NovelToon NovelToon
Istriku Ratu Iblis Dunia Murim

Istriku Ratu Iblis Dunia Murim

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mafia / Time Travel / Cintapertama
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Kang Yun-seo, seorang pemuda biasa dari dunia modern yang doyan main game, tiba-tiba terbangun di dunia Murim yang penuh intrik dan seni bela diri. Ia dipanggil oleh Hwang Yehwa, ratu iblis yang sekarat akibat pengkhianatan, dan kini kehilangan kekuatannya, berubah wujud menjadi manusia biasa. Untuk bertahan di wilayah manusia yang memusuhi iblis, Yun-seo harus berpura-pura sebagai suaminya. Dengan pengetahuan modernnya, Yun-seo beradaptasi di akademi pedang, menghadapi turnamen, konspirasi gelap, dan bangkitnya kekuatan iblis, sambil menumbuhkan ikatan tak terduga dengan ratu dingin itu. Sebuah kisah isekai penuh aksi, komedi, dan romansa di antara dua dunia yang bertabrakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: PERTEMUAN KEMBALI

Yehwa tiba di gerbang Akademi Pedang Iblis Langit saat matahari mulai condong ke barat.

Perjalanan dari Kuil Matahari memakan waktu empat hari—lebih cepat dari perkiraan karena ia terbang di malam hari dengan sayapnya. Tapi kini, di bawah sinar matahari, ia kembali menjadi Hwang Yehwa, murid biasa.

Petugas gerbang mengenalinya. "Nyonya Hwang? Sudah kembali dari urusan keluarga?"

Yehwa mengangguk sopan. "Ya. Terima kasih."

Ia berjalan masuk, menahan keinginan untuk langsung berlari mencari Yun-seo. Tapi ia harus tenang. Harus biasa saja. Tidak boleh mencurigakan.

Di lapangan, beberapa murid sedang berlatih. Ia melihat Song Ha-na dengan pedangnya, gerakan anggun mematikan. Gadis itu menoleh, mengangguk sekilas—sapaan dingin seperti biasa.

Lee Soo-jin, teman sekamarnya, melambai gembira. "Yehwa! Kau kembali! Aku kangen!"

Yehwa tersenyum tipis. "Aku juga."

"Bagaimana urusan keluarga? Selesai?"

"Selesai."

Soo-jin tidak bertanya lebih lanjut, untungnya. Ia terlalu periang untuk curiga.

Yehwa berjalan menuju asrama putri, menaruh barang-barangnya. Baju Zirah Iblis ia sembunyikan di bawah ranjang, dilapisi kain tebal. Tidak ada yang akan mencarinya di sini.

Setelah membereskan diri, ia keluar. Kini saatnya mencari Yun-seo.

---

Yun-seo sedang berlatih di lapangan belakang bersama Cheol-soo.

Pedang kayu di tangannya bergerak cepat—jurus keempat, kelima, keenam. Ia sudah hafal di luar kepala. Seminggu tanpa Yehwa, ia habiskan dengan latihan gila-gilaan.

Cheol-soo kewalahan. "Hyung, hyung! Pelan-pelan! Aku nggak bisa nangkis!"

Yun-seo berhenti, menghela napas. "Maaf. Aku terlalu bersemangat."

"Bersemangat atau stres?" Cheol-soo menyenggolnya. "Kangen istri, ya?"

Yun-seo tidak menjawab, tapi wajahnya cukup jelas.

"Hei, dia pasti kembali. Istri secantik itu nggak mungkin ninggalin suami kayak hyung."

"Makasih, Cheol-soo. Menenangkan."

Cheol-soo tertawa. "Sama-sama, hyung!"

Dari kejauhan, Yun-seo melihat sesosok bayangan. Jantungnya berdebar. Ia menajamkan pandangan.

Yehwa.

Ia berlari—tanpa sadar, tanpa peduli Cheol-soo di samping. Cheol-soo terkejut.

"Hyung? Hyung mau ke mana?"

Tapi Yun-seo sudah jauh. Ia berlari melintasi lapangan, menghampiri Yehwa yang juga mulai berlari.

Mereka bertemu di tengah. Yun-seo ingin memeluknya, tapi sadar ada banyak orang. Ia hanya berdiri di depan, menatapnya.

"Kau kembali," bisiknya.

"Aku kembali." Yehwa tersenyum—senyum yang hanya untuknya.

Cheol-soo datang tergopoh-gopoh. "Nyonya Hwang! Selamat kembali! Hyung tadi kayak orang gila lari—"

Ia berhenti, melihat ekspresi mereka. Lalu tersenyum lebar.

"Oh... maaf, ganggu. Aku pergi dulu!" Ia lari meninggalkan mereka.

Yun-seo dan Yehwa tertawa kecil. Lalu, tanpa bicara, mereka berjalan berdampingan menuju taman belakang yang sepi.

---

Di taman belakang, mereka duduk di bangku batu di bawah pohon tua.

"Ceritakan semuanya," kata Yun-seo.

Yehwa menceritakan tentang Kuil Matahari, tentang Kepala Biara Song Myung-ho, tentang ujian Baju Zirah Iblis. Saat sampai pada bagian ilusi Lilian dan bayangan Yun-seo pergi, suaranya bergetar sedikit.

"Aku lihat kau pergi. Meninggalkanku. Itu... sangat menyakitkan."

Yun-seo meraih tangannya. "Itu cuma ilusi. Aku di sini. Tidak akan pergi."

"Aku tahu. Tapi rasa sakit itu nyata." Yehwa menatapnya. "Aku takut kehilanganmu, Yun-seo. Lebih dari takut mati."

Yun-seo mengelus punggung tangannya. "Kita sama. Seminggu tanpa kau, aku kayak orang hilang. Latihan terus biar nggak mikir, tapi tetep aja mikir."

Yehwa tersenyum. "Kita berdua bodoh."

"Bodoh yang beruntung."

Mereka berdua tertawa. Lalu, di bawah pohon tua itu, di taman sepi, mereka berpelukan—melepas rindu yang tertahan seminggu.

---

Malam harinya, pertemuan rahasia di perpustakaan.

Seo Jung-won sudah menunggu. Wajahnya serius seperti biasa, tapi matanya menunjukkan kelegaan melihat Yehwa kembali.

"Kau berhasil," katanya. "Baju Zirah Iblis?"

Yehwa mengangguk, menunjukkan bungkusan kain. "Lima pusaka. Tinggal dua."

Seo Jung-won menghela napas. "Luar biasa." Ia mengeluarkan peta dan dokumen. "Aku cari informasi tentang pusaka keenam—Tombak Seribu Jiwa."

Yehwa dan Yun-seo mendekat.

"Tombak ini disimpan di dimensi lain," jelas Seo Jung-won. "Tempat yang disebut Alam Bayangan. Hanya bisa dibuka dengan kunci khusus."

"Kunci apa?"

"Itu masalahnya." Seo Jung-won menunjuk sebuah gambar—cincin yang mirip dengan cincin Yun-seo. "Kuncinya adalah Cincin Pemanggil."

Yun-seo terkejut. "Cincinku?"

"Tepat. Cincin itu bukan hanya alat transportasi dan penyimpan kekuatan. Ia juga kunci menuju Alam Bayangan." Seo Jung-won menatapnya. "Kau harus membuka pintunya."

Yehwa mengerutkan kening. "Tapi dia tidak tahu caranya."

"Aku tahu." Suara baru membuat mereka menoleh.

Hwang Cheol-soo—kakek dari toko alat tulis—berdiri di pintu perpustakaan. Wajahnya serius, tidak seperti biasanya.

"Kakek?!" seru Yun-seo. "Kau bagaimana bisa—"

"Aku menyusup. Mudah." Hwang Cheol-soo tersenyum, lalu berjalan masuk. "Yang Mulia, Selamat atas pusaka kelima."

Yehwa membungkuk hormat. "Tetua. Kau tahu cara membuka Alam Bayangan?"

Hwang Cheol-soo mengangguk. "Aku yang membuat cincin itu ribuan tahun lalu. Tentu saja aku tahu."

Semua terkejut. Hwang Cheol-soo—pembuat Cincin Pemanggil?

"Aku bukan hanya tetua biasa," katanya sambil tersenyum misterius. "Aku penasihat utama Kaisar Iblis pertama. Cincin ini adalah mahakaryaku."

Yun-seo menelan ludah. "Jadi kau tahu kenapa cincin ini panggil aku?"

Hwang Cheol-soo menatapnya lama. Lalu berkata, "Karena kau keturunan Kaisar Iblis."

Dunia serasa berhenti.

---

1
Amiera Syaqilla
hello author😄
Q. Zlatan Ibrahim: halo juga terimalasih sudah mampir
total 1 replies
Manusia Biasa
emang manusia kadang lebih dari iblis
Q. Zlatan Ibrahim: seringkali
total 1 replies
Manusia Biasa
wkwkw ngakak gua baca sandiwaranya, lucu🗿😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!