Seorang murid sekte luar yang dianggap tidak berguna karena memiliki "Akar Spiritual Terkutuk" tanpa sengaja membangkitkan jiwa seorang jenius dari era kuno yang terperangkap dalam artefak misterius. Bersama, mereka merintis teknik kultivasi kuno yang membutuhkan perpaduan dua elemen yang saling bertentangan, menuntut mereka untuk menyatukan kekuatan dan hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Kristal Es dan Bisikan Roh Pedang
Dingin. Bukan dingin yang membekukan darah, melainkan dingin yang menyusup ke dalam sumsum tulang, mencuci setiap kotoran dan trauma yang tertinggal di meridian Li Jian. Di dasar telaga biru Lembah Tanpa Nama, Li Jian duduk bersila. Cahaya biru dari Mata Air Es Sejati berputar-putar di sekelilingnya bagai ribuan kunang-kunang cair, ditarik paksa oleh pusaran Dantian-nya yang haus.
"Bocah, jangan hanya menyerap energinya. Gunakan tekanan air ini untuk memadatkan cairan Qi-mu!" perintah Yueyin. Suaranya kini terdengar jauh lebih jernih, bergema dengan otoritas yang memulihkan kewibawaannya sebagai Kaisar Es. "Tingkat Lima hanyalah permulaan. Jika kau ingin masuk ke Makam Pedang Terlarang, kau butuh fondasi yang bisa menahan niat pedang kuno."
Li Jian menggertakkan gigi. Rasa sakit dari ramuan Xiao Ling mulai menyatu dengan tekanan air telaga. Di dalam Dantian-nya, tetesan cairan perak yang sebelumnya hanya berjumlah puluhan, kini mulai bertambah dan memadat. Setiap tetesan menjadi sekeras kristal, memancarkan aura yang jauh lebih tajam dari sebelumnya.
Tiba-tiba, Gerhana yang ikut tenggelam di dasar telaga mulai bergetar hebat.
Bilah hitamnya yang tumpul mulai menyedot cahaya biru telaga dengan kecepatan gila. Kabut hitam pekat keluar dari pedang itu, menyelimuti Li Jian di dasar air. Dalam kegelapan itu, Li Jian mendengar suara bisikan. Ribuan suara pedang yang patah, tangisan para pejuang yang jatuh, dan satu suara parau yang menonjol di antara semuanya.
"Tuan baru... apakah kau cukup kuat untuk memikul beban kehampaan?"
Li Jian membuka matanya di bawah air. Pupil matanya kini sepenuhnya berwarna perak menyala. "Aku tidak memikul beban," batin Li Jian menjawab suara itu. "Aku adalah badai yang akan menghancurkan beban itu sendiri!"
BOOOM!
Permukaan telaga yang tenang mendadak meledak. Pilar air setinggi sepuluh meter melesat ke langit, membawa serta tubuh Li Jian yang terpental ke udara. Ia mendarat di tepi telaga dengan keanggunan seekor pemangsa.
Jubahnya yang hancur kini mengering seketika oleh hawa dingin yang menguar dari kulitnya. Luka-luka di tubuhnya telah menutup, menyisakan bekas luka putih tipis yang justru membuat fisiknya terlihat lebih perkasa.
Kondensasi Qi... Tingkat Enam!
Bukan hanya itu, cairan Qi di Dantian-nya kini memiliki semburat warna biru kristal, tanda bahwa ia telah menyerap esensi Mata Air Es Sejati.
Xiao Ling, yang sedang menyiapkan perapian di depan pondoknya, berdiri terpaku. Ia menatap Li Jian dengan mata membelalak. "Tiga malam? Kau hanya butuh satu malam untuk menyerap sepertiga energi telaga ini?"
Gadis itu menggelengkan kepala, lalu melemparkan sebilah dahan kering ke api. "Kau benar-benar monster. Tapi lihatlah pedangmu."
Li Jian menoleh ke arah Gerhana. Pedang tumpul itu kini tidak lagi kusam. Permukaannya yang hitam legam kini memiliki urat-urat biru tipis yang berpendar, mirip dengan pembuluh darah naga. Auranya tidak lagi hanya berat, tapi juga mengandung Sword Intent (Niat Pedang) yang bisa mengiris kesadaran orang lemah hanya dengan menatapnya.
"Pedang itu telah mengakui jiwamu," gumam Xiao Ling, suaranya mengandung sedikit rasa hormat. "Sekarang, kita bisa berangkat. Makam Pedang Terlarang tidak akan menunggu."
Li Jian menggenggam gagang Gerhana. Ia merasa pedang itu kini menjadi perpanjangan dari lengannya sendiri.
"Tunggu," kata Li Jian, matanya menatap tajam ke arah pintu masuk lembah. "Ada tikus yang berhasil mengendus bau darahku."
Xiao Ling mengernyit. "Tidak mungkin. Formasi lembah ini—"
KRAK!
Sebuah ledakan cahaya merah menghantam tirai tanaman merambat di pintu masuk lembah. Formasi alami yang dibanggakan Xiao Ling robek seketika.
Tiga sosok berjubah putih Sekte Pedang Awan melangkah masuk. Mereka bukan murid biasa, melainkan Unit Pelacak Bayangan—pasukan elit yang langsung berada di bawah perintah Tetua Utama. Semuanya berada di Tingkat Enam puncak, dan pemimpin mereka membawa sebuah kompas giok yang berdenyut merah.
"Jadi di sini kau bersembunyi, Pengkhianat," desis sang pemimpin, menatap Li Jian dengan kebencian yang mendalam. "Kau pikir kau bisa lari dari jangkauan Sekte Pedang Awan?"
Li Jian tidak menoleh ke arah Xiao Ling. Ia hanya melangkah maju, membiarkan ujung Gerhana menyeret di tanah, menciptakan garis es yang membeku seketika.
"Xiao Ling," ucap Li Jian datar. "Siapkan barang-barangmu. Aku akan membersihkan tempat ini dalam tiga napas."
novel silat dari author yg kereen kapan nyambung nya
ayo ... semangat doong thor
semangat & lanjuuuut thor
pinginnya dihancurin pusat meridiannya kyk suruhannya biar jd sampah selama hidupnya
nanya bukan protes loo.. 🤭🙏