NovelToon NovelToon
Rewind: Side B

Rewind: Side B

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Teen Angst / Teen School/College / Romantis / Fantasi / TimeTravel
Popularitas:345
Nilai: 5
Nama Author: Vorlagh

17 Agustus 1996.
Bagi Julian "Lian" Pratama, hari ini seharusnya menjadi titik akhir. Di balik senyum sempurna sang Ketua OSIS, jiwanya telah lama kosong. Ia menaiki rooftop sekolah, siap untuk pergi selamanya.

Namun, alih-alih keheningan, yang terdengar hanya bunyi "KLIK" dari sebuah Walkman tua.

Lian terbangun kembali di pagi yang sama. Upacara yang sama. Kebosanan yang sama. Terjebak dalam loop waktu yang tak berujung, dunia Lian perlahan memudar menjadi hitam-putih. Hingga ia menemukan satu anomali: Kara Anjani.

Gadis pecinta musik grunge itu adalah satu-satunya yang tetap berwarna di mata Lian. Anehnya, setiap kali hari berulang, ada detail kecil pada Kara yang tidak ikut terhapus.

Apa hubungan Kara dengan putaran waktu ini? Dan jika Lian berhasil menekan tombol Stop pada kaset misterius itu, apakah ia akan bebas... atau justru kehilangan segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vorlagh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kertas Tisu & Gitar Akustik

Kamis, 22 Agustus 1996. Pukul 09:00 WIB.

Lian terbangun karena rasa panas yang menyengat di rusuk kirinya.

Bukan panas demam, tapi panas karena lebam akibat hantaman gir motor kemarin mulai "matang". Setiap kali dia menarik napas dalam, rasanya ada jarum yang menusuk paru-paru.

Dia mengerjap. Kamar 303 kosong.

Cahaya matahari remang-remang masuk dari jendela yang menghadap tembok. Kipas angin berdengung sendirian.

Kasur di sebelahnya dingin.

"Ra?" panggil Lian panik. Dia mencoba bangun duduk, tapi nyeri di punggungnya memaksanya kembali berbaring sambil mendesis kesakitan.

Ada secarik kertas disobek dari bungkus rokok di atas bantalnya. Tulisan Kara.

Lian,

Aku pergi cari sarapan. Jangan gerak. Jangan cari perkara.

Kunci pintu dari dalem.

- K.

Lian meremas kertas itu.

Perasaan tidak berdaya itu menyekik lehernya. Dia, Julian Pratama, Kapten Basket, Ketua OSIS... sekarang terbaring seperti orang jompo di losmen kumuh, sementara pacarnya yang "anak rumahan" harus keluar mencari makan di kota asing.

Lian memukul kasur kapuk dengan kepalan tangan lemah.

"Sialan..."

...----------------...

Kawasan Lesehan Malioboro.

Kara berjalan menyusuri trotoar Malioboro yang mulai ramai.

Dia mengenakan kemeja flanel kebesaran milik Lian (untuk menutupi tubuhnya agar tidak digoda orang) dan celana jins belel. Rambutnya dikuncir cepol asal-asalan dengan pensil.

Perutnya perih karena lapar. Uang di saku celananya tinggal recehan lima ratusan. Cukup untuk satu nasi kucing, tapi tidak cukup untuk obat Lian.

Kara berhenti di depan Benteng Vredeburg.

Di sana, di bawah pohon beringin rindang, sekelompok seniman jalanan sedang berkumpul.

Mereka bukan pengamen biasa yang cuma nyanyi "Didi Kempot" asal-asalan. Mereka punya vibes yang berbeda.

Ada kanvas lukisan digelar. Ada pembacaan puisi. Ada gitar akustik yang dimainkan dengan petikan rumit (fingerstyle). Asap rokok klobot dan kopi joss mengepul.

Kara berdiri mematung di pinggir, mengamati mereka.

Ada satu cowok yang menarik perhatiannya. Rambutnya gondrong sebahu, diikat setengah. Dia memakai kaos hitam polos dan gelang etnik menumpuk di tangan. Usianya mungkin 20-an awal.

Dia sedang memetik gitar sambil menyanyikan lagu gubahan puisi Rendra. Suaranya serak-serak basah, penuh emosi. Orang-orang yang lewat berhenti untuk melempar uang kertas ke dalam kotak gitar yang terbuka.

Uang kertas. Bukan recehan.

Ide gila muncul di kepala Kara.

Dia tidak bisa nyanyi. Dia tidak bisa main gitar.

Tapi dia punya Kata-kata. Dia punya Sisi B.

Kara mengeluarkan buku catatan kecil dari tas selempangnya (buku tulis biasa yang dia beli di warung).

Dia duduk di trotoar, agak menjauh dari kerumunan seniman itu.

Dia mulai menulis.

Pena di tangannya bergerak cepat, menyalurkan rasa lapar, rasa takut, dan rasa marah pada dunia yang berusaha menghapusnya.

Sepuluh menit kemudian, Kara berdiri. Kakinya gemetar.

Dia berjalan mendekati cowok gitaris gondrong itu yang baru saja selesai menyanyikan satu lagu.

"Mas," panggil Kara pelan.

Cowok itu mendongak. Matanya tajam, dilingkari celak hitam tipis. Wajahnya artistik, tipe wajah seniman Jogja tulen.

"Ya, Mbak? Mau request lagu?"

Kara menggeleng. Tangannya menyodorkan secarik kertas sobekan buku tulis itu.

"Aku... aku bikin lirik. Siapa tau Mas butuh lagu baru buat dinyanyiin. Bayar seikhlasnya."

Cowok itu menaikkan alis, sedikit geli. Mungkin dia pikir Kara cuma remaja galau yang mau curhat.

Tapi dia menerima kertas itu.

Dia membacanya.

Hening.

Bising Malioboro seakan lenyap.

Kara meremas ujung kemejanya. Bodoh, Kara. Kamu ngapain? Puisi kamu itu aneh. Orang pasti ketawa.

Cowok itu mendongak lagi menatap Kara. Kali ini tatapannya berubah. Dari meremehkan menjadi tertarik.

"Siapa nama kamu?"

"Kara."

"Kara..." ulang cowok itu sambil tersenyum miring. Dia menjentikkan kertas itu. "Tulisan kamu gelap banget buat anak seumuran kamu. 'Tuhan yang bersembunyi di balik spion retak'? Sadis."

Cowok itu mengambil gitar. Dia mulai memetik chord minor yang sendu.

Tanpa persiapan, dia mulai menyanyikan lirik buatan Kara dengan melodi improvisasi.

"Di kota tanpa nama... kita mengunyah lapar..."

"Menelan ludah yang terasa seperti dosa..."

Suaranya menyatu sempurna dengan lirik Kara. Orang-orang yang tadi hendak pergi, kembali berkerumun. Mereka terdiam mendengarkan lagu dadakan itu. Lagunya menyayat hati.

Ketika lagu selesai, tepuk tangan riuh terdengar.

Seseorang melempar lembaran lima ribu rupiah ke kotak gitar.

Lalu dua ribu. Seribu.

Cowok itu memungut semua uang hasil saweran lagu barusan.

Dia memberikannya pada Kara. Semuanya.

"Ambil," katanya.

Kara terbelalak. "T-tapi ini kan Mas yang nyanyi."

"Lirik adalah nyawanya. Gue cuma raga-nya," cowok itu mengedipkan mata. "Gue Aga. Kalau lo butuh duit lagi, dateng ke sini tiap pagi. Gue bosen nyanyiin lagu Iwan Fals melulu."

Kara menerima uang itu dengan tangan gemetar.

Dua puluh lima ribu rupiah.

Hasil kerja keras otaknya selama 10 menit.

Ini lebih besar dari gaji Lian benerin stik PS semalaman.

"Makasih, Mas Aga! Makasih!" Kara membungkuk sopan, lalu berlari pergi.

Dia merasa... berguna.

Dia merasa dilihat.

Bukan sebagai "cewek aneh" di sekolah. Tapi sebagai penulis.

...----------------...

Kamar 303 Losmen. Pukul 13:00.

Pintu kamar diketuk dengan sandi khusus (tok... tok-tok... tok).

Lian, yang sudah bisa duduk meski masih sakit, membuka kunci gerendel.

Kara masuk dengan wajah berseri-seri. Keringat membasahi pelipisnya, tapi matanya berbinar.

Di tangannya ada dua bungkus Nasi Gudeg Telur (mahal!), satu botol besar air mineral, sebungkus rokok, dan... Obat Pereda Nyeri & Antibiotik dari apotek.

"Makan, Kak!" Kara meletakkan belanjaan itu di kasur. "Terus minum obatnya. Biar lukanya kering."

Lian menatap hamparan makanan mewah itu.

"Ra... lo dapet duit dari mana?"

Nada suaranya tidak senang. Curiga.

Apa yang dilakukan cewek remaja di jalanan sampai bisa dapet uang segini banyak dalam waktu singkat?

Kara yang peka langsung menangkap nada itu.

"Jangan mikir macem-macem," Kara buru-buru menjelaskan dengan semangat. "Aku nulis puisi! Terus ada pengamen di Malioboro, namanya Mas Aga. Dia nyanyiin tulisan aku. Orang-orang suka! Dikasih duit saweran banyak banget!"

"Mas Aga?" alis Lian bertaut. Nama laki-laki.

"Siapa dia? Preman?"

"Bukan! Dia musisi jalanan. Baik kok, sopan. Dia bilang tulisan aku 'punya nyawa'," Kara bercerita dengan antusias yang meluap-luap. Dia lupa kalau Lian sedang dalam kondisi insecure.

Lian diam.

Dia mengambil bungkusan nasi gudeg itu. Membukanya.

Aroma nangka muda yang manis menusuk hidung.

Biasanya, dia akan senang.

Tapi sekarang... suap demi suap nasi itu terasa pahit.

Itu adalah nasi yang dibeli dari hasil "karya" pacarnya bersama laki-laki lain.

Lian merasa kerdil.

Lian ingat stik PS yang dia perbaiki. Dia bangga dengan keahlian teknisnya. Tapi di jalanan, teknis kalah dengan entertainment.

"Enak nggak, Kak?" tanya Kara, matanya berharap pujian.

"Enak," jawab Lian singkat tanpa menatap Kara. "Besok-besok hati-hati sama si Aga itu. Cowok jalanan itu buaya semua."

Senyum Kara luntur sedikit. Dia merasa dingin dalam respons Lian.

"Iya, Kak. Aku juga ati-ati kok. Aku cuma mau kita bisa makan."

Lian menghentikan makannya. Dia menatap lurus ke tembok hijau berjamur.

"Maafin gue, Ra."

"Kenapa minta maaf lagi?"

"Karena lo yang jadi 'kepala keluarga' sekarang."

Kalimat itu keluar dengan berat. Penuh racun maskulinitas yang terluka.

Kara mendekat, memeluk lengan Lian.

"Kita ganti-gantian, Lian. Roda kan muter. Sekarang aku yang di atas, nanti kamu."

Lian tidak menjawab. Dia meminum obat pereda nyeri itu.

Obat itu mungkin menghilangkan sakit di rusuknya. Tapi sakit di ego-nya? Itu butuh obat lain.

Dan malam itu, saat Kara tertidur pulas karena kelelahan (dan kenyang), Lian tidak bisa tidur.

Dia menatap langit-langit.

Bayangan sosok "Mas Aga" yang belum pernah dia temui menghantuinya.

Apakah Aga lebih keren? Lebih puitis? Lebih nyambung sama dunia "gelap" Kara?

Lian tahu satu hal: Kara suka seni. Kara suka keindahan dalam kesedihan.

Dan Aga menawarkan itu.

Sementara Lian? Lian cuma menawarkan pelarian dan masa lalu di rooftop.

Gue harus lakuin sesuatu, batin Lian. Gue harus berguna. Gue nggak mau kehilangan Kara, bukan karena ditarik monster, tapi karena dia nemu orang yang lebih baik di dunia nyata.

Di kejauhan, suara gitar akustik dari pengamen jalanan di bawah losmen terdengar samar.

Bagi Kara, itu musik pengantar tidur.

Bagi Lian, itu suara ejekan.

1
Adhiefhaz Fhatim
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!