Putri Duke dari Kerajaan Aurelius, Elara Ravens, dikenal sebagai pewaris pedang keluarga. Namun sejak kecil ia selalu kalah dari kembarannya, dan selalu dibandingkan dan dicemooh sebagai kegagalan.
Tanpa menyadari bahwa tubuh Elara menyimpan sihir besar yang pernah meledak saat ia berusia tiga tahun dan kemudian disegel.
Sampai sebuah undangan datang dari Kerajaan sihir, Elara memilih pergi ke akademi sihir dan ingin menaklukkan kekuatan dalam dirinya.
Di sana ia bertemu kembali dengan Aaron Oberyn, Rank 1 akademi dan teman masa kecilnya. Di tengah sistem ranking yang kejam dan tatapan meremehkan, Elara harus membuktikan bahwa ia bukanlah kegagalan atau aib keluarga.
Apakah Elara akan menjadi kesatria pedang atau memilih menjadi penyihir kelak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27. PEDANG UNTUK ELARA
Perpustakaan besar akademi berdiri megah di tengah kompleks bangunan tua akademi. Rak-rak buku menjulang tinggi seperti menara pengetahuan yang tidak ada habisnya.
Di salah satu meja panjang dekat jendela, seorang gadis berambut hitam baru saja menutup bukunya dengan napas panjang.
Elara Ravens meregangkan bahunya yang pegal.
Di hadapannya terdapat beberapa buku tebal tentang teori sihir pedang, manipulasi mana, dan pengendalian energi sihir di dalam tubuh.
Ia menghela napas kecil.
"Banyak sekali tugasnya," gumam Elara pelan.
Sejak penyerangan monster beberapa hari lalu, aktivitas akademi memang kembali berjalan normal. Namun para profesor justru memberikan lebih banyak latihan dan tugas, seolah ingin memastikan para murid semakin kuat menghadapi kemungkinan bahaya di masa depan.
Elara menumpuk bukunya dengan rapi lalu berdiri.
Cahaya matahari yang masuk dari jendela memantul pada rambutnya yang berkilau lembut.
Gadis itu membawa buku-buku itu kembali ke rak, lalu berjalan menuju pintu keluar perpustakaan.
Begitu ia melangkah keluar ke koridor batu yang panjang, udara dingin menyentuh pipinya.
Elara menarik napas segar.
Hari ini terasa damai.
Tidak ada monster. Tidak ada ledakan.
Hanya suara murid-murid yang bercakap santai.
Elara tersenyum kecil.
Namun tiba-tiba ...
"Elara?!"
Seseorang berteriak memanggil namanya.
Elara menoleh kaget.
Seorang murid laki-laki dari Divisi Vanguard berlari ke arahnya dengan wajah sangat bersemangat.
"Elara! Kau di sini rupanya!"
"Ada apa?" tanya Elara bingung.
Tanpa menjelaskan apa pun, murid itu langsung menarik pergelangan tangan Elara.
"Ayo cepat! Kau harus ikut denganku!"
Elara terhuyung sedikit karena tarikannya. "H-hei! Tunggu dulu! Ada apa sebenarnya?"
Namun murid itu hanya tertawa lebar. "Kepala akademi mengirim hadiah untukmu!"
Elara terdiam. "Hah?"
Hadiah?
Untuknya?
Namun sebelum Elara sempat bertanya lagi, murid itu sudah menariknya menuju bangunan kelas Divisi Vanguard.
Langkah kaki mereka bergema di lorong panjang.
Begitu sampai di depan kelas, Elara langsung mendengar suara ramai dari dalam ruangan.
Seolah seluruh kelas sedang menunggu sesuatu.
Pintu kelas terbuka.
Dan begitu Elara masuk ...
"Hei! Dia datang!"
"Elara sudah datang!"
Semua murid langsung menoleh ke arah sang gadis.
Ruangan yang tadinya ramai langsung berubah semakin heboh.
"Elara! Cepat ke sini!"
"Hadiahmu sudah datang!"
Elara berdiri kaku di ambang pintu. "Apa maksudnya hadiahku?"
Salah satu temannya menunjuk meja di tengah kelas. "Lihat sendiri!"
Elara mengikuti arah jari itu.
Di atas meja kayu panjang, terdapat sebuah kotak panjang yang dibungkus kain biru tua dengan pita perak yang rapi.
Kotak itu tampak elegan dan berat.
Semua mata di kelas menatap Elara penuh antusias.
"Buka! Buka!"
Elara berjalan mendekat perlahan.
Jantungnya berdetak aneh.
Ia menyentuh kain pembungkus itu dengan hati-hati.
Entah kenapa, ada perasaan hangat di dadanya.
Dengan perlahan, Elara membuka pita peraknya.
Kemudian membuka kain pembungkus.
Kotak kayu halus muncul di bawahnya. Kotak itu tampak dibuat dengan sangat rapi.
Elara menelan ludah.
Lalu ia membuka tutup kotak itu.
Klik.
Dan saat tutupnya terangkat ... semua orang langsung berseru kagum.
"Woah!"
"Gila!"
Di dalam kotak itu terbaring sebuah pedang yang begitu indah.
Bilahnya berwarna perak terang seperti cahaya bulan.
Pedang itu tampak ringan namun memancarkan aura kekuatan yang luar biasa.
Gagangnya dibungkus kulit hitam lembut dengan pelindung tangan berbentuk sulur yang elegan.
Namun yang membuat Elara benar-benar terdiam adalah di dekat gagang pedang itu terdapat ukiran kecil pada bilahnya.
Tulisan halus yang terukir dengan sangat indah.
Elara Ravens
Mata Elara melebar. "Namaku."
Suara gadis itu nyaris tidak terdengar.
Seorang temannya langsung berkata penuh semangat. "Itu pedang mitril!"
Elara menoleh. "Mitril?"
Temannya mengangguk cepat. "Ya! Logam paling kuat dan paling langka di dunia!"
Seorang murid lain ikut menimpali. "Kerajaan-kerajaan bahkan berebut tambang mitril!"
"Pedang seperti itu biasanya hanya dimiliki bangsawan tinggi atau kesatria kerajaan!"
"Bahkan aku pernah minta pedang mitril pada ayahku tapi ditolak karena terlalu mahal!"
Semua murid memandang pedang itu dengan iri sekaligus kagum.
"Elara benar-benar beruntung."
"Iya."
Namun Elara hampir tidak mendengar mereka semua. Tangannya perlahan mengangkat pedang itu.
Begitu pedang itu berada di tangannya ... Elara tertegun.
Gagangnya terasa sangat pas. Seolah pedang itu memang dibuat untuk tangannya.
Tidak terlalu besar.
Tidak terlalu kecil.
Benar-benar sempurna.
Elara bisa merasakan keseimbangan pedang itu dengan jelas.
Seolah pedang itu hidup.
Dadanya terasa hangat.
Ia menutup kotak itu perlahan dan memeluknya.
Senyum lembut muncul di wajahnya. "Aku harus berterima kasih. Aku akan menemui kepala akademi sekarang."
Semua murid langsung berseru. "Iya! Kau harus mengucapkan terima kasih!"
"Cepat pergi sebelum beliau sibuk!"
Elara mengangguk.
Lalu tanpa menunda lagi gadis itu berlari keluar kelas. Kotak pedang itu dipeluk erat di dadanya. Langkah kakinya bergema di lorong akademi.
Angin dingin menerbangkan sedikit rambutnya. Namun wajahnya dipenuhi senyum yang begitu cerah.
Ini adalah pedang pertama yang benar-benar dibuat untuknya.
Dan ia bisa merasakan sesuatu di dalamnya.
Perhatian.
Pengakuan.
Sesuatu yang selama ini tidak pernah ia dapatkan.
Langkah Elara semakin cepat.
Akhirnya ia sampai di depan pintu besar ruang Kepala Akademi.
Elara berhenti sejenak untuk mengatur napasnya.
Ia mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu.
Namun sebelum jarinya menyentuh kayu ....
Klik.
Pintu itu terbuka dengan sendirinya.
Elara terkejut.
Di dalam ruangan yang hangat itu, Kepala Akademi Magnus Alderion sedang berdiri di dekat meja teh. Ia tersenyum tenang.
"Masuklah, Elara," sambut sang kepala Akademi.
Elara berkedip. "Profesor, bagaimana Anda tahu saya datang?"
Magnus hanya tertawa kecil. "Seorang kesatria yang menerima pedang pasti akan datang untuk mengucapkan terima kasih."
Elara masuk dengan agak malu.
Ruangan itu harum oleh aroma teh hangat.
Magnus sudah menyiapkan dua cangkir. Seolah memang menunggu.
Elara berdiri tegak lalu memberi hormat. "Terima kasih banyak, Profesor!"
Magnus menunjuk kursi. "Duduklah."
Elara duduk dengan hati-hati. Ia meletakkan kotak pedang itu di atas meja.
Dengan wajah berseri Elara berkata, "Profesor, pedangnya luar biasa. Namun apakah saya pantas menerima pedang sehebat ini?"
Magnus tertawa pelan. "Tentu saja." Ia menuangkan teh. "Itu adalah hadiah selamat datangmu di Akademi Sihir Oberyn."
Elara tertegun.
Magnus menatap Elara hangat. "Dan juga hadiah untuk seorang kesatria pemberani."
Elara menunduk sedikit. "Saya tidak merasa sehebat itu." Ia menggenggam tangannya. "Masih banyak orang yang jauh lebih kuat dari saya."
Magnus diam mendengarkan.
Elara menarik napas kecil. "Sebenarnya alasan saya pindah ke akademi ini bukan hanya karena sihir saya. Saya ... melarikan diri dari akademi lama saya."
Ruangan menjadi sunyi.
Elara melanjutkan dengan suara pelan. "Mereka mengatakan saya bukan kesatria. Mereka mengejek saya. Mereka mengatakan saya hanya anak bangsawan yang tidak pantas memegang pedang karena tidak bisa seperti anggota keluarga saya yang lain. Saya selalu diam. Saya tidak berani melawan mereka karena yang mereka katakan benar bahwa saya tidak sehebat itu. Saya hanya seorang pengecut, Profesor."
Magnus memandang Elara lama. Kemudian ia tersenyum lembut.
"Jika kau pengecut, kau tidak akan berlari menuju bahaya untuk menyelamatkan teman-temanmu saat monster menyerang," ucap Magnus pelan.
Elara mengangkat kepalanya.
Magnus melanjutkan, "Jika kau pengecut, kau akan melarikan diri. Namun kau memilih bertarung. Melawan puluhan monster. Bukankah begitu?"
Elara terdiam.
Magnus menatapnya dalam-dalam. "Orang berani bukanlah mereka yang tidak pernah merasa takut, Nak."
Magnus berdiri perlahan. "Orang berani adalah mereka yang merasa takut namun tetap memilih bertarung."
Elara menatap Magnus. Kata-kata itu terasa menembus dadanya.
Magnus berjalan mendekat. "Tidak ada yang salah dengan meninggalkan tempat yang tidak menghargaimu. Manusia memang mencari tempat di mana mereka bisa berkembang. Manusia itu lemah dan itulah kenapa manusia mencari cara untuk menjadi kuat."
Elara mendengarkan dengan baik.
Magnus tersenyum lembut lalu berkata kembali, "Elara Ravens. Entah apa pun yang dunia katakan tentangmu. Bahkan jika seluruh dunia berkata kau tidak pantas. Bagiku yang sudah tua ini, kau adalah seorang kesatria paling berani."
Elara menggigit bibirnya. Air matanya mulai menggenang.
Magnus melanjutkan, "Kesatria bukan hanya mereka yang hebat mengayunkan pedang. Tapi mereka yang berani menghadapi ketakutannya sendiri. Mereka yang mau melindungi sekitarnya."
Tangan Elara mengerat pada kotak pedang itu.
Air mata akhirnya jatuh. "Terima kasih ... Profesor ...." Suara Elara bergetar.
Magnus tersenyum hangat. Ia mengusap kepala Elara dengan lembut.
"Kau sudah bekerja sangat keras lebih dari siapa pun. Kerja bagus, Nak. Pedang itu adalah hasil kerja kerasmu selama ini,"ucap Magnus tulus.
Dan saat itu air mata Elara tidak bisa ditahan lagi.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya ...
Elara benar-benar merasa diakui.
Bukan sebagai putri bangsawan.
Bukan sebagai gadis dengan sihir aneh.
Tetapi sebagai dirinya sendiri.
Sebagai seorang kesatria.
𝐦𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐧𝐲𝐚𝐧𝐲𝐢 𝐥𝐚𝐠𝐮𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐩 🤪🤪
menjadi dewasa,dengan beban dan kewajiban yg mengikuti.
bahkan kita sudah lupa kapan terakhir kita bisa tertawa lepas 🥹
panik donk😜🤣🤣
hyper nya 🤣🤣😜
ya anda coba aja rasakan😜