NovelToon NovelToon
Dari Ribut Jadi Jodoh

Dari Ribut Jadi Jodoh

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta setelah menikah / Kisah cinta masa kecil / Romansa / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

Cerita ini adalah season dua dari karya "Cinta Masa Kecil Ustadz Athar"
***

"Abid... Kamu gak perlu merasa bertanggung jawab karna kemarin kita udah dalam posisi yang tak pantas, kita gak perlu menikah. Kita bisa menolak dan mengatakan itu pada kakek kamu dan semua orang. Kita gak harr-"
"Harus." Athar memotong ucapan Azzura cepat. "Kamu harus tanggung jawab."
"Loh kok aku? Dimana-mana yang dimintai pertanggungjawaban itu laki-laki, masa perempuan!" Azzura makin sewot.
"Ya udah ayo kita nikah kalau gitu. Aku mau tanggung jawab kok, meski kamu yang kemarin cium aku duluan."
"Ya itu karna gak sengaja, Abid. Kamu yang narik aku."
"Maka dari itu aku tanggung jawab."

Itu semua berawal dari Azzura yang berniat untuk mengagetkan Ayza tapi ia tidak tau bahwa itu Abidzar terjadilah mereka jatuh bersamaan dengan posisi tak pantas.

***

"aku kaya orang udah gak waras mau setuju aja nikah sama kamu!"
***
"Jadi kamu sudah tau apa tugas istri yang sesungguhnya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dicuekin Abidzar

Setelah urusan perpindahan kuliah Azzura selesai, Abidzar dan Azzura pun pulang.

Sepanjang perjalanan, Azzura memandang jalanan dengan senyum sumringah—lega. Ia benar-benar tidak menyangka, berkas yang ia kira akan memakan waktu berhari-hari justru selesai hanya dalam satu hari berkat bantuan Zhafran.

“Kayaknya ini rezeki aku, Bid. Untung aja Ustadz Salim sama Kak Zhafran kemarin silaturahmi ke rumah Abi, jadi—”

Belum selesai kalimat itu terucap, Abidzar memotongnya.

“Zuya, bisa berhenti ngomongin Zhafran?”

Azzura mengernyit. Ia menoleh ke arah Abidzar yang tetap fokus menyetir, rahangnya mengeras, sorot matanya gusar.

“Tapi—”

“Aku gak suka kamu ngomongin dia terus.”

Kalimat itu pernah Abidzar ucapkan saat ia cemburu pada Gus Aufar. Bedanya, dulu nadanya meledak-ledak. Sekarang… terdengar lelah. Putus asa.

Putus asa karena ia tak tau lagi bagaimana caranya membuat Azzura menjadikannya satu-satunya pemilik hati, seperti ia menjadikan Azzura satu-satunya perempuan yang bertahta di hatinya.

“Zuya…” suara Abidzar merendah. “Jangan bikin aku jadi pecundang, bisa?”

Azzura menelan ludah. “Maksud kamu pecundang dari apa?”

Abidzar tak menjawab. Ia hanya melengos, kembali fokus pada jalan.

Sejak itu, tak ada percakapan lagi hingga mereka tiba di rumah. Mobil dipenuhi keheningan yang membuat Azzura merasa tidak nyaman—asing.

Azzura benar-benar tidak tahu apa yang terjadi pada suaminya.

Abidzar berubah pendiam sejak mereka pulang. Awalnya Azzura mengira suaminya hanya lelah. Ia membiarkannya. Namun sikap itu berlanjut hingga makan malam.

Abidzar tetap diam. Tak meliriknya sama sekali.

Anehnya, dengan Azzam dan Abinya, Abidzar tetap seperti biasa—mengobrol, tertawa, bercanda. Tapi setiap kali Azzura ikut nimbrung, Abidzar seolah tak menyadari keberadaannya. “Abid, aku pengen martabak manis. Anterin ya?” pinta Azzura, menghampiri Abidzar yang sedang duduk di teras bersama Azzam dan Abinya.

“Biar abang kamu aja yang beli, Zura.”

“Gak ah. Terakhir Bang Azzam beliin, pasti salah. Abang kan gak mau aku makan terlalu manis.”

Padahal Azzura sebenarnya tak terlalu ingin martabak. Ia hanya ingin memastikan satu hal: apakah Abidzar benar-benar sengaja mendiamkannya?

Athar terkekeh. “Yaudah sama Abidzar aja. Sekalian kalian nikmati jalanan malam.”

“Terima kasih, Abi.”

Mendengar persetujuan dari ayah mertua, Abidzar bangkit tanpa komentar. Ia masuk ke dalam rumah, lalu keluar membawa kunci motor dan jaket.

“Pakai.” Singkat. Jaket itu disodorkan pada Azzura.

“Kamu aja yang pakai. Kamu kan cuma pakai kaos.”

Abidzar tak menanggapi. Ia langsung memakaikan jaket itu ke tubuh Azzura. Azzura tak bisa menolak.

Diam-diam ia tersenyum kecil.

Berarti masih peduli, pikirnya.

Namun harapan itu runtuh beberapa menit kemudian.

Sepanjang perjalanan, Abidzar kembali diam. Azzura sudah berusaha membuka obrolan, tapi balasan suaminya hanya berupa anggukan, gumaman, atau bahkan tak dijawab sama sekali.

Azzura lelah sendiri.

Mereka sering bertengkar, iya. Tapi Abidzar tak pernah mendiamkannya seperti ini.

“Pegangan, Zura.”

Azzura tersentak ketika Abidzar mengambil tangannya yang menggenggam kaosnya, lalu memaksanya melingkar di perut Abidzar. Ia menepuk punggung tangan Azzura pelan.

“Kalau kamu jatuh gimana? Aku gak mau Abi mikir aku gak bisa jaga kamu dengan baik.”

Nada suaranya tetap dingin. Cuek.

Namun Azzura tetap tersenyum. Ia mengeratkan pelukannya di pinggang suaminya hingga mereka tiba di tukang martabak.

“Udah sampai. Bisa dilepas sekarang.”

Azzura gelagapan, lalu turun dari motor.

“Yaudah aku pesen dulu ya.”

“Hm.”

“Kamu mau rasa apa?”

“Kamu aja. Aku gak.”

Azzura manyun. Ia ingin makan bersama Abidzar, seperti biasanya.

Sambil menunggu, Azzura memutuskan ke minimarket untuk membeli cokelat. Ia tau masih ada perjanjian, tapi rasanya ia butuh sesuatu untuk memperbaiki mood-nya.

“Aku ke minimarket dulu ya.”

“Iya.”

Azzura menghela napas.

Ini sebenarnya Abidzar kenapa sih?

Tak lama, martabaknya pun jadi.

“Ini bang uangnya.”

“Udah dibayar sama suaminya, neng.”

Azzura terdiam sejenak. “Oh… baik bang, terima kasih.”

Ia menghampiri Abidzar. “Ayo pulang.”

“Makan dulu cokelatnya. Kamu masih dalam perjanjian. Nanti diledek sama keluarga kamu."

“Tapi bisa disimpan di tas kok.”

“Oh.”

Perjalanan pulang kembali sunyi.

Sesampainya di rumah, Azzura bahkan sudah tak berselera menyentuh martabak itu. Namun mau tak mau, ia menghabiskannya bersama Bik Sumi. Yang lain sudah masuk kamar—termasuk Abidzar, yang lebih dulu meninggalkannya.

Azzura menatap pintu kamar itu lama.

Ia yakin… ada sesuatu yang sangat salah.

***

Azzura naik ke atas ranjang dengan gerakan pelan. Matanya tertuju pada Abidzar yang sudah lebih dulu memejamkan mata, tubuhnya menghadap samping, terlihat begitu tenang.

Dan di sanalah Azzura menemukan keanehan itu lagi.

Selama ini, Abidzar tidak pernah tidur lebih dulu. Tidak pernah. Ia selalu menunggu Azzura—menunggu hingga istrinya itu benar-benar berbaring di sampingnya, lalu menariknya ke dalam pelukan sebelum akhirnya terlelap. Katanya, ia tak bisa tidur tanpa Azzura di pelukannya.

Tapi lihat sekarang.

Laki-laki itu bisa-bisanya tertidur nyenyak tanpa Azzura di sisinya.

Belum lagi tentang kesepakatan mereka semalam. Bukankah Abidzar sendiri yang mencetuskan ide pillow talk, deep talk, berbincang sebelum tidur sambil berkelonan—sesuatu yang dengan senang hati disetujui Azzura?

Namun malam ini, semua itu seperti tak pernah ada.

Azzura membaringkan tubuhnya, menghadap Abidzar yang tidur menyamping. Dengan ragu, ia mengguncang bahu suaminya pelan.

“Abidzar…”

Tak ada jawaban.

“Abid…” Azzura mengguncang bahunya sekali lagi.

Dadanya terasa sesak. Ia hampir putus asa menghadapi Abidzar yang seperti ini. Entah kenapa, hatinya tidak bisa menerima sikap suaminya yang tiba-tiba berubah dingin. Ia lebih memilih dijahili, digoda, bahkan diomeli—apa pun—daripada didiamkan seperti ini.

Azzura ingin Abidzarnya kembali.

Kini terdengar gumaman pelan dari bibir Abidzar. Namun matanya tetap terpejam. Ia memilih mengabaikannya.

“Mas…”

Suara Azzura melembut tanpa sadar. “Bisa bangun dulu gak?”

Azzura hampir menggigit lidahnya sendiri. Panggilan itu—lembut, mesra—meluncur begitu saja dari bibirnya. Ia sendiri tak tau bagaimana bisa mengucapkannya tanpa diminta, tanpa dipaksa.

Di sisi lain, Abidzar merasa seolah sedang bermimpi.

Suara itu. Panggilan itu. Terlalu akrab. Terlalu ia rindukan.

Ia tetap memejamkan mata, takut jika ia membuka mata, mimpi indah itu akan menguap dan ia harus kembali pada kenyataan—bahwa suara itu hanya bunga tidurnya semata.

Azzura sadar.

Ia tau Abidzar mendengarnya. Ia tau suaminya tidak benar-benar tidur. Tapi Abidzar memilih mengabaikannya, memilih tetap menutup mata.

Dan entah karena sadar atau hanya karena kebiasaan, mungkin karena terlalu terbiasa tidur dalam pelukan suaminya, Azzura menyurukkan wajahnya ke leher Abidzar.

Ia meraih tangan Abidzar, lalu dengan susah payah melingkarkan lengan kekar itu ke pinggangnya.

Karena Abidzar tak punya inisiatif untuk memeluknya, maka terpaksa Azzura yang melakukannya sendiri.

Azzura tidak pernah seputus asa ini—hanya demi perhatian seseorang.

Dadanya bergetar. Matanya terasa panas.

Ia baru benar-benar menyadari betapa besar pengaruh Abidzar dalam hidupnya, hingga tanpa sadar isaknya pecah, tertahan di leher laki-laki itu.

Ada apa sebenarnya dengan Abidzar?

Kenapa dia berubah tiba-tiba seperti ini?

Azzura memejamkan mata, tetap memeluk suaminya—tak tau apakah Abidzar akan membalas pelukannya atau tetap berpura-pura terlelap.

***

Abidzar sepenuhnya sadar ketika merasakan tangannya tiba-tiba disentuh, diangkat, lalu dililitkan pada tubuh yang sudah begitu familiar dalam pelukannya.

Ia mengernyit, bingung.

Apa ini masih bagian dari mimpinya?

Tapi sentuhan itu terlalu nyata untuk sekadar bunga tidur.

Kesadarannya tersentak keras saat terdengar isak tangis pelan—teredam tepat di dadanya.

Abidzar membuka mata sepenuhnya.

Dan mendapati kenyataan yang jauh lebih indah daripada mimpi apa pun.

Azzura menggelung di dalam pelukannya, wajahnya terbenam di dada Abidzar, kedua tangannya memeluk tubuh Abidzar erat seolah takut dilepaskan.

Satu-satunya hal yang membuat dada Abidzar mendadak nyeri adalah suara tangis Azzura.

Ia melonggarkan pelukan, berusaha mengambil jarak agar bisa melihat wajah istrinya. Namun begitu jarak tercipta, Abidzar mendapati wajah Azzura memerah, matanya sembab, bulir-bulir air mata masih menggantung di pelupuk mata—sebagian telah membasahi pipinya.

“Zuyaa…”

Nada Abidzar berubah panik. “Hei… kenapa? Kamu kenapa nangis? Ada yang sakit?”

Tangannya refleks menghapus air mata di pipi Azzura.

Alih-alih menjawab, Azzura justru kembali mengeratkan pelukannya, lalu memukul dada Abidzar dengan kesal.

“Abid, kamu jahat banget.”

“Jahat?”

Abidzar mengernyit, benar-benar tidak mengerti. “Jahat apanya?”

Menurutnya, justru sebaliknya. Bukankah Azzura yang lebih dulu melukai perasaannya?

“Iya, jahat!”

Suara Azzura bergetar. “Kamu jahat banget. Aku salah apa sampai kamu diemin kayak gitu?”

Pukulan kecil kembali mendarat di dada Abidzar, menjadi pelampiasan kekesalan bercampur tangis.

Abidzar terdiam. Matanya tak lepas dari wajah Azzura yang sibuk menahan isakan. Perlahan, ia mengangkat dagu istrinya, memaksanya mendongak agar ia bisa melihat wajah itu.

Namun Azzura menolak. Ia menyembunyikan wajahnya kembali di dada Abidzar dan menangis lagi di sana.

“Zu…” suara Abidzar melembut. “Bisa berhenti nangis dulu gak? Aku beneran gak ngerti kamu kenapa. Coba ngomong yang jelas. Jangan sambil nangis begini… biar aku tau aku jahatnya di mana.”

Azzura menarik napas dalam-dalam, memaksa dirinya menghentikan tangis. Ia mengusap air mata—dan ingus—yang sudah terlanjur membasahi wajahnya. Tanpa rasa bersalah sedikit pun, ia menarik kaos Abidzar dan mengelap wajahnya di sana.

Abidzar mendesah pelan, lalu mengambil alih. Ia mengusap wajah Azzura dengan ujung bajunya sendiri.

“Udah,” katanya lembut. “Cantiknya balik lagi.”

Ia mengusap pipi Azzura yang masih memerah. “Sekarang jelasin. Kenapa kamu nangis sampai kayak gini?”

Azzura berdehem kecil, menarik napas panjang sebelum akhirnya bicara. “Kamu tuh harusnya bertanggung jawab,” katanya dengan suara masih serak. “Kamu bilang cinta sama aku, tapi kenapa sikap kamu tiba-tiba dingin kayak orang asing?”

Abidzar terdiam.

“Kamu bikin aku terbiasa tidur di pelukan kamu,” lanjut Azzura, emosinya kembali naik.

“Terus tanpa alasan yang jelas, malam ini kamu ninggalin aku tidur lebih dulu. Padahal katanya gak bisa tidur tanpa peluk aku? Pembohong.”

Azzura menatap Abidzar dengan mata berkaca-kaca. “Kamu gak bertanggung jawab, Abid. Bukan cuma itu. Dari tadi kamu diemin aku terus. Aku ajak ngomong, kamu jawab seadanya. Kenapa kamu berubah gitu sama aku? Aku salah apa?”

Abidzar masih diam. “Jadi…” akhirnya ia bicara, suaranya datar.

“Kamu ngerasa aku ngediemin kamu?”

“Ya jelas, Abid.”

“Terus,” Abidzar menatap Azzura tajam tapi tenang, “kamu gak kepikiran buat nyari tau atau mikir, kenapa aku bisa sampai kayak gitu?”

Azzura mendengus keras. “Kamu pikir aku sampai nangis-nangis, bangunin kamu kayak orang frustasi itu karena apa?”

Sudut bibir Abidzar terangkat samar, menahan senyum yang hampir lolos.

“Terus kenapa harus nangis segala?”

Ia memiringkan kepala, sengaja memancing.

“Emangnya dicuekin aku itu sedih banget buat kamu?”

Pertanyaan itu membuat Azzura tergagap.

Ia bungkam.

Salah jawab, mati gaya.

Kalau bilang tidak, jelas Abidzar tak akan percaya—buktinya air mata masih tersisa di pipinya.

Kalau mengaku iya… Abidzar pasti punya amunisi baru untuk mengejeknya nanti.

“Kenapa?”

Abidzar semakin menekan. “Malu? Karena ketauan sedih dicuekin aku?”

Azzura mendelik kesal.

Tuh kan.

Belum juga ia mengiyakan, Abidzar sudah lebih dulu mengejeknya.

Ia mendengus, lalu memukul dada Abidzar sekali lagi. “Nyebelin banget sih kamu!”

"Bisa gak kamu gak usah bahas soal itu lagi? Aku cuma pengen tau kenapa kamu jadi dingin seperti ini? Aku ada salah apa sama kamu? Kalau ada salah tuh ya tegur aku, jangan malah diemin aku kayak gini. Kamu pikir enak apa di diemin tanpa tau salah kita dimana?"

Azzura sudah mau menangis lagi tapi Abidzar lebih dulu mengelus pipi istrinya berusaha menghentikannya.

"Aku bukannya marah sama kamu."

"Terus kalau gak marah, kamu kenapa jadi berubah dingin begini?"

“Zu…”

Suaranya lebih rendah dari biasanya. Tidak menggoda ataupun tidak mengejek.

Azzura langsung diam. Ada sesuatu dalam nada Abidzar yang membuat dadanya ikut mengencang.

“Aku capek pura-pura biasa aja.”

Azzura menatapnya. Alisnya sedikit berkerut. “Capek kenapa?”

Abidzar memejamkan mata sebentar, lalu membuka kembali. Kali ini tatapannya lurus ke mata Azzura, tanpa main-main.

“Aku cemburu.”

Azzura tertegun.

“Hah?”

“Aku bilang… aku cemburu,” ulang Abidzar, lebih tegas. “Dan bukan cemburu receh.”

Azzura refleks menarik tubuhnya sedikit menjauh, masih berada dalam pelukan Abidzar tapi kini menatapnya penuh kebingungan.

“Karena Kak Zhafran?”

Diam.

Abidzar tidak langsung menjawab. Rahangnya mengeras, tangannya mengencang di pinggang Azzura. “Iya.”

Jawaban singkat itu justru menghantam lebih keras. “Tapi aku—”

“Dengerin dulu,” potong Abidzar cepat, nadanya menahan emosi. “Aku tau dia baik. Aku tau dia pinter. Aku tau dia prestasinya segudang. Aku tau dia gak punya perasaan ke kamu.”

Azzura terdiam.

“Tapi yang bikin aku gak tenang,” lanjut Abidzar pelan, “itu kamu.”

“Aku?”

“Kamu berbinar kalau sama dia, Zu.”

Nada Abidzar menurun, nyaris getir. “Kamu ketawa lepas, kamu antusias, kamu manggil dia lembut… dan aku?”

Ia tertawa pendek, hambar. “Aku ada di situ, tapi rasanya kayak orang paling gak kepake.”

Azzura menelan ludah.

“Aku liat kamu bergantung sama dia hari ini,” lanjut Abidzar. “Nanya ini itu ke dia, percaya penuh sama dia. Dan aku cuma berdiri di samping kamu… gak kepake.”

Ia mengusap wajahnya kasar. “Aku suami kamu, Zuya. Harusnya aku orang pertama yang kamu andalkan.”

Azzura ingin menyela, tapi Abidzar belum selesai.

“Aku tau itu kampus kamu, bukan duniaku. Aku tau dia lebih ngerti urusan administrasi daripada aku. Tapi perasaan kalah itu tetap ada.”

Suara Abidzar menurun. “Aku benci perasaan itu.”

Hening.

Azzura menatap wajah suaminya lama. Baru kali ini ia melihat Abidzar seterbuka ini—tanpa nada bercanda, tanpa tameng kepercayaan diri.

“Kamu tau yang paling bikin aku sakit apa?”

Abidzar menatapnya lagi. “Kamu manggil dia ‘Kak’ dengan lembut… sementara ke aku, kamu masih manggil nama.”

Azzura tercekat.

“Aku tau kamu gak sadar,” lanjut Abidzar. “Tapi rasanya… aku kalah pamor di mata istri sendiri.”

Azzura spontan memegang wajah Abidzar dengan kedua tangannya.

“Abid… aku gak pernah ngerasa kamu kalah.”

“Tapi aku yang ngerasa,” potong Abidzar pelan. “Dan itu cukup.”

Azzura terdiam lama. Dadanya sesak.

“Aku gak marah sama kamu,” lanjut Abidzar. “Aku cuma… takut.”

“Takut apa?” suara Azzura nyaris berbisik.

“Takut kamu lebih nyaman sama orang lain daripada sama aku.”

Kalimat itu membuat mata Azzura kembali basah.

Ia mendekat lagi, menempelkan keningnya ke dada Abidzar.

“Aku gak tau kamu ngerasain itu,” lirihnya. “Aku cuma mikir urusan cepet selesai.”

“Aku tau,” jawab Abidzar lembut. “Makanya aku milih diem. Takut kalau aku ngomong… aku malah nyakitin kamu.”

Azzura menggeleng pelan. “Kamu nyakitin aku justru karena diem.”

Abidzar tersenyum kecil, pahit. “Iya. Aku payah soal ini.”

Lalu Athar bertanya. "Aku minta kejujuran kamu,bisa?"

Azzura mengangguk. "Apa kamu memiliki perasaan pada Zhafran?"

"Aku... Itu..."

Melihat istrinya yang tergagap, membuat Abidzar menarik kesimpulan bahwa istrinya menyukai Zhafran.

"Ah kamu masih suka dia."

"Kenapa tiba-tiba kamu mengambil kesimpulan kaya gitu? Aku gak pernah bilang kalau aku cinta sama dia. Kenapa kamu sok tau kayak gitu?"

"Aku bisa lihat itu semua dari gerak gerik kamu. Kamu selalu menjadi orang yang berbeda tiap kaki berinteraksi dengan dia. Kamu tersenyum, berbicara lembut dan seolah menjaga sikap agar tidak terlihat buruk di matanya."

"Aku tidak seperti itu."

"Kamu begitu, Zuya."

"Kamu sok tau Abid."

"Aku tidak sok tau tapi memang tau."

"Oke, aku akuin, kalau aku suka sama Kak Zhafran."

Kalimat itu bagaikan pedang yang menusuk dada Abidzar.

Abidzar tertawa perih. "Kan, aku bilang juga apa."

"Tapi itu bukan berati aku mencintainya." Lanjut Azzura.

"Maksudnya?"

"Aku suka Kak Zhafran. Semua orang juga suka dia kan? Dia laki-laki santun, baik, soleh, punya adab yang tinggi, pintar, berprestasi, dan lainnya. Dengan karakter seperti itu, siapa saja akn menyukainya. Termasuk juga aku. Aku bersikap lembut dan sopan di depannya karena dia juga berlaku sama pada aku. Sudah sepatutnya kita memperlakukan seseorang sebagaimana ia memperlakukan kita kan?"

"Tetap saja, aku bisa melihatnya bahwa kamu mempunyai perasaan padanya. Kamu gak usah bohong hanya untuk menjaga perasaan aku. Aku ingin kamu jujur dengan perasaanmu sendiri."

Azzura mengerang kesal, tidak tau harus menjelaskan bagaimana lagi pada suaminya itu.

"Kamu mau aku jawab kaya gimana? Kalau aku cinta sama dia, Laki-laki yang sekarang aku peluk disini bukan kamu tapi dia. Apalagi yang harus kamu cemburui saat satu-satunya yang bisa menyentuh aku dan berhak atas aku itu kamu dan bukannya orang lain. Aku menyukai Kak Zhafran sama seperti aku menyukai teman-teman aku yang lain. Lagian aku tau kok, kalau Kak Zhafran itu menaruh hati sama Kak Ayesha."

Abidzar terdiam sesaat. "Maksud kamu... Apa itu artinya kamu..." Abidzar tidak melanjutkan pertanyaannya. Ia tidak berani bertanya apa Azzura mencintainya atau tidak.

"Aku tidak mencintai Kak Zhafran. Jadi tolong buah jauh-jauh pikiran kamu itu. Dan jangan diemin aku kayak gini lagi."

"Lalu apa kamu mencintai aku?"

"Abid, aku tidak tau mendefinisikan cinta itu seperti apa. Aku tidak tau mendeskripsikan perasaanku kepada kamu sebuah cinta atau tidak. Tapi satu hal yang harus kamu tau, kamu adalah satu-satunya laki-laki yanng akan aku sayangi seumur hidup aku, yang akan aku peluk setiap malam dan tempatku berbagi perasaan suka dan duka."

Abidzar meraih Azzura ke dekapannya. Dadanya mengembang, seolah semua kebahagiaan yang ia rasakan malam ini tidak sanggup ia tampung. Ia membuka Azzura erat dan mencium keningnya berkali-kali.

1
Nifatul Masruro Hikari Masaru
yang nurut bidz. pawangnya galak
Siti Java
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Anak manis
azzura di lawan 🤣
anakkeren
cepet sembuh abid😍
Nifatul Masruro Hikari Masaru
nah gitu dong baikan
syora
lah ank umma mau kamu ajak debat abidz
ckckck mau cari gr"🤭
Alana kalista
lanjutkan
Nifatul Masruro Hikari Masaru
makanya bid pamit kalo pulang telat
Siti Java
up ge dong kk... gw seru ni🥰🥰
syora
wahhh ujian ya abidz,,,,kdng org tipe ceria klau dah marah DIEM itu yg bth ksbran nghadapinya
apa lgi nggak ksh kabar,,,,
maaf kmungkinan coklat kamu nggak mempan ya abidz
Nifatul Masruro Hikari Masaru
duh yang mulai cemburu
darsih
adyh bikin azura salah paham abidzar
Nifatul Masruro Hikari Masaru
duh pasangan ini bikin iri aja
Anak manis
cie cie😍
syora
nggak la zuya
awas kamu abidz bilang telat🤭
Nifatul Masruro Hikari Masaru
enggak telat kok malah seneng
Nifatul Masruro Hikari Masaru
ea yang sudah mulai membuka diri
Fegajon: zuya luluh juga🤭
total 1 replies
syora
berasa berdampingan dg athar versi abidzar❤❤❤❤❤
mereka yg cerita,aku yang masyallah dag dig dug
Fegajon: iya ya🤭 seperti mengulang kisah mereka
total 1 replies
Nifatul Masruro Hikari Masaru
abid jangan bikin jantung zuya copot
Siti Java
up ge dong kk🥰🥰🥰
Fegajon: nanti malam ya😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!