Hafiz mengira dunia ada dalam genggamannya. Harta, tahta, dan wanita pemuja dusta menjadi santapan hariannya. Ia terperosok dalam kubangan kesombongan, lupa bahwa ia adalah seorang lelaki yang seharusnya menjadi pelindung.
Namun, badai datang meruntuhkan segalanya. Di titik nadir saat semua orang meninggalkannya, ia menemukan sebuah oase bernama Zahra. Wanita yang kesuciannya terjaga, yang doanya menembus langit, dan yang hatinya menjadi tempat persembunyian terakhir bagi Hafiz dari kejahatan dirinya sendiri.
"Maafkan kebodohanku yang tak bisa membimbingmu, Zahra. Izinkan aku belajar menjadi imam, meski langkahku penuh noda."
Mampukah Hafiz menjaga amanah saat jarak memisahkan dan masa lalu kembali menagih janji? Akankah doa Qurrata A'yun menyatukan mereka dalam cinta yang direstui penduduk langit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAWARAN DARI KIYAI
Aroma minyak kayu putih dan ramuan tradisional mulai memenuhi indra penciumannya yang tersisa.
Ia mendengar suara gemericik air dalam baskom, dan sesuatu yang dingin mulai menyentuh dahi dan pipinya yang berdarah.
"Pelan-pelan, Yah... lukanya di pelipis sangat dalam," suara lembut seorang wanita terdengar di dekat telinga Hafiz.
Hafiz mencoba membuka mata kirinya sedikit, dan ia melihat Zahra sedang berdiri di samping pria tua tadi dengan wajah yang pucat.
Zahra memegang handuk kecil yang kini berwarna merah karena darah Hafiz, tangannya gemetar hebat saat memeras handuk itu.
"Dia... dia pria yang tadi sore, Yah.
Pria tua itu, Kyai Abdullah, hanya mengangguk pelan sambil terus membersihkan luka di perut Hafiz dengan telaten.
"Siapa pun dia, sekarang dia adalah tamu yang sedang butuh pertolongan kita, Zahra."
Hafiz merasakan perih yang luar biasa saat cairan pembersih luka menyentuh kulitnya yang terbuka, ia mengerang pelan.
"Tahan, Nak. Ini memang perih, tapi ini cara untuk membersihkan kotoran yang menempel di tubuhmu," ucap Kyai Abdullah tenang.
Hafiz menatap langit-langit ruangan yang sederhana, dindingnya hanya terbuat dari papan kayu yang dicat putih bersih.
Ada sebuah kaligrafi besar bertuliskan "Al-Fatihah" yang tergantung tepat di depan matanya.
Ia merasa sangat asing berada di ruangan yang penuh dengan energi kedamaian ini, di saat hatinya masih penuh dengan kebencian dan kesombongan.
Zahra mendekat, ia meletakkan segelas air putih hangat di meja kecil samping dipan, namun ia tetap tidak menatap wajah Hafiz secara langsung.
"Ayah... apa kita harus panggil polisi? Sepertinya orang-orang yang mengejarnya tadi bukan orang biasa," tanya Zahra khawatir.
Kyai Abdullah terdiam sejenak, ia menatap wajah Hafiz yang penuh lebam dengan tatapan yang sangat mendalam.
Hafiz merasa Kyai itu sedang membaca seluruh dosa dan rahasia yang ia sembunyikan di balik topeng CEO-nya.
"Kita tunggu dia sadar sepenuhnya dulu. Biar dia sendiri yang cerita apa yang sebenarnya terjadi."
Kyai Abdullah kemudian berdiri dan menepuk bahu Hafiz dengan lembut, memberikan kehangatan yang sudah lama tidak Hafiz rasakan dari sosok seorang ayah.
"Istirahatlah, Nak. Di sini kamu aman. Tidak akan ada yang berani menyentuhmu selama kamu berada di rumah ini."
Hafiz ingin menangis, namun air matanya seolah sudah kering karena rasa sakit yang ia terima sepanjang hari ini.
Ia hanya bisa menatap punggung Kyai Abdullah dan Zahra yang melangkah keluar dari ruangan, meninggalkan dirinya dalam keheningan.
Pikiran Hafiz melayang kembali ke kehidupannya yang dulu, ke kantor mewahnya, ke mobil sportnya, dan ke teman-teman pestanya.
Semua itu kini terasa seperti mimpi buruk yang sangat jauh, sementara kenyataan pahit adalah ia kini terlentang tak berdaya di rumah seorang Kyai.
Ia memejamkan mata, mencoba mencari sedikit kedamaian dalam tidur, namun suara bisikan dari luar kamar membuatnya kembali terjaga.
"Tapi Yah... dia terlihat sangat kasar dan sombong. Apa Ayah yakin tidak apa-apa dia di sini?" suara Zahra terdengar penuh keraguan.
"Orang yang paling kasar biasanya adalah orang yang paling terluka hatinya, Zahra. Mungkin Allah mengirimnya ke sini agar kita bisa membantunya menyembuhkan luka itu."
Hafiz tertegun mendengar jawaban Kyai Abdullah. Luka hati? batinnya bertanya-tama.
Ia merasa hatinya tidak luka, hatinya hanya sedang marah karena dikhianati dan jatuh miskin.
Zahra masuk membawa baskom berisi air hangat yang baru, wajahnya masih pucat namun ia mencoba untuk tidak gemetar.
"Maaf... gara-gara saya... Kalian hampir celaka," bisik Hafiz, suaranya parau, hampir tidak terdengar.
Kyai Abdullah tersenyum tipis sembari memeras kain kompres, lalu menempelkannya ke dahi Hafiz yang bengkak.
"Manusia itu tempatnya salah, dan ujian itu datangnya dari Allah. Mungkin ini cara-Nya memaksamu berhenti sejenak dari larimu yang melelahkan."
Hafiz terdiam, matanya menatap langit-langit kamar yang sederhana; tidak ada lampu gantung kristal, hanya bohlam kuning yang redup.
"Kenapa Kyai tolong saya? Saya orang jahat... saya dituduh korupsi, saya kasar sama anak Kyai..." Hafiz melirik Zahra yang sedang menyiapkan salep di meja.
Zahra sedikit tersentak mendengar dirinya disebut, namun ia tetap fokus pada pekerjaannya tanpa menoleh sedikit pun ke arah Hafiz.
"Kebaikan tidak butuh alasan, Nak. Jika saya hanya menolong orang baik, maka saya tidak ada bedanya dengan pedagang yang hanya mau untung," jawab Kyai Abdullah.
Kyai kemudian mulai mengoleskan ramuan herbal ke luka-luka lebam di tubuh tegap Hafiz yang kini terlihat begitu rapuh.
"Aduh! Perih, Kyai!" rintih Hafiz saat ramuan itu menyentuh luka terbuka di perutnya.
"Sabar. Perih itu tandanya lukamu masih mau sembuh. Yang bahaya itu kalau sudah mati rasa, itu tandanya hati dan tubuhmu sudah membusuk."
Hafiz menggigit bibirnya, perkataan sang Kyai terasa lebih dalam menusuk daripada rasa perih salep itu sendiri.
Malam itu, Hafiz dirawat dengan sangat telaten; Kyai Abdullah tidak bertanya soal uang, jabatan, atau masa lalu kelamnya.
Zahra hanya sesekali masuk untuk mengantar minuman atau kain bersih, selalu dengan pandangan yang tertuju ke lantai.
Hafiz merasa ada martabat yang sangat tinggi pada diri wanita itu, sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan saham satu triliun sekalipun.
Pagi harinya, cahaya fajar mulai menyeruak masuk, membawa aroma tanah basah dan suara kicauan burung yang damai.
Hafiz merasa tubuhnya sedikit lebih ringan, meski rasa linu di persendiannya masih terasa seperti dikuliti.
Ia melihat Kyai Abdullah masuk setelah menunaikan sholat Subuh di masjid sebelah, wajah orang tua itu tampak sangat segar.
"Sudah bangun, Hafiz? Bagaimana rasanya tidur tanpa AC dan kasur empuk?" tanya Kyai dengan nada bercanda yang menyejukkan.
Hafiz mencoba tersenyum kaku, "Sakit, Kyai. Tapi anehnya... saya tidur lebih nyenyak daripada saat di hotel berbintang."
Kyai Abdullah duduk di kursi kayu di samping dipan, ia menatap Hafiz dengan tatapan yang sangat serius namun hangat.
"Hafiz, saya sudah dengar sedikit tentang siapa kamu dari berita di televisi lama milik tetangga."
Jantung Hafiz mencelos; ia takut Kyai akan mengusirnya sekarang juga karena ia adalah seorang tersangka yang dicari-cari.
"Tapi saya juga melihat matamu. Mata orang yang dikhianati, bukan mata orang yang merencanakan kejahatan dengan sengaja."
Hafiz tertegun, air mata yang sejak kemarin ia tahan akhirnya tumpah juga melewati pipinya yang lebam.
"Saya dijebak, Kyai... Robi membawa semuanya. Saya nggak punya apa-apa lagi," isak Hafiz, bahunya terguncang hebat.
Kyai Abdullah membiarkan Hafiz menangis sejenak, memberikan ruang bagi pria itu untuk memuntahkan seluruh beban batinnya.
"Kamu bilang kamu tidak punya apa-apa lagi? Kamu salah, Nak. Kamu masih punya nyawa, dan kamu punya waktu."
Kyai kemudian menarik napas panjang, seolah sedang menyiapkan sebuah tawaran yang sangat besar bagi masa depan Hafiz.
"Saya tahu kamu tidak bisa kembali ke duniamu yang lama untuk saat ini. Kamu butuh perlindungan, dan kamu butuh identitas baru agar mereka tidak mudah menemukanmu."
Hafiz menoleh, matanya yang sembab menatap penuh harap ke arah Kyai Abdullah.
"Tinggallah di sini untuk sementara. Masjid di sebelah sedang kekurangan tenaga untuk bersih-bersih."
Hafiz terbelalak, seolah-olah ia baru saja diminta untuk terjun ke dalam jurang tanpa pengaman.
"Maksud Kyai... saya jadi kuli di masjid? Penjaga kebersihan?