Bagi orang lain, ia adalah definisi kemandirian yang sempurna. Namun, di balik punggungnya yang tegap, tersimpan luka yang tak pernah dipeluk siapa pun.
Ia tumbuh dalam rumah yang penuh, tetapi merasa seperti yatim piatu di tengah hiruk-pikuknya. Sejak kecil, ia dipaksa menelan rindu pada orang tua yang merantau, hanya untuk kembali dan mendapati dirinya sebagai orang asing yang selalu salah. Tanpa pembelaan, tanpa kasih sayang, ia belajar satu hal: satu-satunya orang yang bisa ia andalkan adalah dirinya sendiri.
Namun, sampai kapan seseorang bisa terus menjadi "langit" yang kokoh tanpa pernah runtuh? Ketika semua keinginan harus dipenuhi sendiri dan setiap air mata harus disembunyikan, ia mulai kehilangan jejak akan perasaannya sendiri.
Di rumah yang seharusnya menjadi pelabuhan, ia justru tenggelam dalam kesepian yang paling sunyi. Mampukah ia menemukan jalan pulang ke dirinya sendiri, ataukah ia akan terus menopang langit itu sampai hancur berkeping-keping?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Anda... Anda langsung pergi?" suara Alana terdengar sedikit bergetar, ada rasa tidak rela yang menyusup di sela-sela kata-katanya. "Anda bahkan belum sempat beristirahat, Pak."
Pradipta tersenyum, kali ini tangannya beralih mengusap pipi Alana yang sudah kering dari air mata. "Melihatmu bisa tersenyum lagi tanpa beban adalah istirahat terbaik saya hari ini. Jakarta hanya beberapa jam dari sini. Saya bisa tidur di pesawat."
Ia berhenti sejenak, menatap Alana dalam-dalam. "Ingat janji kita tadi di pantai. Duniamu sekarang seluas samudra itu. Jangan biarkan siapa pun—termasuk saya jika suatu saat saya salah langkah—mempersempit ruangmu lagi."
Alana mengangguk pelan, ia meraih tangan Pradipta yang ada di pipinya dan menggenggamnya sebentar. "Hati-hati di jalan. Terima kasih sudah datang saat saya merasa dunia saya runtuh."
"Saya akan selalu datang, Alana. Selama kamu mengizinkan," balas Pradipta pelan.
Alana turun dari mobil dengan langkah yang jauh lebih ringan daripada saat ia tiba di Bali tempo hari. Ia berdiri di lobi, memperhatikan mobil hitam itu perlahan menjauh menuju bandara Ngurah Rai. Ia merasa aneh; biasanya kepergian seseorang akan membuatnya merasa ditinggalkan dan cemas, namun kepergian Pradipta kali ini justru memberinya kekuatan. Pria itu pergi bukan untuk meninggalkannya, tapi untuk memberinya ruang untuk tumbuh.
Sesampainya di kamar, Alana tidak langsung tidur. Ia duduk di balkon, mendengarkan suara jangkrik dan angin malam. Ia mengambil ponselnya, melihat ada beberapa pesan baru di grup keluarga.
Ibu: Rian nggak pulang-pulang sejak sore tadi. Ayahmu cuma diam saja. Kamu enak-enakan di sana, Al. Setidaknya kirim uang lebih buat Ibu beli vitamin, kepala Ibu pening mikirin adikmu.
Alana menatap pesan itu. Jika dulu ia akan langsung menelepon dengan panik, kini ia hanya mengetik balasan singkat yang tegas:
Alana: Rian sudah dewasa, Bu. Biarkan dia belajar dari pilihannya. Uang yang Alana kirim sudah cukup untuk vitamin dan makanan. Alana mau istirahat, ada proyek besar besok pagi. Tolong jangan ganggu dulu.
Setelah itu, ia mematikan notifikasi. Ia beranjak ke tempat tidur, menyelimuti dirinya, dan memejamkan mata. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Alana tidak butuh obat tidur. Ia tertidur dengan bayangan luasnya pantai Uluwatu dan hangatnya genggaman tangan Pradipta.
Di atas awan, dalam penerbangan menuju Jakarta, Pradipta menatap keluar jendela pesawat. Di tangannya, ia memegang selembar foto kecil Alana yang ia ambil diam-diam saat wanita itu sedang menatap layar komputer tahun lalu . Ia tahu, perjalanan mereka masih panjang, dan badai dari keluarga Alana mungkin belum benar-benar usai. Tapi setidaknya, sang batu karang kini telah belajar untuk menjadi ombak—yang bebas dan tak bisa lagi didikte oleh siapa pun.
Di dalam kabin pesawat yang redup, Pradipta menyandarkan kepalanya ke headrest. Di pangkuannya, sebuah map kulit terbuka, namun ia tidak sedang membaca laporan keuangan. Matanya tertuju pada selembar foto fisik yang ia simpan di balik dompet kartunya.
Foto itu diambil setahun lalu, lewat pantulan kaca ruangannya yang gelap. Di sana, Alana sedang duduk tegak di depan komputernya pada pukul sepuluh malam. Cahaya monitor menyinari wajahnya yang pucat namun fokus, sementara jemarinya menari di atas keyboard tanpa henti. Di sampingnya, segelas kopi yang sudah dingin dan tumpukan dokumen yang menggunung menjadi saksi bisu dedikasinya.
Pradipta menghela napas panjang. Pikirannya melayang pada saat-saat ia hanya bisa memperhatikan Alana dari balik pintu kaca ruangannya.