Xue Xiao adalah seorang alkemis hebat nomor satu di alam abadi, bahkan bakatnya di gadang-gadang akan mampu memecahkan batasan alam abadi dan membuka jalur kenaikan menuju alam Dewa yang telah tersegel selama jutaan tahun melalui Dao alkimia.
Namun pada suatu saat, Xue Xiao dikhianati oleh sahabat dan kekasihnya untuk merebut Artefak Dewa yang dimiliki Xue Xiao.
Selama ratusan tahun, Xue Xiao hanya berfokus pada Dao Alkimia. Meskipun kultivasinya tinggi, namun dibandingkan mereka yang menempuh jalur Dao beladiri tentu ia tidak bisa menjadi lawan.
Hingga akhirnya, Xue Xiao yang terpojok dan putus asa, memilih untuk meledakkan dirinya dan menyeret para penghianat itu untuk menemaninya di jalan kematian.
Tapi tak disangka, Artefak Dewa yang ia miliki justru menyelamatkan jiwanya disaat-saat terakhir dan membawanya ke dunia yang sama sekali baru, bahkan merekonstruksi tubuh fisiknya yang sudah hancur berkeping-keping.
bagaimana perjalanan Xue Xiao di dunia baru, ikuti terus cerita ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARIYANTO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
Pagi di Distrik Jing'an disambut dengan kabut tipis yang menyelimuti gedung-gedung tua berbatu bata merah. Di depan Klinik Medis Xue, Pak Tua Han sudah bangun sejak fajar menyingsing. Dengan sapu lidi di tangan dan wajah yang tampak sepuluh tahun lebih muda, ia membersihkan trotoar dengan saksama. Sesekali ia menoleh ke dalam, menatap Han Meiling yang sudah bisa duduk di tempat tidur dan meminum bubur gandum dengan lahap. Keajaiban yang diberikan Xue Xiao bukan hanya menyembuhkan luka cucunya, tapi juga mengembalikan cahaya di mata gadis itu.
Xue Xiao turun dari lantai tiga dengan langkah yang nyaris tak terdengar. Ia mengenakan kemeja kain rami hitam sederhana, rambut panjangnya diikat rapi dengan tali kulit. Ia melihat Pak Tua Han yang sedang sibuk dan mengangguk pelan.
"Buka pintunya, Pak Tua. Hari ini akan ada banyak orang yang datang membawa racun di tubuh mereka," ucap Xue Xiao datar sembari menyalakan tungku pemanas air di sudut ruangan.
Pak Tua Han agak ragu. "Master, kita belum memasang iklan atau memberi tahu siapa pun selain keluarga Lin. Siapa yang akan datang sepagi ini?"
Xue Xiao hanya menunjuk ke arah pintu kaca otomatis. "Berita tentang kesembuhan cucumu akan menyebar lebih cepat daripada api di hutan kering. Orang-orang kecil di pasar... mereka memiliki telinga di mana-mana."
Benar saja, hanya berselang satu jam setelah pintu dibuka, seorang wanita paruh baya dengan pakaian lusuh masuk dengan ragu-ragu. Ia membawa suaminya yang batuk darah, seorang kuli pelabuhan yang paru-parunya sudah menghitam akibat polusi dan debu batu bara selama dua puluh tahun.
Xue Xiao tidak bertanya tentang uang. Ia hanya menyuruh pria itu duduk, meletakkan dua jari di pergelangan tangannya, dan dalam hitungan menit, ia memberikan sebotol kecil cairan berwarna cokelat pekat.
"Minum ini tiga kali sehari. Berhenti merokok, atau paru-parumu akan menjadi batu," ucap Xue Xiao singkat.
Wanita itu mencoba memberikan beberapa lembar uang kertas yang kucel, namun Xue Xiao menggeleng. "Berikan pada Pak Tua Han di sana. Harganya cukup untuk mengganti botol kaca itu saja."
Sepanjang siang, antrean mulai memanjang. Tukang sapu jalanan, sopir taksi, hingga penjual sayur yang menderita rematik kronis datang silih berganti. Xue Xiao mengobati mereka dengan efisiensi yang menakutkan. Ia tidak butuh stetoskop atau rontgen; matanya bisa melihat penyumbatan energi, dan tangannya bisa membetulkan posisi tulang yang bergeser hanya dengan satu tekanan lembut.
Namun, di tengah kesibukan itu, suasana tiba-tiba berubah mencekam. Suara decitan ban mobil yang tajam terdengar di depan klinik. Tiga mobil SUV hitam mewah berhenti sembarangan, menutupi jalanan sempit.
Beberapa pasien yang sedang mengantre langsung bubar dengan wajah ketakutan saat melihat logo elang emas di pintu mobil tersebut.
"Keluarga Wang..." bisik Pak Tua Han, wajahnya mendadak pucat pasi. Tangannya yang memegang buku catatan pasien gemetar hebat.
Lima pria berpakaian setelan jas hitam ketat turun dari mobil. Mereka memiliki postur tubuh yang tegap, dan dari cara mereka berjalan, jelas bahwa mereka adalah praktisi beladiri tingkat rendah yang sudah mulai melatih energi internal mereka. Di tengah-tengah mereka, berdiri seorang pemuda berusia sekitar dua puluh lima tahun dengan rambut klimis dan tatapan mata yang sangat angkuh.
Dialah Wang Ruo, putra mahkota Keluarga Wang yang telah melukai Han Meiling.
Wang Ruo melangkah masuk ke dalam klinik tanpa melepas kacamata hitamnya. Ia menutup hidungnya dengan sapu tangan sutra, seolah-olah aroma obat herbal di sana adalah bau sampah.
"Tempat ini sangat menjijikkan," ucap Wang Ruo dengan nada tinggi. Matanya menyapu ruangan hingga berhenti pada Pak Tua Han yang berdiri mematung di sudut. "Oh, lihat siapa ini. Si tua bangka yang cucunya hampir mati. Kudengar ada 'dewa' yang menyelamatkan nyawa cucumu, makanya aku datang untuk melihat apakah dewa itu benar-benar ada atau hanya penipu yang menggunakan trik sulap."
Pak Tua Han tidak berani menjawab. Ia menundukkan kepala sedalam mungkin, keringat dingin mengucur di pelipisnya.
Xue Xiao tetap duduk di kursinya, tangannya masih sibuk menimbang serbuk akar teratai. Ia bahkan tidak mendongak saat rombongan itu masuk.
"Keluar," ucap Xue Xiao tenang. Suaranya tidak keras, namun bergema di setiap sudut ruangan, memotong keangkuhan Wang Ruo.
Wang Ruo tertawa mengejek, ia mendekat ke meja Xue Xiao dan menggebraknya dengan keras. "Kau tahu siapa aku? Aku adalah Wang Ruo dari Keluarga Wang! Kau telah lancang menghapus jejak energiku di tubuh gadis itu. Di Shanghai ini, apa yang sudah kutandai untuk mati, tidak boleh ada yang menghidupkannya kembali!"
Xue Xiao akhirnya mendongak. Matanya yang hitam pekat menatap langsung ke pupil mata Wang Ruo. Untuk pertama kalinya, Wang Ruo merasakan sensasi aneh, seolah-olah ia sedang menatap ke dalam jurang yang tak berdasar. Ada rasa dingin yang menusuk tulang belakangnya, sebuah insting purba yang menyuruhnya untuk lari, namun egonya menahan langkahnya.
"Kau melukai seorang anak kecil hanya karena harga dirimu yang murah," ucap Xue Xiao sambil berdiri perlahan. "Energi yang kau banggakan itu... di mataku, itu hanyalah kotoran yang menyumbat aliran darah."
"Beraninya kau!" Salah satu pengawal Wang Ruo maju, mencoba mencengkeram kerah baju Xue Xiao.
Xue Xiao tidak menghindar. Saat tangan pengawal itu hampir menyentuh kain bajunya, Xue Xiao hanya menggerakkan bahunya sedikit.
DUMMM!
Sebuah gelombang tekanan udara yang kasat mata meledak dari tubuh Xue Xiao. Pengawal bertubuh besar itu terpental ke belakang, menabrak pintu kaca otomatis hingga retak, dan jatuh tersungkur di aspal jalanan dalam kondisi pingsan seketika.
Wang Ruo terbelalak. Ia tidak melihat Xue Xiao memukul, ia hanya melihat pengawalnya terbang seperti kertas tertiup badai. "Kau... kau adalah Seniman Beladiri tingkat tinggi? Tingkat apa kau? Transformasi Otot? Atau sudah mencapai pemurnian Jantung?"
Xue Xiao melangkah maju, melewati meja kayunya. Setiap langkahnya membuat lantai beton klinik itu bergetar halus. "Aku tidak peduli dengan tingkatan sampah yang kalian buat. Aku memberimu sepuluh detik untuk membawa anjing-anjingmu pergi dari sini, atau aku akan memastikan tangan yang kau gunakan untuk menyentuh Meiling tidak akan pernah bisa memegang tongkat kencing lagi seumur hidupmu."
Wang Ruo menggertakkan gigi. Sebagai jenius Keluarga Wang, ia belum pernah dihina seperti ini. Ia memusatkan seluruh energi internalnya ke telapak tangan kanannya, hingga kulitnya memerah dan mengeluarkan uap panas. Ini adalah teknik andalan Keluarga Wang: Telapak Api Utara.
"Jangan sombong! Terima ini!" Wang Ruo menerjang maju, menghantamkan telapak tangannya ke arah dada Xue Xiao.
Xue Xiao hanya mengangkat tangan kirinya, menangkap serangan telapak tangan panas itu dengan telapak tangannya yang dingin dan keras seperti baja.
Cisssss... Mendesis~
Suara daging terbakar terdengar, namun bukan daging Xue Xiao. Energi panas Wang Ruo seolah-olah terserap ke dalam kehampaan saat menyentuh tangan Xue Xiao. Xue Xiao kemudian meremas tangan Wang Ruo perlahan.
KREKKK!
"AAAGGGHHHH!" Wang Ruo menjerit histeris. Tulang-tulang telapak tangannya hancur berkeping-keping di bawah cengkeraman Xue Xiao yang seperti catok besi.
Xue Xiao melepaskan tangan itu dengan jijik. "Energi yang tidak memiliki dasar nurani hanya akan menghancurkan pemiliknya. Pergilah, sampaikan pada tetuamu... jika mereka ingin membuat perhitungan, jangan kirimkan bocah ingusan yang hanya tahu cara menggonggong."
Wang Ruo memegangi tangannya yang lunglai, wajahnya pucat karena rasa sakit dan penghinaan. Ia mundur dengan gemetar, dibantu oleh pengawal-pengawalnya yang lain. "Kau... kau akan menyesal! Keluarga Wang tidak akan membiarkan ini! Kau sudah menandatangani surat kematianmu sendiri!"
Mobil-mobil itu pergi dengan terburu-buru, meninggalkan kepulan asap dan keheningan di jalanan Jing'an.
Pak Tua Han berlari mendekat, wajahnya dipenuhi ketakutan yang luar biasa. "Master! Apa yang Anda lakukan?! Itu Wang Ruo! Ayahnya, Wang Xiong, adalah seorang ahli beladiri tingkat tinggi yang sangat kejam! Mereka akan meratakan klinik ini!"
Xue Xiao kembali duduk di kursinya, wajahnya kembali datar seolah-olah ia baru saja mengusir lalat yang mengganggu. Ia mengambil cangkir tehnya yang masih hangat dan menyesapnya pelan.
"Biarkan mereka datang, Pak Tua Han," ucap Xue Xiao tenang. "Klinik ini butuh sedikit pupuk agar tanaman obat di belakang bisa tumbuh lebih subur. Dan tidak ada pupuk yang lebih baik daripada energi dari orang-orang yang terlalu sombong untuk tetap hidup."
Xue Xiao menatap ke arah luar pintu, matanya seolah menembus gedung-gedung tinggi di kejauhan. Ia tahu, ketenangannya telah berakhir. Masyarakat Seni Beladiri Shanghai kini telah menyadari keberadaannya. Tapi baginya, ini hanyalah langkah awal untuk membersihkan kota ini dari racun yang lebih besar.
"Pak Tua, bersihkan pecahan kaca itu," perintah Xue Xiao. "Dan panggil pasien berikutnya. Kita masih punya banyak pekerjaan."