"Sebuah nyawa yang dipinjam, sebuah pengabdian yang dijanjikan."
Leo Alistair seharusnya mati sebagai pahlawan kecil yang mengorbankan diri demi keluarganya. Namun, takdir berkata lain ketika setetes darah murni dari Raja Vampir,masuk ke dalam nadinya. Leo terbangun dengan identitas baru, bukan lagi serigala murni, melainkan sosok unik yang membawa keabadian vampir dalam insting predatornya.
Aurora adalah putri yang lahir dari perpaduan darah paling legendaris, keanggunan manusia dari garis keturunan Nenek nya, dan kekuatan abadi dari Klan Vampir. Dia memiliki kecantikan yang mistis, namun hatinya penuh kehangatan manusia yang dia warisi dari nenek moyangnya.
"Mereka bilang aku bangkit karena darah ayahmu, tapi bagiku, aku bangun hanya untuk menemukanmu. Dunia memanggilku monster, tapi aku adalah tawanan yang paling bahagia karena setiap napas ku adalah milikmu, Aurora."_Leo Alistair.
"Kamu bukan sekadar pelindung, tapi kamu adalah melodi jiwaku yang hilang."_Aurora Zuhaimi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
FIRASAT BURUK
"Untuk menembus dimensi itu tanpa kunci, kamu harus membiarkan aku merobek kesadaranmu, kamu akan merasakan setiap inci tubuhmu seolah ditarik ke dalam mesin penggiling, dan saat kamu di sana, kamu hanyalah emosi yang berjalan. Jika rasa takutmu lebih besar dari cintamu, kau akan lenyap!" jelas Raja Revan, tegas.
Leo berdiri dengan sisa tenaganya, dia menatap dinding transparan di mana Maxime mulai mengarahkan belati ke leher Aurora yang terkulai lemas.
Hati Leo terasa diremas, setiap detak jantungnya terasa seperti lonceng kematian.
"Lakukan," ucap Leo, suaranya kini tenang namun mematikan.
"Robek aku, hancurkan aku, aku tidak peduli. Selama aku bisa menariknya kembali dari kegelapan itu, aku rela menjadi debu!" ucap Leo, tanpa keraguan.
"Maka bersiaplah, ini adalah rasa sakit yang bahkan kematian pun tak bisa tandingi," ucap Raja Revan mengangguk perlahan, dan mengangkat tangannya, dan cahaya hitam mulai menyelimuti ruangan.
SRIIIIIING
Sihir Raja Revan menghantam Leo, membuat Leo berteriak, namun suaranya langsung hilang tertelan tekanan dimensi.
Leo merasa kulitnya seolah dikelupas, tulang-tulangnya dipaksa melewati lubang jarum yang sempit. Namun di tengah siksaan yang tak terbayangkan itu, Leo tidak memikirkan rasa sakitnya.
Dia hanya membayangkan mata dingin Aurora, membayangkan bagaimana Aurora menantangnya bertarung tadi pagi, membayangkan janji yang belum sempat dia ucapkan.
"Jangan pergi, Aurora, aku belum mengalahkan mu..." batin Leo.
Darah mulai keluar dari mata dan telinga Leo di dunia nyata, sementara jiwanya mulai memudar, berjuang mati-matian menembus pembatas transparan yang memisahkan mereka.
Di saat yang sama, di wilayah Alistair di Kerajaan Harper sedang berusaha memulihkan diri dari sisa-sisa pertempuran.
Desa-desa mulai tenang, namun di kediaman utama Duke Alistair, suasana terasa sangat berat.
Jasmine sedang duduk di ruang tengah, tangannya memegang cangkir teh yang sudah mendingin.
Sejak kepergian Leo beberapa jam yang lalu, perasaannya tidak tenang, seperti ada sesuatu yang mengganjal di dadanya, sebuah firasat yang hanya dimiliki oleh seorang ibu.
PRANG
Cangkir keramik itu terlepas dari genggamannya, hancur berkeping-keping di lantai marmer.
"Ibu?! Ibu tidak apa-apa?" teriak Oliver yang baru saja masuk bersama Zara.
Jasmine tidak menjawab, wajahnya pucat pasi, tangannya gemetar hebat dan dia mencengkeram dadanya tepat di tempat jantungnya berdegup.
"Leo..." bisik Jasmine, suaranya hampir tak terdengar, penuh dengan kengerian.
"Kenapa dengan Kak Leo, Bu?" tanya Zara cemas.
Jasmine memejamkan mata, dan saat itu juga, dia seolah bisa mendengar jeritan yang menyayat hati, bukan jeritan fisik, melainkan jeritan jiwa putranya yang sedang dikuliti oleh rasa sakit yang tak terbayangkan.
"D-dia sedang berada di tempat yang sangat gelap," gumam Jasmine, air mata mulai mengalir deras di pipinya.
"Rasanya seperti jiwanya sedang ditarik paksa keluar. Oliver, panggil ayahmu! Cepat!" ucap Jasmine, tegas.
"Ayah sedang di perbatasan membantu warga, Bu!" jawab Oliver panik.
"Panggil dia! Katakan padanya Leo dalam bahaya besar! Sesuatu sedang terjadi di istana itu, sesuatu yang lebih buruk daripada kematian!" ucap Jasmine berdiri, namun tubuhnya lemas hingga ia harus berpegangan pada pinggiran meja.
Di dalam penglihatan batinnya, Jasmine melihat sosok Leo yang dikelilingi api hitam dan perak.
Dia melihat putranya berdarah, bukan karena luka senjata, tapi karena tekanan energi yang luar biasa.
"Jangan menyerah, Jagoan, jangan biarkan kegelapan itu mengambil mu," isak Jasmine, berlutut di lantai, mulai merapal doa-doa kuno yang diajarkan mendiang Ibu mertuanya, untuk melindungi sang anak dari kejauhan.
Kembali ke ruang bawah tanah Istana Vampir, kondisi Leo sudah di ambang batas manusia maupun monster.
"AAAAAAKKKKKHHHHHHHHH!"
Raungan Leo memenuhi ruangan, bercampur dengan suara gemuruh sihir Raja Revan.
Tubuh Leo bergetar hebat, pembuluh darah di wajahnya pecah hingga matanya tampak sepenuhnya merah karena pendarahan.
"Tahan, Serigala! Jika kau menyerah sekarang, jiwamu akan terjebak selamanya di ruang hampa!" teriak Raja Revan, keringat mulai menetes di dahi sang penguasa tua itu.
Bahkan bagi Raja Revan, memaksakan jiwa seseorang menembus dimensi cermin adalah tugas yang sangat berat.
"Ayah, hentikan! Dia akan hancur!" teriak Arion, tidak tega melihat Leo.
"Dia yang meminta ini, Arion! Lihat matanya!" jawab Raja Revan, tegas.
Di tengah siksaan itu, mata Leo yang berdarah tetap terkunci pada sosok Aurora di balik bayangan, fokusnya tidak goyah sedikit pun.
Di dimensi cermin, Valerius yang sedang tertawa tiba-tiba terhenti, dia merasakan suhu ruangan yang tadinya dingin mendadak memanas, bukan panas api, tapi panas dari sebuah kemarahan yang suci.
KRAK
Cermin di belakang Valerius retak, dari retakan itu, muncul tangan yang berlumuran cahaya putih perak, mencoba meraih dunia yang abu-abu itu.
Di ruang ritual yang pengap itu, tubuh Leo mulai kejang, darah merembes dari pori-pori kulitnya, membasahi lantai marmer, dia sedang berada di ambang kehancuran, jiwanya terjepit di antara dua dunia, tertahan oleh dinding dimensi yang terlalu tebal untuk ditembus oleh tekadnya sendirian.
"Leo! Bertahanlah!" teriak Serena, namun suaranya hanya dibalas oleh erangan tertahan yang memilukan dari Leo.
"AAAAUUUUUUUUUUUUWWWWWW!"
BUUUMMMMMMM
BRAKKKKK
Tiba-tiba, lolongan panjang, dan dentuman keras menghantam pintu utama ruang bawah tanah yang sudah hancur, sosok pria dengan zirah yang compang-camping dan napas memburu muncul, Lucas Alistair.
Lucas tidak peduli pada keberadaan Raja Revan yang berdiri dengan aura agungnya. Mata Lucas hanya tertuju pada satu titik, yaitu putranya yang sedang sekarat dalam jeratan sihir dimensi.
"LEO!"
Teriak Lucas menerjang maju, namun Arion menahannya.
"Lepaskan aku, Arion! Dia putraku! Aku bisa merasakannya! Dia sedang tidak baik-baik saja!" raung Lucas, mata cokelat nya kini memancarkan cahaya keemasan yang liar, insting seorang Alpha yang merasakan anaknya di ambang kematian.
"Jangan mendekat, Lucas! Jika kau mengganggu ritual ini sekarang, jiwanya akan terpental ke ketiadaan!" peringat Raja Revan dengan suara berat.
Lucas terhenti, dadanya naik turun dengan cepat, dai melihat Leo yang bersimpuh, tubuhnya bergetar hebat, sementara matanya yang terbuka tidak lagi melihat dunia ini.
Leo sedang menangis darah, tangannya menggapai-gapai udara kosong, mencoba meraih bayangan Aurora yang kian menjauh di balik tabir dimensi.
"Leo... dengarkan Ayah," ucap Lucas, suaranya bergetar karena rasa sakit yang sama.
Lucas berlutut di luar lingkaran sihir, meletakkan tangannya di lantai, dekat dengan Leo.
"Jangan lawan rasa sakitnya, Nak, ingatlah rumah, ingatlah aroma hutan saat kita berburu bersama, kamu tahu ibu mu menanti kepulangan mu, jangan biarkan kemarahan mu menguasai mu, atau kamu akan tersesat..." bisik Lucas, lembut.
Di dalam kepalanya, Leo sedang berada di lorong yang gelap dan dingin, dia bisa melihat Aurora di ujung sana, di balik kaca tebal yang tak kasat mata.