Di kota futuristik Astra City, manusia biasa dan mereka yang memiliki kekuatan super hidup berdampingan setelah munculnya fenomena langit merah misterius. Raka Mahendra, pemuda dengan energi kosmik yang tak terkendali, harus menghadapi takdirnya, menyelamatkan kota, dan mengungkap rahasia di balik kekuatannya. Bersama Kayla, pengendali gravitasi, dan Adrian, bayangan dari masa lalu, Raka akan menghadapi peperangan, pengkhianatan, dan takdir kosmik yang akan mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DragonLucifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 – Pesan dari Masa Lalu
Pagi datang tanpa benar-benar menghapus merah dari langit Astra City.
Di kamar observasi Menara Helios, Raka terbangun sebelum alarm berbunyi. Ia duduk perlahan, napasnya teratur. Tidak ada ledakan energi. Tidak ada cahaya liar.
Namun ia merasakan sesuatu.
Panggilan.
Bukan suara. Bukan mimpi.
Lebih seperti ingatan yang belum pernah ia miliki.
Ia berdiri dan berjalan menuju jendela. Ketika tangannya menyentuh kaca, simbol di dadanya berdenyut pelan.
Tiba-tiba—
Kilasan.
Sebuah ruangan laboratorium putih. Bau antiseptik. Lampu terang. Mesin-mesin berdering pelan.
Dan seorang wanita berambut panjang tersenyum lembut sambil memeluk bayi kecil.
“Dia akan kuat,” suara wanita itu lembut.
Seorang pria berdiri di sampingnya, wajahnya tegang tapi penuh tekad.
“Kalau proyek ini gagal, Helios akan memburunya.”
Wanita itu menatap bayi itu.
“Kalau berhasil… dia akan menjadi harapan.”
Kilasan itu pecah seperti kaca.
Raka tersentak mundur.
“Helios…” gumamnya.
Pintu kamar terbuka. Kayla masuk membawa dua cangkir minuman hangat.
“Kau sudah bangun?” tanyanya.
Raka menatapnya dengan ekspresi berbeda.
“Kayla… apakah Helios punya proyek rahasia bertahun-tahun lalu?”
Kayla terdiam sesaat.
“Helios punya banyak proyek rahasia.”
“Aku melihat orang tuaku,” lanjut Raka pelan. “Di laboratorium.”
Cangkir di tangan Kayla hampir jatuh.
“Kau yakin itu bukan sekadar efek energi?”
Raka menggeleng.
“Rasanya nyata. Terlalu nyata.”
---
Ruang Arsip Tertutup – Menara Helios
Arsen berdiri di depan pintu baja tebal dengan pemindai retina.
“Apa yang kau minta ini,” katanya tanpa menoleh, “bisa dianggap pelanggaran protokol.”
Raka menatapnya lurus.
“Kalau hidupku hasil eksperimen, aku berhak tahu.”
Arsen terdiam beberapa detik.
Lalu pintu terbuka dengan suara berat.
Di dalam, deretan server tua dan layar hologram menyala redup.
Adrian sudah berdiri di sana lebih dulu.
“Kalian lama,” katanya santai.
Kayla menatapnya curiga.
“Kau sudah tahu tempat ini?”
Adrian tersenyum tipis.
“Aku tahu banyak hal.”
Arsen menyalakan satu terminal utama.
“Sepuluh tahun lalu,” katanya perlahan, “Helios menjalankan program bernama… Astralis.”
Raka membeku.
“Proyek Astralis?” bisiknya.
Arsen meliriknya.
“Bagaimana kau tahu nama itu?”
“Aku melihatnya,” jawab Raka pelan. “Di kepalaku.”
Arsen tidak terlihat terkejut—lebih seperti orang yang akhirnya menemukan potongan puzzle.
Ia menampilkan rekaman lama.
Hologram memperlihatkan dua ilmuwan muda berdiri di depan papan digital bertuliskan: ASTRALIS – GENETIC RESONANCE INITIATIVE.
Kayla membaca cepat.
“Resonansi genetik dengan energi Astra…”
Adrian menambahkan pelan,
“Menciptakan pewaris buatan.”
Jantung Raka berdegup keras.
Hologram memperbesar wajah dua ilmuwan itu.
Raka menahan napas.
“Itu mereka…”
Wanita dan pria dari kilasannya.
Arsen mengangguk pelan.
“Dr. Mahendra dan Dr. Althea.”
Raka menatap Arsen.
“Mahendra… itu nama belakangku.”
“Karena kau anak mereka.”
Sunyi menyelimuti ruangan.
Kayla menatap Raka, lalu kembali ke layar.
“Apa yang terjadi pada proyek ini?”
Arsen menghela napas.
“Dihentikan.”
“Kenapa?” tanya Raka.
Adrian menjawab lebih dulu,
“Karena eksperimen berhasil.”
Semua menoleh ke arahnya.
Adrian melangkah mendekat ke hologram.
“Helios ingin mengendalikan Astra. Tapi orang tuamu ingin menyeimbangkannya. Mereka percaya Astra bukan senjata… melainkan evolusi.”
Raka mengepalkan tangan.
“Jadi aku… hasil eksperimen?”
Arsen menjawab tegas,
“Kau bukan kegagalan laboratorium. Kau anak dua ilmuwan yang mencoba mencegah bencana.”
Layar tiba-tiba berkedip.
Sebuah file tersembunyi terbuka otomatis.
Rekaman video lama muncul.
Dr. Althea menatap kamera dengan mata lelah tapi penuh harapan.
“Jika kau melihat ini, berarti segel telah aktif.”
Raka membeku.
“Itu untukku…”
Di rekaman, Dr. Mahendra berdiri di samping istrinya.
“Kami tidak tahu apakah Helios akan mengizinkan proyek ini berlanjut,” katanya serius. “Tapi jika Astra terus berkembang tanpa keseimbangan, kota ini akan hancur.”
Dr. Althea menambahkan lembut,
“Raka… jika itu namamu sekarang… ketahuilah satu hal.”
Air mata menggenang di mata Raka.
“Kau tidak diciptakan untuk menjadi senjata.”
Dr. Mahendra menatap kamera tajam.
“Kau diciptakan untuk menjadi jembatan.”
Rekaman berhenti.
Sunyi.
Kayla memegang tangan Raka.
“Raka…”
Raka menatap layar kosong itu.
Selama ini ia merasa seperti kecelakaan.
Seperti ancaman.
Seperti kesalahan.
Tapi sekarang…
Ia mengerti.
“Aku bukan kesalahan,” katanya pelan.
Adrian tersenyum kecil.
“Tidak pernah.”
Arsen menyilangkan tangan.
“Masalahnya sekarang,” katanya serius,
“jika ada pihak lain yang tahu tentang Astralis… mereka mungkin mencoba menciptakan pewaris lain.”
Raka teringat kilasan wajah yang belum pernah ia lihat.
Dan bisikan:
“Waktu hampir tiba.”
Lampu ruangan tiba-tiba berkedip.
Alarm darurat berbunyi.
Teknisi di luar berteriak,
“Komandan! Ada peretasan ke server lama! Seseorang mencoba mengakses file Astralis dari luar!”
Arsen langsung bergerak.
“Lacak sumbernya!”
Raka menatap layar yang berkedip.
Di sudut monitor, satu simbol muncul sesaat—
Lingkaran merah dengan retakan di tengahnya.
Adrian menatap simbol itu dengan mata menyipit.
“Sepertinya… kita tidak sendirian dalam warisan ini.”
Raka menarik napas dalam.
Darah di tubuhnya terasa hangat.
Jika masa lalunya akhirnya memanggilnya—
Ia tidak akan lari lagi.
“Kalau mereka ingin bermain dengan masa lalu,” katanya pelan tapi tegas,
“aku akan menyambut mereka di masa depan.”
Langit di luar kembali memerah.
Dan kali ini, kilatan biru dan merah muncul bersamaan.
Seolah dua warisan berbeda… sedang saling mencari.