Berada di tengah laut jawa, Pulau Koriyaksa dihuni para siluman dalam segala bentuk, dipimpin oleh siluman tanpa nama berwujud menakutkan. Akhirnya setelah 50 tahun berperang, sebuah perjanjian damai ditandatangani.
Setiap malam satu suro, bangsa manusia wajib mengirim tumbal untuk dipersembahkan pada Sang Raja.
Namun Sura mahasiswa yang terlempar ke dalam buku harus menjadi tumbal ke-100, anehnya dia justru berhasil merebut hati Sang Penguasa. WARNING! HATI-HATI DALAM MEMILIH BACAAN!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Taruhan
"Tidak apa-apa, saya sudah terbiasa." jawab Anubis bersikap tenang,
Merasa diuntungkan oleh sikap Sura, sengaja memancing amarah karena tahu kalau manusia itu memiliki rasa ikut campur yang tinggi.
Lalu dengan begini akan lebih banyak petinggi siluman yang membenci, melawan pengangkatan Sura sebagai pengawal pribadi Raja.
"Kamu yakin?" tanya Raja berbisik,
Meski memiliki tubuh besar dan kekar, kekuatan siluman dan manusia berbeda jauh karena bangsa siluman punya sihir penguat.
Raja yakin Anubis akan melakukan segala cara demi menyingkirkan Sura, meski harus berbuat curang.
"Tenang saja,"
Mellihat Sura yang begitu percaya diri, tak ada lagi yang harus Raja khawatirkan.
"Kalau begitu biarkan dia yang melawannya." sontak suara dari belakang,
Siluman kera besar hitam bernama Gola, sang panglima kerajaan itu merangkul siluman kura-kura yang memegang amplas ditangannya.
"Meski cuma pengasah senjata, dia sudah terbiasa melihat anak buahku bertarung. Benar kan?"
"T-tapi..."
"Kalau kamu berhasil mengalahkannya, aku akan membiarkanmu masuk ke dalam pasukan!" bisik Gola mengeratkan rangkulan,
"Dia cuma siluman reptil rendahan. Sepertinya sebanding dengan manusia,"
Para siluman lain mulai bergumam.
"Kalau gitu biarkan kura-kura itu maju,"
"Benar! Cuma dia yang pantas bertanding dengan manusia rendahan."
Sura terus mengamati, menyadari raut ketakutan di wajah siluman kura-kura, entah kenapa batinnya sedikit kesal.
"Bukankah mereka terlalu meremehkanku?"
"Kamu benar. Harta dan tahta telah membuat mereka sombong! Mereka bahkan berani mengucilkan sebangsanya sendiri!"
Mengepalkan tangan, menggertak tampak marah melihat sikap para siluman yang asik bergunjing.
Bahkan siluman juga mengenal istilah kasta. Kasta tertinggi adalah anggota bangsawan serta pejabat tinggi. Kasta tengah adalah siluman buas yang menjabat di wilayah kecil. Kasta rendah adalah rakyat biasa.
Lalu yang terakhir, kasta hina adalah para siluman reptil, mereka memiliki urutan paling bawah karena kesalahan leluhurnya.
Siluman reptil dahulu berasal dari daerah pinggiran dekat dengan perbatasan. Saat perang, leluhur mereka pernah memihak manusia dan melawan bangsanya sendiri,
Setelah perjanjian damai mereka pun harus hidup menyendiri dalam pengasingan. Namun Raja yang sekarang merubah peraturan, membiarkan para reptil membaur,
"Aku pikir keputusanku akan membuat para reptil hidup normal. Tapi kenyataannya mereka malah menerima banyak hinaan,"
"Jangan menyalahkan diri sendiri. Keputusanmu sudah benar! Hanya saja masih butuh polesan,"
"Sekarang...biarkan aku yang memoles mereka," imbuh Sura menyeringai,
"Berapa lagi aku harus menunggu? Apa sangat sulit mencari siluman untuk melawanku?"
Dengan angkuh Sura menatap mereka, tersenyum tengil pada Anubis, sengaja menyalakan api guna memeriahkan suasana.
"Dasar manusia rendahan! Dia mulai berani karena Raja membelanya,"
"Kenapa para tetua diam saja?"
Wajah para tetua mulai berkerut, mengerang, mengeluarkan gigi taring tanda amarah. Mendengar yang lain mulai berbisik, mengomentari kebungkaman mereka.
Namun raut Sura tak terlihat puas, dia menunggu, sampai umpannya termakan.
Mengamati seksama, reaksi satu siluman di seberang sana. Melihat raut itu mulai bimbang, menggertakkan rahang, perlahan membuat telinga panjangnya berdiri tegak,
Kemudian...
TERPANCING!
"Kosongkan halaman depan!" tegas Anubis meninggikan suara,
Sura menyeringai puas, tanpa mereka ketahui, manusia lemah itu sebenarnya telah memiliki kemampuan baru.
"Ck! Lihat saja...setelah ini, kamu tidak akan bisa tersenyum lagi!"
Anubis mengepalkan tangan, berjalan meninggalkan ruang. Kepergiannya membuat Raja sedikit panik,
"Berhati-hatilah. Aku tidak tahu apa rencanamu, tapi lakukan sebaik mungkin..." lugas Raja memberi peringatan,
Sebagai Raja, dia memiliki sihir untuk melihat emosi yang meluap dalam bentuk warna. Anubis baru saja menunjukkan warna ungu kehitaman,
Mengartikan dendam dan kebencian mendalam.
"Kalau kamu sangat mengkhawatirkanku, beritahu apa keahlian dan kelemahan kera besar tadi?"
"Maksudmu panglima Gola?" Raja mengernyit kebingungan,
"Dia salah satu panglima terkuat disini. Fisiknya 5 kali lebih kuat dari siluman lain, meski belum seberapa untukku...satu pukulannya bisa menewaskan 10 manusia dewasa,"
"Tubuhnya keras tidak mudah terluka, tapi sangat lemah dengan racun."
"Dia adalah petarung jarak dekat tapi tidak ahli bertarung dengan senjata. Panglima Gola hanya butuh kedua tangannya untuk melawan musuh,"
"Waduh!" Sura menelan saliva, "Haha...ternyata ngeri juga ya."
"Lagian buat apa bertanya soal itu. Lawanmu itu kan---" ucap Raja terhenti,
"Tunggu! Jangan bilang kamu akan menantangnya..."
Raja ternganga melihat punggung Sura telah melangkah pergi dari hadapannya.
Kali ini bukan hanya terkejut, tapi juga takut membayangkan keributan yang akan terjadi nanti.
"Bocah itu...apa dia cari mati?!"
Disisi lain,
Para siluman telah berkumpul dengan raut kegirangan, seakan yakin dengan hasil pertandingan yang bahkan belum dimulai.
"Sepertinya dia sudah menemukan cara." pikir Sura menoleh ke Anubis,
Raut Anubis kembali cerah bahkan bisa memberi sapaan yang justru membuat Sura kesal. Jiwa kompetitifnya merasa tertantang untuk lebih teliti,
Dengan jeli mata Sura melirik ke segala arah, ke setiap benda, siluman, dan meresapi aroma disana. Tak terlihat jejak apapun,
"Anubis menyiapkan sihir penghalang di sekitar arena." celetuk Raja tiba-tiba muncul di belakang,
Menunjuk pada 4 tongkat kayu kering berwarna hitam yang tertancap di 4 sudut.
"Sihir penghalang? Apa maksudmu ruang pembatas seperti milikku?" bisik Sura penasaran,
"Sekilas mirip tapi berbeda. Sihir ini hanya berlaku sementara,"
"Jika terlanjur masuk, kamu tidak akan bisa keluar sampai lawanmu pingsan atau mati."
Sura merenung menatap tongkat kayu di depannya. Penjelasan itu menarik Sura dalam mempelajari macam-macam ilmu sihir,
"Nanti malam, apa kamu mau mengajariku sihir?" Sura menoleh dengan binar di matanya,
"Ha? T-tentu..."
Raja menggaruk tengkuk, dibuat keheranan melihat reaksi Sura. Bukannya mencemaskan pertandingan, dia justru semangat memikirkan hal lain,
"Cepat maju! Dan kalahkan manusia itu," gertak Gola memberi tekanan.
"Ng..." Kura nampak gugup,
"Tenang saja, minumlah ini." Anubis menyodorkan botol kaca kecil berisi ramuan berwarna kuning,
"A-apa ini---"
"Sudah jangan banyak tanya! Minum saja pemberian patih."
"Tenang, itu hanya ramuan sihir. Setelah meminumnya kecepatanmu akan meningkat," sahut Anubis merendahkan suara.
Kura mengangguk pelan sebelum menenggak habis ramuan tadi,
"Mm, tapi...saya tidak yakin bisa menang."
"Tenang saja," ujar Anubis, segera membisikkan sesuatu yang berhasil menenangkan Kura.
Sura mengernyit tak mengerti pembicaraan apa yang sedang mereka lakukan. Rasa penasarannya semakin tak terbendung, setelah melihat raut antusias di wajah Kura,
Tanpa ragu Kura maju lebih dulu memasuki arena. Diikuti oleh Sura,
Seketika muncul cahaya merah di sekitar, sebagai pertanda bahwa sihir penghalang telah berhasil diaktifkan.
"Ada yang aneh..."
"Padahal tadi dia gemetar ketakutan," pikir Sura menyipitkan mata,
Sekilas melirik Anubis melontarkan senyuman dari luar. Entah bisikan apa yang Kura dengar sampai mampu berdiri tegak,
"Apa aku harus melawannya?"
Sura cukup bimbang melihat angka-angka di atas kepala Kura. Kebenciannya hanya 5%, masih terbilang rendah dibandingkan siluman lain.
"Aku yakin mereka pasti mengancamnya, agar mau bertarung denganku."