Semua bermula dari hari pertama menjadi siswa SMK Pariwisata, dimana takdir mempertemukan mereka didepan gerbang yang telah tertutup rapat, mereka terlambat. Mereka berkenalan dan mereka terkejut karena mereka sama-sama jurusan yang sama dan sama-sama dikelas yang sama bahkan karena mereka terlambat, mereka hanya mendapatkan kursi kosong dipaling belakang dan mereka kembali sama-sama duduk di meja kelas yang sama. Seiring berjalannya waktu mereka sudah menjalin pertemanan dan hingga waktunya tiba kegiatan Study Tour yang menjadi program penting sekolah SMK Pariwisata untuk kelas 1 dan dari sanalah sebuah kesepakatan di bawah langit Bali terjalin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghuci Shintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 - Study Tour Di Mulai
Pagi itu, area parkir sekolah dipenuhi deretan 6 bus yang mesinnya menderu rendah. Enam bus besar untuk masing-masing siswa sesuai jurusan kelas mereka dan setiap satu bus ada guru pendamping dan guru wali kelas. Gery berada di Bus 4, bus khusus untuk kelas 1-Hotel 2.
Sesuai kesepakatan "kekuasaan" anak laki-laki, Gery, Dion, Reno, dan Feri sudah mengamankan wilayah paling belakang bus. Gery memilih kursi tepat di depan pintu belakang, posisi strategis untuk melihat ke luar jendela sekaligus memperhatikan seisi bus. Tas-tas gunung dan ransel sudah tertumpuk rapi di bagasi atas.
"Vanya mana? Masa dia telat lagi di hari sepenting ini?" tanya Dion sambil melongok ke jendela.
Tepat saat mesin bus mulai menderu lebih kencang, sebuah mobil berhenti mendadak di dekat pintu bus. Vanya turun dengan langkah terburu-buru. Namun, ada yang berbeda darinya. Tidak ada senyum ceria atau teriakan "tunggu!" yang biasa ia lontarkan.
Saat Vanya menaiki tangga bus dan melewati lorong, suasana yang tadinya riuh mendadak sedikit tenang. Mata Vanya sembab, bengkak, dan wajahnya pucat. Ia langsung duduk di samping Nadia di barisan tepat didepan kursinya Gery, tanpa menyapa siapa pun. Kursi itu memang sudah direncanakan oleh Vanya dan Nadia sebelum berangkat study tour.
Bus mulai bergerak, meninggalkan gerbang sekolah menuju jalur tol. Suara musik pop dari pengeras suara bus mulai mengalun, tapi suasana di barisan paling belakang terasa canggung. Gery tidak bisa melepaskan pandangannya dari punggung kursi tempat Vanya duduk.
Baru saja bus masuk ke jalan tol, Vanya tiba-tiba berdiri. Ia berjalan ke arah belakang, menghampiri kursi Gery dan Feri.
"Fer, tukar posisi bentar boleh? Gue mau duduk di sini," ucap Vanya pelan, suaranya serak.
Feri menatap Gery sejenak, lalu mengangguk tanpa banyak tanya. Anak-anak laki-laki lain di belakang sudah maklum; jika Vanya sudah mencari Gery, itu artinya ada sesuatu yang benar-benar pecah di dalam dirinya. Feri pindah ke kursi depan, membiarkan Vanya merosot jatuh ke kursi di samping Gery.
Vanya tidak langsung bicara. Ia hanya menatap kaca jendela yang menampilkan pemandangan pohon-pohon yang melesat cepat.
"Gue putus, Ger," bisiknya tiba-tiba, nyaris tertelan suara mesin bus.
Gery menoleh perlahan. Ia tidak bertanya "kenapa?" atau "kok bisa?". Ia tahu saat ini Vanya tidak butuh pertanyaan, dia butuh ruang. "Semalam?"
Vanya mengangguk, lalu air mata yang coba ia tahan sejak di rumah kembali jatuh. "Dia mutusin gue lewat telepon. Gara-gara gue mau ikut study tour ini. Katanya gue bakal macam-macam di Bali. Padahal gue udah jelasin kalau ini acara sekolah."
Gery menghela napas panjang. Ia mengambil tisu dari kantong ranselnya dan memberikannya pada Vanya. "Nangis aja, Van. Habisin di sini, di jalan tol ini. Jangan sampai pas kita sampai di Bali nanti, mata lo masih bengkak kayak gitu."
Vanya menerima tisu itu, menutup wajahnya, dan bahunya mulai bergetar hebat. Di barisan belakang bus yang berguncang pelan, di antara teman-teman laki-laki yang pura-pura tidak melihat demi menjaga privasi Vanya, Gery tetap diam di sampingnya. Ia tidak mencoba merangkul, hanya memastikan bahwa Vanya tahu ada seseorang di sampingnya yang siap mendengarkan.
"Sakit banget, Ger. Gue udah kasih semuanya, perhatian gue, waktu gue... tapi dia malah nuduh gue yang nggak-nggak," isak Vanya lagi.
"Gue tahu lo hebat udah bertahan sampai titik ini, Van. Sekarang, anggap aja perjalanan tujuh hari ini sebagai cara Tuhan buat bersihin pikiran lo dari dia," ucap Gery pelan namun tegas.
Vanya menoleh, menatap Gery dengan mata merahnya. "Lo nggak akan pergi kan, Ger? Maksud gue, lo bakal tetep jadi temen curhat gue meskipun nanti gue udah nggak punya siapa-siapa lagi?"
Gery tersenyum tipis, sebuah janji tersirat di matanya. "Gue masih duduk di sini, kan? Gue nggak ke mana-mana kok."
Bus terus melaju membelah aspal tol menuju pelabuhan Ketapang. Di luar, matahari mulai meninggi, tapi di dalam bus 4, sebuah babak baru dalam hubungan Gery dan Vanya baru saja terbuka. Bukan lagi sekadar teman sebangku, tapi menjadi sandaran di saat dunia salah satu dari mereka sedang runtuh.
Bus 4 melaju membelah jalur Pantura yang panas dan berdebu. Namun, di dalam kabin bus, hawa dingin AC mulai kalah oleh hangatnya suasana kekeluargaan. Luka Vanya perlahan memudar, terbasuh oleh petikan senar gitar akustik yang dibawa Reno dari rumah.
Reno mulai memainkan intro lagu-lagu pop yang sedang hits di tahun 2009 dan salah satunya adalah grup band yang sedang naik daun dikalangan anak remaja yaitu Little Jack. Suara baritonnya memimpin, lalu disusul oleh paduan suara sumbang namun penuh semangat dari Dion, Feri, dan anak-anak laki-laki lainnya di barisan belakang.
"Ayo Van, jangan bengong terus! Nyanyi dong, mumpung Reno lagi jadi bintang panggung!" seru Gery sambil menepuk tangan mengikuti irama.
Vanya akhirnya tersenyum—senyum tulus pertama yang ia tunjukkan sejak naik bus pagi tadi. Ia mulai ikut menyenandungkan lirik lagu, perlahan suaranya menyatu dengan keriuhan di dalam bus. Kesedihan itu tidak hilang sepenuhnya, tapi untuk sejenak, suara petikan gitar Reno berhasil menenggelamkan rasa sakitnya.
Menjelang petang, bus mendarat di sebuah restoran persinggahan besar di daerah Jawa Timur. Begitu pintu bus terbuka, anak-anak laki-laki langsung berhamburan turun dengan perut keroncongan.
"Woi, tungguin!" teriak Vanya.
Bukan hanya Vanya, tapi Nadia, Vivi, dan Rini pun ikut berlari kecil menyusul rombongan Gery. Biasanya anak perempuan punya geng sendiri, tapi entah kenapa, mereka merasa lebih aman dan seru jika mengikuti langkah anak-anak laki-laki di bus ini.
"Tumben banget kalian ngikut kita? Biasanya anti banget sama bau keringat anak futsal," goda Dion saat mereka berjalan menuju area restoran.
"Dih, GR banget!" sahut Vivi sambil tertawa. "Kita ikut kalian karena insting anak laki-laki itu tajam kalau cari tempat makan. Pasti tempatnya asik buat foto-foto, kan?"
"Bener tuh! Lagian kalau bareng kalian, kita nggak bakal digangguin anak kelas lain," tambah Rini yang diangguki oleh Nadia.
Mereka pun makan dalam satu meja panjang. Gery duduk di antara Reno dan Vanya, sementara Nadia berada tepat di depan Gery. Tidak ada lagi sekat "meja depan" atau "meja belakang". Di bawah lampu restoran yang temaram, mereka berbagi cerita, berbagi lauk, dan tentu saja, sesi foto bersama.
"Ger, fotoin gue sama Nadia, Vivi, sama Rini di depan sana dong! Bagusnya di dekat air mancur itu!" pinta Vanya sambil menyerahkan kamera digital miliknya.
Gery bangkit berdiri, ia membidikkan kamera dengan teliti. Di layar kamera itu, ia melihat Vanya yang sudah bisa tertawa lepas kembali, meski matanya masih menyisakan sedikit jejak sembab. Ia juga melihat Nadia yang tersenyum manis, membuat jantung Gery berdegap tak beraturan.
"Satu... dua... tiga! Gaya bebas!" seru Gery. Cekrek.
Momen itu terabadikan. Sebuah potret persahabatan yang murni. Gery merasa bangga bisa menjadi "penjaga" bagi mereka. Baginya, melihat Vanya kembali ceria dan bisa berbagi tawa dengan Nadia adalah kebahagiaan ganda yang tak ternilai harganya.
Selesai makan, mereka kembali ke bus dengan perut kenyang dan memori baru di dalam kamera digital. Perjalanan masih panjang menuju pelabuhan Ketapang, namun bagi Gery, perjalanan ini sudah memberikan pelajaran pertama: bahwa obat terbaik untuk hati yang patah adalah tawa sahabat di sepanjang jalan.