NovelToon NovelToon
Warisan Dari Sang Kultivator

Warisan Dari Sang Kultivator

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Harem / Balas Dendam
Popularitas:24.5k
Nilai: 5
Nama Author: Sarif Hidayat

Seorang pemuda berusia 25 tahun, harus turun gunung setelah kepergian sang guru. Dia adalah adi saputra.. sosok oemuda yang memiliki masa lalu yang kelam, di tinggalkan oleh kedua orang tuanya ketika dirinya masih berusia lima tahun.

20 tahun yang lalu terjadi pembantaian oleh sekelompok orang tak di kenal yang menewaskan kedua orang tuanya berikut seluruh keluarga dari mendiang sang ibu menjadi korban.

Untung saja, adi yang saat itu masih berusia lima tahun di selamatkan okeh sosok misterius merawatnya dengan baik dari kecil hingga ia berusia 25 tahun. sosok misterius itu adalah guru sekaligus kakek bagi Adi saputra mengajarkan banyak hal termasuk keahliah medis dan menjadi kultivator dari jaman kuno.

lalu apa tujuan adi saputra turun gunung?

Jelasnya sebelum gurunya meninggal dunia, dia berpesan padanya untuk mencari jalan hidupnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarif Hidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 keterkejutan

"Kau—" Kata itu tercekat. Sebelum Gunda sempat bereaksi, ia merasakan ledakan nyeri di wajahnya, seolah dihantam palu godam, bukan kereta. Kepalanya serasa pecah, tubuhnya terlempar tanpa kendali melintasi halaman, menghantam keras Pos Penjagaan yang bobrok di belakangnya.

KRAKK! BBUKK!

Seketika itu juga, suara pertarungan, teriakan, dan hiruk-pikuk tersedot habis. Keheningan yang tiba-tiba melanda terasa begitu berat, hanya menyisakan deru napas yang tercekik dan rintihan puing-puing kayu yang patah. Semua mata tertanam pada onggokan reruntuhan di mana Gunda terkubur. Kepercayaan di wajah anak buah Yosen terkoyak, digantikan oleh ketakutan mentah yang membuat mereka lupa bernapas.

"Selanjutnya, giliranmu."

Suara datar rayan memecah keheningan, dan Yosen tersentak. Ia baru menyadari pemuda itu sudah menjelma di depannya. Matanya melebar, dan ia mundur tiga langkah sekaligus, kakinya tersandung udara.

"K-kau… A-apa yang mau kau lakukan?" Suara Yosen bergetar tak keruan, seolah ia sedang berbicara pada hantu, bukan manusia. Sikapnya langsung berubah drastis setelah melihat bagaimana pemuda itu membuat Gunda terlempar jauh hanya dengan satu pukulan. Ia tak bisa mengerti kekuatan mengerikan apa yang baru saja disaksikannya.

"Tentu saja," jawab rayan, sepasang matanya mengunci Yosen dengan ketenangan yang membekukan. "Meminta pertanggungjawabanmu karena telah mengundang begitu banyak 'tamu' dan merusak pintu rumahku."

"Aku...?" Yosen berkeringat dingin di bawah tatapan pemuda itu.

Beberapa menit lalu, ia telah menganggap remeh pemuda ini. Meskipun kedua pengikutnya telah memberitahu dirinya bahwa pemuda ini adalah seorang ahli bela diri, Yosen tidak pernah terpikir jika kekuatan pemuda ini begitu kuat. Awalnya, ia mengajak Gunda dan orang-orangnya hanya sebagai pembuktian pada pemuda itu bahwa di kawasan metro ini dialah yang berkuasa.

BBRRRAKK!

Reruntuhan Pos Penjagaan terpental ke udara. Gunda berdiri di sana, debu dan darah menempel di sudut bibirnya. "Bajingan…! Tidak kuduga kamu juga seorang ahli bela diri, bocah!" Niat membunuh yang tebal keluar dari setiap pori-pori Gunda, membuat udara di sekitar rayan terasa panas dan sesak.

Rayan berbalik, ekspresinya akhirnya berubah—hanya sedikit, menjadi minat yang dingin. "Oh... lumayan. Fisikmu cukup kuat," katanya, nadanya sedikit lebih dari sekadar datar, ada penghargaan yang nyaris menghina. Sejak ia turun gunung, baru pria ini yang kuat menahan satu hantamannya.

Gunda menggeretakkan rahangnya hingga terdengar. Matanya membara seperti bara api. Tanpa membuang napas, ia meledak maju dalam kecepatan yang tidak terduga.

Merasakan tekanan aura permusuhan Gunda yang mematikan, ekspresi rayan tetap acuh tak acuh. Namun, untuk pertama kalinya, ia bergerak maju, bertemu dengan terjangan Gunda.

WUS! BAM! DENTING! Kedua sosok itu berubah menjadi kabur, bertabrakan dalam badai pukulan dan tendangan. Gunda adalah badai yang beringas, menyerang tanpa celah. rayan adalah karang yang tak bergerak, menghindari, menangkis, dan sesekali menembakkan serangan balasan yang singkat dan mematikan.

"M-Maudy, siapa sebenarnya pemuda itu...?" Hani yang baru saja sadar dari keterkejutannya mulai berucap lirih, bola matanya mengikuti pergerakan rayan.

"A-aku, aku juga tidak tahu!" jawab Maudy, suaranya tercekat. Ia bahkan baru beberapa hari bersama pemuda itu. Hanya sekadar nama saja yang ia tahu. Selebihnya, ia merasa telah bertemu dengan pemuda udik yang misterius.

BUMM!

Rayan akhirnya mengakhiri permainan. Pukulan pendek dan cepat itu menghantam ulu hati Gunda. Gunda tertekuk, matanya melotot, dan ia terbang mundur sekali lagi, memuntahkan darah segar yang mengepul sebelum jatuh tersungkur.

"Ckckck... aku pikir kamu memiliki tubuh sedikit lebih kuat, tetapi sepertinya kamu sama lemahnya dengan orang-orangmu itu," ucap rayan sembari menggelengkan kepalanya, menunjukkan kekurangan minat dan kekecewaan.

Gunda menatap pemuda itu dengan rahang mengatup. Jelas sekali kekuatan pemuda itu berada di atasnya. Namun, yang membuat Gunda bingung, ia tidak dapat melihat tingkat kekuatan pemuda itu, bahkan aura bela diri pun tidak ia rasakan.

"K-kau... siapa kau sebenarnya?" Sembari memegang dadanya yang terasa sesak, Gunda bertanya, suaranya serak.

"Kalian bahkan datang tanpa diundang dan menghancurkan pintu rumahku. Bagaimana bisa kamu tidak tahu siapa aku?" jawab rayan, pandangannya menyipit.

"Aku...?" Gunda tentu saja tidak mengetahui siapa pemuda itu. Ia hanyalah diundang oleh Yosen untuk membantunya.

"Apakah dia yang menyuruhmu?" tanya rayan, sembari melirik ke arah Yosen.

Gunda hanya diam tanpa kata.

"Kamu jangan terlalu sombong. Kamu telah menyinggungku, dan masalah ini sekarang tidak lagi antara kamu dan Yosen," Gunda mulai berbicara, mengusap darah dari sudut bibirnya.

"Oh, lalu apa yang ingin kamu lakukan sekarang? Kebetulan aku juga masih belum berkeringat jika kamu masih ingin bertarung," kata rayan pada pria yang tampaknya mulai memiliki dendam terhadap dirinya.

"Kamu benar-benar sombong. Aku akui aku memang bukanlah lawanmu, tetapi tunggu saja, kamu akan menyesal karena telah berurusan denganku," ucap Gunda dengan menekan kemarahannya, pandangannya tajam..

"Terlalu banyak bicara. PERGILAH jika memang kamu tidak ingin bertarung lagi," rayan mengibaskan tangannya, menyuruh pria itu pergi.

Gunda menatap rayan beberapa saat. Ia cukup terkejut pemuda itu malah menyuruhnya pergi. Ia pun berpikir bahwa pemuda itu takut untuk memperpanjang masalah dengannya, hingga pemuda itu melepaskannya begitu saja.

"Sepertinya kamu cukup tahu diri juga, namun jangan senang terlebih dahulu karena..."

Bam!

Belum sempat Gunda menyelesaikan kata-katanya, rayan kembali menerjangnya, menginjaknya sekali lagi di dada hingga Gunda terpental dan langsung tak sadarkan diri.

"Aku menyuruhmu pergi karena kita akan bertemu lagi nanti..." ucap rayan tanpa ekspresi.

Kemudian ia mengalihkan pandangannya pada orang-orang pengikut Gunda. Mereka langsung tampak gemetar ketakutan melihat rayan menatap ke arah mereka. Keterkejutan dan kepanikan terus muncul di wajah mereka masing-masing.

"Pergilah dan bawa sampah itu pergi," ujar rayan.

Mereka saling memandang beberapa saat, kemudian dua orang maju, membawa tubuh Gunda dan langsung pergi dari sana, diikuti oleh yang lainnya. Sebagian dari mereka berjalan tertatih karena dipukuli oleh Luhut sebelumnya.

"Tuan Muda Yosen, siapa yang menyuruhmu pergi?"

Di antara segerombolan orang itu, Yosen dengan gugup menyelinap ikut pergi. Namun, suara rayan langsung menghentikan langkahnya.

"Bung, ada... ada apa? Eh, tidak, maksudku... bagaimana kalau aku minta maaf padamu dan mengganti kerusakan pada pintu rumahmu?" Yosen berusaha keras untuk menekan ketakutannya dan berharap pemuda yang tidak ia ketahui namanya itu mau bernegosiasi.

"Oh?" rayan mengangguk pelan, matanya menyipit dengan minat palsu. "Berapa harganya menurutmu?"

"Du-dua puluh juta Rupiah!" Yosen memaksakan senyum, "Aku ganti kerugianmu dua puluh juta Rupiah!" Ia yakin pemuda ini akan luluh pada jumlah itu.

Rayan mengangkat sudut bibirnya menjadi senyum yang dingin dan mematikan. "Dua puluh juta?" Ia menggeleng. "100 juta. Untuk setiap orang yang kamu undang membuat kekacauan di rumahku."

"Kau! Kau jangan keterlaluan! Apakah kau sengaja ingin memerasiku?!" teriak Yosen, marah bercampur putus asa. Ia telah mengundang kurang lebih 21 orang, termasuk Gunda. Jika dihitung satu orang 100 juta bukankah ia harus mengeluarkan uang 2,1 miliar Rupiah?

"Ada apa? Bukankah kamu seorang tuan muda yang cukup berkuasa di kawasan metro ini? Seharusnya aku tidak mengajukan harga yang terlalu memberatkanmu, bukan?" rayan menatap Yosen dengan pandangan menyudutkan yang mengintimidasi.

"K-kau...?" Yosen menggeretakkan giginya, menahan kekesalannya. Ia jelas tidak membawa uang sebanyak itu.

"Sepertinya kamu tidak mampu membayar. Kalau begitu, begini saja: aku beri kamu waktu tiga hari untuk mengumpulkannya. Tetapi, jika dalam tiga hari kamu tidak datang mengantarkan uang itu, aku akan mendatangimu sendiri," lanjut rayan.

Yosen sedikit tersenyum tipis di balik rasa takutnya. Ia berpikir, asalkan ia segera pergi dari sana, pemuda itu tidak mungkin akan menemukannya, dan ia akan meminta bantuan ayahnya untuk membalaskan kemarahannya pada pemuda ini.

Kemudian, tanpa membuang waktu lagi, Yosen langsung pergi dari sana bersama kedua pengikutnya. Kini, tersisa rayan, Maudy, Hani, Luhut, dan Darma.

Selain Maudy, tampak ketiga orang itu masih diam tanpa kata, menatap rayan dengan ekspresi mereka masing-masing.

"Haishh... sepertinya aku harus memanggil tukang untuk memperbaiki pintu ini," ucap rayan lirih setelah berjalan ke arah pintu rumahnya.

"Anak muda, bolehkah saya tahu siapa namamu?" Luhut akhirnya tak kuasa lagi berdiam diri. Kejadian yang baru saja ditunjukkan oleh pemuda ini membuatnya merasa penasaran. Ia tidak menyangka pemuda yang tampak seperti orang biasa itu ternyata adalah ahli bela diri yang begitu kuat.

"Benar, anak muda! Kamu benar-benar membuat kami berdua terkejut sekaligus malu," timpal Darma. "Kami awalnya ingin membantumu mengatasi mereka, tetapi siapa sangka ternyata kamu juga adalah seorang ahli bela diri yang lebih kuat dari pria berambut panjang itu!"

Rayan melihat ke arah kedua pria itu secara bergantian dan menjawab, "Nama saya Rayan. Paman-paman bisa memanggil saya ray saja. Dan mengenai bantuan dari paman, itu justru cukup membantu saya untuk memberi mereka sedikit pelajaran."

"Hahah, bagus-bagus. Nama yang unik... sama seperti orangnya!" Luhut tertawa, lalu segera tersentak dan berdeham canggung,"Maksudku... namamu sangat misterius." Ia mendapat pandangan datar dari rayan.

"Kak..." panggil Maudy, mendekati rayan.

"Ap-apakah kamu baik-baik saja?" tanyanya, namun segera menundukkan kepalanya karena merasa malu bertanya seperti itu setelah melihat kekuatan rayan.

Rayan menoleh pada gadis itu dan menjawab, "Tentu, aku justru jauh lebih baik setelah sedikit berkeringat."

Maudy mengangkat pandangannya. Dengan bola mata indahnya, ia menatap pemuda itu dan berkata, "Syukurlah."

Rayan sedikit tersenyum tipis. Ia merasa ada perasaan yang tak bisa dijelaskan dalam hatinya.

"Apakah kamu bisa membuat teh?" tanya Rayan pada gadis itu.

Setelah Maudy menganggukkan kepalanya, Rayan memerintahkan, "Kalau begitu, buatkan untuk kedua paman ini."

"Anak muda, tidak perlu merepotkan..." ucap Darma.

"Tidak apa-apa. Anggap saja sebagai tanda perkenalan," ujar rayan, membuat Luhut dan Darma langsung melirik ke arah Nona Muda mereka.

"Hani," panggil rayan, tatapannya beralih dari Darma dan Luhut ke gadis itu. "Sebaiknya kamu juga pergi ke dapur dan bantu Maudy menyiapkan minuman."

Keheningan terjadi lagi. Wajah Hani membeku. "Kamu menyuruhku?" Pekikannya tajam karena tak percaya. Luhut dan Darma nyaris melompat dari tempat duduk mereka.

"Memangnya menurutmu aku menyuruh siapa?" jawab rayan, sembari menatap gadis itu.

"Kamu...!" Hani ingin mengatakan sesuatu, namun ia tidak tahu harus mengatakan apa. Yang jelas, dengan wajah sedikit kesal, Hani akhirnya mengikuti Maudy masuk ke dalam rumah.

"Silakan, kedua paman, duduk," rayan mempersilakan kedua pria itu untuk duduk.

Dengan sedikit canggung, Luhut dan Darma pun langsung duduk dan mulai mengobrol dengan pemuda itu.

1
slametskc
dancok ki..sadewa itu siapa lagi lho cok ???
Akamcad949: maaf kak, suka salah ketik MC cerita buku yang lama
total 1 replies
ZAHRANI
thor mcnya kurang tegas,jangan sampai diremehin 😏
Akamcad949: Nanti semakin tegas ko kak tunggu aja
total 2 replies
slametskc
kultivator itu kalau hidup di jaman modern jadi orang dungo goblok tolol dan anjing banget...percumah sakti kalau idiot..dan keterbelakangan mental...ASU TENAN
slametskc
Sadewa itu siapa cookk..
Rizky Fadillah
karyamu kan,bukan hasil AI klo ini karya mu asli,mohon hilangkan tanda pemberitahuan awal misal nya dendam di desa lama,jngn di bilang dr awal biarkan sejalan sama alur,bila kmu kek gitu jatuh nya kek karya AI
Purwanto Gening
lanjut
ラマSkuy
👍
Casudin Udin
Luar biasa
ラマSkuy
👍
ラマSkuy
mana thor epic battlenya aku udah penasaran ini 👍😁
ラマSkuy
aya ya yay gigantung pula disitu aku penasaran thor 😄
ラマSkuy
nice thor belum ada lawan yang sepadan nih dengan MCnya

ditunggu kelanjutannya thor💪
ラマSkuy
ayo Rayan tunjukan kekuatanmu sebagai kultivator 💪
ditunggu kelanjutannya thor
ラマSkuy
bumbu komedinya pas bangat kamu thor ngeraciknya hahaha ngakak aku "Geng Pisau Dapur"😂😂
ラマSkuy
menurut saya untuk keseluruhan dari rangka cerita dan alur disetiap bab udah bagus dari tata bahasanya mudah dipahami dan tentunya menarik untuk diikuti, hanya saja kekurangannya sampai bab 15 yang saya baca kadang penamaan MC berubah-ubah itu saya dari saya.

SEKIAN DAN TERIMA KASIH
ラマSkuy: oke kak thor aku menanti kelanjutannya
total 2 replies
ラマSkuy
maaf kakak author sebenarnya nama MC dan ibunya siapa sih dibab ini disebutkan nama ibunya MC itu Danira, atau Lestari aku jadi bingung bacanya

Disini juga di sebut nama MCnya Rayan tapi di sinopsis di sebut Adi agak membingungkan thor apakah ada kesalahan di penamaan karakternya?

Itu saja kritik yang mau aku sampaikan kepadamu thor, Terima kasih
Akamcad949: Terimakasih udah di ingatkan, maaf atas ketidaknyamannya🙏
total 1 replies
𝕲𝖔𝖊𝖘 𝕼𝖚𝖒𝖎𝖊𝖟
kopi ☕ biar semain 👁 dan 💪💪💪
𝕲𝖔𝖊𝖘 𝕼𝖚𝖒𝖎𝖊𝖟
cerotanya bagus tetap semangat
Phaul Fukaba
namanya sadewa apa rayan ?
Jujun Adnin
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!