NovelToon NovelToon
Ibu Yang Tak Pernah Dipanggil Mama

Ibu Yang Tak Pernah Dipanggil Mama

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Ibu Tiri / Ibu Mertua Kejam / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Aure Vale

Helena kira setelah ia memilih menikah dengan seorang duda beranak 3 dan juga menjadi seorang mualaf kehidupannya akan membaik, namun ia salah, karena setelah menikah pun keluarga dan saudaranya tidak pernah berhenti mengusik kehidupannya belum lagi kedua anak tirinya tidak pernah menyukai keberadaannya bahkan Helena tidak pernah mendengar kata 'mama' keluar dari bibir mereka.

Dan suatu ketika, ia mengetahui niat Farhan menikahi dirinya, bahkan alasan mengapa tidak ada satupun keluarga besar Farhan menyukak dirinya. Hatinya benar-benar terluka, cinta yang tulus ia berikan kepada Farhan ternyata hanya dianggap sampah yang menjijikan olehnya.

Helena bertekad, ia akan membalas semua orang yang melukai hatinya agar mendapatkan hal yang setimpal dengan dirinya, karena mulai saat itu, ia akan berpura-pura menjadi lemah dan memaklumi banyak hal demi bisa membalas semua rasa sakit hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aure Vale, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertemu dengan ipar lagi

Helena bergerak mundur begitu Farrel sudah semakin dekat dengannya, ia tidak tau dari mana Farrel bisa menemukan dirinya, padahal ia sudah berusaha keras untuk menghindari Farrel juga keluarganya.

"Jangan macam-macam Farrel!" ancam Helena menunjuk wajah Farrel yang langsung di tepis kasar oleh Farrel

"Jangan galak-galak dong, susah loh mencari waktu untuk bisa bertemu denganmu, lelah juga aku setiap hari selalu mengawasimu, tapi akhir-akhir ini kenapa jarang keluar rumah, hmm? Takut bertemu denganku? Jangan sering-sering di dalam rumah ya, sayang, keamanan rumah suamimu sangat sulit di tembus," ucap Farrel dengan kedua tangan yang langsung menahan tangan Helena ke belakang.

Helena memberontak berusaha melepaskan diri dari bajingan yang sudah membuat Helena semakin membenci kedaan dirinya yang lemah.

Helena hendak menendang Farrel, tapi pria itu lebih dulu sadar dan menghindar, Farrel mengikat kedua lengan Helena dan menutup mulut Helena dengan kain tebal berwarna hitam, setelah itu ia membawa Helena masuk ke dalam mobil berwarna hitam.

Helena panik, ia kembali memberontak, tapi gerakkannya malah semakin membuat ikatan di tangannya mengencang, Helena menangis, Lagi-lagi ia kalah, lagi-lagi ia harus berada di dalam situasi yang sangat di bencinya, lagi-lagi semesta tidak berbuat adil kepadanya.

Helena ingin berteriak sekencang mungkin, tapi lehernya pun diikat ke belakang sandaran kursi, dari leher sampai pinggang, benar-benar penuh dengan tapi berwarna hitam, Helena tidak bisa lagi berontak, karena pergerakkannya yang sangat terbatas, belum lagi dadanya yang terasa sesak, karena Farrel mengikat dirinya begitu kencang.

Helena hanya bisa menangis, ia marah kepada keadaan yang tidak pernah berpihak kepadanya, ia marah kepada orang-orang yang membuatnya me jadi seperti ini, lemah dan mudah Terombang.

Helena melotot begitu ia tahu ia akan di bawa kemana, ia sudah hafal jalan ini, jalan menuju ke rumahnya.

Kakinya mencoba ia gerakkan asal, tubuhnya pun ia paksakan tetap bisa di gerakkan, ia tidak mau lagi masuk ke dalam neraka yang isinya bahkan lebih menjijikan daripada hewan.

Farrel yang sedang menyetir tertawa kecil, "kenapa? Kau senang kembali ke rumah? Tentu saja senang, kita akan kembali berkumpul di sana, kali ini aku tidak akan membiarkan suamimu membawamu lagi ke dalam rumahnya, kau terlalu sulit ditemui di sana, jadi aku selalu berusaha mencari celah untuk bisa membawamu pulang," setelah itu Farrel kembali tertawa, tertawa puas karena ia berhasil membawa incarannya ke dalam rumah.

Farrel membuka semua ikatan yang menahan tubuh Helena duduk di kursi, setelah ia kembali melilitkan tapi ke tubuh Helena sendiri, ia langsung menggendong Helena dan membawanya ke dalam rumah, alias rumah dirinya sebelum menikah.

"Lihat siapa yang aku bawa," dengan bangganya Farrel memamerkan Helena yang berada di dalam gendongannya.

Semua orang terkejut melihat Helena yang sudah berada di tangan Farrel, terutama sang kakak perempuan yang memang sejak dulu sangat suka bermain bersama Helena. Bermain dalam artian melukai Helena.

Helena menggelengkan kepalanya, ia tidak mau lagi kembali ke rumah, bahkan ia sama sekali tidak berani menatap keluarganya yang sangat Helena benci.

"Wow, selamat datang Helena," teriak semua orang heboh.

Helena menggelengkan kepalanya begitu ia bawa masuk ke dalam ruangan yang sangat sepit, ruangan tempat ia tidur selama hampir 27 tahun.

Setelah menaruh Helena di dalam ruangan berdebu itu, Farrel mengunci pintu ruangan tanpa melepaskan ikatan yang ada di tubuh Helena.

Helena mengepalkan tangannya erat, lagi-lagi ia di perlakukan seperti sampah, seperti binatang, Helena berjanji jika ia berhasil keuar dari dalam sangkar ini, Helena akan balas semua perlakukan mereka terhadap Helena.

Helena menangkan dirinya sendiri, ia tidak bisa terus menangis dan panik, atau dia tidak akan pernah bisa keluar dari dalam sini.

Perlahan Helena melepaskan ikatan di kakinya dengan tangan yang terikat itu, lalu pelan-pelan, ia mencoba menggerakkan lengannya yang diikat kencang dengan tali, ia tidak boleh panik, atau semuanya akan gagal.

Helena tahu, mereka akan mengurungnya sampai mereka selesai membicarakan apa yang seharusnya mereka lakukan kepada Helena, dan itu pasti akan sedikit memakan waktu yang lama, Helena tidak ingin membuang-buang waktu, maka dengan gerakan tenang dan terkendali, Helena mencoba melepaskan talinya, tapi terasa sangat sulit.

Matanya menatap sekeliling, ternyata masih ada beberapa barang miliknya yang belum di buang, lalu tidak sengaja matanya melihat sebuah cutter kecil di bawah kolong meja yang penuh dengan kardus berdebu.

Dengan perasaan senang, Helena mengesot ke arah bawah meja dan meraih cutter dengan tangannya yang terikat.

Helena bingung bagaimana caranya ia memutuskan tali di lengannya, telapak tangan kanannya mencoba memegang cutter kecil itu dan mengarahkannya ke belakang, mencoba memotong tali yang sedikit tebal itu.

Dengan gerakan pelan, Helena mengiris tali tersebut sampai satu persatu lepas, setelah bagian lengan bawahnya terlepas, Helena menunduk agar bisa membuka kain penutup mulutnya.

"Tinggal buka yang berada di badan," lirih Helene.

karena lengan bagian atasnya masih terikat bersatu dengan tubuh, Helena sedikit kesulitan saat memotong-motong tali di tubuhnya.

Awalnya Helena hampir menyerah karena tidak kunjung bisa, tapi begitu ia menemukan cara yang lebih simple, ikatan di tubuhnya satu persatu terlepas. Helena tersenyum lebar begitu ia berhasil meloloskan diri dari tali yang mengikat tubuhnya itu.

Helena kembali mencari celah untuk bisa kabur dari dalam ruangan yang sempit itu, ia mendongak dan menemukan ventilasi yang sepertinya cukup untuk tubuhnya.

Ia memindahkan meja di bawa ventilasi tersebut, dan naik ke atasnya, membuka pelan-pelan penutup ventilasi itu, lalu manaruhnya dengan hati-hati di bawah.

Helena tidak boleh lama-lama berada di dalam ruangan ini, karena pasti mereka sebentar lagi akan ada yang datang ke kamarnya untuk melihat kondisi dirinya, bukan karena khawatir, tapi karena tidak akan pernah membiarkan Helena lolos lagi setelah acara kaburnya setengah tahun yang lalu.

Dengan hati-hati Helena memasukkan kaki kanannya terlebih dahulu, kemudian kepalanya juga tubuhnya, ia harus benar-benar hati-hati karena yang Helena injak di luar bukanlah pijakan yang kuat, bisa saja Helena terjatuh karena tidak kuat menopang tubuh Helena.

Setelah berhasil mengeluarkan kepada juga tubuhnya, perlahan Helena mengeluarkan kaki kirinya, dengan perasaan sedikit takut, Helena loncat dari atas pijakan yang reyot itu. Ia tidak mau mengambil resiko berdiri di sana sampai ambruk dan berujung ia ketahuan.

Jantung Helena langsung berdetak cepat begitu ia mendengar suara pintu di jantung kasar, itu pasti mereka sudah sadar jika Helena berhasil kabur, cepat-cepat Helena berlari ke arah jalanan kecil yang di mana jalanan itu akan langsung tembus ke toko roti yang waktu itu pernah menjadi tempat Helena melarikan diri.

Helena tidak sadar jika hijab yang ia pakai sudah benar-benar berantakan sehingga beberapa anak rambut keluar bebas dari dalam kerudung.

Helena langsung masuk ke dalam gudang toko roti yang sudah terbengkelai, karena ia mendengar jelas jika ada seseorang yang sedang mengejarnya di belakang.

"Dia pasti masuk ke dalam toko roti."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!