NovelToon NovelToon
Mafia Kejam Jatuh Cinta

Mafia Kejam Jatuh Cinta

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: erinaCalistaAzahra

Marvel Dewangsa sadar bahwa hatinya sudah lama mati. Mungkin dari pengkhianatan oleh wanita yang ia sayangi, ditambah ia yang berkecimpung di dunia bawah yang tidak memerlukan simpati untuk bertahan hidup. Ia akhirnya percaya bahwa hidupnya akan seallau gelap sampai mati.

Namun, entah keajaiban apa, di hari itu seorang wanita yang bernama Elara , datang dan perlahan selalau ada di kehidupannya. Apakah marvel Dewangsa akan menerima Elara di kehidupannya dan hatinya akan luluh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erinaCalistaAzahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

penculikan elara

Enam bulan telah berlalu. Elara tidak lagi melukis pemandangan pelabuhan yang kelam; kini kanvasnya dipenuhi warna-warna pastel yang cerah—simbol kehidupan baru yang sedang tumbuh di rahimnya. Marvel, sang "Penjagal", kini lebih sering menggenggam alat tes kehamilan dan foto hasil USG daripada pisau belati.

Namun, kedamaian itu hancur saat Marvel sedang dalam perjalanan membeli perlengkapan bayi. Ponselnya bergetar, menampilkan video singkat: Elara terikat di kursi besi dengan perutnya yang membuncit, sementara seorang pria bertopeng mengarahkan moncong senjata ke arahnya.

"Satu nyawa untuk dua nyawa, Marvel," suara parau itu menggema. Itu adalah sisa-sisa musuh lama Marvel dari kartel saingan yang ingin membalas dendam melalui harta paling berharganya.

Tanpa bantuan organisasi, Marvel bergerak sendirian. Ia menyerbu markas musuh di gudang tua pinggiran kota. Di sana, amarahnya melampaui rasa takut. Di tengah baku tembak, ia hanya memikirkan satu hal: keselamatan anak yang bahkan belum sempat ia sapa namanya.

Saat ia berhasil mendobrak pintu ruangan tempat Elara disekap, Elara menatapnya dengan penuh harap meskipun tubuhnya gemetar. "Marvel... bayi kita..." bisiknya lirih.

Marvelmenghabisi penjaga terakhir dengan tangan kosong—sebuah tindakan brutal yang dilakukan demi melindungi kemurnian. Ia mendekap Elara, merasakan tendangan kecil dari dalam perut Elara yang seolah mengenali kehadiran ayahnya.

"Aku di sini," bisik Marvel, suaranya parau karena emosi. "Tidak akan ada lagi yang bisa menyentuh kalian."

Malam itu, Marvel menyadari bahwa menjadi mafia bukan lagi tentang kekuasaan, melainkan tentang memiliki sesuatu yang begitu berharga sehingga ia rela membakar seluruh dunia hanya untuk menjaganya tetap aman.

Gudang tua itu berbau karat dan mesiu. Di tengah ruangan yang hanya diterangi satu lampu gantung, Elena terikat. Gaun hamilnya yang berwarna putih kini ternoda debu. Di belakangnya, berdiri Victor, rival bebuyutan Marco yang telah lama menyimpan dendam.

"Kau melunak, Marco," ejek Victor sambil menempelkan pisau dingin ke leher Elena. "Singa Utara sekarang punya titik lemah. Dan titik lemah ini... sangat cantik."

Marvel berdiri di ambang pintu, sendirian. Senjatanya sudah ia letakkan di lantai atas perintah Victor. Matanya yang biasanya sedingin es kini memancarkan api yang bisa menghanguskan siapa saja. Namun, saat tatapannya jatuh ke perut Elara yang membuncit, jantungnya berdegup kencang—bukan karena takut mati, tapi karena takut gagal.

"Lepaskan dia," suara Marvel rendah, bergetar karena amarah yang ditahan. "Ambil nyawaku. Kau ingin kepalaku, bukan?"

"Aku ingin kau melihat mereka mati dulu," seringai Victor.

Pada detik itu, Elara berteriak kesakitan—bukan karena luka, tapi karena kontraksi hebat akibat stres penculikan. Kesadaran bahwa anak mereka terancam memicu sesuatu yang gelap di dalam diri Marvel.

Dengan gerakan yang hampir tidak terlihat mata, Marvel mengeluarkan pisau kecil yang disembunyikan di balik lengan bajunya. Dalam satu gerakan brutal, ia menerjang. Suasana menjadi kacau. Marvel tidak lagi bertarung seperti manusia; ia bertarung seperti iblis yang melindungi hartanya.

Setiap orang yang menghalanginya tumbang. Saat ia mencapai Victor, Marvel tidak memberinya ampun. Tidak ada negosiasi. Hanya ada keadilan bagi seorang pria yang berani menyentuh dunianya.

Setelah semuanya berakhir, Marvel bersimpuh di depan Elara. Tangannya yang berlumuran darah gemetar saat membelai pipi Elara yang pucat.

"Marvel... bayinya..." bisik Elara lemah.

Tanpa membuang waktu, Marvel menggendong Elara keluar dari sarang maut itu. Ia memacu mobilnya menembus jalanan malam, melanggar semua aturan, demi satu tujuan: Rumah Sakit terdekat.

Pedal gas diinjak hingga menyentuh lantai. Mobil SUV hitam milik Marvel meraung membelah jalanan kota yang basah oleh sisa hujan. Di kursi belakang, Elara mengerang kesakitan, tangannya mencengkeram jok kulit dengan kuku yang memutih.

"Bertahanlah, Elara! Jangan tutup matamu!" teriak Marvel. Matanya terus melirik kaca spion, bukan untuk melihat musuh, tapi untuk memantau kondisi Elara yang kian pucat.

Darah dari luka tembak di bahu Marvel erembes ke kemeja putihnya, namun ia tidak merasakannya. Baginya, setiap detik lampu merah yang ia terjang adalah pertaruhan nyawa anak dan wanitanya. Ia meraih ponsel, menghubungi Rumah Sakit terdekat dengan satu tangan sementara tangan lainnya mengendalikan kemudi dalam kecepatan 140 km/jam.

"Siapkan ruang operasi sekarang! Jika ada satu hal saja yang salah, aku akan meratakan tempat itu!" ancamnya melalui telepon, sisi gelap mafianya masih mendominasi cara ia berkomunikasi.

Tiba-tiba, dua mobil hitam muncul di belakang—sisa-sisa anak buah Victor yang masih haus darah. Mereka melepaskan tembakan ke arah mobil Marvel. Prang! Kaca belakang pecah berantakan.

"Tiarap!" teriak Marvel. Ia melakukan manuver J-turn yang ekstrem, mengemudi mundur sambil melepaskan tembakan balasan dengan akurasi mematikan, menjatuhkan pengejarnya masuk ke dalam parit.

Mobil Marvel akhirnya mengerem mendadak tepat di depan pintu IGD. Puluhan perawat dan petugas keamanan sudah menunggu. Saat pintu mobil terbuka, Marvel tidak lagi terlihat seperti pemimpin mafia yang ditakuti; ia hanya seorang pria yang hancur karena takut kehilangan.

"Selamatkan mereka," bisik Marvel parau kepada

Di depan pintu baja ruang operasi yang tertutup rapat, Marvel berdiri mematung. Kemeja putihnya yang koyak kini lebih banyak berwarna merah—campuran antara darahnya sendiri dan darah musuh yang ia tumpas di gudang tadi.

Ketegangan di ruang tunggu itu terasa begitu pekat, seolah oksigen telah habis diisap oleh kecemasan:

Kehadiran yang Mengancam: Marvel terus mondar-mandir seperti harimau dalam sangkar. Tatapannya yang tajam membuat petugas keamanan rumah sakit enggan mendekat, meski mereka tahu pria itu membawa aura kekerasan. Setiap kali pintu geser terbuka, Marvel menyentak kepalanya, berharap ada kabar, namun hanya kesunyian yang kembali menyapa.

Protokol Keamanan: Di sudut lorong, beberapa anggota kepolisian mulai bermunculan karena laporan baku tembak di jalanan tadi. Namun, satu lirikan dingin dari Marvel—dan telepon singkat ke pengacaranya—membuat mereka tertahan di jarak aman. Sesuai prosedur operasional SOP Keamanan Rumah Sakit, area tersebut segera disterilkan untuk menghindari keributan lebih lanjut.

Perang Batin Sang Mafia: Untuk pertama kalinya dalam hidup, senjata tidak bisa membantunya. Marvel menatap telapak tangannya yang gemetar. Ia bisa meruntuhkan kerajaan bisnis lawan dalam semalam, tapi di sini, di depan takdir medis, ia sama sekali tidak berdaya. Ia teringat janjinya pada Elara untuk meninggalkan dunia hitam ini demi anak mereka.

Kode Darurat: Terdengar pengumuman "Code Blue" dari pengeras suara internal, yang dalam istilah rumah sakit menandakan adanya situasi kritis. Jantung Marvel seakan berhenti berdetak. Ia menerjang pintu ruang operasi, namun tertahan oleh dua perawat.

"Tuan, Anda harus tenang! Dokter sedang berupaya maksimal!"

Satu jam terasa seperti satu dekade. Marvel bersandar di dinding, perlahan merosot hingga duduk di lantai yang dingin. Pria yang paling ditakuti di seluruh kota itu kini menelungkupkan wajah di kedua tangannya, berdoa kepada Tuhan yang sudah lama ia lupakan.

Tiba-tiba, suara tangis bayi yang melengking memecah keheningan koridor.

1
Dysha♡💕
bagus
Dysha♡💕
ceritanya bagus,tapi terlalu singkat dan cepat,,jadi kurang menghayati gitu,,,
erin
jangan bosan untuk membaca
erin
jangan lupa mampir🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!