Tio tidak pernah meminta untuk mati—apalagi tereinkarnasi dan bangun di dunia kultivasi brutal sebagai Ci Lung di Benua Tianlong.
Dengan tekad sederhana untuk hidup tenang di Lembah Sunyi, ia mencoba menjauh dari sekte, perang, dan orang-orang yang bisa membelah gunung hanya dengan bersin. Sayangnya, sebuah sistem misterius muncul, memberinya kekuatan… sekaligus hutang yang terus bertambah.
Lebih sial lagi, dunia mulai salah paham dan menganggapnya sebagai ahli tersembunyi yang menakutkan—padahal tingkat kultivasinya sebenarnya masih pas-pasan.
Di belakangnya berdiri Gu Shentian, guru di puncak Void Realm yang terlalu kuat untuk dijelaskan. Di sampingnya ada Yan Yu, murid kecil yang terlalu percaya bahwa gurunya adalah legenda hidup.
Ci Lung hanya ingin hidup normal.
Masalahnya…
Setiap kali ia mencoba, langit justru retak duluan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fandi Pradana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Legenda
Mereka datang bertiga.
Dua pria dewasa dan satu wanita, mengenakan jubah abu-abu dengan emblem sekte kecil di dada. Bukan sekte besar. Bukan juga kultivator kelas atas. Tapi cukup berpengalaman untuk tahu kalau sesuatu itu tidak wajar.
Dan Lembah Sunyi…
terlalu tidak wajar.
“Qi di sini… aneh,” bisik pria pertama.
“Bukan padat,” kata wanita itu pelan.
“Bukan juga tipis.”
Pria ketiga menelan ludah.
“…Ini bersih.”
Bagi kultivator, kata bersih itu mengerikan.
Qi biasanya gaduh. Saling bertabrakan. Berisik. Penuh ego manusia.
Tapi di lembah ini—qi mengalir seperti air tenang.
Seolah-olah…
tidak ada yang berani mengganggunya.
—
Dari kejauhan, mereka melihat pondok reyot.
Dan seorang pria berjubah lusuh duduk di depan, memegang mangkuk.
Di sampingnya—seorang bocah kecil sedang menyapu halaman.
“Anak kecil?”
“Pelayan?”
“Atau…”
Mereka bertiga menahan napas.
Bocah itu menyapu tanpa ritme salah. Gerakannya alami. Napasnya stabil. Setiap ayunan sapu sinkron dengan aliran qi sekitar.
Wanita itu gemetar.
“…Itu bukan gerakan anak biasa.”
Pria pertama langsung berlutut.
“Senior… kita tidak pantas menatap terlalu lama.”
Di sisi lain, Ci Lung lagi ngomel.
“Lu nyapu jangan keras-keras. Debunya naik.”
“Iya, Guru!”
Orang luar saling pandang.
Guru.
Satu kata itu cukup buat imajinasi mereka liar.
—
Mereka bersembunyi di balik batu.
“Bocah itu… umurnya paling sepuluh tahun,” bisik pria ketiga.
“Tapi fondasi tubuhnya…”
Wanita itu menggeleng pelan.
“Bukan fondasi biasa.”
Pria pertama berkeringat dingin.
“Senior itu… mungkin bukan Qi Refining.”
“Foundation Establishment?”
“Atau lebih tinggi?”
Mereka nggak tahu.
Yang mereka tahu cuma satu hal:
Tidak mungkin anak itu jadi seperti itu tanpa master monster.
—
Ci Lung berdiri.
“Masuk.”
Bocah itu nurut, ninggalin sapu.
Ci Lung melirik ikan hasil pancing.
“Kecil.”
“Maaf, Guru…”
“Bukan salah kamu. Ikannya yang tolol.”
Orang luar terdiam.
Wanita itu nyaris pingsan.
“…Menghina makhluk hidup tanpa emosi.”
“Senior itu… sudah melampaui nafsu dunia.”
Padahal Ci Lung cuma kesel ikannya kecil.
—
Malam turun.
Orang luar masih mengintai.
Mereka melihat Ci Lung makan sederhana.
Melihat dia tidak berkultivasi.
Tidak bermeditasi.
Tidak memancarkan aura.
Dan justru itu yang bikin mereka yakin.
“Senior sejati,” gumam pria pertama.
“Qi-nya menyatu dengan dunia.”
Sementara itu, bocah itu duduk di pojok.
“Guru… saya harus duduk seperti biasa?”
Ci Lung ngelirik.
“kamu capek?”
“Tidak.”
“Ya udah, tidur.”
“Iya, Guru.”
Bocah itu rebahan.
Dan di balik tirai malam—
Qi di tubuhnya berputar sekali.
Masuk ke Qi Refining layer 2 puncak.
Orang luar menutup mulut.
“…Dengan perintah tidur?”
“Ini bukan ajaran.”
“Ini kehendak.”
Mereka gemetar.
—
Akhirnya, mereka membuat kesimpulan yang fatal:
Senior Ci Lung bukan mengajar.
Dia memilih realita mana yang boleh terjadi.
—
Keesokan paginya.
Ci Lung keluar pondok, ngantuk.
“kamu bangun cepet amat.”
“Iya, Guru!”
Di kejauhan, tiga kultivator langsung bersujud.
Mereka tidak berani mendekat.
“Senior…”
“Kami hanya lewat…”
Ci Lung melirik.
“…Lewat ya lewat. Jangan rusak tanaman.”
“Tidak berani!!”
Ci Lung masuk lagi.
Bocah itu bengong.
“Guru… mereka kenapa?”
Ci Lung menguap.
“Orang aneh.”
—
Dan sejak hari itu, rumor mulai menyebar:
Ada Penunggu Lembah yang tidak berbicara soal kekuatan
Mengajar tanpa metode
Muridnya tumbuh tanpa hukum dunia
Dan yang paling menakutkan—
Dia tidak sadar kalau dirinya sedang mengubah takdir.
Dan kalo boleh jujur,
Kalau authornya konsisten pakai gaya ini, ini bisa jadi ciri khas yang beda dari pasar murim mainstream, aku bakal lanjut baca.
Inget thor aku bakal jadi salah satu pembaca yang marah kalo Yan yuu kenapa-kenapa😠