Karina rela melepaskan identitas dan membuang kemewahan yang dimilikinya sebagai putri tunggal keluarga Wijaya hanya untuk bersama Agus, ia jatuh cinta pada Agus karena kebaikan dan kejujurannya.
Pernikahannya tampak begitu sempurna dan bahagia, hingga Agus pun sudah menjadi pria sukses berkat dukungan dan bantuan Karina. Sayangnya dengan kesuksesannya, Agus justru terlena dan mengkhianati pernikahan yang sudah terjalin selama bertahun-tahun itu.
Bagaimana kisah selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada pernikahan Karina dan Agus? Apa yang akan dilakukan Karina?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa! Bagaimana Mungkin?
Sabrina memperbaiki duduknya, raut wajahnya yang semula kesal kini berubah menjadi serius. "Kamu ingat kan aku pernah cerita kalau aku punya Paman yang bekerja di kementerian?" tanya Sabrina.
"Iya, kenapa memangnya?" tanya Agus.
"Namanya Paman Jake, dia punya banyak kenalan orang kuat di bidang logistik dan perizinan. Kalau cuma masalah vendor yang membatalkan pengiriman, Paman Jake pasti bisa menekan mereka atau setidaknya mencarikan suplai cadangan dalam waktu singkat," ucap Sabrina.
Mata Agus berbinar mendengar perkataan Sabrina, "Kamu yakin, Paman kamu bisa melakukan?" tanya Agus.
"Tentu saja, dia sangat menyayangiku. Kalau aku yang meminta, dia tidak akan mungkin menolak, tapi...," Sabrina menggantung kalimatnya dan matanya melirik tas tangan lamanya yang terlihat kusam di matanya sendiri.
Agus segera menangkap sinyal itu lalu meraih tangan Sabrina dan menciumnya berkali-kali, "Sayang, kalau Pamanmu bisa membereskan masalah vendor ini dan mengamankan kontrak Mega City, aku janji... bukan cuma tas mahal tadi yang akan kubeli, tapi aku akan membelikanmu satu set perhiasan berlian terbaru, bahkan aku juga akan membelikanmu mobil sport atas namamu sendiri," ucap Agus.
Sabrina tersenyum lebar, harga dirinya yang sempat hancur di butik tadi mulai merayap naik kembali. "Oke, Mas. Aku akan telepon Paman Jake, tapi kita harus makan siang di restoran biasanya ya? Aku stres banget tadi ditertawakan teman-temanku, aku butuh asupan makanan enak supaya mood-ku bagus saat bicara dengan Paman," ucap Sabrina.
Agus mengangguk cepat. "Tentu, tentu! Kita pakai uang tunai dulu, aku masih punya beberapa puluh juta di dashboard," ucap Agus dengan begitu antusias.
Agus segera memacu mobilnya menuju restoran favorit Sabrina, sebuah restoran fine dining yang tertutup dan mewah. Sepanjang jalan, Agus berharap agar Paman Jake benar-benar sehebat yang dikatakan Sabrina, jika memang benar maka gangguan dari vendor-vendor itu hanyalah kerikil kecil yang akan segera ia tendang jauh-jauh.
"Ayo, sayang, telepon sekarang. Jangan buat aku mati penasaran," desak Agus setelah mereka memesan menu termahal di restoran itu.
Sabrina mengeluarkan ponselnya dengan gerakan elegan dan sengaja memperlihatkan kukunya yang baru saja di-manicure lalu ia menekan sebuah nomor dan menyalakan mode loudspeaker atas permintaan Agus.
^^^Halo, Paman Jake.^^^
Suara Sabrina berubah menjadi sangat manis dan manja, jauh berbeda dari suaranya saat memarahi Agus tadi.
Oh, Sabrina! Keponakanku yang paling cantik. Ada apa menelepon Paman siang-siang begini? Apa kamu butuh tiket liburan lagi?
^^^Bukan Paman, ini lebih penting. Suamiku, Agus, dia kan pemilik Agus Materialindo dan sekarang dia ada masalah dengan pihak vendor. Mereka tiba-tiba memutus kontrak suplai untuk proyek Mega City, Paman tahu kan seberapa besar proyek itu? Paman harus bantu kami.^^^
Hahaha hanya masalah vendor? Itu urusan kecil, Sabrina. Siapa nama vendornya?
^^^Phoenix Investama.^^^
Paman kenal beberapa orang di dewan komisaris mereka, beri Paman waktu satu jam dan Paman akan pastikan masalah suamimu beres.
Mata Agus membelalak dan mengepalkan tangan ke udara, menahan teriakan kegembiraan.
^^^Terima kasih, Paman! Paman memang yang terbaik!"^^^
Sama-sama, tapi ingat ya jika bisnis adalah bisnis. san pastikan administrasinya lancar setelah ini.
^^^Tentu, Paman! Tentu!^^^
Agus menjawabnya dengan semangat, karena masalahnya akan terselesaikan.
Satu jam kemudian, tepat saat hidangan penutup disajikan, ponsel Agus bergetar hebat. Di mana Haris yang menelponnya, ia pun mengangkatnya dengan wajah penuh kemenangan.
^^^Halo, Haris! Bagaimana? Truknya sudah jalan, kan?^^^
Pak! Ajaib, Pak! Barusan manajer dari Phoenix Investama menelepon saya. Dia meminta maaf dan mengatakan ada salah paham internal, sekarang lima puluh truk semen dan baja sudah dalam perjalanan menuju lokasi Mega City! Mereka bahkan memberikan diskon tambahan sebagai permintaan maaf!
Agus tertawa terbahak-bahak hingga orang-orang di restoran menoleh ke arahnya.
^^^Hahaha! Lihat itu, Haris! Itulah gunanya punya koneksi! Beritahu pengembang Mega City bahwa material sudah masuk dan dia tidak perlu khawatir lagi.^^^
Agus menutup telepon dan langsung memeluk Sabrina di depan umum, "Sayang! Kamu benar-benar penyelamatku! Karina tidak akan pernah bisa melakukan ini! Dia hanya tahu cara menghitung receh, tapi kamu... kamu membawa jaringan kekuasaan ke dalam hidupku!" ucap Agus.
"Tentu saja, sayang. Makanya, jangan pernah bandingkan aku dengan wanita kampungan itu," ucap Sabrina sambil tersenyum sinis.
Di kediaman besar Wijaya, suasana yang semula tenang seketika berubah tegang. Karina yang tadinya duduk dengan anggun sambil menyesap tehnya, tiba-tiba meletakkan cangkir porselennya dengan dentingan yang cukup keras.
Yessi masuk ke ruangan dengan langkah terburu-buru, wajahnya pucat pasi sambil menggenggam tablet yang menampilkan laporan logistik real time dari lapangan.
"Nona, lima puluh truk dari vendor di bawah naungan Phoenix Investama yang seharusnya berbalik arah, tiba-tiba kembali bergerak menuju lokasi proyek Mega City. Laporan yang masuk menyatakan bahwa pihak komisaris Phoenix memberikan instruksi darurat untuk melanjutkan pengiriman," lapor Yessi.
Mata Karina membelalak, tangannya mengepal di atas meja. "Apa! Bagaimana mungkin? Phoenix berada di bawah kendali penuh perusahaan cangkang kita di Singapura, siapa yang berani melompati instruksi Paman Andri?" tanya Karina.
"Informasi yang saya terima, ada campur tangan dari seorang pejabat kementerian bernama Jake. Dia menggunakan pengaruh politiknya untuk menekan dewan komisaris vendor kita dengan ancaman audit perizinan menyeluruh jika mereka tidak segera mengirimkan material ke proyek strategis nasional tersebut," ucap Yessi.
"Siapa dia? Kenapa dia melakukan ini?" tanya Karina.
Yessi menggeser layar tabletnya dan menampilkan profil digital seorang pria paruh baya berseragam formal dengan raut wajah yang angkuh. "Namanya Jake Subekti, Nona. Dia menjabat sebagai Direktur Jenderal di salah satu departemen krusial kementerian. Namun, yang lebih mengejutkan adalah hubungannya dengan Sabrina," ucap Yessi.
Karina menajamkan penglihatannya pada layar tersebut, "Hubungan apa?" tanya Karina.
"Jake adalah paman kandung Sabrina, dialah alasan mengapa Sabrina bisa masuk ke lingkaran sosial elit Jakarta dalam waktu singkat. Jake dikenal sebagai pemain di balik layar yang sering menggunakan jabatannya untuk memuluskan proyek-proyek kolega atau keluarganya, tentu dengan imbalan administrasi yang sangat besar," ucap Yessi.
Mendengar hal itu, Karina menyandarkan tubuhnya ke kursi jati yang dingin, kemarahan yang tadi sempat berkilat di matanya perlahan berubah menjadi senyuman getir yang penuh penghinaan.
"Apa dia curiga pada Grup Wijaya?" tanya Karina.
"Tidak, Nona. Sampai saat ini tidak ada yang curiga terhadap Grup wijaya," jawab Yessi.
Karina terdiam sejenak dan memutar-mutar cincin di jarinya, "Jake Subekti... Dia mencoba menekan perusahaan yang secara rahasia bernaung di bawah bendera Wijaya. Dia pikir dia sedang membantu keponakannya, padahal dia hanya sedang menggali lubang kubur untuk kariernya sendiri," gumam Karina.
"Apa instruksi Nona selanjutnya? Haruskah kita perintahkan Phoenix untuk berhenti meski ada ancaman audit?" tanya Yessi.
"Tidak, biarkan saja Agus merasa masalahnya telah selesai, untuk saat ini jangan lakukan apapun. Aku harus bercerai terlebih dahulu dengan Agus, agar aku bisa bebas menghancurkannya," ucap Karina.
"Baik, Nona," jawab Yessi.
.
.
.
Bersambung.....