Yura bukanlah wanita lemah. Di dunia asalnya, dia adalah agen rahasia berdarah dingin dengan tatapan setajam elang yang mampu mengendus pengkhianatan dari jarak terjauh. Namun, sebuah insiden melempar jiwanya ke raga Calista, seorang ibu susu rendahan di Kerajaan Florist.
Grand Duke Jayden, sang pelindung kerajaan, yang membenci wanita. Trauma menyaksikan ayah dan kakaknya dikhianati hingga tewas oleh wanita yang mereka percayai, membuat hati Jayden membeku. Baginya, Calista hanyalah "alat" yang bisa dibuang kapan saja, namun dia terpaksa menjaganya demi kelangsungan takhta keponakannya.
______________________________________________
"Kau hanyalah ibu susu bagi keponakanku! Jangan berani kau menyakitinya, atau nyawamu akan berakhir di tanganku!" ancam Jayden dengan tatapan sedingin es.
"Bodoh. Kau sibuk mengancam ku karena takut aku menyakiti bayi ini, tapi kau membiarkan pengkhianat yang sebenarnya berkeliaran bebas di depan matamu," jawab Calista dengan jiwa Yura, menyeringai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAKANAN BERACUN
"Tidak, Owen. Dia tidak sedang menghasut. Dia sedang memberi tahu aku bahwa dia tahu siapa musuh sebenarnya. Dia memberiku sinyal bahwa dia berada di pihak yang sama denganku dalam menjaga Lorenzo dari cengkeraman ibuku," jawab Jayden justru tersenyum tipis, sesuatu yang jarang sekali terlihat.
"Tapi bagaimana dia bisa tahu tentang keterlibatan Ibu Suri? Calista hanyalah gadis desa yang kita ambil karena golongan darah dan kesehatan fisiknya cocok untuk menjadi ibu susu pangeran," ucap Owen bersikeras.
"Itulah masalahnya. Siapa pun yang ada di dalam tubuh itu sekarang, dia bukan gadis desa lagi," ucap Jayden berdiri, mengambil jubahnya.
Jayden tidak bodoh, untuk tidak menyadari perubahan besar pada Ibu Susu keponakan nya itu, perubahan yang sangat singkat dan tidak masuk akal.
Gadis lemah dan penakut, tiba-tiba bisa bertarung dan bahkan membunuh para pembunuh bayaran hanya dengan sebuah tusuk konde.
"Siapkan pengamanan ekstra di sekitar menara barat!" perintah Jayden, tegas.
"Dan perketat pemeriksaan setiap pasokan makanan atau barang yang masuk ke paviliun Lorenzo! Aku merasa Isabella akan bergerak lebih kotor setelah kegagalan pembunuh bayarannya malam ini!" lanjut Jayden, menatap tajam dia pria yang ada di ruangan nya itu.
"Baik Yang Mulia," jawab Owen dan pria tadi.
...----------------------------------------------------------------...
Pagi menyingsing di Kerajaan Florist, namun cahaya matahari yang masuk melalui celah jendela kamar Yura tidak membawa kehangatan.
Sebaliknya, udara terasa berat dengan ketegangan yang baru.
Yura sudah bangun sejak fajar, tubuh Calista yang lemah terasa pegal luar biasa, namun Yura memaksanya untuk melakukan peregangan ringan di lantai yang dingin, dia butuh mobilitas, di butuh ototnya mengingat kembali bagaimana cara mematahkan tulang dalam satu sentakan.
"Seperti nya aku harus mulai melatih tubuh ini, agar tidak terlalu lemah," gumam Yura.
Tok
Tok
Tok
Pintu kamar diketuk dengan tidak sabar, mambuat Yura berhenti bergerak, meraih tusuk konde peraknya yang kini dia selipkan di balik sanggul sederhana, lalu berjalan membukakan pintu.
Ceklekk
Pintu kamar terbuka lebar, seorang pelayan senior bernama Ajeng berdiri di sana dengan wajah angkuh, diikuti oleh dua pelayan muda yang membawa nampan berisi bubur encer dan air.
"Lama sekali kau membuka pintu, Calista! Apa kau pikir karena kau menyelamatkan Pangeran semalam, kau bisa menjadi ratu di sini?" ucap Ajeng masuk tanpa izin, matanya memindai lantai yang sudah dibersihkan dari darah, namun aroma besi itu masih tersisa.
Seperti nya berita tentang semalam sudah menyebar ke seluruh istana, sampai-sampai seorang pelayan seperti mereka mengetahui nya, atau mungkin mereka bukan hanya pelayan, melainkan mata-mata, mengingat istana ini adalah sarang ular.
"Keluar! Bawa makanan itu masuk, lalu keluar!" perintah Yura, menatap Ajeng datar
Ajeng tertegun, dia biasanya bisa menindas Calista yang gagap, tapi suara dingin ini membuatnya merinding.
"K-kau berani sekali bicara begitu padaku! Kau tahu siapa yang mengirim makanan ini? Ini perintah dari kediaman Ibu Suri untuk memastikan kau menjalankan tugasmu dengan benar!" bentak Ajeng, berusaha tidak takut dengan tatapan Yura.
Yura menyipitkan mata nya, Ibu Suri? Wanita tua yang ingin membunuh bayi ini mengirim makanan?
"Letakkan di meja," perintah Yura singkat.
Salah satu pelayan muda maju dengan gemetar, saat dia meletakkan mangkuk bubur, matanya bertemu dengan mata Yura, insting Yura yang kuat, dia bisa menangkap kilatan ketakutan sekaligus rasa bersalah di mata gadis itu.
"Tunggu," ucap Yura saat mereka hendak berbalik.
Yura mengambil sendok kayu, mengaduk bubur itu pelan, dia tidak mencium bau aneh, tapi instingnya sebagai agen rahasia berteriak, bahaya.
Yura mengambil sedikit bubur, lalu mendekatkannya ke mulutnya.
"Kenapa diam saja? Makanlah! Kau butuh tenaga untuk menyusui Yang Mulia Pangeran," desak Ajeng dengan senyum yang dipaksakan.
Yura tidak memakan bubur itu, sebaliknya, dia berjalan ke arah vas bunga di sudut ruangan dan menuangkan seluruh isi mangkuk ke dalamnya.
"Hei! Apa yang kau lakukan?!" teriak Ajeng panik.
"Aku sedang tidak lapar," jawab Yura tenang.
Yura memperhatikan reaksi Ajeng, wanita tua itu tampak pucat pasi, matanya melirik ke arah pintu seolah ingin melarikan diri.
"Lancang sekali! Itu makanan berharga!" bentak Ajeng, menutupi rasa takut nya, namun suaranya bergetar.
"Ayo pergi! Biarkan ibu susu gila ini kelaparan!" ucap Ajeng, keluar dari kamar Yura dengan wajah pucat pasi.
Setelah mereka pergi, Yura segera memeriksa bunga di dalam vas, dalam hitungan detik, kelopak bunga yang tadinya segar mulai layu dan menghitam.
"Benar dugaan ku," desis Yura, menatap tajam, bunga yang sudah layu itu
"Cukup halus untuk tidak membunuh seketika, tapi cukup lambat untuk membuat organ dalam berhenti berfungsi dalam tiga hari, dan bayi yang meminum ASI dari ibu yang keracunan ini akan mati dalam hitungan jam," gumam Yura, menganalisis efek racun itu.
Sebagai seorang agen rahasia di dunia nya dulu, Yura sudah ribuan kali berkelahi dengan racun, dia memang bukan ahli racun, tapi setidaknya dia cukup tahu banyak jenis racun, dari racun tingkat rendah sampai racun paling mematikan.
Yura menoleh ke arah Pangeran Lorenzo yang baru saja menggeliat bangun.
"Mereka benar-benar tidak sabar, Lorenzo," bisik Yura sambil menggendong bayi itu.
"Tapi mereka meremehkan satu hal, aku tidak makan dari tangan musuh," bisik Yura, melihat Pangeran Lorenzo, mulai menggeliat.
Mata bulat pangeran kecil itu terbuka, berkedip-kedip lucu, dan menatap Yura dengan polos.
"Selamat pagi Pangeran," bisik Yura tersenyum kecil.
Pangeran kecil itu ikut tersenyum, membuat Yura tertegun, melihat keindahan dan kepolosan bayi susu nya.
"Kau sangat menggemaskan Pangeran, dunia ini terlalu jahat untuk bayi seperti kamu, tapi kamu tenang aja, ada aku yang akan selalu melindungi mu," bisik Yura, penuh janji.
Orang yang mengenal Yura di dunia nya dulu, mungkin akan jatuh pingsan, melihat sang predator seperti Yura menggendong seorang bayi.
Yura berjalan ke arah jendela, mendudukkan dirinya di kursi yang ada di sana, membiarkan cahaya matahari menerpa kulit nya dan juga kulit Pangeran Lorenzo.
"Nanti kalau Pengeran sudah besar, Kakak akan mengajari mu bertarung dan mematahkan leher para pengkhianat," gumam Yura, berbicara dengan Pangeran kecil nya.
"Kamu harus jadi seorang pemimpin yang bijaksana dan adil pada rakyat mu," lanjut Yura.
"Dan selama aku masih ada, aku akan menjadi pelindung mu, akan aku pastikan tidak akan ada satu pun tikus Istana yang mendekati mu," ucap Yura lagi.
Yura terus bercerita tentang masa depan nanti, walaupun tidak ada respon dari bayi kecil itu, hanya tatapan polos yang di berikan, tapi hal itu yang membuat Yura bertekad untuk terus melindungi anak susu nya.
Mengenai respon dan tanggapan lawan bicaramu itu adalah hal yang tidak dapat kamu kontrol.
Dengan kunci utama adalah jujur, percaya diri, memilih waktu dan tempat tepat, serta menggunakan cara yang halus tapi jelas.
Cara mengungkapkan perasaan setiap orang berbeda-beda, ada yang mengungkapkan secara langsung, ada juga yang mengungkapkan melalui surat atau chat agar tidak bertatap muka langsung.
Memang menyatakan perasaan termasuk hal yang berat dilakukan, karena kita tidak pernah tau apa respon atau tanggapan dari orang yang kita tuju...😘💚🥰💜😍💗
Peringatan keras adalah teguran serius dan tegas yang diberikan kepada seseorang atau pihak yang melakukan pelanggaran, menunjukkan kesalahan fatal dan menjadi sanksi etika atau disiplin yang berat sebelum sanksi lebih fatal untuk efek jera.
Ini adalah tingkatan tertinggi dalam sanksi peringatan, mengindikasikan bahwa tindakan selanjutnya bisa lebih berat, seperti hukuman mati.