Wei Chen, CEO perusahaan teknologi dan energi terkemuka di Asia Tenggara, mati di usia 40 tahun karena diracun oleh rekan bisnisnya sendiri, Hartono Lim — orang yang selama 15 tahun ia percayai.
Namun takdir berkata lain. Wei Chen terbangun di tubuh seorang pemuda di dunia asing: Shenzhou, dunia Murim yang dihuni para kultivator, pedang terbang, dan klan-klan besar yang menguasai segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saundra Handara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PAGI SETELAH PERTEMPURAN
Matahari terbit perlahan di atas Desa Qinghe.
Cahaya jingga keemasan menyapu hamparan sawah yang membentang luas, tapi kali ini tidak ada keindahan seperti biasa. Yang terlihat adalah kehancuran.
Pagar kayu yang dibangun dengan susah payah kini berserakan di sana-sini. Pos jaga hangus terbakar, menyisakan kerangka hitam yang masih mengepulkan asap tipis. Jalanan desa dipenuhi pecahan senjata, noda darah yang mulai mengering, dan jejak-jejak kaki yang tak terhitung jumlahnya.
Wei Chen berdiri di tengah semua itu, ditemani Mei Ling yang bersandar lelah di bahunya. Semalaman mereka tidak tidur. Tidak bisa tidur. Terlalu banyak yang harus diurus.
Lim Xiu mendekat dengan langkah gontai. Wajahnya pucat, matanya merah. Bajunya kotor oleh debu dan darah — bukan darahnya, tapi darah para pemuda yang terluka.
"Wei, korban sudah kita hitung." Suaranya serak. "Dua tewas. Sepuluh luka-luka. Tiga luka parah."
Wei Chen mengangguk pelan. Angka itu kecil dibandingkan dengan kekacauan tadi malam. Tapi dua tewas berarti dua keluarga kehilangan anak.
"Siapa?"
"Jarwo dan Joko."
Wei Chen membeku.
Jarwo? Pemuda yang pernah jadi mata-mata Hartono, yang kembali untuk menebus kesalahan?
Joko? Kepala cabang selatan yang setia, yang selalu tersenyum meski kerja keras?
Dia memejamkan mata. Rasa sakit menusuk dadanya.
Di bumi, dia kehilangan karyawan. Tapi itu hanya angka. Ganti rugi. Rekrut baru. Tidak lebih.
Tapi di sini... dia kenal mereka. Dia tahu keluarga mereka. Dia tahu mimpi-mimpi kecil mereka.
"Jarwo... dia bertarung mati-matian tadi malam," lanjut Lim Xiu. "Dia di barisan depan. Mungkin ingin tebus dosa."
Wei Chen mengangguk. "Dia sudah tebus."
Mei Ling menangis diam-diam di bahunya. Dia kenal Jarwo sejak kecil. Mereka sering bermain bersama waktu kecil, sebelum kutukan keluarganya membuatnya menarik diri.
"Joko?" tanya Wei Chen.
"Dia lindungi toko di selatan. Waktu tahu ada serangan, dia bawa anak buahnya bantu ke sini. Kena serangan kejutan di perjalanan." Lim Xiu menghela napas. "Anak buahnya selamat. Dia tidak."
Wei Chen diam. Rasa bersalah menggerogotinya.
Kalau aku tidak pergi... mungkin mereka masih hidup.
Tapi dia harus pergi. Darah Naga itu untuk Mei Ling.
Mei Ling sepertinya membaca pikirannya. Tangannya meraih Wei Chen, menggenggam erat.
"Ini bukan salahmu," bisiknya. "Kau pergi untukku. Mereka tahu itu. Mereka rela berkorban."
Wei Chen tidak menjawab. Tapi genggaman Mei Ling menghangatkan dadanya.
---
Pagi semakin siang. Warga desa mulai keluar dari rumah-rumah mereka. Dengan perlahan, mereka mulai membersihkan kekacauan.
Wei Chen memimpin langsung. Bukan sebagai pemimpin yang memberi perintah dari jauh, tapi sebagai bagian dari mereka. Dia mengangkat puing-puing, membersihkan darah, membantu menguburkan jenazah.
Para pemuda desa melihatnya. Mereka tidak berkata apa-apa, tapi di mata mereka ada rasa hormat. Pemimpin mereka tidak hanya duduk diam. Dia ikut kerja.
Guru Anta sibuk di klinik. Sepuluh orang terluka, tiga parah. Dia bekerja tanpa henti, meracik ramuan, membalut luka, menyuntikkan qi untuk menyembuhkan.
Kakek Li duduk di beranda rumahnya, memulihkan tenaga. Tubuhnya sudah tua. Pertempuran semalam menguras habis cadangan qi-nya. Tapi matanya tetap awas, mengawasi setiap gerakan di desa.
Lim Xiu mengurus logistik. Makanan, air, obat-obatan. Dia keluar-masuk gudang, mencatat setiap barang yang keluar, memastikan semua kebutuhan tercukupi.
Sore harinya, Wei Chen duduk di tepi desa, menatap makam baru.
Dua gundukan tanah segar. Dua nisan kayu sederhana. Nama Jarwo dan Joko diukir dengan pisau.
Mei Ling duduk di sampingnya. Mereka diam. Tidak perlu bicara.
Tiba-tiba, seseorang mendekat. Seorang wanita paruh baya dengan pakaian lusuh, mata bengkak karena menangis.
Ibu Jarwo.
Wei Chen berdiri, membungkuk dalam. "Bu, saya turut berduka."
Wanita itu diam. Lalu, tiba-tiba, dia memeluk Wei Chen.
"Terima kasih," isaknya. "Terima kasih sudah terima dia kembali. Terima kasih sudah beri dia kesempatan."
Wei Chen diam. Tidak tahu harus berkata apa.
"Jarwo sebelum mati... dia bilang sama aku." Wanita itu melepas pelukan, menyeka air mata. "Dia bilang, 'Bu, Tuan Wei orang baik. Dia maafkan aku. Dia beri aku kesempatan jadi orang benar.'"
Wei Chen merasakan sesuatu di dadanya. Hangat. Tapi juga perih.
"Dia mati dengan tenang, Bu. Dia pahlawan."
Wanita itu tersenyum. Senyum getir. "Iya. Dia pahlawanku."
Dia pergi. Meninggalkan Wei Chen dan Mei Ling.
---
Malam harinya, Wei Chen duduk di beranda rumahnya.
Bulan hampir purnama. Cahayanya perak, menyinari desa yang mulai pulih. Tapi di matanya, ada bayangan.
Mei Ling keluar, membawa dua cangkir teh. Duduk di sampingnya.
"Masih pikirkan mereka?"
Wei Chen mengangguk.
"Chen... aku tahu kau merasa bersalah. Tapi kau harus ingat, perang ini bukan salahmu. Hartono yang memulainya."
"Aku tahu. Tapi tetap..."
"Tetap apa?"
Wei Chen diam. Lalu, "Di bumi, aku tidak pernah kehilangan orang yang benar-benar kukenal. Karyawan? Mereka angka. Tapi Jarwo, Joko... mereka nyata."
Mei Ling meraih tangannya. "Sekarang kau mengerti, kan? Mengapa aku takut kehilangan orang yang kusayang."
Wei Chen menatapnya. Matanya berkaca-kaca.
"Aku mengerti."
Mereka berpelukan. Hangat. Lama.
---
Di ibu kota, Hartono menerima laporan kekalahan.
Wajahnya gelap. Tangannya mengepal hingga berdarah.
"Gagal? 200 orang gagal?"
Mei Hua menunduk. "Maaf, Tuan. Wei Chen kembali tepat waktu. Dia bawa senjata baru — lampu yang bisa meledak."
"Lampu meledak?" Hartono mengerutkan kening. "Apa itu?"
"Qi dimampatkan, lalu dilepaskan tiba-tiba. Ledakannya cukup kuat untuk melukai kultivator level menengah."
Hartono diam. Lalu, tiba-tiba, dia tersenyum.
"Wei Chen... kau benar-benar penuh kejutan." Dia menatap Mei Hua. "Siapkan pasukan lagi. 500 orang."
"500, Tuan?"
"Kali ini, aku yang pimpin langsung."
Mei Hua terkejut. "Tuan sendiri?"
Hartono mengangguk. "Sudah waktunya kita bertemu, Wei Chen. Sudah waktunya..."
Dia tersenyum. Senyum predator.
"...aku selesaikan ini."
---
Di Desa Qinghe, Wei Chen tiba-tiba merasa dingin.
Bukan dingin udara. Tapi dingin di tulang.
Dia menengok ke selatan. Ke arah ibu kota.
Dia akan datang.
Mei Ling merasakan kegelisahannya. "Chen?"
Wei Chen menatapnya. "Hartono tidak akan berhenti. Dia akan datang lagi. Mungkin lebih banyak. Mungkin dia sendiri."
Mei Ling memucat. "Kita bisa hadapi?"
Wei Chen diam. Lalu, "Kita harus siap. Kita latih lebih banyak orang. Kita buat lebih banyak senjata. Kita..."
Dia berhenti. Memikirkan sesuatu.
"Guru Anta. Pil Pemurni."
"Apa?"
"Kalau pil itu bisa naikkan level kultivasiku, mungkin bisa untuk yang lain." Wei Chen berdiri. "Aku harus ke klinik."
---
Di klinik, Guru Anta masih sibuk.
Tapi matanya berbinar melihat Wei Chen.
"Wei Chen! Lihat ini!" Dia menunjukkan botol berisi cairan merah. "Aku sudah racik ramuan dari Darah Naga. Campur dengan Embun Giok. Ini... ini pil pemurni versi lengkap!"
Wei Chen mengambil botol itu. Memandanginya.
"Sudah diuji?"
"Pada tikus. Hasilnya luar biasa." Guru Anta hampir menari. "Tikus yang kuberi racun mati-matian, sembuh total dalam sehari."
Wei Chen mengangguk. "Untuk manusia?"
"Belum. Tapi..."
"Coba padaku."
Guru Anta menghela napas. "Kau yakin?"
"Yakin."
Wei Chen menelan pil itu.
Lima menit. Sepuluh menit. Setengah jam.
Tiba-tiba, tubuhnya terasa panas. Bukan panas biasa, tapi panas yang membakar. Qi-nya bergolak, naik turun tak karuan.
"Guru... ini..."
"Tahan!" Guru Anta memegang tangannya. "Ini proses pemurnian. Biarkan qi-mu mengalir."
Wei Chen memejamkan mata. Berkonsentrasi. Mengendalikan qi yang bergolak.
Satu jam kemudian, dia membuka mata.
Guru Anta tersenyum lebar. "Kau naik level! Pengumpul Qi Tahap Menengah!"
Wei Chen merasakan tubuhnya. Lebih ringan. Lebih kuat.
"Ini... luar biasa."
"Pil ini bekerja. Dan kalau bekerja padamu..." Guru Anta menatapnya. "...mungkin bisa untuk Mei Ling."
Wei Chen tersenyum — senyum pertama dalam dua hari.
"Akhirnya."
---
Chapter 34 END.
---