Katanya sakit hati seseorang itu adalah ketika dia diam dan pergi tanpa banyak bicara. Itu yang di lakukan Anjas, dia sakit hati pada istrinya yang selingkuh, tapi bukan pergi untuk menata hati yang hancur, dia justru pergi ke dukun untuk membalas sakit hati.
"Saya ingin dia mati Mbah"
"Ada penyiksaan yang lebih mematikan dari kematian"
"Apa itu Mbah?"
"Rasa cinta yang tak berbalas"
"Bagaimana saya melakukannya?"
"Teluh... Pelet mati"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Drama
Suasana di depan gerbang sekolah TK Maharani itu sekarang terlihat tegang, Anjas masih meminta Aisyah diam di belakangnya karena Sofyan masih belum mau pergi, dia membaca sesuatu dan menatap remeh para bodyguard Anjas, hingga dalam satu gerakan cepat Sofyan menyerang para bodyguard itu tanpa takut.
"Ada sesuatu yang masuk ke dalam tubuhnya, tadi dia terlihat takut dan akan kabur tapi kenapa sekarang dia justru maju dengan percaya diri" batin Anjas terus melihat ke arah Sofyan yang sedang memukuli para bodyguardnya.
Bugh. Bugh.
"Akhh.. pak, maafkan kami, dia sepertinya punya tenaga dalam" ucap bodyguard Anjas yang sudah kalah dan ada yang pingsan.
"Mundurlah, dan coba sadarkan teman kamu" jawab Anjas
"Hahaha lemah!" ejeknya maju ke arah Anjas
"Pak Anjas, papa!" ucap Aisyah dan Adisti terlihat khawatir
"Kalian tetap di sana, ambil kunci mobil ini dan masuk ke dalam mobil sekarang" ucap Anjas melemparkan kunci mobilnya pada Aisyah yang segera membawa Adisti masuk ke dalam mobil supaya aman.
"Kamu ternyata berani juga, kamu benar benar menyukai Aisyah?" sinis Sofyan
"Saya kan sudah bilang kalau saya adalah calon suami Aisyah bahkan sudah melamar Aisyah pada ayahnya secara langsung" jawab Anjas
"Tidak mungkin Om Rizwan menerima kamu! aku yang akan menikah dengan Aisyah!" bentak Sofyan menerjang ke arah Anjas tapi dia segera menghindar dan menepis pukulan Sofyan.
Anjas bersiap dengan kuda kuda yang dia kuasai sejak lama berlatih bela diri pencak silat, Sofyan juga tidak tinggal diam, dia kembali membaca mantra dan tiba tiba saja ikat pinggang yang di pakai Sofyan mengeluarkan cahaya berwarna kuning keemasan yang hanya bisa di lihat Anjas dan Sofyan.
"Kamu melihatnya?" tanya Sofyan merasa curiga karena pandangan Anjas terus tertuju pada pinggangnya.
"Melihat apa? aku tidak mengerti" jawab Anjas berbohong dan memilih untuk segera menyerang Sofyan.
Sofyan menghindar, dia beberapa kali berhasil memukul perut Anjas tapi anehnya Anjas sama sekali tidak terlihat kesakitan ataupun mundur.
"Tunggu! siapa kamu sebenarnya?" tanya Sofyan menahan Anjas yang akan menyerangnya
"Aku hanya manusia biasa" jawab Anjas
"Bohong, aku punya ilmu kebal dan saat aku memukul seseorang, orang itu pasti akan terluka dalam" ucap Sofyan
"Mungkin hanya kebetulan saja aku adalah murid dari padepokan pencak silat Khasanah, aku juga punya tenaga dalam karena aku sudah lulus di perguruan itu" jawab Anjas tidak sombong.
"Pantas, tapi aku tidak akan mengalah"
Sofyan kembali menyerang Anjas dengan cepat dan mengincar titik lemah tubuh Anjas, tapi Anjas terus bisa menepisnya hingga....
Bugh. Brak.
"Hueekkk..." Sofyan terkena pukulan Anjas tepat di dadanya hingga Sofyan terbentur mobilnya sendiri dan muntah darah.
"Kamu... kamu punya khodam!" gumam Sofyan yang sekelebat melihat sesuatu menghantam dadanya saat Anjas maju ke arahnya.
"Apa itu khodam, saya tidak mengerti" jawab Anjas berdiri di depan Sofyan yang kini terduduk sambil memegangi dadanya yang terasa sesak
"Ikat pinggang kamu itu, aku tahu tentang ikat pinggang itu sebaiknya kamu tidak menganggu Aisyah lagi, atau akan aku musnahkan ikat pinggang itu supaya tidak ada yang bisa kamu sombongkan dari tubuh kamu itu!" ancam Anjas
"Tapi Aisyah itu...."
"Aisyah calon istriku! calon istri Anjas Andrian! camkan itu!" bentak Anjas dan Sofyan mengangguk.
"Cepi! bawa dia ke rumah sakit begitupun dengan teman teman kamu yang lain" perintah Anjas
"Baik tuan" jawab Cepi tangan kanan Anjas.
Anjas berbalik dan mendekat ke arah mobilnya, dia masuk setelah menetralkan nafasnya karena dia mengeluarkan cukup banyak tenaga untuk menyerang Sofyan yang juga punya kekuatan begitu besar.
"Pak, bapak tadi kena pukul, apa tidak apa apa?" tanya Aisyah khawatir
"Sepertinya beberapa bagian tubuhku terluka lebam, rasanya sangat menyakitkan" jawab Anas berpura-pura lemas
"Astagfirullah pak, bagaimana ini, biar saya yang nyetir kalau begitu, ayo bapak duduk yang benar dan pakai sabuk pengamannya, ini Adisti bapak pangku" panik Aisyah yang bahkan memakaikan Anjas sabuk pengaman hingga wangi tubuh Aisya bisa tercium dengan jelas di hidung Anjas.
"Pa..." bisik Adisti
"Apa" bisik Anjas pura pura meringis kesakitan
"Bu gulu sejak tadi tellihat khawatil sama papa, Adis juga, papa tidak apa apa kan?" tanya Adisti
"Papa baik baik saja, papa hanya akting supaya Bu guru kamu mau mampir ke rumah kita" bisik Anjas membuat Adisti cekikikan.
Mobil itu melaju ke arah rumah Anjas, beberapa kali Aisyah menanyakan arah jalan karena dia tidak tahu arah rumah Anjas dan masih belum familiar dengan daerah perumahan Anjas.
"Itu lumah kami di depan Bu gulu, yang cat warna hitam gelbangnya" tunjuk Adisti pada satu rumah yang di kelilingi tembok tinggi dan gerbang berwarna hitam dengan gambar bunga mawar merah di depan gerbang itu.
Aisyah masuk setelah Anjas meminta penjaga membuka gerbang, dan setelah masuk sebuah rumah besar bisa di lihat Aisyah berdiri dengan kokoh di keliling banyak pohon yang membuat rumah itu jadi lebih mirip villa di tengah hutan rindang Denga taman bunga di halaman depan rumah itu.
"Ya ampun pak Anjas, bapak kenapa?" tanya Tari khawatir saat Aisyah membantu Anjas berjalan begitupun dengan Adisti yang membawa tas kerja Anjas.
"Saya di serang orang bi, jadi sedikit lemas" jawab Anjas meminta Tari dan Lilis menyiapkan makanan dan minuman untuk Aisyah.
"Padahal bapak juga beberapa waktu yang lalu sempat terluka karena di begal sekarang di pukul orang" ucap Lilis melirik Aisyah yang mendudukan Anjas di sofa ruang keluarga.
"Adis, ganti pakaian dulu nak, setelah itu Kembali lagi ke sini" ucap Anjas
"Baik pa, Bu gulu, Adis ganti baju dulu ya, nanti Adis minta bi Lilis untuk bawa obat untuk papa" ucap Adisti
"Aakhhh!" ringis Anjas membuat Anisa yang sedang memperhatikan Adisti berjalan di tangga jadi teralihkan.
"Astagfirullah, maaf pak, saya akan obati bapak" ungkap Aisyah segera mendekat ke arah Anjas
"Di sini sakitnya" tunjuk Anjas pada perutnya
"Hah..." bengong Aisyah dengan mata melotot
"Iya, katanya mau di obati kan? Obati sekarang" goda Anjas membuka kancing kemeja yang dia pakai membuat dada Aisyah berdetak kencang.
"Pak kita ke rumah sakit saja ya pak" bujuk Aisyah
"Kenapa? Katanya akan Bu guru obati, saya sudah semangat loh karena akan di obati ibu guru" ledek Anjas
"Tapi.. Tapi kita bukan mahrom pak, tidak boleh" jawab Aisyah memelas membuat Anjas tertawa.
"Akhirnya ada satu orang yang tidak terpengaruh ilmu pelet mati ini" batin Anjas merasa senang karena menemukan satu orang yang tulus.