NovelToon NovelToon
MAWAR DI TANGAN GAARA

MAWAR DI TANGAN GAARA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Balas Dendam
Popularitas:799
Nilai: 5
Nama Author: Sabana01

Aku punya segalanya, tapi aku tidak punya hak atas hatiku sendiri."
Juliet adalah putri mahkota dari kerajaan bisnis properti yang hidup dalam sangkar emas. Baginya, bunga adalah satu-satunya teman yang tidak pernah menghakimi. Namun, dunianya jungkir balik saat ia mempekerjakan Gaara, tukang kebun misterius dengan tatapan sedingin es namun memiliki sentuhan tangan yang ajaib pada tanaman.
Saat benih cinta mulai tumbuh di sela-sela duri mawar, Adam—tunangan sempurna dari masa lalu—datang menagih janji pernikahan. Di tengah kecemburuan Vina yang licik dan tekanan keluarga, Juliet harus memilih: Menjadi mawar indah di dalam vas kaca milik Adam, atau tumbuh liar dan bahagia di tanah bersama Gaara?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: KELOPAK YANG MEKAR DI BALIK KACA

Gedung Pameran Internasional Jakarta (JIE) tampak berkilau di bawah lampu sorot raksasa. Bau harum ratusan jenis bunga dari berbagai belahan dunia bercampur menjadi satu, menciptakan atmosfer yang memabukkan sekaligus menyesakkan bagi Juliet. Ia berdiri di balik stan nomor 42—sebuah sudut kecil yang dibangun Gaara dengan kayu palet bekas namun ditata dengan keanggunan yang tidak bisa dibeli dengan uang.

Di tengah stan itu, di atas meja jati tua yang dipoles minyak alami, mawar Golden Hope berdiri dengan angkuh. Kelopaknya yang berwarna putih susu dengan gradasi emas di pusatnya seolah memancarkan cahayanya sendiri. Mawar itu tidak hanya cantik; ia terlihat bernyawa.

Juliet merapikan kemeja linen putihnya yang sederhana. Rambutnya diikat ke belakang, menampakkan lehernya yang jenjang tanpa kalung berlian. Ia tidak lagi butuh perhiasan. Cahaya di matanya sudah cukup.

"Kau gugup?"

Gaara melangkah dari arah belakang stan, membawa botol semprotan berisi air embun Puncak. Ia mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku. Meski tampak lebih rapi dari biasanya, aroma tanah dan kayu masih melekat pada tubuhnya—aroma yang bagi Juliet adalah aroma rumah.

"Sedikit," Juliet menoleh, bibirnya tersenyum tipis. "Bagaimana kalau mereka hanya melihatku sebagai 'si anak jatuh miskin' yang sedang berjualan bunga?"

Gaara meletakkan botol semprot itu, lalu melangkah mendekat. Ia menarik Juliet ke sudut stan yang tersembunyi dari pandangan pengunjung yang mulai berdatangan. Di ruang sempit di antara rak-rak tanaman itu, Gaara menarik pinggang Juliet, merapatkan tubuh mereka hingga Juliet bisa merasakan detak jantung suaminya yang mantap.

"Dengarkan aku," bisik Gaara, suaranya rendah dan serak, mengirimkan getaran hangat ke seluruh tubuh Juliet. "Hari ini, kau bukan lagi putri Pak Wijaya. Kau adalah pencipta keindahan ini. Kau adalah wanita yang menggali parit di tengah malam dan berani melawan raksasa demi benih harapan ini."

Gaara mengangkat dagu Juliet dengan ujung jarinya, memaksanya menatap langsung ke dalam mata gelapnya yang penuh dengan pemujaan.

"Kau cantik, Juliet. Bukan karena gaun mahalmu, tapi karena jiwamu yang mekar di tengah badai. Tatap mereka dengan bangga, karena mawar ini adalah bukti bahwa kau menang."

Juliet merasakan napas Gaara di wajahnya. Ketakutannya perlahan luruh, digantikan oleh gairah yang membara. Ia melingkarkan tangannya di leher Gaara, menarik pria itu sedikit lebih rendah. Saat bibir mereka bertemu, ciuman itu terasa seperti doa yang diamini oleh alam. Itu adalah ciuman yang singkat namun intens, penuh dengan janji bahwa apapun hasil pameran ini, mereka telah memenangkan sesuatu yang jauh lebih berharga.

Gaara melepaskan tautan bibir mereka, namun tetap menempelkan keningnya pada kening Juliet sejenak. "Aku mencintaimu. Sekarang, pergilah ke sana dan tunjukkan pada mereka mawar yang kau temukan di dalam hatimu."

Pameran dibuka. Kerumunan orang mulai memadati lorong-lorong. Awalnya, banyak yang melewati stan kecil mereka, lebih tertarik pada mawar impor dari Belanda atau anggrek langka dari Amazon. Namun, perlahan tapi pasti, aroma Golden Hope mulai bekerja. Wanginya tidak menusuk, melainkan lembut dan bertahan lama di udara, seperti memori tentang masa kecil yang bahagia.

"Luar biasa... mawar apa ini?" seorang kurator bunga senior dari Singapura berhenti di depan stan mereka, menyesuaikan kacamatanya dengan takjub.

Juliet melangkah maju dengan tenang. "Ini adalah Golden Hope, Tuan. Varietas baru yang tumbuh di lereng Puncak. Ia memiliki ketahanan terhadap penyakit tiga kali lebih kuat dari mawar biasa dan mampu mekar sempurna meski dengan asupan air yang minim."

Kerumunan mulai berkumpul. Lampu kilat kamera wartawan mulai menyambar. Kabar tentang kembalinya Juliet Wijaya—bukan sebagai sosialita, melainkan sebagai seorang botanis—menyebar seperti api di atas rumput kering.

Namun, di tengah kesuksesan itu, bayangan gelap muncul.

Adam melangkah masuk ke area pameran dengan pengawalan ketat. Ia mengenakan setelan jas abu-abu perak yang sangat mahal, kontras dengan suasana pameran yang alami. Wajahnya yang tampan terlihat kaku, matanya berkilat penuh amarah yang tertahan saat melihat Juliet berdiri berdampingan dengan Gaara, dikelilingi oleh decak kagum orang-orang.

Adam berjalan lurus menuju stan nomor 42. Kerumunan orang memberi jalan secara otomatis, merasakan aura ketegangan yang tiba-tiba mencekik udara.

"Cantik," ucap Adam, suaranya dingin dan tajam. Matanya menatap mawar emas itu, namun telunjuknya menunjuk ke arah Juliet. "Tapi sesuatu yang tumbuh di tanah curian tetaplah barang curian, bukan?"

Suasana pameran mendadak hening. Para wartawan segera mengarahkan mikrofon mereka, mencium bau skandal yang lebih menarik daripada bunga mana pun.

"Lahan di Puncak itu sedang dalam sengketa hukum," lanjut Adam, menoleh ke arah kerumunan wartawan. "Saya di sini untuk memperingatkan para calon pembeli. Mawar ini adalah produk dari lahan yang ilegal. Siapa pun yang menjalin kontrak dengan mereka, akan berurusan dengan firma hukum internasional saya di Sydney."

Juliet merasakan tangannya gemetar, namun sebelum ia sempat bicara, tangan Gaara sudah menggenggam jemarinya di bawah meja jati itu. Genggaman yang kuat dan tenang.

"Tuan Adam," Gaara bicara dengan suara yang jernih dan berwibawa, cukup keras untuk didengar semua orang. "Hukum mungkin bisa memperdebatkan kepemilikan tanah. Tapi hukum tidak bisa mematenkan kehidupan yang tumbuh di atasnya. Mawar ini telah didaftarkan hak patennya atas nama Almarhumah Ibu Juliet satu dekade lalu—dokumen yang baru saja kami temukan di dalam brankas rahasia rumah Puncak semalam."

Gaara mengeluarkan sebuah map perak dan meletakkannya di atas meja. "Ibu Juliet adalah peneliti utama mawar ini. Pak Wijaya mungkin pemilik tanahnya, tapi Ibu Juliet adalah pemilik hak intelektual mawar Golden Hope. Dan sebagai ahli waris sah, hak itu kini jatuh sepenuhnya ke tangan putrinya."

Wajah Adam berubah pucat, lalu memerah karena malu. Ia tidak menyangka Gaara dan Juliet akan menemukan dokumen itu secepat ini.

"Dan satu hal lagi," tambah Juliet, menatap Adam langsung di matanya tanpa rasa takut sedikit pun. "Tuan Adam bicara soal tanah curian? Mungkin media ingin tahu siapa yang sebenarnya sedang mencoba mencuri mata air warga lembah Puncak untuk membangun beton-beton tanpa izin lingkungan yang lengkap."

Bisikan-bisikan mulai terdengar di antara pengunjung. Kamera wartawan kini beralih menyorot Adam yang tampak seperti harimau yang terjepit.

"Ini belum selesai, Juliet!" desis Adam sebelum berbalik dan pergi dengan langkah terburu-buru, meninggalkan pameran di tengah bisik-bisik yang menghinanya.

Malam harinya, setelah pameran ditutup dan stan mereka dinobatkan sebagai "Penemuan Terbaik Tahun Ini", gedung pameran mulai sepi. Gaara dan Juliet sedang mengemasi beberapa barang terakhir saat lampu-lampu besar mulai dipadamkan satu per satu.

"Kita melakukannya," bisik Juliet. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Gaara, merasa sangat lelah namun penuh kemenangan.

Gaara meletakkan kardus terakhirnya, lalu berbalik menghadapi Juliet. Di bawah remang lampu darurat yang memberikan nuansa oranye keemasan, ia menarik Juliet ke dalam pelukannya lagi.

"Kau melakukannya, Juliet. Kau baru saja menghancurkan kesombongan Adam di depan dunia."

Gaara mencium puncak kepala Juliet, lalu turun ke keningnya. "Sekarang, kita punya perlindungan publik. Dia tidak akan berani menyentuh rumah Puncak itu sekarang karena seluruh mata dunia sedang tertuju pada 'Rumah Golden Hope'."

Juliet menatap mawar emas yang masih tersisa di atas meja. "Ibuku pasti bangga."

"Dia sangat bangga," sahut Gaara.

Ia kemudian merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah cincin yang sangat sederhana—bukan berlian, melainkan sebuah lingkaran perak dengan ukiran halus berbentuk dahan mawar yang melingkar.

"Ini bukan perak dari toko perhiasan," kata Gaara, suaranya sedikit bergetar. "Aku menempanya sendiri dari koin perak kuno milik ayahku yang tersisa. Aku ingin memberikannya padamu di Puncak nanti, tapi kurasa... setelah kemenangan besar ini, sekarang adalah waktu yang tepat."

Gaara berlutut di atas lantai gedung yang dingin. "Juliet Rose Wijaya... maukah kau terus menanam mawar ini bersamaku? Bukan sebagai majikan dan tukang kebun, bukan sebagai rekan bisnis, tapi sebagai pendamping hidupku selamanya?"

Air mata Juliet jatuh tanpa bisa dicegah. Ia mengangguk berkali-kali, tidak mampu mengeluarkan kata-kata. Gaara menyematkan cincin itu di jari manis Juliet. Ukurannya pas, seolah-olah memang ditakdirkan untuk berada di sana.

Gaara berdiri dan mengangkat Juliet, memutar tubuhnya di tengah stan bunga yang harum. Di tengah kesunyian gedung pameran yang luas itu, mereka merayakan cinta yang telah teruji oleh api dan tanah.

Namun, jauh di luar gedung, di dalam mobil hitamnya yang terparkir di kegelapan, Adam sedang menatap layar ponselnya. Ia melihat foto Juliet dan Gaara yang sedang berpelukan, hasil jepretan orang suruhannya.

"Jika aku tidak bisa memilikinya," gumam Adam dengan suara yang nyaris tak terdengar, "maka mawar itu tidak boleh ada di dunia ini. Siapkan apinya. Malam ini, Puncak harus terbakar."

Duri terakhir belum patah. Di saat mawar Golden Hope sedang merayakan kemenangannya, api kehancuran sedang meluncur menuju lereng Puncak.

...****************...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!