NovelToon NovelToon
Golden Girl, Silver Boy

Golden Girl, Silver Boy

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / Idola sekolah
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Varss V

Ara tidak pernah berencana menyebut nama Gill.

Tapi ketika sahabatnya mendesak soal perasaannya, nama yang keluar justru nama cowok paling aneh di sekolah. Cowok yang bahkan tidak ingat wajahnya setelah insiden nasi tumpah di kantin.

Cowok yang memanggilnya wanita gila di minimarket. Cowok yang lebih peduli sama game-nya daripada pendapat seluruh sekolah.

Masalahnya, nama itu sudah terlanjur keluar.
Dan Gill, dengan logikanya yang tidak masuk akal tapi entah kenapa selalu benar, malah menawarkan solusi yang lebih tidak masuk akal lagi.

"Kalau mau berbohong, berbohonglah sampai akhir."

Satu perjanjian palsu. Satu hubungan yang tidak seharusnya nyata. Dan satu atap sekolah yang entah bagaimana menjadi satu-satunya tempat di dunia di mana Tiara Alexsandra bisa berhenti menjadi sempurna.
Siapa sangka kebohongan terbaik dalam hidupnya justru terasa seperti kebenaran yang paling sungguhan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Varss V, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

# BAB 17 - PERTANYAAN YANG BERAKHIR TAMPARAN

Bel istirahat berbunyi.

Ara sudah mengemas bukunya bahkan sebelum guru selesai mengucapkan kalimat penutup pelajaran. Bukan karena tidak sopan, tapi karena ada sesuatu yang sudah menunggunya dua lantai di atas dan ia tidak mau membuang waktu lebih lama dari yang perlu.

Via menyentil lengannya begitu guru keluar.

"Ke atap lagi?"

"Iya."

Via mengangguk dengan cara yang sudah menerima ini sebagai bagian dari ritme baru yang sedang terbentuk. "Oke. Aku ke kantin. Nanti pulang sekolah jangan lupa traktir aku."

"Deal." Ara mengambil tasnya. "Kamu nggak apa-apa?"

Via menatapnya satu detik dengan ekspresi yang sudah sangat Ara kenal, ekspresi yang menyampaikan bahwa ia baik-baik saja dan tidak perlu ditanyakan berkali-kali. "Pergi sana sebelum aku berubah pikiran dan ikut."

Ara tersenyum kecil. Lalu berjalan keluar kelas.

---

Tangga gedung B, pintu yang mirip gudang, anak tangga berdebu.

Ara sudah hafal setiap langkahnya sekarang. Tahu di mana harus menekan pintu lebih keras karena engselnya sedikit keras di pagi hari, tahu berapa anak tangga yang harus dinaiki sebelum tiba di pintu atap yang sebenarnya, tahu bahwa langkah terakhir sebelum pintu itu berbunyi sedikit lebih keras dari yang lain dan kalau sedang ingin tidak terdengar harus diinjak di sisi kirinya.

Ia mendorong pintu atap.

Keluar.

Dan langsung berhenti.

Gill tidak duduk di sudutnya.

Gill tidak ada di mana pun yang seharusnya ia ada.

Yang ada adalah seseorang yang terbaring telentang di permukaan atap, tepat di tengah, dengan tangan direntangkan ke dua sisi dan kaki lurus rapat, menatap langit dengan cara yang menyerupai seseorang yang sudah menyerah pada gravitasi dan memutuskan untuk tidak melawannya lagi.

Kantong plastik jajanan ada di samping tubuhnya, tidak dibuka. Ponsel di dada, layar menghadap ke atas dan gelap karena sudah tidak aktif.

Ara berdiri di ambang pintu selama satu detik penuh.

Lalu kakinya bergerak sendiri.

Cepat, lebih cepat dari yang ia rencanakan, melintasi permukaan atap ke arah Gill dengan jantung yang tiba-tiba memutuskan untuk berdetak sedikit lebih keras dari ritme normalnya.

"Gill." Ia berlutut di sampingnya, tangannya menyentuh bahunya, menggoyangnya. "Gill. Hei."

Tidak ada respons.

"Gill!" Suaranya naik setengah oktaf.

"Tenang." Suara itu keluar dari mulut Gill dengan tenang yang luar biasa tidak proporsional untuk situasinya. "Aku masih hidup."

Ara membeku.

Matanya menatap wajah Gill yang masih menghadap langit dengan ekspresi seseorang yang tidak dalam kondisi darurat apa pun, tidak pucat, tidak kesakitan, hanya terkapar seperti seseorang yang memilih lantai beton atap sekolah sebagai tempat beristirahat favorit dan tidak menemukan masalah apa pun dengan pilihan itu.

Sesuatu di dada Ara yang tadi mengencang perlahan mengendur.

Lalu digantikan oleh sesuatu yang lain.

"Kamu..." Ara masih berlutut di sampingnya, tangannya sudah berhenti mengguncang bahu Gill tapi belum sepenuhnya ditarik kembali. "Kamu tidak apa-apa?"

"Tidak apa-apa."

Ara menghembuskan napas panjang yang sudah ia tahan tanpa sadar sejak melihat Gill terbaring tadi. Napas yang keluar lebih panjang dari yang ia duga, dan suaranya lebih lega dari yang ia maksudkan untuk diperlihatkan.

Gill menggerakkan matanya dari langit ke arah Ara.

Satu detik menatap ekspresi Ara yang masih menyisakan sisa kepanikan yang belum sepenuhnya pergi.

Ia tidak berkomentar tentang itu.

"Kenapa kamu tiduran di lantai?" Ara akhirnya bertanya, menarik tangannya kembali dan menegakkan posisi duduknya. Suaranya sudah kembali ke nada normalnya, nada yang sedikit lebih tinggi dari biasanya tapi terkontrol.

Gill menutup matanya.

Diam selama dua detik.

Lalu dari tenggorokannya keluar suara yang sama sekali tidak Ara duga akan keluar dari seseorang yang dua hari terakhir ini tidak pernah memperlihatkan goyahan emosi apa pun dalam situasi apa pun.

Isak tangis.

Kecil. Tapi sungguhan.

Ara terpaku.

"K..." Gill bersuara, suaranya pecah di tengah dengan cara yang terdengar seperti seseorang yang sedang menyampaikan berita duka cita yang sangat personal. "Kuota... Internetku... habis."

Hening.

Ara menatap Gill yang masih berbaring dengan mata tertutup dan dua bulir air mata sungguhan mengalir ke sisi wajahnya, mengalir ke permukaan beton atap dengan cara yang menyampaikan bahwa ini adalah kesedihan yang dirasakannya dengan sangat dalam.

Satu detik.

Dua detik.

"Kamu menangis," Ara berkata, memastikan bahwa ia tidak salah melihat.

"Iya."

"Karena kuota internetmu habis."

"Iya."

Ara menarik napas satu kali yang sangat panjang. Mengumpulkan sesuatu dari dalam dirinya, sesuatu yang berbentuk kesabaran tapi sudah sangat menipis sejak tadi ia berlari menghampiri Gill dengan jantung yang hampir copot karena melihat seseorang terbaring diam di lantai atap sekolah.

"Gill," ia berkata, dengan nada yang sangat terkontrol.

"Hm."

"Aku berlari ke sini."

"Aku tahu, aku dengar langkahmu."

"Aku berlari ke sini karena kupikir ada sesuatu yang—" Ara berhenti, menghirup napas, melanjutkan. "Kupikir kamu tidak baik-baik saja."

"Aku tidak baik-baik saja." Gill membuka matanya, menatap langit. "Kuotaku habis."

"Itu bukan—" Ara menghentikan kalimatnya sebelum selesai karena melanjutkannya tidak akan membawa ke mana-mana yang produktif. "Itu bukan darurat, Gill."

Gill menoleh ke Ara dengan tatapan yang sangat serius untuk seseorang yang baru saja menangisi habisnya paket data. "Tidak ada internet berarti tidak bisa main game. Tidak bisa main game berarti—"

"Aku tidak mau mendengar kalimat selanjutnya."

"Itu darurat."

"Beli kuota."

"Dompetku ketinggalan di rumah."

Ara menatapnya.

Gill menatap balik dengan mata yang masih sedikit merah di sudutnya, wajah yang sama datarnya seperti selalu tapi sekarang dengan tambahan bekas air mata yang sudah mengering di satu sisi pipinya, dan ekspresi yang sama sekali tidak memperlihatkan niat untuk merasa malu atas keseluruhan situasi ini.

Sesuatu di dalam dada Ara bergerak naik.

Bukan marah yang sesungguhnya. Lebih seperti rasa gemas yang sudah penuh dan perlu dikeluarkan ke suatu tempat.

"Kamu," Ara berkata, menunjuk Gill dengan satu jari, "adalah orang yang paling dramatis yang pernah aku temui dalam hidupku. Dan aku sudah bertemu dengan banyak orang."

"Aku tidak dramatis. Aku menderita."

"Karena kuota."

"Kuota itu penting."

"Gill."

"Ara."

Mereka saling menatap.

Lalu Ara membuang pandangan ke arah lain karena melanjutkan argumen ini adalah pertempuran yang tidak akan ia menangkan dan ia sudah cukup dewasa untuk mengenali itu.

Gill duduk. Akhirnya. Dari posisi telentangnya ia menegakkan diri dengan gerakan yang lebih bersemangat dari yang seharusnya wajar untuk seseorang yang baru saja menangis.

Ara duduk di tempatnya, menatap Gill yang jarinya sudah bergerak dengan penuh konsentrasi, dan memutuskan bahwa ia perlu mengalihkan percakapan ini ke sesuatu yang lebih produktif sebelum rasa gemas yang tadi sudah hampir selesai dikeluarkan membangun dirinya kembali.

"Gill."

"Sebentar, masih proses."

"Soal surat."

Jari Gill berhenti.

Ia mengangkat kepala dari ponselnya. Menatap Ara dengan ekspresi yang berubah sedikit dari fokus-beli-kuota menjadi sesuatu yang lebih waspada.

"Surat di bekalku," Ara melanjutkan, menatap balik dengan tenang. "Kamu sudah baca?"

Gill diam sebentar.

Lalu ia mengambil kotak bekal kecil dari sampingnya, kotak yang tadi ia letakkan di sana begitu sampai di atap sebelum entah kapan memutuskan untuk berbaring di lantai. Membukanya. Dan dari sudut kotak itu, di antara nasi dan telur dadar yang sudah sedikit dingin, ia mengeluarkan secarik kertas kecil yang masih terlipat empat.

Belum dibuka.

Ara menatap kertas itu. "Kamu belum baca."

"Aku belum sempat." Gill menatap kertas di tangannya. "Tadi langsung berbaring."

"Karena kuota."

"Karena kuota."

Ara menghela napas pendek. "Buka sekarang."

Gill menatapnya sebentar. Lalu menurut, membuka lipatan kertas itu satu per satu dengan gerakan yang lebih hati-hati dari cara ia melakukan hampir semua hal lainnya.

Kertas terbuka sepenuhnya.

Tulisan tangan Ara, kecil dan rapi dengan cara yang menjadi ciri khasnya, mengisi hampir seluruh permukaan kertas itu.

*Untuk Gill,*

*Bekal ini aku buat pagi tadi. Ibu yang ajari caranya melipat telur dadar supaya tidak berantakan. Aku bilang ini untuk teman, tapi ibu tidak bertanya lebih lanjut karena ibu memang jarang bertanya lebih lanjut tentang hal-hal yang aku lakukan.*

*Ada sesuatu yang ingin aku bilang tapi entah kenapa lebih mudah ditulis daripada diucapkan. Mungkin karena kalau diucapkan kamu akan langsung menjawab dengan kalimat pendek yang tepat dan aku belum siap dengan kalimat pendek yang tepat dari kamu sebelum aku selesai memikirkan apa yang ingin aku sampaikan.*

*Terima kasih sudah melihat ke arah yang orang lain tidak mau atau tidak sempat melihat. Aku tidak tahu bagaimana kamu melakukannya dalam waktu yang sependek ini. Aku juga tidak tahu apa yang sedang terjadi atau ke mana arahnya. Tapi untuk pertama kali dalam waktu yang lama, aku tidak merasa perlu tahu ke mana arahnya sebelum melangkah.*

*Itu perasaan yang asing tapi tidak buruk.*

*— Ara*

*P.S. Tolong jangan komentari surat ini dengan "hm" saja. Itu tidak adil.*

Gill membaca sampai akhir.

Tidak bergerak.

Matanya berhenti di baris terakhir, post scriptum kecil itu, selama dua detik lebih lama dari baris-baris sebelumnya.

Lalu ia melipat kertasnya kembali. Pelan. Rapi. Dan memasukkannya ke saku seragamnya, bukan ke kantong plastik jajanan, bukan ke kotak bekal, tapi ke saku yang letaknya paling dekat dengan dirinya.

Ara menyaksikan semua itu tanpa berkata apa-apa.

"Aku tidak akan menjawab dengan hm," Gill berkata akhirnya, masih menatap ke depan.

"Bagus."

Hening sebentar.

"Aku juga tidak tahu ke mana arahnya," Gill berkata kemudian, lebih pelan, dengan cara yang menyampaikan bahwa ini adalah sesuatu yang ia ucapkan karena memang perlu diucapkan dan bukan karena ia sudah menyiapkan kalimatnya dari jauh-jauh hari.

Ara menatap sisi wajahnya.

"Tapi," ia melanjutkan, matanya akhirnya bergerak ke arah Ara, "aku tidak keberatan tidak tahu."

Beberapa detik berlalu di antara mereka, detik-detik yang tidak membutuhkan diisi oleh apa pun karena sudah berisi sesuatu yang lebih berat dari kata-kata dan lebih ringan dari keheningan biasa.

Lalu Ara menarik napas, mengingat bahwa ada hal lain yang perlu ia sampaikan, hal yang sudah ia pikirkan sejak pagi tapi belum punya momen yang tepat untuk dikeluarkan.

"Soal tadi," ia memulai.

"Mike," Gill berkata, bukan pertanyaan.

"Iya." Ara menatap tangannya di pangkuannya. "Aku minta maaf. Atas apa yang dia katakan. Cara dia mengutarakannya tadi tidak—"

"Kau tidak perlu minta maaf atas perkataan orang lain."

"Aku tahu. Tapi dia dekat denganku dan itu membuat aku merasa—"

"Ara." Gill memotong, tidak kasar, hanya langsung. "Kau tidak bertanggung jawab atas setiap kata yang keluar dari mulut orang yang mengenalmu."

Ara diam sebentar. "Aku tahu. Tapi Mike bukan orang yang bermaksud kasar. Dia hanya tidak selalu pandai memilih kata-katanya ketika sesuatu mengejutkannya."

Gill menatapnya dengan ekspresi yang mengandung sesuatu yang menyerupai skeptisisme yang sangat terkontrol. "Aneh." Nada suaranya flat seperti selalu tapi ada sesuatu yang sedikit berbeda di bawahnya, sesuatu yang lebih tajam. "Tuan Populer yang bisa menaklukan satu sekolah hanya dengan cara bicaranya, tidak pandai memilih kata. Wow."

"Bukan begitu maksudku. Hanya saja—"

"Aku tidak peduli."

Ara berhenti.

Gill menatapnya langsung sekarang. "Aku tidak marah. Aku tidak benci dia." Ia mengucapkan itu dengan nada yang memperlihatkan bahwa kedua pernyataan itu sungguhan, bukan untuk menenangkan Ara tapi karena memang demikian keadaannya. "Tapi aku tidak suka cara dia mendeskripsikan hidupmu seperti kau ini sesuatu yang menjadi miliknya hanya karena dia sudah lama mengenalmu."

Ara menatap Gill.

Kalimat itu mendarat dengan cara yang tidak ia duga. Bukan karena mengejutkan, tapi karena tepat, karena mengartikulasikan sesuatu yang sudah lama ada di dalam dirinya dengan cara yang belum pernah ia temukan kata-katanya sendiri.

*Seperti kau ini sesuatu yang menjadi miliknya.*

Sudut bibirnya bergerak.

Bukan senyum lebar yang ramah. Bukan yang ia pasang di lorong sekolah atau di depan kelas. Hanya sesuatu yang kecil dan tidak rapi dan muncul bukan karena diputuskan tapi karena tidak bisa ditahan.

Gill menatapnya.

Melihat senyum kecil itu.

Dan ekspresinya berubah menjadi sesuatu yang lebih serius, lebih langsung, cara menatap yang sudah Ara pelajari berarti ia hendak mengatakan sesuatu yang ia pikirkan dengan sungguhan.

Ara menunggu.

"Sayang," Gill berkata.

Ara berkedip.

Kata itu keluar dari mulut Gill dengan nada yang sama datarnya seperti ia mengucapkan kata-kata lain, tapi kata itu sendiri membawa sesuatu yang membuat telinga Ara membutuhkan setengah detik tambahan untuk memproses bahwa ia mendengarnya dengan benar.

"Apa aku boleh minta hotspot?"

Dunia berhenti berputar selama satu detik penuh.

Ara menatap Gill.

Gill menatap balik dengan wajah yang sepenuhnya serius, matanya tidak berkedip, tangannya sudah memegang ponselnya dengan cara yang memperlihatkan bahwa pertanyaan itu memang ditujukan untuk tujuan yang sangat spesifik dan sangat praktis.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga.

Plak.

Bukan keras. Tapi cukup. Telapak tangan Ara mendarat tepat di lengan atas Gill dengan bunyi yang cukup nyata untuk mempertegas bahwa itu bukan sentuhan yang tidak sengaja.

Gill menoleh ke arah lengannya. Lalu ke Ara. "Kenapa?"

"Kamu tahu kenapa."

"Aku hanya tanya hotspot."

"Kamu memanggil aku sayang untuk minta hotspot."

"Itu efisien. Satu kalimat untuk dua tujuan."

Ara merapatkan bibirnya, menatap Gill dengan ekspresi yang berada di perbatasan antara tidak percaya dan sesuatu lain yang tidak mau ia beri nama sekarang. "Gill."

"Hm."

"Itu tidak boleh diulang."

"Boleh minta hotspot-nya?"

Ara menarik napas satu kali yang sangat panjang dan sangat terkontrol.

Lalu mengeluarkan ponselnya.

Membuka pengaturan.

Menyalakan hotspot.

"Passwordnya tiga puluh detik untuk kamu cari sendiri," ia berkata, meletakkan ponselnya di antara mereka dengan layar masih menyala.

Gill sudah menghubungkan ponselnya sebelum Ara selesai mengucapkan kalimat itu.

Ia memasukkan kotak bekalnya kembali ke dalam tas Ara, karena bekalnya sudah ia makan sebagian tadi sebelum memutuskan untuk berbaring di lantai, dan menarik kantong plastik jajanannya ke pangkuannya.

"Terima kasih," ia berkata.

"Untuk apa? Hotspot atau bekalnya?"

"Dua-duanya." Ia membuka bungkus keripik dari kantong plastiknya, menawarkan ke Ara dengan cara yang sudah menjadi kebiasaan mereka tanpa ada yang pernah menetapkannya sebagai kebiasaan.

Ara mengambil satu.

Memakannya.

Di sekitar mereka langit Eldria siang ini cerah bersih, angin bergerak dengan kecepatan yang nyaman, dan suara kota dari bawah naik dengan sayup-sayup yang tidak mengganggu.

Gill bermain game di sebelahnya, jarinya bergerak di layar dengan konsentrasi penuh, sesekali mengeluarkan suara kecil yang tidak jelas artinya tapi mengindikasikan bahwa permainannya sedang berjalan cukup baik.

Ara duduk di sampingnya, menatap langit, memakan keripiknya satu per satu dengan cara yang tidak terburu-buru.

Dan di sakunya, ponselnya masih menyala dengan hotspot yang aktif dan nama jaringan yang kalau Gill membacanya tadi di kolom koneksi ponselnya berbunyi: *ARA_PasswordnyaPikirSendiri.*

Gill tidak mengomentari nama jaringan itu.

Tapi ada sesuatu yang bergerak di sudut bibirnya ketika pertama kali melihatnya yang buru-buru ia sembunyikan sebelum ada yang sempat mengamati.

Sayangnya, Ara tidak sedang menatap langit ketika itu terjadi.

Dan ia melihatnya.

Meski tidak mengatakannya.

Menyimpannya saja di tempat yang sama dengan nama kecil di pojok buku catatannya yang tidak dicoret, di tempat yang sedang penuh dengan hal-hal kecil tentang Gian William yang belum ia tahu harus diapakan tapi sudah memutuskan untuk tidak dibuang.

1
Varss V
terimakasih
wan auw
Bagus thor novelnya, semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!