Menceritakan kisah seorang pemuda desa yang tidak bisa berbicara atau bisu... kehidupannya yang miskin secara perlahan berubah setelah menemukan sebuah batu mustika indah berwarna jingga. bisu yang di alami pemuda itu seketika sembuh tidak hanya itu batu itu juga memiliki kekuatan yang di idam idamkan kebanyakan laki-laki yaitu membuat tubuh penggunanya tak dapat terlihat atau kasat mata.. namun di balik semua keistimewan batu jingga itu menyimpan sebuah misteri dan kutukan yang secara perlahan mendorong pemuda tersebut memasuki dunia gelap yang sesungguhnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abdul Rizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Target Pertama!
"Oh begitu... masuk akal juga sih alasannya." Jawab Sugeng sembari mengangguk-angguk tanda mengerti ia kemudian menghisap rokoknya dalam-dalam.
"Tapi menurutku bukan cuma itu alasannya, mas."
"Apa pak?" Tanya Sugeng.
"Emmm dia ngga mau karyawannya pinter dan jadi pesaingnya kalau bisa buat sambel seperti dia."
"Emm.. iya pak, bisa jadi itu maksud dia juga."
Tak lama pesanan Sugeng datang bersamaan dengan pesanan security itu, mereka berdua pun menyudahi obrolan dan bersiap menyantap makanan mereka.
Sugeng mengawali dengan meminum teh hangat dan mencuci tangan, betapa terkejutnya ia saat ia hendak makan dia melihat sosok pocong setinggi dak cor kamar mandi berdiri di dekat sang pemilik warung.
Pocong itu tampak sangat menyeramkan, wajahnya gosong hitam, kering dan tirus seperti mumi, kain putihnya di penuhi noda tanah kuburan. Tampak ludah pocong tersebut yang sangat kental, hitam dan menjijikan menetes netes dari mulutnya.
Pocong itu melomlat mondar mandi mengikuti pemilik warung kemanapun dia pergi. Pocong itu seperti memperhatikan pemilik warung yang sedang mengulek sambel, tampak lendir lendir yang sangat menjijikan itu jatuh ke dalam cobek yang berisi sambel yang sedang di ulek.
Sontak Sugeng mual melihat hal itu... ia seperti akan segera muntah, tetapi ia tahan sebisa mungkin. Sugeng menyisikan sambel yang berada di piringnya ke pinggiran.
"Ternyata bener dia pakai penglaris. Pantes aja warungnya rame dan orang bilang sambelnya enak. Dan alasan dia ngga bolehin karyawannya ulek sambel karena dia harus baca rapalan mantra dulu sebelum ngulek! Njirrr untung sambelnya di pisah. Ngga bisa bayangin aku makan sambel di capur ludah pocong." Batin Sugeng.
"Loh mas, kok ngga di makan sambelnya? Enak loh mas sambelnya." Ucap Security itu pada Sugeng.
"Eng.. enggak pak, anu saya punya asam lambung." Jawab Sugeng berbohong.
"Wehh... buat saya boleh mas sambelnya?"
"Ehh? Si.. silahan Pak."
Sugeng makan dengan perasaan aneh dan bingung. Ia memperhatikan Pemilik warung namun anehnya ia sudah tidak bisa melihat ada sosok pocong di sana.
"Kok aku tadi bisa lihat pocong sih? Itu pasti Jin Penglaris, itu nyata tadi ngga mungkin halusinasi. Tapi orang orang ngga ada yang lihat apa jangan jangan aku salah lihat? Tapi kayaknya tadi asli banget deh... arrgghh.. kok jadi kayak begini, apa tadi itu Jin Penglaris asli? Kok bentuknya pocong sih? Ludahnya jijik banget lagi ngga kebayang kalau mereka semua tahu mereka makan ludah pocong." Batin Sugeng sembari menatap wajah wajah para pengunjung yang terlihat kesenangan.
"Tekadku untuk ngerampok rumah orang itu sudah bulat. Pak Security ini bilang rumahnya di belakang masjid Al Korim hmmm agak jauh dari desaku, aku ngga akan di curigai... yes aman..." batin Sugeng.
Sugeng pulang dengan perasaan sedikit aneh, ia masih memikirkan mengapa tiba-tiba dia bisa melihat pocong.
Sesampainya di rumah Sugeng langsung memberikan kambing kambingnya makan kemudia ia tidur.
Sugeng bangun pukul 5 sore ketika Nenek Ratmi membangunkannya.
"Geng... geng... bangun. Itu di halaman motor siapa?" Tanya Nenek Ratmi.
Sugeng menggosok matanya, "itu motor Sugeng, nek. Baru beli tadi siang pake uang hasil penjualan kambing, tadi Pak Drajad beli dua kambing buat aqiqah anak saudaranya." Jawab Sugeng dengan suara serak.
Sugeng memilih untuk berpura pura tidak tahu tentang Nenek Ratmi yang bekerja di rumah Linda, Sugeng malas untuk berdebat.
"Ohh... baguslah kalau kamu beli motor, jadi ngga capek kamu ngayuh sepeda buat cari rumput, bisa cari rumput di desa lain juga. Ya sudah sana mandi, udah sore.."
"Iya nek bentar 5 menit lagi.."
Nenek Ratmi menggeleng ia hendak pergi namun ia teringat sesuatu, "oh ya Geng, Mbak Sekar sama anaknya Isna katanya mau tinggal sementara di sini." Ucap Nenek Ratmi yang membuat Sugeng langsung melotot dan duduk di atas kasur.
"Hah? Mereka mau tinggal di sini? Emangnya kenapa, Nek?" Tanya Sugeng penasaran.
"Mbakmu kan udah ngga kerja jadi biduan lagi, usaha salonnya di desa sana sepi katanya ada yang nuduh mbakmu pelakor jadi sepi deh usahanya, rencananya mau buat usaha kecil kecilan di sini."
"Kapan mereka kesini, Nek?"
"Katanya nunggu waktu sewa kontrakan mereka habis..." jawab Nenek Ratmi kemudian pergi begitu saja.
Sekar adalah kakak perempuan Sugeng, ia dahulu pernah bekerja sebagai biduan namun kini sudah berhenti, dia berbeda enam belas tahun dari Sugeng, ya umurnya saat ini 36 tahun. Sekar sudah menikah dengan seorang pekerja di pabrik gula bernama Hendro, namun kini sudah bercerai saat Isna baru menginjak kelas 2 SD. Mereka berdua memiliki satu anak perempuan bernama Isnaeni Kholifah lebih sering di panggil Isna yang baru menginjak kelas satu SMK, ia sekolah di SMEA sebuah sekolah menengah yang mirip seperti STM bedanya adalah jurusannya yang di peruntukan untuk perempuan seperti Sekertaris, Manajemen, Penjualan dan lain lain. Sementara STM jurusannya di peruntukan untuk laki-laki seperti otomotif, teknik las, teknik mesin dan lain lain. Namun kedua sekolah itu kini memiliki nama yang sama yaitu SMK.
Sugeng garuk garuk kepala sebelum akhirnya beranjak mengambil baju ganti dan mandi.
***
Tengah malam telah tiba begitu saja. Di sebuah kamar tanpa daun pintu, hanya tertutup gorden usang dan jadul. Kamar itu tidak ada isinya, hanya lemari tua yang usang dengan separuh kacanya yang sudah retak retak, jendela tanpa daun hanya di tutupi handuk.
Kasur kapuk yang tergeletak di atas lantai semen halus tanpa keramik dan beralaskan tikar sobek. Sebuah tutup kaleng roti kongguan yang di gunakan sebagai asbak dan kipas manual yang terbuat dari anyaman bambu menjadi penghias kamar yang tak lain adalah kamar Sugeng. Itulah gambaran kamar Sugeng.
Sugeng menatap pantulan dirinya sendiri di depan kaca lemari yang retak. Ia kini tampak memakai jaket hitam yang di sakunya tersimpan belati untuk berjaga jaga dan tentu saja batu jingga sebagai senjata utamanya.
Setelah merasa semuanya sudah siap, Sugeng mengambil kontak motornya. memastikan neneknya sudah benar benar tidur dan mengeluarkan sepeda motor yang baru dia beli dengan sangat pelan dan hati hati berusaha untuk tidak menimbulkan suara.
Setelah mengeluarkan motornya ia mengunci pintu rumah, kemudian mendorong motornya sedikit jauh dari halaman rumah agar neneknya tidak mendengar saat ia menyalakan mesin motor, kemudian ia bergegas pergi menuju belakang masjid Al Korim.
Bunyi suara knalpot motor Supra x 125 meraung di sunyinya malam. Di jalan desa Sugeng tidak terlalu ngebut menghindari kecurigaan, namun begitu di jalanan kota ia ngebut.
Selang beberapa menit Sugeng mampir di warung tenda itu, ia melihat warung itu sudah tutup, suasana benar benar sangat sepi karena saat ini tengah malam hanya terlihat segelintir orang saja.
"Hmmm... pocong itu ngga ada di sana? Apa ikut pemilik warung itu pulang?" Tanya Sugeng dalam hatinya.
Ia kembali menjalankan motornya menuju masjid Al Korim yang tidak terlalu jauh dari situ.