Betapa bahagianya Sekar ketika dinikahi oleh dokter yang bernama Ilham Kaniago. Sekar yang bekerja sebagai perawat menyadari jika ia bukan gadis yang cantik. Kulit hitam gelap, wajah berjerawat tidak disangka jika akan dipinang oleh dokter tampan dan kaya raya. Tetapi dalam pernikahan itu, Sekar hanya mendapat nafkah batin malam pertama saja. Ilham selalu dingin dan cuek membuat hari-hari Sekar Ayu bersedih.
"Apa tujuan kamu menikah dengan aku, Mas?"
"Ya, karena ingin menjadikan kamu istri, Sekar."
Usut punya usut, Ilham menikah dengan Sekar karena ada maksud tertentu.
Tetapi walaupun hanya diberi nafkah sekali, Sekar akhirnya mengandung. Namun, sayangnya bayi yang Sekar lahirkan dinyatakan meninggal. Setelah bercerai dengan Ilham, Sekar bekerja kembali di rumah sakit yang berbeda membantu dokter Rayyan. Dari sekian anak yang Sekar tangani ada anak laki-laki yang menginginkan Sekar ikut pulang bersamanya.
Apakah Sekar akan menerima permintaan anak itu? Lalu apa Rahasia Ilham?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Selesai mandi dan ganti baju, Sekar menggendong Arka keluar rumah. Malam ini ia sudah berjanji dengan dokter Rayyan hendak makan di restoran.
"Sekar, kamu mau kemana?" Tanya Ilham, pria itu rupanya mengejar hingga ke teras.
Sekar menghentikan langkahnya tapi tidak mau menoleh, ia berbisik di telinga Arka. "Salim Papa dulu," Sekar menurunkan Arka, sebenci apapun dengan Ilham tidak mau mengajarkan anaknya yang tidak hormat dan sopan santun.
"Alka diajak Mama kecil makan malam sama Doktel Layyan di lestolan Pa," jujur Arka.
"Malam-malam begini?" Ilham bertanya dengan nada tinggi, membuat Arka terkejut lalu berlari ke arah Sekar.
Sekar menggendong Arka lalu balik badan membalas tatapan Ilham yang tajam. "Namanya juga makan malam Dokter... Masa siang hari, berarti makan siang dong. Permisi..." Sekar melanjutkan perjalanan tidak lagi menghiraukan tatapan mata Ilham yang tampak tidak setuju ia pergi.
Ilham mengikuti Sekar yang berjalan ke luar pagar. Di pinggir jalan, dokter Rayyan sudah menunggu bersandar di mobil hitam yang cukup mencolok. Pria tampan itu tersenyum hangat kepada Sekar yang menggendong Arka, dan membuka pintu mobil untuk Sekar. Hati Ilham panas melihat hal itu, tapi ia hanya diam terpaku.
Ilham memperhatikan Sekar yang sudah duduk di depan sembari memangku Arka, wajahnya tampak berseri tidak seperti saat di dalam rumah. Sekar mengenakan baju yang ia pakai saat mereka masih bersama di malam spesial. Ilham bisa melihat senyum lembut di bibir Sekar saat menyapa dokter Rayyan. Hatinya benar-benar rindu momen seperti itu.
"Tenang Ilham, kamu dulu sudah menyia-nyiakan," bisik Ilham pada dirinya sendiri, sambil menekan rasa panas yang mulai muncul di dadanya. Tangan kirinya secara tidak sadar menggenggam gembok pagar sebagai tanda penyesalan. Ia sadar betul bahwa mereka sudah tidak bersama lagi, bahwa Sekar berhak menjalani hidupnya sendiri. Tapi rasanya seperti ada sesuatu yang menusuk di dalam dada Ilham ketika melihat dokter Rayyan dengan lembut membantu memasang sabuk pengaman di pundak Sekar, bahkan menyambutnya dengan tatapan yang penuh perhatian.
Sekar seolah merasa diperhatikan lalu menoleh sebentar ke arah Ilham dengan ekspresi yang sulit ditebak.
Ilham dengan cepat mengangkat dagunya, memberikan senyum yang ia harapkan terlihat tenang dan tulus. Namun, Ilham harus kecewa karena Sekar segera berpaling darinya. "Semoga makan malam kamu menyenangkan, Sekar," ucapnya dalam hati, meskipun hatinya masih bertanya mengapa bukan dirinya lagi yang duduk di samping Sekar.
Setelah mobil dokter Rayyan mulai bergerak menjauh, Ilham masih berdiri di situ untuk beberapa saat, menghirup udara malam yang sedikit dingin. Ia menepuk dadanya perlahan, berusaha membuat hatinya yang sedang bergolak kembali tenang. "Haruskah aku menyerah dan mengalah pada dokter Rayyan anak buahku?" Tanyanya pada diri sendiri, ketika Ilham hendak balik badan kembali ke dalam, mobil lain berhenti di luar pagar.
Dia adalah Luna dan masih sempat melihat Arka yang diajak pergi oleh Sekar.
"Mau kemana mereka Mas? Tidak ada yang boleh membawa Arka pergi tanpa seizin aku, apa lagi perawat itu?!" teriak Luna tiba-tiba seperti mak Lampir.
Suara keras itu membuat Ilham terkejut hingga refleks menutup telinga dengan kedua telapak tangan. Istrinya yang baru saja keluar dari dalam mobil berdiri tepat di hadapan Ilham, wajahnya merah padam dikuasai amarah, tangannya menggenggam pagar kuat-kuat.
"Luna, tenang dulu, jangan salah paham mereka hendak mengajak Arka kontrol," ucap Ilham terpaksa berbohong dengan suara yang tetap tenang, tapi Luna langsung menyela.
"Kontrol apa? Itu hanya alasan!" sewot Luna mendelik ke arah Ilham yang menurutnya Ilham tidak tegas, membiarkan Arka pergi bersama Sekar.
Luna yang tidak mendengarkan penjelasan Ilham, membuat pria itu terbawa emosi. Dia menatap Luna datar, teringat aduan Arka. 'dicubit Mommy' Ilham meninggalkan Luna lebih dulu masuk ke rumah.
Luna mengejarnya, satpam yang berada di depan pagar hanya Istigfar melihat pertengkaran mereka. "Orang kaya sukanya bertengkar, padahal aku dengan istriku tidak pernah walaupun kami hidup pas-pasan, benar kan sayang..." supir menepuk pundak bibi sang istri yang juga menyaksikan pertengkaran itu.
"Dih" bibi tersipu dipanggil sayang yang terdengar aneh.
Sementara itu di ruang tamu, terdengar nyaring yang berasal dari sepatu Luna tengah mengejar Ilham. "Tunggu Mas," Luna menarik tangan suaminya ketika sudah berada di depannya.
"Jangan hanya bisa marah Luna, Arka tidak mau sama kamu karena kamu sendiri penyebabnya."
"Aku?" Luna menunjuk dadanya, ia bekerja siang malam hanya untuk Arka, tapi disalahkan.
"Jangan pura-pura tidak tahu, Luna. Kamu tadi mencubit paha Arka hingga merah bukan?" Ilham akhirnya tidak bisa menahan amarahnya, suaranya terdengar lebih tinggi dari biasanya. "Kau bilang kamu khawatir Arka dekat dengannya, tapi apa yang kau lakukan?" Lanjut Ilham.
Luna terkejut mendengarnya, tapi segera membela diri, "Itu karena dia tidak mau mendengarkan aku! Aku hanya ingin mengingatkan dia agar tidak terlalu sering merusak barang-barang aku."
"Mengingatkan tidak harus dengan mencubitnya, Luna. Arka itu anak kecil!" Teriak Ilham, matanya merah karena marah. "Aku melihat bekas luka di pahanya ketika dia keluar tadi. Dia bahkan takut untuk bilang padaku kenapa pahanya sakit!"
"Aku tidak bermaksud begitu Mas. Aku hanya mengajari," ucap Luna dengan suara yang sedikit melemah, tapi masih mencoba tetap tegas. "Dia harus belajar menghargai aku sebagai ibunya!"
Ilham menghela napas dalam-dalam, tangannya menyisir rambutnya frustasi. "Kau tahu apa yang Arka katakan padaku kemarin, Luna? Dia bilang 'Papa, kenapa Mommy Luna selalu marah-marah sama aku, terus sering cubit?' Ilham menirukan kata-kata Arka.
"Dia memilih pergi bersama Sekar karena bersama dia merasa aman!" Ilham masih belum berani jujur jika Sekar adalah mantan istrinya. Jika Luna sampai tahu akan terjadi perang lebih dahsyat lagi.
"Maaf Mas, aku nggak gitu lagi," ucap Luna dengan mata berkaca-kaca menampilkan ekpresi wajah melankolis.
Jika sudah begitu Ilham tidak tega lalu menggandeng istrinya ke kamar, suami istri itu kembali akur. Di tempat tidur, Luna yang sudah mandi memainkan bulu yang tumbuh di dada Ilham. "Mas," ucapnya manja.
Jika sudah begitu Ilham tahu istrinya pasti menginginkan sesuatu. "Apa..."
"Ayo pergi dari rumah ini, Mas. Kita bawa Arka, terus kita hidup bahagia. Tidak ada Sekar yang mengganggu, tidak ada Mama yang selalu ikut campur masalah kita. Ayolah Mas, uang kamu itu banyak, mau beli rumah sama tanah berhetar-hetar pun mampu, masa kita terus numpang sama orang tua. Atau kita tinggal di rumah mantan istri kamu saja, aku juga tidak masalah, Kok."
...~Bersambung~...
dia ada di dekat mu tau...bhkn sbntr lgi bikin idup mu jungkir balik Luna.....