Arya, seorang pewaris sekte abadi yang dikhianati dan kehilangan kekuatannya, terperangkap dalam tubuh seorang "menantu benalu" yang dihina oleh keluarga istrinya di kota metropolitan modern. Dengan ingatan masa lalu dan sisa kekuatan spiritualnya, ia harus membangun ulang fondasi kekuatannya, menaklukkan dunia bisnis, melindungi wanita yang ia cintai, dan perlahan mengungkap rahasia alam semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Badai dari Balik Awan
Tiga bulan berlalu semenjak malam di mana Keluarga Li dari Utara menelan kekalahan telak.
Bagi Kota Emerald, tiga bulan ini adalah masa keemasan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di bawah kepemimpinan Nadia, Grup Kusuma telah bertransformasi menjadi raksasa bisnis yang tak tersentuh di wilayah Selatan. Tidak ada satu pun kompetitor yang berani bermain kotor, seolah ada payung pelindung tak kasat mata yang menaungi keluarga itu.
Hubungan Arya dan Nadia pun mengalami perubahan drastis. Tembok es yang dulu memisahkan mereka telah meleleh sepenuhnya. Meski Arya masih lebih suka menghabiskan waktunya merawat tanaman di rumah atau meracik teh herbal di dapur, tak ada lagi tatapan merendahkan dari siapa pun. Para pelayan menunduk hormat, dan Nadia... Nadia tak pernah lagi pulang dengan wajah ditekuk.
Pagi itu, sinar matahari musim semi menerobos jendela ruang makan. Nadia turun dari lantai dua dengan setelan kerja yang modis, liontin giok hijau pemberian Arya tampak serasi menggantung di leher jenjangnya.
Di meja makan, Arya sedang menuangkan susu hangat ke dalam gelas.
"Pagi," sapa Nadia dengan senyum cerah yang bisa membuat para CEO saingannya rela menyerahkan perusahaan mereka. Ia duduk dan langsung menyantap roti panggang buatan suaminya. "Kau tahu, teh herbal yang kau buatkan bulan lalu sudah habis. Beberapa direkturku sampai memohon agar aku menjual resepnya kepada mereka."
Arya terkekeh pelan sambil menarik kursi di seberangnya. "Biarkan saja mereka memohon. Resep itu hanya khusus untuk Ratu Emerald. Omong-omong, Ayah bilang dia akan memperpanjang liburannya di Eropa?"
"Ya, beliau tampaknya sangat menikmati masa pensiunnya sejak kesehatan tubuhnya kembali bugar seperti pria berumur tiga puluhan," jawab Nadia. Ia menatap Arya dengan lembut. "Itu semua berkatmu, Arya."
Arya hanya tersenyum simpul, menyeruput kopi hitamnya. Namun, di balik senyum itu, indra spiritualnya yang kini telah mencapai puncak Tingkat Kelima Sembilan Transformasi Naga Langit menangkap sesuatu. Sebuah riak energi yang sangat jauh, namun tajam bagai sembilu, melintasi atmosfer Bumi.
Riak itu bukan berasal dari seniman bela diri duniawi. Itu adalah Qi spiritual murni.
Ratusan kilometer di sebelah Utara, tersembunyi di balik puncak pegunungan yang selalu diselimuti kabut tebal, terdapat sebuah dunia yang tidak tercatat di peta satelit mana pun.
Ini adalah ranah sekte tersembunyi. Tempat di mana legenda tentang manusia yang bisa terbang dan membelah gunung bukan sekadar isapan jempol. Di puncak tertinggi, gerbang batu raksasa bertuliskan Sekte Pedang Awan berdiri kokoh.
Di dalam sebuah pendopo melayang yang bertumpu pada formasi susunan batu giok, seorang pria paruh baya berjubah abu-abu kuno sedang duduk bersila. Sebuah pedang kayu melayang perlahan di sekeliling tubuhnya, beresonansi dengan detak jantungnya. Dia adalah Penatua Bai, salah satu tetua luar Sekte Pedang Awan.
"Guru," panggil sebuah suara dari luar pendopo.
Seorang pemuda tampan dengan tatapan angkuh berjalan masuk, menundukkan kepalanya sekilas. Pemuda itu adalah Ling Jian, murid jenius lapis luar sekte yang baru saja menembus tahap Kondensasi Qi tingkat tiga.
Pedang kayu di sekeliling Penatua Bai berhenti melayang dan jatuh ke pangkuannya. Sang tetua membuka mata.
"Ling Jian. Apakah utusan dari afiliasi duniawi kita, Keluarga Li, masih menangis di kaki gunung?"
"Benar, Guru," jawab Ling Jian dengan nada meremehkan. "Tuan Besar Li berlutut selama tiga hari tiga malam. Dia memohon keadilan. Katanya, seorang pemuda di wilayah Selatan telah menghancurkan basis kultivasi murid andalannya dan mengancam akan meratakan Keluarga Li. Dia curiga pemuda itu memegang sebuah pusaka sakti atau teknik rahasia."
Penatua Bai mendengus. "Manusia fana selalu melebih-lebihkan sesuatu. Paling-paling pemuda itu hanyalah seorang Grandmaster bela diri duniawi yang kebetulan menemukan sisa-sisa pil spiritual rongsokan peninggalan era kuno."
"Lalu, apa instruksi Anda, Guru?"
Mata Penatua Bai menyipit, memancarkan keserakahan yang disembunyikan dengan rapi. "Meskipun hanya pil rongsokan, benda yang memiliki sedikit energi spiritual tidak boleh dibiarkan jatuh ke tangan manusia fana yang kotor. Lagipula, Keluarga Li adalah anjing peliharaan sekte kita yang bertugas mengumpulkan kekayaan duniawi. Jika anjing kita dipukul, majikannya harus turun tangan."
Penatua Bai melemparkan sebuah token kayu berukir awan kepada Ling Jian.
"Turunlah ke dunia fana, Ling Jian. Pergi ke Kota Emerald. Bawa kepala pemuda bernama Arya itu kepadaku, dan rampas pusaka apa pun yang ia miliki. Tunjukkan pada semut-semut di bawah sana apa perbedaan antara seniman bela diri yang mengais tanah, dengan seorang kultivator sejati yang menginjak awan."
Ling Jian menangkap token itu dengan senyum menyeringai. Membunuh manusia fana baginya sama mudahnya dengan mencabut rumput liar. "Akan saya laksanakan, Guru. Saya akan berangkat sekarang."
Kembali ke Kota Emerald, sore harinya.
Arya sedang berdiri di dalam rumah kaca rahasia yang baru saja dibangun oleh Han Shixiong di pinggiran kota. Di dalamnya, ratusan tanaman herbal langka ditanam di atas tanah yang telah disuntikkan energi spiritual oleh Arya, membentuk sebuah Formasi Pengumpul Qi skala kecil.
Ponsel di saku Han Shixiong yang berdiri di belakang Arya bergetar. Han mengangkatnya, mendengarkan sejenak, lalu wajahnya berubah seputih kertas.
"G-Guru Besar..." Han terbata-bata, menatap Arya dengan ketakutan yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya.
Arya yang sedang menyiram bunga anggrek bulan dengan air murni bahkan tidak menoleh. "Ada apa, Han? Kau terlihat seolah baru saja melihat hantu."
"Lebih buruk dari hantu, Guru Besar," ucap Han dengan suara bergetar. "Kamera pengawas rahasia kami di perbatasan utara baru saja mengirimkan rekaman."
Han menyodorkan sebuah tablet kepada Arya.
Di layar tablet itu, terlihat sebuah sungai besar berarus deras yang menjadi batas wilayah antara Utara dan Selatan. Tidak ada jembatan atau perahu di sana. Namun, dalam rekaman tersebut, seorang pemuda berjubah kuno (Ling Jian) tampak sedang menyeberangi sungai.
Pemuda itu tidak berenang. Dia melangkah tepat di atas permukaan air. Setiap kakinya berpijak, air sungai membeku membentuk teratai es yang menopang berat tubuhnya. Ia berjalan menyeberangi sungai selebar seratus meter itu seolah sedang berjalan di atas trotoar yang rata.
"Berjalan di atas air... Tuan Besar, dunia bawah tanah sedang kacau balau!" seru Han panik. "Ini bukan lagi ranah manusia! Ini sihir! Mungkinkah... legenda tentang Manusia Abadi di pegunungan itu benar adanya?"
Arya menatap layar tablet itu dengan saksama. Alih-alih terkejut, senyum yang sangat tipis dan dingin perlahan terbentuk di sudut bibirnya.
Ia mengembalikan tablet itu kepada Han.
"Manusia Abadi?" Arya tertawa pelan, tawanya bergema dengan nada meremehkan yang sangat absolut. "Dia hanyalah anak kecil yang baru belajar merangkak dan kebetulan bisa membekukan setetes air. Tapi, ini bagus."
Arya berbalik, matanya memancarkan kilatan keemasan yang membuat udara di rumah kaca itu bergetar hebat. Formasi spiritual di sekelilingnya beresonansi dengan niat bertarungnya yang mulai bangkit.
"Setelah tiga bulan hanya bermain dengan kerikil, akhirnya ada batu pijakan yang lumayan untuk memanaskan tulangku," gumam Sang Kaisar Vajra. "Han, bersiaplah. Tamu dari atas gunung telah tiba.