggodanya. Aluna terduduk di sofa ruang tamu, menatap pintu depan dengan perasaan gundah, bertanya-tanya apakah Azeus sedang menjauhinya karena kejadian semalam ataukah terjadi sesuatu di jalanan.
Suasana rumah mewah itu semakin sunyi seiring detak jam yang terus merangkak naik. Di sudut dapur, para pembantu sesekali saling berbisik, memperhatikan gerak-gerik Aluna yang tampak gelisah di ruang tamu. Gadis itu berkali-kali menatap pintu besar di depannya, menanti sosok yang tak kunjung muncul.
Sekitar jam 10 malam, salah satu pembantu memberanikan diri mendekat.
"Non Aluna, belum tidur? Mau Bibi temani di sini?" tanya si Bibi berbasa-basi, merasa kasihan melihat kesendirian Aluna.
Aluna menoleh, memberikan senyum tipis yang dipaksakan.
"Enggak usah, Bi. Bibi istirahat saja, pasti capek sudah seharian kerja. Aku sebentar lagi juga masuk kamar kok."
Setelah pembantu itu pamit ke area belakang, Aluna bukannya naik ke lantai dua, ia justru merebahkan tubuhnya di sofa panjang yang empuk. Rasa lelah karena cemas akhirnya mengalahkan pertahanannya. Aluna ketiduran tanpa selimut. Ia hanya mengenakan dress floral tanpa bahu yang panjangnya sedikit di bawah lutut, namun karena posisi tidurnya yang miring, ujung dress itu tersingkap hingga ke tengah paha, memamerkan kulit putihnya yang kontras dengan warna sofa.
BRUUMM...
Suara moge yang berat akhirnya memecah keheningan dari arah garasi. Namun, Aluna sudah terlelap pulas dalam mimpinya.
Pintu depan terbuka pelan. Azeus melangkah masuk, wajahnya nampak lelah luar biasa setelah seharian menjauhkan diri untuk meredam hasratnya. Ia melepas sepatu, Lalu menggantinya dengan sandal rumah yang empuk. Namun, saat matanya melirik ke arah ruang tamu, langkahnya langsung membeku.
Azeus terpaku melihat Aluna tidur dalam keadaan seperti itu. Dress yang tersingkap dan bahu yang polos itu benar-benar menguji imannya yang baru saja ia coba perbaiki seharian ini. Azeus menghela napas kasar, meraup wajahnya dengan frustrasi.
"Sampai kapan godaan ini berakhir... Aku bisa gila kalau begini terus," gumam Azeus parau.
Ia tidak tahan membiarkan Aluna kedinginan di sana. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, Azeus mengangkat tubuh Aluna untuk dipindahkan ke kamarnya di lantai dua. Sambil menaiki tangga meliuk itu, Azeus menatap wajah polos Aluna yang sedang tertidur dan berbisik pelan di dekat keningnya.
"Maaf untuk hari ini, Sayang. Aku tidak bisa lama-lama sama kamu... aku cuma nggak mau khilaf lagi"
Setelah memindahkan Aluna ke kamarnya dengan hati-hati dan menyelimutinya hingga sebatas dada, Azeus keluar dengan langkah pelan, menutup pintu tanpa suara. Ia bersandar sejenak di koridor yang sunyi, memijat pangkal hidungnya yang terasa pening.
Pikirannya melayang ke kejadian tadi siang di basecamp. Sebenarnya, rencana awal Azeus adalah membawa Aluna ke sana. Ia ingin memamerkan bidadarinya pada dunia. Namun, saat ia sudah siap berangkat, satu pikiran protektif tiba-tiba menghantam otaknya. Aluna itu terlalu cantik.
Azeus membayangkan bagaimana mata lapar anak-anak motor di basecamp, termasuk para mahasiswa dari fakultas lain yang sering nongkrong di sana, akan memelototi Aluna. Ia mendadak posesif. Ia tidak rela jika kesucian dan kepolosan Aluna menjadi bahan obrolan atau incaran cowok lain. Akhirnya, Azeus memutuskan pergi sendiri dan membiarkan Aluna di rumah, meskipun itu membuatnya merasa bersalah sepanjang hari.
Kilas Balik: Riuhnya Basecamp
Di basecamp yang penuh kepulan asap rokok dan bau oli, suasana siang tadi sangat kontras dengan kesunyian rumahnya sekarang. Azeus duduk di atas meja kayu panjang, dikelilingi oleh sahabat-sahabat setianya.
"Mana bidadari lo, Ze? Katanya mau dibawa?" tanya Raka sambil sibuk mengelap velg motornya.
"Gue udah rapi nih, udah pakai parfum paling mahal biar nggak malu-maluin depan calon ipar."
"Iya, Ze! Gue juga udah latihan senyum ramah biar nggak dikira tukang begal," timpal Dion si dodol yang sedang asyik mengunyah kacang atom.
"Lama banget lo, mana orangnya?"
Azeus cuma mendengus, meneguk kaleng sodanya dengan kasar.
"Nggak jadi. Di rumah aja dia, belajar."
"Takut kesaing ya lo? Takut Aluna sadar kalau temen-temen lo lebih asyik daripada lo yang galak?" goda Dion lagi, yang langsung disambut lemparan kaleng kosong dari Azeus.
Gathan, si es batu di geng mereka, hanya duduk bersandar di pojokan sambil menyesap kopi hitamnya. Matanya yang tajam melirik Azeus.
"Lo cuma takut dia dilirik orang lain kan, Ze? Posesif lo nggak karuan."
Azeus terdiam. Ucapan Gathan selalu tepat sasaran. Sepanjang hari di basecamp, Azeus memang hanya diam, sesekali tertawa paksa saat Raka dan Dion melakukan aksi konyol, tapi pikirannya tetap tertinggal di rumah mewah itu. Ia merasa tersiksa antara keinginan untuk selalu dekat dan ketakutan akan hasratnya sendiri.
^^^^
Azeus merebahkan tubuhnya yang lelah di ranjang, menatap langit-langit kamar yang temaram. Bayangan konyol Raka dan Dion serta tatapan dingin Gathan di basecamp tadi siang tak mampu mengalihkan pikirannya dari wajah polos Aluna yang baru saja ia pindahkan. Azeus menghela napas panjang, meraup wajahnya dengan kasar.
Mulai detik ini, ia memantapkan tekad. Azeus bener-bener harus konsisten untuk menjaga jarak. Rasa obsesi dan hasrat yang meledak setiap kali melihat Aluna membuatnya takut akan kebobolan dan berakhir merusak gadis suci yang sangat ia cintai itu. Ia tidak ingin Aluna menjadi korban dari sisi badboy nya yang liar.
Strategi baru pun disusun. Azeus memutuskan untuk berangkat kuliah jauh lebih awal, saat embun masih menempel di jendela, dan baru akan menginjakkan kaki di rumah saat malam sudah larut. Ia sengaja mengatur jadwal agar Aluna tidak akan sempat melihatnya barang sedetik pun. Untuk melancarkan rencananya, Azeus diam-diam terus berkomunikasi dengan pembantunya lewat pesan singkat, memantau setiap jam tidur dan aktivitas Aluna agar mereka tidak berpapasan di lorong tangga yang melilit itu.
"Maafin aku, Al. Ini demi kamu," gumam Azeus parau sebelum mematikan lampu kamar, memilih tenggelam dalam kesunyian demi menjaga kehormatan gadis impiannya.