NovelToon NovelToon
Luminar

Luminar

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Fantasi
Popularitas:835
Nilai: 5
Nama Author: Nostalgic

Dunia telah retak, bukan hanya di permukaannya, melainkan di benak dan jiwa segala yang bernyawa. Kegelapan Umbra bukan sekadar musuh yang bisa ditusuk pedang, melainkan kabut tebal yang memisahkan hati dari hati, harapan dari kenyataan, dan cahaya dari tempatnya berpijak. Alam semesta kini hanyalah kepingan-kepingan kaca yang pecah, masing-masing memantulkan bayangan kesendirian yang suram, menunggu tangan yang berani menyatukannya kembali.

Di tengah kehampaan itu, hadirlah Luminar. Bukan sebagai benda, bukan pula sebagai sosok yang bisa dipeluk atau dilihat mata telanjang. Luminar adalah bisikan yang melayang di sela-sela angin, adalah denyut nadi yang tak terlihat namun terasa di setiap detak jantung yang masih berharap. Ia adalah entitas misterius yang wujudnya berubah-ubah bagaikan cahaya yang menembus prisma—kadang berupa aurora yang menari di langit malam, kadang berupa kilatan samar yang hanya muncul di sudut mata saat kita merasa paling sepi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nostalgic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Sosok yang Tak Terduga

Asap tebal masih mengepul pekat dari kawah besar yang baru saja terbentuk, menyelimuti pandangan para pasukan yang berdiri berjaga-jaga di sekelilingnya. Senjata mereka terangkat kaku, otot-otot mereka tegang, dan mata mereka tajam mengamati setiap gerakan samar di dalam kabut asap itu. Hati mereka berdebar menanti kedatangan Luminar—entah dalam wujud aslinya yang megah atau wujud lain—namun apa yang muncul justru membuat seluruh barisan pasukan terhenti mati, kebingungan yang mendalam menyelimuti setiap wajah mereka.

Dari tengah asap yang perlahan menipis, bukan sosok raksasa yang berkilauan dan penuh kekuatan yang keluar, melainkan seorang laki-laki muda. Tubuhnya terkulai lemas, hampir tak sanggup menopang berat badannya sendiri. Kakinya gemetar hebat, seolah tulang-tulangnya telah leleh, dan setiap langkah yang diambilnya terasa begitu menyiksa, begitu berat, seolah seluruh tenaganya telah tersedot habis hingga ke titik nol. Ia terhuyung-huyung, napasnya tersengal-sengal memecah keheningan yang mencekam, hingga akhirnya ia jatuh berlutut di tanah yang masih hangat, kepalanya tertunduk lemah.

"Itu... siapa?" gumam salah satu pasukan, suaranya bergetar penuh keraguan yang mendalam. Matanya membelalak, tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

"Bukan Luminar," desis pasukan lain, suaranya tajam penuh kecurigaan. Matanya menyipit, menatap sosok itu dengan tatapan tajam yang penuh prasangka. "Lihatlah penampilannya. Aneh sekali. Tidak ada tanda-tanda kekuatan apa pun. Mungkin ini monster jadi-jadian! Ia menyamar menjadi manusia yang lemah untuk mengelabui kita! Siapa tahu di balik wajah muda itu tersembunyi niat jahat yang mengerikan!"

Suara kecurigaan itu segera menyebar seperti api yang membakar rerumputan kering, memicu kegelisahan dan ketakutan yang meluap-luap di antara barisan pasukan. Jari-jari mereka mulai mengerat dingin pada pelatuk senjata, napas mereka menjadi berat, dan ketakutan akan bahaya yang mengintai membuat logika mereka perlahan tertutup.

"Kita tidak boleh ambil risiko!" teriak seorang pasukan dari barisan tengah, suaranya melengking karena panik dan emosi yang memuncak. Wajahnya memerah, campuran antara takut dan marah. "Jika ia benar-benar monster yang menyamar, membiarkannya hidup di sini saja sudah merupakan bencana! Kita harus memusnahkannya sekarang juga sebelum ia sempat bangkit dan melukai kita semua! Kau mau tanggung jawab jika nyawa rekan-rekan kita melayang sia-sia?!"

"Tunggu!" seru seorang pemimpin pasukan timur dengan suara berat dan tegas, melangkah maju menghalangi jalan mereka dengan tubuh yang tegap. Matanya memancarkan ketegasan namun juga keprihatinan. "Kita tidak tahu apa-apa tentangnya! Bagaimana jika ini jebakan, atau justru ada alasan besar di balik penampilannya? Kita tidak bisa sembarangan menembak tanpa kepastian! Menumpahkan darah orang yang tak bersalah—atau bahkan sosok yang mungkin bukan musuh—adalah dosa besar! Kita harus menunggu arahan dari pemimpin sebelum bertindak gegabah!"

"Menunggu?!" balas pasukan tadi dengan nada tinggi, emosinya meledak-ledak. Ia melangkah maju, wajahnya penuh kemarahan dan ketakutan yang tak terkendali. "Sementara monster itu bisa saja bangkit dan menyerang kita kapan saja? Kau mau melihat teman-teman kita tewas di depannya lagi? Kau mau tanggung jawab atas kematian mereka semua?!"

Perdebatan semakin panas, suara-suara saling sahut-menyahut membuat suasana semakin tegang dan mencekam. Ketidakpercayaan, ketakutan, dan rasa ingin melindungi diri bercampur aduk menjadi satu, mendorong salah satu pasukan untuk mengambil keputusan nekat. Dengan wajah yang dipenuhi keyakinan yang salah dan mata yang berkilau karena emosi, ia mengangkat senjatanya dengan kasar, membidik tepat ke arah laki-laki muda yang masih terbaring lemas dan tak berdaya itu. Jarinya perlahan, namun pasti, menekan pelatuk—

Bzzt...

Tiba-tiba, suara dengungan halus namun jelas terdengar serentak dari jam komunikasi yang terpasang di pergelangan tangan setiap pasukan. Suara itu keluar, tegas, berwibawa, dan terdengar sangat familiar—begitu akrab hingga membuat hati mereka semua bergetar seketika.

"Bawa anak itu ke markas untuk membantunya memulihkan tenaga. Itu adalah bentuk manusia dari raksasa putih yang menolong kalian."

Suara itu... itu adalah suara Liang! Suara pemimpin mereka yang begitu dihormati dan disegani!

Pasukan yang tadi hendak menembak itu seketika kaku. Senjatanya terlepas dari genggamannya, jatuh ke tanah dengan suara benturan yang nyaring. Wajahnya berubah pucat pasi, keringat dingin mulai membasahi dahinya karena kaget dan rasa bersalah yang mendalam. Ia hampir saja melakukan kesalahan fatal!

Seluruh pasukan terdiam seketika, seolah waktu berhenti berputar. Rasa curiga, ketakutan, dan kemarahan yang tadi membara seketika lenyap, digantikan oleh rasa hormat dan ketaatan mutlak pada atasan mereka. Tanpa ragu lagi, mereka serentak memberikan hormat, postur tubuh mereka kembali tegap namun kali ini dipenuhi rasa syukur karena telah dicegah dari kesalahan besar.

"Siap, Komandan!" seru mereka serempak, suara mereka bergema menggantikan keributan tadi.

Pasukan timur, yang sejak tadi paling bersemangat dan paling keras membela untuk tidak bertindak gegabah, segera bergerak dengan kecepatan kilat. Mereka bergegas menuruni lereng kawah yang curam dan berbahaya, langkah mereka tegas namun penuh urgensi. Hati mereka dipenuhi perasaan yang bercampur aduk—kaget, lega, dan yang paling utama: rasa terima kasih yang mendalam. Mereka kini tahu, sosok yang terbaring lemah di sana adalah sosok yang telah berkorban besar untuk menyelamatkan nyawa mereka. Rasa ingin membalas budi mendorong mereka untuk bertindak secepat mungkin.

Dengan hati-hati yang luar biasa, mereka membopong tubuh laki-laki muda itu—Heras. Mereka memastikan tidak ada satu pun gerakan yang menyakitinya, mengangkatnya dengan lembut seolah ia adalah sesuatu yang sangat rapuh dan berharga, sesuatu yang harus dijaga dengan nyawa sekalipun. Mereka bisa merasakan napasnya yang lemah dan tubuhnya yang dingin, membuat tekad mereka untuk membawanya pulih semakin kuat.

Perlahan namun pasti, mereka membawanya menuju mobil tempur yang telah siap menunggu. Setelah Heras diletakkan dengan aman di dalam kendaraan, pintu mobil tertutup rapat, melindunginya dari dunia luar. Mesin menderu keras, dan barisan kendaraan tempur itu segera bergerak dengan cepat, membelah jalanan menuju markas yang dimaksud. Mereka membawa sosok misterius itu dengan penuh rasa hormat, bergegas memberikannya perawatan dan kesempatan untuk pulih—karena ia bukan musuh, melainkan pahlawan mereka.

1
Nasipelang
lego euy
Nasipelang
rasa sakit ini, adalah bukti bahwa aku masih hidup
Anonymous
oke
Anonymous
kece
Anonymous
mc nya menderita saya suka
Nasipelang
awalnya ngebosenin, tapi lama-lama seru juga
Anonymous
oke
Anonymous
bujet
Anonymous
baru aja kenalan udah ditinggal ama luminar
Anonymous
uwihh level up coyy
Anonymous
kasihan mc nya jir
Anonymous
mirip nexus yah
Anonymous
kena de javu
Nasipelang: de javu nya apa
total 1 replies
Anonymous
jirr
Arctic General
Sangat bagus... kek ultraman 🗿
Arctic General
up thorr oii🦖
Arctic General
Buset kek ginga🗿
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!