NovelToon NovelToon
Braja Geni

Braja Geni

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Perperangan / Pusaka Ajaib
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Lahir pada malam 1 Suro setelah dikandung dua belas bulan, seorang bayi menjadi incaran para pendekar aliran hitam dan putih. Di tengah pertumpahan darah, ia menghilang dari dunia manusia.
Diasuh oleh makhluk mitos di rimba purba, ia tumbuh dengan ilmu yang tak dikenal perguruan mana pun. Ia belajar dari angin, dari api, dan dari naluri alam.
Saat dewasa, Braja Geni kembali ke dunia persilatan.
Kehadirannya menggemparkan jagat kanuragan. Jurusnya tak berpihak pada putih maupun hitam—ia adalah kekuatan baru yang mengancam keseimbangan.
Namun di balik kesaktiannya, tersembunyi rahasia kelahiran dan takdir besar yang akan menentukan arah dunia persilatan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Setelah mandi dan makan, Laras melangkah menuju pendapa. Ayahnya sudah menunggu, duduk di tikar sambil menyilangkan kaki, wajahnya menampakkan kecemasan yang tak tersembunyikan.

"Kemarilah, nak. Duduk di samping ayah," suara Ki Baraya lembut tapi tegas.

"Baik, Yah," jawab Laras, langkahnya pelan. Ia duduk bersimpuh di sebelah ayahnya, tangan terlipat di pangkuan. Pandangannya menatap lurus ke lantai, mencoba menahan rasa gugup.

"Laras," kata ayahnya sambil menepuk bahu anaknya, "ayah sudah mendengar semua ceritamu hari ini. Jika benar bocah yang bernama Braja itu telah menyelamatkan kalian, ayah perlu bertemu dengannya. Tapi tidak langsung. Ayah akan mengawasinya dari jauh dulu… untuk memastikan."

Laras mengangkat kepala, alisnya mengerut. "Memastikan apa, Yah? Bahwa Braja itu manusia atau… siluman?" tanyanya dengan suara pelan tapi penasaran.

"Kau jangan memotong perkataan ayah dulu," Ki Baraya menatap tajam tapi lembut. "Dengarlah seluruhnya dulu."

Laras menundukkan kepala, mengangguk pelan. "Maaf, Yah," gumamnya.

Ki Baraya menghela napas panjang, lalu duduk lebih tegak. "Kau ini gadis kecil… apa yang kau lakukan tadi sangat berbahaya. Bahkan untuk orang dewasa pun, hutan itu angker. Jin, setan, siluman… semuanya berkeliaran di sana. Tapi kau malah nekat mendekat. Bagaimana kalau buaya itu benar-benar menerkammu? Ibumu pasti cemas luar biasa."

Laras menunduk, bibirnya sedikit bergetar. Ia tahu ayahnya benar. Tapi hatinya tetap tersisa rasa kagum dan penasaran pada Braja.

"Mulai sekarang, kau tidak boleh keluar rumah, kecuali bila ayah memerlukanmu. Kau mengerti?" tanya ayahnya sambil menatap tajam, tapi mata itu lembut, penuh kasih.

"Tapi, Yah…"

"Tidak ada tapi-tapi," potong Ki Baraya tegas. "Ayah tahu kau ingin bertemu bocah itu lagi. Tapi biarlah ayah dulu yang menemuinya. Jika ayah tidak berhasil, barulah kau akan digunakan untuk memancingnya keluar."

Laras tersenyum tipis, matanya bersinar.

"Apa kau tersenyum begitu, hah!?" tegur ayahnya sambil mengerutkan alis.

Senyum Laras langsung menghilang, digantikan wajah patuh tapi penuh tekad.

"Nah, sekarang beristirahatlah. Ingat, selama ayah mencari bocah itu, kau tidak boleh keluar rumah. Mengerti?"

"Mengerti, Yah," jawab Laras mantap, tangan meremas lipatan kain di pangkuannya. Ia menatap ayahnya sejenak, lalu menunduk, menahan rasa ingin tahu yang membara di hatinya.

Keesokan harinya, Ki Baraya benar-benar sudah berada di tempat Braja pertama kali muncul, sesuai petunjuk Laras. Ia bertengger di atas salah satu pohon besar yang rimbun, tubuhnya tersembunyi di antara dedaunan lebat.

Dari sana, ia menggunakan Aji Sapta Pandulu—sebuah ajian yang memungkinkannya mengawasi target dari jarak jauh tanpa diketahui. Tatapannya menembus sela-sela pepohonan, tajam dan sabar.

Sambil mengunyah buah sawo yang dipetiknya dari dahan, Ki Baraya menunggu dengan tenang. Nyamuk kebun beterbangan di sekitarnya, namun tak satu pun berani hinggap. Ia sudah terlalu akrab dengan alam; bau tanah, desir angin, hingga suara serangga adalah bagian dari kesehariannya.

Namun hingga matahari condong ke barat, sosok yang ditunggu tak juga muncul.

Siang berganti sore. Bayangan pepohonan memanjang. Tetap saja tak ada tanda-tanda Braja.

“Sial… bocah itu tak mau muncul. Sudahlah, aku pulang saja. Besok lagi,” keluh Ki Baraya dalam hati.

Ia pun turun dari pohon dan kembali ke rumah dengan langkah berat. Meski kecewa, ia tidak menyerah. Besok ia akan mencoba lagi.

Hari kedua dan ketiga berlalu dengan hasil yang sama. Hutan seolah menertawakannya dalam sunyi. Braja tak pernah menampakkan diri.

Wajah Ki Baraya semakin merengut setiap kali pulang.

Di rumah, Laras pun mulai gelisah. Ia sering melamun saat membantu ibunya, menyapu halaman sambil menoleh ke arah hutan tanpa sadar. Tangannya bekerja, tapi pikirannya entah ke mana.

Nyi Laras memperhatikan perubahan itu, namun memilih diam.

Memasuki hari keempat, sesuatu yang tak terduga terjadi.

Saat Ki Baraya sedang mengawasi ladang bunga—mengira Braja mungkin berpindah tempat—justru Braja berada di dekat rumah Laras.

Selama tiga hari ia menunggu di ladang, tak menemukan gadis itu. Sejak pertemuan pertama, diam-diam Braja pernah mengikuti Laras hingga mengetahui letak rumahnya. Ia hanya mengamati dari jauh, tanpa berani mendekat.

Kini ia kembali.

Tubuh hijaunya menyatu dengan dedaunan pohon rindang di dekat rumah Laras. Ia bertengger diam di dahan, matanya yang gelap mengamati halaman rumah dengan sabar.

Ia tak tahu kenapa.

Ia hanya ingin memastikan… Laras baik-baik saja.

Namun yang keluar dari rumah bukanlah Laras.

Tiba-tiba Braja mendengar teriakan seorang wanita dari arah dapur. Suaranya melengking panik. Tanpa berpikir panjang, Braja melesat dari dahan ke dahan, bergerak cepat menuju pepohonan di dekat dapur. Ia mengira itu suara Laras.

Tetapi yang ia lihat bukan Laras.

Seorang wanita dewasa berdiri gemetar di depan kandang ayam. Di hadapannya, seekor ular sanca kembang yang besar dan panjang sedang mencaplok seekor ayam. Tubuhnya tebal seperti batang kelapa muda, sisiknya berkilau kusam diterpa cahaya sore.

Wanita itu menjerit histeris. Teriakannya membuat dua anak berlari keluar dari rumah.

Salah satunya Laras.

Yang satu lagi adalah pemuda yang kemarin melemparnya dengan kayu—Jatisangkar.

Begitu melihat ular raksasa itu merayap keluar dari kandang, Jatisangkar langsung mundur dengan wajah pucat pasi. Kakinya gemetar. Ia memang paling takut pada ular—apalagi yang ukurannya hampir sebesar pohon kelapa begitu.

Nyi Lestari pun tak kalah pucat. Tangannya gemetar saat melihat kepala ular itu terangkat, lidahnya menjulur-julur mencium udara.

Berbeda dengan mereka, Laras justru berdiri menatap ular itu tanpa rasa gentar. Wajahnya tegang, tapi bukan karena takut.

Namun jelas, keadaan itu sangat berbahaya.

Ketika ular itu mulai mengangkat kepalanya lebih tinggi, siap mematuk, Nyi Lestari segera menarik tangan Laras dengan kasar.

“Laras! Jangan mendekat! Awaaas!” teriaknya panik.

Dalam sepersekian detik, sebelum ular itu benar-benar menyerang—

Braja melesat turun.

Tubuhnya mendarat ringan tepat di depan ular sanca itu. Tanah bahkan nyaris tak berdebu saat kakinya menyentuh bumi.

Ia berdiri tegak.

Lalu terdengar desisan panjang dari tenggorokannya.

“Shhhhhhhhh…”

Ular itu langsung berhenti. Kepalanya sedikit menoleh, matanya menatap tajam pada sosok di depannya.

Ia balas mendesis keras, tubuhnya melingkar, mengitari Braja perlahan seperti hendak mengukur ancaman.

Namun kali ini Braja tidak menyerang.

Ia tidak mencabut kuku, tidak menerkam.

Ia hanya berdiri, menatap, dan kembali mendesis—lebih pelan, lebih dalam.

Seakan-akan mereka sedang berbicara dalam bahasa yang tak dipahami manusia.

Ajaibnya, tubuh ular itu perlahan mengendur. Lingkarannya melemah. Kepalanya yang semula terangkat tinggi kini menunduk perlahan di hadapan Braja—seperti memberi hormat.

Semua yang menyaksikan terpaku.

Ular itu lalu merayap mendekat. Tubuh panjangnya melingkari bahu Braja, melilit pelan di lehernya.

Namun bukan untuk mencekik.

Lilitan itu lembut.

Jinak.

Seolah ular sanca kembang itu mengenali sesuatu pada diri Braja—sesuatu yang membuatnya tunduk.

1
raigor
semangat thor...cerita nusantara
👁Zigur👁: thanks 🙏
total 1 replies
abdulR
😍👍💪ok
anggita
like👍2☝☝iklan buat novel laga lokal
👁Zigur👁: thanks kak anggit.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!