Nadine, seorang gadis belia harus menikah muda karena sebuah insiden, kehidupan yang sederhana dengan sang suami membuatnya bahagia , Nadine tidak mau tahu tentang kehidupan suaminya, yang ternyata seorang CEO yang kabur dari keluarga nya karena akan di jodohkan. namun kejadian tragis menimpanya, pasangan suami istri itu kecelakaan, sang suami di bawa pergi oleh mata-mata dari keluarga nya, lalu Amnesia, sedangkan Nadine koma saat melahirkan putra pertama mereka sampai usia putranya empat tahun,
Assalamualaikum....
Yuh... ikuti kisah selanjutnya....
Nadine yang sudah sadar dan berusaha mencari sang suami yang ternyata Amnesia
mohon dukungannya para pembaca...
terimakasih 🥰🥰🥰🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 34
Aditya sedang duduk di kursi kebesarannya dengan mata terbelalak menatap layar monitor yang menampilkan barisan kode-kode rumit yang bergerak sangat cepat. Di sampingnya, Nadine berdiri dengan wajah pucat, meremas ujung bajunya.
"Mona... katakan padaku," suara Aditya bergetar, bukan karena marah, tapi karena syok yang luar biasa. "Apakah anakmu yang berumur lima tahun itu baru saja membobol firewall berlapis milik Pratama Group hanya untuk mengirimkan video nya?"
Nadine menunduk dalam. "Maafkan Noah, Tuan Muda. Dia... dia hanya terlalu protektif pada saya. Dia baru beberapa bulan lalu belajar memegang laptop pada orang baik, selebihnya ia belajar otodidak setelah di beri laptop canggih dari seseorang." jawab Nadine jujur.
Aditya mengerutkan keningnya " seseorang... laki-laki atau perempuan?" tanya Aditya menyelidik.
Nadine mendongak, menjawab dengan ragu-ragu " emmmm laki-laki tuan" .
Nyesss...
Cukup untuk pertanyaan itu,Adit tidak ingin lebih jauh lagi mengetahui siapa laki-laki yang memberikan laptopnya pada Noah dengan cuma-cuma, membuat tubuhnya menjadi gerah saja .
Aditya menyandarkan punggungnya, memijat pelipisnya. "Belajar sendiri? Tim IT-ku yang lulusan luar negeri saja butuh waktu tiga jam untuk menyadari ada penyusup. Tapi Noah... dia masuk dan keluar tanpa jejak dalam hitungan detik. Jika pemerintah tahu, anakmu bisa dianggap aset nasional, atau ancaman global!"
Aditya bangkit dari kursinya, mendekat ke arah Nadine hingga mereka hanya berjarak satu jengkal. Ia menatap mata Nadine dengan tatapan yang sangat serius, membuat jantung Nadine berdegup kencang.
"Dengar, Mona. Rahasiakan keahlian Noah dari siapa pun. Terutama dari Papa dan Mama" bisik Aditya. "Mereka akan memanfaatkan Noah atau bahkan mencelakainya jika tahu dia adalah peretas jenius. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi."
Nadine mendongak, matanya berkaca-kaca. "Tuan Muda akan melindungi Noah?"
"Aku akan melindunginya dengan seluruh kekuasaanku," tegas Aditya. "Bukan karena dia anakmu, tapi karena setiap kali aku melihat wajahnya di layar itu, ada bagian dari diriku yang merasa sangat bangga. Seolah-olah... kemampuannya adalah warisan yang seharusnya aku miliki."
Tiba-tiba, sebuah jendela percakapan muncul di layar monitor Aditya.
"Om Bos Ayah, jangan terlalu dekat sama Ibu! Noah bisa lihat dari kamera rahasia di vas bunga sebelah kiri Om! Dan makasih sudah mau jaga rahasia Noah. Sebagai imbalannya, Noah sudah hapus semua riwayat pencarian Cara Meluluhkan Hati Asisten Buruk Rupa di laptop Om Bos tadi pagi. Aman!"
Wajah Aditya seketika memerah padam. Ia segera menjauh dari Nadine dan berdeham kencang,
ehmmm...
Sementara Nadine hanya bisa menggigit bibir menahan tawa sekaligus malu.
"Noah! Matikan sistemnya sekarang!" perintah Aditya pada layar kosong, yang hanya dibalas dengan emoji tertawa dari sang peretas cilik.
" maafkan Noah tuan, dia sudah keterlaluan" ucap Nadine yang merasa tidak enak.
" ehmmm, namanya juga anak-anak, meski Noah sangat jenius,ia tetap lah anak kecil yang masih polos " jawab Aditya mencoba menormalkan ekspresi nya .
___
Benar saja, lima menit kemudian, pintu ruangan Aditya terbuka dengan suara bantingan keras. Ardan dan Adelia masuk dengan napas tersengal-sengal, wajah mereka merah padam karena ternyata benar, mereka terpaksa naik tangga darurat dari lantai bawah karena lift tiba-tiba rusak.
"ADITYA!" teriak Ardan sambil memegangi pinggangnya yang encok. "Pecat wanita ini sekarang! Dia punya anak haram! Dia hanya ingin hartamu!"
Aditya berdiri tegak, menyembunyikan Nadine di belakang punggungnya. "Anak haram? Papa, jaga bicara Papa. Namanya Noah, dan dia anak baik, ."
Adelia berteriak, "Dia penggoda, Adit! Dia menjebakmu semalam!"
Aditya justru tersenyum miring, sebuah senyum yang membuat Ardan bergidik. "Jika dia memang penggoda, maka dia adalah penggoda paling sukses, karena aku... mulai merasa bahwa hidupku memang seharusnya terjebak di sampingnya selamanya." balas Aditya mantap.
Suasana di ruang CEO Pratama Group berubah menjadi medan pertempuran emosi yang menyesakkan. Ardan Pratama berdiri dengan wajah mengeras, sementara Adelia menatap Nadine dengan pandangan yang seolah ingin melubangi wajah di balik masker itu.
"Aditya! Sadarlah!" bentak Ardan, suaranya menggelegar di ruangan kedap suara itu. "Wanita ini bukan hanya punya anak tidak jelas, tapi wanita ini dengan terang-terangan menggodamu, Kamu mau menjadi pemungut sampah di saat kamu bisa mendapatkan Aurel yang suci?!"
Aditya mengepalkan tangannya hingga buku-bukunya memutih. Ia menatap ayahnya dengan sorot mata yang tidak pernah terlihat sebelumnya, sebuah tatapan yang penuh dengan kepastian, bukan lagi keraguan seorang pasien amnesia.
"Cukup, Pa!" Aditya maju satu langkah, menutupi tubuh Nadine sepenuhnya dari pandangan Ardan. "Papa bilang dia sampah? Papa bilang anaknya adalah anak haram?"
Aditya tertawa getir, lalu suaranya merendah namun tajam. "Aku tidak peduli siapa Mona, apakah Mona mempunyai suami atau tidak. Aku tidak peduli jika ayah putranya itu masih hidup atau sudah membusuk di suatu tempat. Kenyataannya adalah... selama lima tahun ini aku hidup seperti robot yang kehilangan baterainya. Dan hanya saat wanita ini datang, hatiku mulai berdetak lagi!"
Nadine tertegun di belakang punggung Aditya. Jantungnya berpacu liar. “Mas Adit... apa yang kamu katakan?” batinnya pilu.
"Aku mencintainya!" teriak Aditya lantang tepat di depan wajah Ardan dan Adelia. "Bahkan jika dia adalah istri orang lain, bahkan jika wajahnya kusam dan dia punya anak dari pria lain, aku merasa jauh lebih nyaman berada di gubuknya yang sempit daripada di mansion mewah Papa yang terasa seperti penjara! Aku merasa utuh saat bersamanya!"
Adelia terkesiap, menutup mulutnya dengan tangan. "Aditya! Kamu gila! Kamu mengakui cinta pada seorang ibu satu anak yang suaminya tidak jelas di depan orang tuamu sendiri? Di mana harga dirimu, kamu bener-bener gila, tidak waras, ?!"
"Harga diriku ada pada kebahagiaanku, Ma!" balas Aditya telak.
Ardan melangkah maju, mengangkat tangannya seolah ingin menampar Aditya, namun ia berhenti saat melihat keteguhan di mata putranya. "Dia hanya menggunakanmu, Aditya! Dia tahu kamu lemah karena amnesia, dia masuk ke hidupmu untuk mencari pengganti suaminya yang pergi itu!"
Nadine akhirnya memberanikan diri. Ia melangkah maju, sedikit keluar dari bayang-bayang Aditya. "Tuan Besar... saya tidak pernah berniat menggantikan siapa pun. Saya hanya bekerja—"
"DIAM KAMU!" bentak Ardan.
Namun Aditya kembali menarik tangan Nadine, menggenggamnya erat-erat di depan mata orang tuanya. "Dia tidak perlu bicara, karena aku yang memilih untuk tergoda. Jika suaminya memang meninggalkan dia tanpa belas kasih, maka pria itu adalah orang paling bodoh di dunia. Dan aku... aku tidak akan mengulangi kebodohan yang sama. Aku akan menjaganya, meskipun seluruh dunia, termasuk Papa, menentangnya!"
Tiba-tiba, suara Noah bergema lewat sistem interkom ruangan yang lagi-lagi berhasil ia retas.
"Ehem! Om Bos... Noah dengar semuanya lho," suara kecil itu terdengar sedikit serak, seolah menahan haru. "Poin untuk kejujuran Om Bos adalah 100. Tapi soal suami Ibu... sebaiknya Om Bos jangan terlalu galak menghina Ayah Noah, nanti Om Bos menyesal kalau tahu siapa dia yang sebenarnya."
Ardan dan Adelia celingukan mencari sumber suara. "Siapa itu?! Siapa yang bicara?!"
Aditya tidak menjawab orang tuanya. Ia menatap ke arah kamera CCTV di sudut ruangan dan tersenyum tipis. "Noah, jaga ibumu baik-baik. Biar urusan di sini aku yang selesaikan."
Aditya kemudian beralih pada Ardan. "Sekarang silakan keluar dari ruanganku, Pa. Sebelum aku menyuruh seseorang menghapus seluruh data investasi Papa dalam satu kali klik."
Ardan gemetar karena amarah yang bercampur dengan rasa takut yang aneh. Ia melihat putranya benar-benar sudah berada di bawah kendali asistennya, setidaknya itu yang ia pikirkan. Ia dan Adelia keluar dengan langkah terburu-buru, penuh dendam.
Setelah pintu tertutup, ruangan menjadi sunyi. Aditya perlahan melepaskan genggaman tangannya, ia tampak lelah namun lega.
"Tuan Muda..." Nadine menatapnya sedih. "Kenapa Anda berkata begitu? Saya masih punya suami. Anda tidak seharusnya mencintai wanita yang belum selesai dengan masa lalunya."
Aditya berbalik, menatap Nadine dengan tatapan lembut yang menyayat hati. "Aku tahu, Mona. Aku tahu itu salah. Tapi setiap kali aku melihatmu, jiwaku berteriak bahwa aku tidak boleh melepaskanmu lagi. Aku tidak tahu kenapa... tapi rasanya aku sudah pernah kehilanganmu sekali, dan aku tidak sanggup jika harus kehilanganmu untuk kedua kalinya."
Nadine hanya bisa menangis dalam diam di balik maskernya. Ia ingin sekali memeluk Aditya dan berbisik, "Kamu tidak kehilangan aku, Mas. Kamu sedang mencintai istrimu sendiri."