NovelToon NovelToon
Kami Lahir Tanpa Namamu

Kami Lahir Tanpa Namamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / One Night Stand / Anak Genius / CEO / Hamil di luar nikah / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nurizatul Hasana

Satu malam.
Tanpa rencana.
Tanpa nama.
Tanpa masa depan.
Aluna tidak pernah berniat masuk ke dalam hidup pria itu. Ia hanya menggantikan sahabatnya yang sakit, mengenakan seragam hotel, dan berharap bisa pulang dengan selamat. Namun di balik pintu kamar hotel mewah, ia terjebak dalam situasi berbahaya—tarikan paksa, ketakutan, dan batas yang nyaris hancur.
Malam itu bukan tentang cinta.
Bukan tentang rayuan.
Melainkan tentang dua orang asing yang sama-sama terperangkap dalam keadaan salah.
Aluna melawan. Menolak. Tak pasrah.
Namun ketika segalanya berhenti di titik abu-abu, sebuah keputusan keliru tetap tercipta—dan meninggalkan luka yang tak langsung terlihat.
Ia pergi tanpa menoleh.
Tanpa tahu nama pria itu.
Tanpa ingin mengingat malam yang hampir menghancurkan dirinya.
Lima tahun kemudian, Aluna telah menjadi wanita tangguh—cantik, elegan, dan berdiri di atas kakinya sendiri. Ia membesarkan tiga anak kembar dengan kelebihan luar biasa, tanpa sosok ayah, tanpa cerita masa lalu. Bersa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Lingkaran Lama Datang

Pagi itu kota terasa biasa saja.

Café baru buka.

Arsha lagi bantu susun kue.

Arkana cek stok lewat tablet.

Arven duduk di depan, pura-pura baca buku tapi sebenarnya ngawasin jalan.

Aruna lagi nyeduh kopi ketika suara mobil asing berhenti di depan café.

Bukan satu.

Tiga.

Mobil hitam mengilap yang terlalu “kota besar” untuk parkir di pinggir jalan kecil seperti itu.

Arven langsung berdiri.

“Ma.”

Aruna nengok.

“Apa?”

“Itu temennya dia.”

Aruna membeku sepersekian detik.

Pintu mobil pertama terbuka.

Keluar seorang pria tinggi, jas rapi, kacamata tipis. Wajahnya serius, aura dokter banget.

Mobil kedua — pria santai dengan blazer mahal, senyum setengah mengejek. Tipe pengusaha yang percaya diri.

Mobil ketiga — pria yang paling kalem, tapi matanya tajam. Asisten setia. Orang yang biasanya tahu semua rahasia bosnya.

Arka turun dari mobil paling belakang.

Dia kelihatan… terpojok.

“Kenapa mereka di sini?” gumam Aruna pelan.

Arven mendengus kecil.

“Backup system.”

Pintu café terbuka.

Pria berkacamata masuk duluan.

“Jadi ini tempat lo kabur, Ka?”

Arka menutup mata sebentar.

“Gue nggak kabur.”

“Lo ngilang dua minggu tanpa meeting, tanpa update, tanpa apa-apa,” timpal pria kedua. “Investor nyariin.”

Pria ketiga cuma berdiri di belakang.

“Pak Arka, saya sudah tahan berita selama mungkin.”

Aruna berdiri tegak.

Arka akhirnya menoleh ke arah mereka.

“Gue bilang gue ada urusan pribadi.”

“Urusan pribadi sampai pindah kota?” tanya yang berkacamata.

Arsha mendekat ke Arven.

“Siapa mereka?”

“Tim Avengers Papa,” jawab Arven datar.

Arka menghela napas.

“Ini Daniel. Dokter pribadi sekaligus temen lama gue.”

Daniel mengangguk sopan ke arah Aruna.

“Maaf kalau kami mengganggu.”

“Yang itu,” Arka menunjuk pria santai, “Raka. Pengusaha, partner bisnis, tukang ribut.”

Raka tersenyum miring.

“Yang ribut karena lo ngilang.”

“Dan yang itu,” Arka menoleh ke pria paling tenang, “Dimas. Asisten gue.”

Dimas sedikit membungkuk.

“Senang bertemu.”

Aruna berdiri kaku.

“Selamat datang.”

Raka melihat sekitar café.

“Lo ninggalin ruang rapat 30 lantai buat tempat ini?”

Arven langsung menyela,

“Kenapa? Kurang estetik?”

Daniel menoleh ke arah suara kecil itu.

Dan membeku.

“Tunggu… ini…”

Raka ikut memperhatikan.

Arkana, Arven, Arsha berdiri sejajar.

Wajah mereka.

Garis rahang. Mata. Ekspresi.

Raka pelan berbisik,

“Anjir… Ka…”

Dimas yang biasanya tenang pun kehilangan ekspresi netralnya.

Daniel maju selangkah.

“Ini… anak-anak lo?”

Café mendadak sunyi.

Arka tidak mengelak.

“Iya.”

Raka mengusap wajahnya.

“Lo serius selama ini?”

Arven menyilangkan tangan.

“Kenapa? Nggak mirip?”

Raka spontan menjawab,

“Mirip banget malah. Itu masalahnya.”

Daniel menatap Arka tajam.

“Kenapa nggak bilang?”

Arka menjawab pelan,

“Karena gue baru tau.”

Semua terdiam.

Aruna akhirnya bicara, suaranya tenang tapi tegas.

“Kalian datang ke sini buat apa?”

Raka menjawab jujur,

“Awalnya buat nyeret dia balik ke kota.”

Arven langsung potong,

“Gagal.”

Dimas sedikit tersenyum tipis.

Daniel menatap anak-anak itu lagi.

“Umur kalian berapa?”

“Lima,” jawab Arsha santai.

Daniel menggeleng pelan.

“Genetiknya kuat banget.”

Arven mendekat satu langkah.

“Om dokter?”

“Iya.”

“Jangan periksa kami tanpa izin.”

Daniel hampir tertawa kecil.

“Tenang. Saya nggak bawa stetoskop.”

Raka memandang Arka lagi.

“Lo sadar nggak ini bisa jadi bom buat perusahaan?”

Arka menatapnya balik.

“Gue tau.”

“Media tau, saham bisa goyang.”

“Gue tau.”

“Dan lo tetap di sini?”

Arka tidak ragu.

“Iya.”

Sunyi.

Raka menghembuskan napas panjang.

“Gila lo.”

Arven menoleh ke Arka.

“Kenapa perusahaan Om bisa goyang cuma karena kita?”

Arka berlutut sejajar dengan mereka.

“Karena dunia bisnis kadang nggak suka hal yang nggak terkontrol.”

Arkana bertanya pelan,

“Dan kita dianggap nggak terkontrol?”

Arka terdiam sesaat.

“Dulu mungkin. Sekarang nggak.”

Daniel memandang Aruna.

“Dia tau apa yang dia pertaruhkan?”

Aruna menjawab pelan,

“Dia baru mulai belajar.”

Raka menghela napas.

“Lo tau kan kita nggak bakal ninggalin lo sendirian?”

Arka tersenyum tipis.

“Makanya kalian di sini.”

Dimas akhirnya bicara.

“Pak Arka, rapat bisa dipindah. Sistem bisa saya handle jarak jauh. Tapi keputusan ini… harus benar-benar Bapak pikirkan.”

Arka menatap anak-anaknya.

Lalu ke Aruna.

“Aku sudah pikirkan.”

Arven memperhatikan semuanya.

Lingkaran lama ayahnya.

Dunia besar yang selama ini cuma mereka lihat lewat layar.

Dan sekarang dunia itu berdiri di depan café kecil mereka.

Arsha berbisik pelan,

“Ma… hidup kita bakal ribet ya?”

Aruna menatap lurus ke depan.

“Iya.”

Arkana tersenyum kecil.

“Seru juga.”

Arven menatap Arka.

“Kalau dunia Om datang ke sini… kita nggak bakal kabur.”

Arka berdiri pelan.

“Dan aku nggak bakal sembunyi lagi.”

Daniel menatap Raka.

“Sepertinya… ini bukan cuma urusan bisnis.”

Raka mengangguk pelan.

“Ini perang reputasi.”

Arven menyela tenang,

“Kalau perang… kita juga bisa.”

Anak lima tahun.

Tapi nadanya seperti pemimpin kecil.

Dan Arka sadar—

Ujian berikutnya bukan dari anak-anaknya.

Tapi dari dunia yang selama ini ia kuasai.

Sekarang dunia itu akan menilai:

Apakah Arka memilih kekuasaan…

Atau keluarga.

---

1
Lisa
Kasihan y Mira..udh balik aj ke rmhnya Aruna..
Lisa
Bahagia selalu y Arka, Aruna & ketiga anaknya
Risal Fandi
rekomend banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!