⚠️Area yang khusus orang besar. ^_^ nak kecil hus hus...
Kisah cinta slow-burn antara siswi petakilan dengan guru muda PJOK yang terlalu cool untuk jadi nyata. Isinya 30% latihan fisik, 70% adu mekanik perasaan.
Mulai dari drama salah kirim stiker WhatsApp ke grup kelas, sampai momen panas di gudang sekolah yang hampir bikin profesionalitas Pak Radit runtuh.
Ini cerita tentang masa transisi jadi dewasa, di mana batas antara guru dan murid cuma sebatas "status" yang siap dihapus setelah hari kelulusan.
"Pak, lari keliling lapangan saya sanggup. Asal finish-nya di pelaminan kita." — Gia, 18 tahun, pejuang remedial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10 (Part 1) The Return of the King & The Courtroom Drama
Senin pagi ini, matahari SMA Garuda Bangsa kayaknya lagi dapet update kecerahan 200%. Kenapa? Karena hari ini adalah hari pertama Pak Radit comeback setelah masa suspend dua minggunya berakhir.
Gia udah stand standar di depan cermin kamar mandi sekolah selama dua puluh menit cuma buat mastiin liptint "Cherry Bomb"-nya nggak kelihatan terlalu menor tapi tetep fresh buat menyambut kepulangan sang pahlawan. Dia ngerasa kayak istri tentara yang lagi nunggu suaminya pulang dari medan perang, padahal Pak Radit cuma abis "liburan" paksa gara-gara ulah Sarah si ular pastel itu.
"Gi, buruan! Pak Radit udah masuk gerbang pakai motor gedenya! Gila, vibes-nya kayak adegan pembuka film aksi, ngeri banget auranya!" teriak Caca dari luar pintu toilet.
Gia langsung lari keluar. "Serius?! Helmnya dibuka nggak?"
"Ya dibuka lah, masa dia ngajar pakai helm! Ayo cepet, kita ada jam PJOK jam pertama!"
...
Lapangan basket udah penuh sama anak-anak XII IPS 3 yang lagi pemanasan nggak jelas. Tapi suasananya beda. Ada aura heavy metal yang menggantung di udara. Kenapa? Karena di pojok lapangan, Revan dan geng basketnya lagi freestyle sambil sesekali ngelirik sinis ke arah pintu masuk lapangan.
Revan masih nggak terima digantung sama Gia di kafe kemarin. Dia ngerasa harga dirinya sebagai kapten basket dan anak pemilik yayasan diinjek-injek sama guru olahraga yang statusnya "cuma" karyawan di sekolah bapaknya.
Tiba-tiba, suara langkah sepatu sport yang mantap kedengeran. Pak Radit jalan masuk ke lapangan. Dia pakai kaos dry-fit warna abu-abu gelap yang ngebentuk badan banget, dipadu sama celana training hitam dan peluit yang melingkar di lehernya. Mukanya datar, tapi matanya tajam banget—tipe tatapan yang bisa bikin dosa-dosa lo selama setahun luntur seketika.
"Semuanya, kumpul!" suara bariton itu menggema.
Anak-anak langsung lari berbaris. Gia berdiri di barisan paling depan, sengaja banget biar Pak Radit bisa liat kalau dia udah nggak sedih lagi. Pak Radit melirik Gia sekilas, ada kilat lega di matanya, tapi dia langsung balik ke mode profesional bin kaku.
"Dua minggu saya nggak ada, saya harap fisik kalian nggak jadi lembek kayak bubur sumsum. Hari ini kita langsung materi one-on-one defense," kata Pak Radit tegas.
"Pak!" Revan tiba-tiba maju ke depan barisan. "Materi defense terus bosen, Pak. Gimana kalau kita sparing? Bapak lawan saya. Kalau saya menang, Bapak jangan terlalu banyak ngatur urusan pribadi murid di luar sekolah."
Satu lapangan langsung hening. Cringe parah. Caca di sebelah Gia udah bisik-bisik, "Wah, si Revan beneran nantang maut. Dia nggak tau apa Pak Radit itu mantan atlet universitas?"
Pak Radit narik napas panjang. Dia naruh papan jalannya di kursi pinggir lapangan. Dia natap Revan dengan tatapan meremehkan yang paling estetik.
"Urusan pribadi? Saya rasa saya cuma menjalankan tugas buat mastiin murid saya nggak salah pergaulan," jawab Pak Radit santai. "Tapi oke, kalau itu mau kamu. Satu lawan satu, tujuh poin. Kamu menang, saya bebaskan kamu dari jam saya selama sebulan. Saya menang, kamu berhenti ganggu Gianna dan fokus latihan buat turnamen bulan depan. Gimana?"
Gia melongo. Gue jadi taruhan?! Tapi kok... gue seneng?!
.
.
.
[To be continued ke Episode Selanjutnya ]
Thor bikin Gia jangan ngejar2 nih guru lagi,Bikin gia cuekin nih guru biar tau rasa dia..