Di Desa Oetimu, Nusa Tenggara Timur, hidup adalah perjuangan melawan tanah merah yang retak dan matahari yang membakar. Jonatan, seorang pemuda cerdas namun miskin, tumbuh besar dalam bayang-bayang penghinaan. Di sekolah, ia dijuluki "Anak Tanah" dan dipandang sebelah mata oleh mereka yang berpunya. Namun, di balik seragamnya yang menguning, Jonatan menyimpan mimpi besar: memutus rantai kemiskinan keluarganya.
Kesempatan emas datang ketika ia diterima di sebuah universitas ternama di Jawa. Namun, mimpi itu menuntut harga yang sangat mahal. Demi tiket berangkat, ayahnya, Pak Berto, secara rahasia menggadaikan tanah warisan leluhur kepada rentenir kejam. Kepergian Jonatan pun berubah menjadi sebuah pertaruhan hidup-mati; jika ia gagal, keluarganya akan kehilangan segalanya.
Jakarta ternyata jauh lebih dingin daripada kemarau di NTT. Jonatan harus berjuang melawan diskriminasi dan rasa lapar yang mencekik. Di tengah rasa putus asa saat kiriman uang terhenti karena ayahnya jatuh sakit,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon joekris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: KEPULANGAN DAN DEBU YANG MENAGIH JANJI
Pesawat perintis yang membawa Jonatan mendarat di El Tari dengan guncangan yang cukup keras, seolah-olah tanah kelahirannya sedang menguji nyalinya sekali lagi. Namun, perjalanan Jonatan tidak berhenti di sana. Ia masih harus menempuh perjalanan enam jam menembus jalanan berkelok dan berbatu menuju Oetimu, duduk di bak belakang truk bersama tumpukan karung semen dan alat-alat pompa yang ia jaga lebih dari nyawanya sendiri.
Sepanjang jalan, pemandangan luar jendela truk adalah hamparan kuning kecokelatan yang menyakitkan mata. Kekeringan kali ini tampak lebih ganas dari tahun-tahun sebelumnya. Pohon-pohon asam berdiri meranggas tanpa daun, dan ternak-ternak warga terlihat kurus kering, tulang rusuknya menonjol tajam di bawah kulit yang terbakar matahari.
"Kau bawa apa ini, Jon? Berat sekali," tanya sopir truk, seorang pria tua yang mengenakan topi koboi kumal.
"Ini air, Om," jawab Jonatan pendek sambil menepuk peti kayu berisi panel surya dan modul kontroler yang ia rakit di lab Pak Johan.
Sopir itu tertawa hambar, suara tawanya pecah oleh debu. "Air? Kau mau panggil hujan pakai besi-besi ini? Di sini, yang bisa panggil air cuma Tuhan, itu pun kalau Dia belum lupa pada Oetimu."
Jonatan tidak membantah. Ia tahu, di tanah ini, logika seringkali kalah oleh rasa putus asa yang menahun. Ia memejamkan mata, mencoba menahan guncangan truk yang membuat perutnya mual, hingga akhirnya aroma tanah kering yang khas menyapa hidungnya. Ia sudah sampai.
Oetimu tampak seperti desa mati di sore hari itu. Debu beterbangan ditiup angin tenggara, menutupi atap-atap rumbia yang mulai lapuk. Saat truk berhenti di depan rumahnya, Jonatan melihat sosok Pak Berto berdiri di teras. Ayahnya tampak jauh lebih tua; rambutnya sudah memutih sepenuhnya dan bahunya semakin membungkuk.
Jonatan melompat turun, kakinya kembali menginjak tanah merah yang ia rindukan sekaligus ia benci. Ia segera memeluk ayahnya. Tubuh Pak Berto terasa sangat ringan, hampir tanpa daging.
"Kau pulang, Jon," bisik Pak Berto, suaranya parau. "Ibumu... dia menunggumu di dalam."
Bu Maria terbaring di atas tempat tidur kayu. Wajahnya pucat, namun matanya langsung berbinar saat melihat putra sulungnya kembali. Jonatan bersimpuh di samping ibunya, mencium tangannya yang kasar dan dingin.
"Mana airnya, Jon?" tanya Bu Maria pelan, bukan menagih janji, tapi seolah sedang bertanya tentang sebuah mimpi.
"Sedang saya turunkan, Mama. Besok, Mama akan dengar suara air mengalir di belakang rumah," janji Jonatan, meskipun hatinya bergetar melihat kondisi ibunya.
Malam itu, Jonatan tidak tidur. Ia membongkar peti kayunya di bawah sinar lampu pelita. Satu per satu komponen ia tata dengan hati-hati. Di luar, suasana sangat sunyi, namun ia tahu ada banyak mata yang sedang mengawasinya dari balik kegelapan. Warga desa mulai mendengar bahwa "si sarjana" pulang membawa alat ajaib.
Keesokan paginya, kekacauan dimulai.
Saat Jonatan dan Pak Berto mulai mengangkut peralatan ke sumur tua di belakang desa—satu-satunya sumur yang masih menyisakan sedikit lumpur di dasarnya—sebuah motor besar menderu kencang, membelah kerumunan warga yang mulai berkumpul. Tuan Markus turun dari motornya dengan gaya angkuh, kacamata hitamnya berkilat memantulkan cahaya matahari yang terik.
"Mau apa kau dengan sumur itu, Jonatan?" tanya Tuan Markus dengan nada meremehkan. "Kau tahu, kan? Tanah di sekitar sumur ini adalah jaminan hutang bapakmu. Tanpa izinku, kau tidak boleh menanam sebatang paku pun di sini."
Warga desa saling berbisik, ada ketakutan yang menjalar di wajah mereka. Pak Berto melangkah maju, namun Jonatan menahannya.
"Tuan Markus," Jonatan berdiri tegak, tingginya kini hampir menyamai pria itu. "Saya tidak merusak tanah ini. Saya justru memberinya nilai. Jika air ini mengalir, warga bisa bertani, dan mereka bisa membayar hutang-hutang mereka kepadamu. Bukankah itu yang Tuan inginkan? Uang kembali?"
Tuan Markus tertawa keras, tangannya menepuk-nepuk jok motornya yang mahal. "Aku bukan orang bodoh, Jonatan. Kalau kalian punya air, kalian tidak akan butuh bantuanku lagi. Dan aku tidak suka orang-orang di sini merasa terlalu pintar. Apa jaminannya kalau alat konyolmu ini tidak merusak sumber air yang tersisa?"
"Jaminannya adalah kepala saya sendiri," jawab Jonatan tegas. "Beri saya waktu tiga hari. Jika air tidak mengalir, Tuan boleh ambil semua alat ini dan lakukan apa saja pada tanah ini."
Tuan Markus terdiam sejenak. Ia melihat ke arah warga yang mulai menatapnya dengan harapan. Ia tahu, jika ia melarang Jonatan sekarang, warga bisa saja mengamuk. "Tiga hari. Jika gagal, kau dan bapakmu harus keluar dari desa ini selamanya. Aku tidak butuh orang gagal di Oetimu."
Setelah Tuan Markus pergi, Jonatan segera bekerja. Ia dibantu oleh beberapa pemuda desa yang masih memiliki sisa-sisa semangat. Mereka menggali lubang untuk tiang panel surya, menyambungkan kabel-kabel yang rumit di bawah instruksi Jonatan. Matahari membakar kulit mereka, debu masuk ke mata dan paru-paru, namun tidak ada yang mengeluh.
Namun, rintangan terbesar bukan hanya Tuan Markus. Menjelang malam kedua, badai debu yang hebat melanda. Angin kencang menerbangkan beberapa alat penyangga yang belum kokoh. Jonatan harus berjuang di tengah kegelapan, memeluk tiang besi agar tidak tumbang.
"Jon! Masuk ke rumah! Anginnya terlalu kuat!" teriak Pak Berto dari kejauhan.
"Tidak, Bapak! Sedikit lagi!" Jonatan berteriak balik. Ia merasakan tangannya berdarah karena tergores pinggiran panel surya yang tajam, tapi ia tidak peduli.
Di tengah badai itu, Jonatan teringat kata-kata Pak Johan: "Besi harus dibakar di api yang paling panas sebelum menjadi pedang yang tajam." Ia merasa inilah apinya. Inilah ujian terakhir sebelum ia bisa membuktikan bahwa mimpinya bukan sekadar bualan mahasiswa kota.
Pagi ketiga tiba. Langit Oetimu tampak sangat bersih, seolah baru saja dicuci oleh angin semalam. Seluruh warga desa berkumpul di sekitar sumur tua. Tuan Markus juga hadir, berdiri di barisan depan dengan senyum mengejek yang belum hilang.
Jonatan berdiri di depan kotak kontroler. Tangannya yang terbalut perban gemetar saat ia menyentuh sakelar utama. Ia menatap ke arah Pak Berto dan Bu Maria yang dipapah ke dekat sumur.
"Tuhan... biarkan air ini mengalir," bisiknya.
Klik.
Suara dengung rendah mulai terdengar dari dalam tanah. Awalnya pelan, lalu semakin keras. Jarum pada indikator tekanan mulai bergerak perlahan. Menit pertama berlalu, tidak ada apa-apa yang keluar dari ujung pipa. Warga mulai gelisah. Tuan Markus tertawa kecil.
"Mana airmu, Sarjana?" ejek Tuan Markus.
Jonatan tidak menjawab. Ia memeriksa kabel sambungan. Tiba-tiba, suara pipa yang bergetar hebat terdengar. Gluk... gluk...
Srrraaaakkkk!
Semburan air berwarna cokelat lumpur keluar dari ujung pipa. Warga berteriak kaget. Jonatan menahan napasnya. Beberapa detik kemudian, air cokelat itu perlahan berubah menjadi bening. Semakin lama semakin deras, menghantam tanah merah yang haus hingga menciptakan suara gemericik yang sudah bertahun-tahun tidak terdengar di desa itu.
"Air! Air su ada!" teriak anak-anak kecil sambil berlarian menuju aliran air tersebut.
Warga desa mulai menangis. Mereka mengambil air itu dengan tangan, membasuh wajah mereka, dan meminumnya dengan rakus seolah itu adalah nektar para dewa. Bu Maria menangis sesenggukan, ia menyentuh aliran air itu dengan jarinya yang gemetar. Pak Berto memeluk Jonatan erat-erat, air matanya membasahi bahu putranya.
Tuan Markus terdiam seribu bahasa. Wajahnya yang tadi merah karena amarah kini berubah pucat. Ia melihat warga yang selama ini ia tindas dengan kekeringan, kini memiliki kekuatan baru di tangan mereka. Tanpa sepatah kata pun, ia naik ke motornya dan pergi meninggalkan desa, dikejar oleh sorak-sorai kemenangan warga.
Jonatan berdiri di tengah keriuhan itu, menatap air yang terus mengalir deras di bawah terik matahari. Ia merasa beban berton-ton yang selama ini ia panggul mendadak menguap. Ia telah menepuk janjinya. Ia telah membawa air ke tanahnya yang kering.
Namun, di tengah kegembiraan itu, Jonatan melihat ke arah jalan keluar desa. Ia tahu, keberhasilan ini adalah awal dari peperangan yang lebih besar. Tuan Markus tidak akan diam saja melihat kekuasaannya runtuh. Dan di kota sana, Rendy mungkin sedang merencanakan sesuatu untuk menjatuhkan proyek ini di tingkat universitas.
Jonatan mengambil segenggam tanah yang kini sudah basah oleh airnya sendiri, mencium baunya yang segar, dan tersenyum. "Ini baru awal, Oetimu. Baru awal."
tanah outimu menanti perubahan & akan mendukungmu jon, 💪💪💪
smoga keberuntungan sll menyertaimu 💪💪💪
kasian