Alam Atas (Tiga Puluh Tiga Surga) sedang menghadapi akhir dari usianya yang telah berjalan miliaran tahun. Energi Dao mulai membeku. Para Penguasa Purba menyebutnya Kalpa Angin Salju. Untuk bertahan hidup dari kiamat kosmik ini, para penguasa Alam Atas menanam "Ladang Dunia Fana" (seperti dunia asal Shen Yu) untuk memanen energi kehidupan.
Kedatangan Shen Yu (Ketiadaan) dan Lin Xue (Teratai Primordial) adalah anomali. Bagi Alam Atas, Lin Xue adalah kayu bakar abadi yang bisa menghangatkan mereka dari musim dingin kosmik, sedangkan Shen Yu adalah badai salju yang akan mempercepat kehancuran mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Teratai Waktu yang Membakar
Surga Ketiga - Inti Puncak Matahari Kembar.
Sisa-sisa Klan Gagak Emas yang selamat tengah sibuk membersihkan darah klan mereka sendiri di bawah tatapan kejam Yao Ji dan ujung tombak Mo Han. Namun, jauh dari hiruk-pikuk penaklukan di permukaan, keheningan absolut menguasai perut Puncak Matahari Kembar.
Shen Yu dan Lin Xue menyusuri lorong yang terbuat dari tulang rawan fosil Dewa Matahari Purba. Semakin dalam mereka melangkah, udara berubah menjadi lautan uap emas yang sanggup melelehkan zirah fana tingkat tinggi.
Di ujung lorong, mereka tiba di sebuah gua raksasa yang dulunya adalah bilik jantung sang dewa purba. Di tengah-tengah lautan magma yang tenang, menjulang sebuah akar pohon berwarna emas kemerahan setebal pilar istana. Akar itu berdenyut ritmis: deg-deg, deg-deg, memancarkan energi Yang murni yang begitu liar hingga ruang dimensi di sekitarnya tampak meleleh.
"Akar Pohon Fusang Purba," gumam Lin Xue. Mata ungunya memantulkan cahaya keemasan itu. Udara di sekitarnya mendesis saat aura Dao Es Waktu-nya berbenturan secara otomatis dengan suhu ekstrem ruangan tersebut. "Pohon mitologi tempat para Gagak Emas pertama kali hinggap. Pantas saja Taiyi membiarkan anjing-anjingnya bersarang di fosil ini. Ini adalah sumber daya yang luar biasa."
Shen Yu berjalan ke tepi danau magma. Mata kirinya yang bercincin perak dan emas memindai akar tersebut.
"Energi Yang di dalam akar ini murni, tidak terkontaminasi oleh hukum picik Pengadilan Langit," Shen Yu menyeringai, menoleh pada Lin Xue. "Ini sempurna untukmu, Xue'er. Sudah saatnya ranah kultivasimu mengejar langkah kakiku."
Lin Xue tersenyum pahit, menggelengkan kepalanya pelan. "Guru selalu terlalu murah hati. Tapi akar Fusang ini adalah esensi matahari mutlak. Dao-ku adalah Es Waktu manifestasi dari stagnasi dan kedinginan absolut (Yin). Jika aku menyerapnya, meridianku akan menolak, dan Dantian-ku akan meledak sebelum aku bisa memurnikannya."
"Itu jika kau memakannya sendirian," sahut Shen Yu, mengibaskan jubah hitamnya dan melayang tepat ke tengah danau magma, mendarat di atas permukaan akar Fusang yang terbakar.
Shen Yu duduk bersila di atas kayu kosmik itu. Tubuhnya yang dilapisi Tulang Besi Naga Bintang sama sekali tidak bereaksi terhadap panas yang sanggup meleburkan bintang fana. Ia mengulurkan tangannya pada Lin Xue.
"Di dunia fana, Yin dan Yang sering kali bermusuhan. Tapi dalam kekacauan awal, mereka lahir dari rahim yang sama," Shen Yu menatap mata Lin Xue dengan intensitas yang melampaui segala kedalaman kosmos. "Kemarilah. Aku akan menjadi tungkumu. Kita akan melakukan Kultivasi Ganda Spiritual."
Lin Xue terkesiap. Kultivasi Ganda Spiritual bukanlah sekadar berbagi energi; itu adalah proses menelanjangi lautan kesadaran dan Dantian sepenuhnya di hadapan orang lain. Satu kesalahan kecil, satu detik keraguan, atau sedikit saja niat egois dari salah satu pihak, maka kedua jiwanya akan hancur lebur menjadi debu kosmik. Itu adalah tindakan penyerahan diri yang absolut.
Namun, di bawah tatapan hitam legam gurunya, Lin Xue tidak memiliki keraguan sehelai rambut pun.
Gadis itu melayang mendekat, jubah peraknya berkibar anggun, dan mendarat berhadapan dengan Shen Yu. Ia melipat kakinya, duduk bersila, dan menempelkan kedua telapak tangannya ke telapak tangan Shen Yu yang lebih besar dan kasar.
"Pimpin jalannya, Tuanku," bisik Lin Xue lembut.
Shen Yu menutup matanya. Lin Xue melakukan hal yang sama.
"Seni Kaisar Malam: Jembatan Ketiadaan!"
Seketika, Shen Yu mengaktifkan pusaran Ketiadaan-nya, langsung menghisap energi Yang purba dari Akar Fusang di bawah mereka. Urat-urat emas menyala di leher dan lengan Shen Yu. Rasa sakit dari api purba itu merobek-robek meridiannya, namun Jantung Iblis-nya melumat keliaran api tersebut, mengubah racun menjadi madu.
Energi yang telah dijinakkan itu kemudian ia salurkan melalui telapak tangannya, menembus lurus ke dalam lautan kesadaran dan Dantian Lin Xue.
WUUUSH!
Di dalam alam spiritual mereka, dua dunia bertabrakan.
Lin Xue mendapati dirinya melayang di dalam kegelapan tanpa ujung milik Shen Yu. Ia bisa merasakan setiap goresan luka batin, setiap kedinginan, dan setiap kesepian dari sang Tiran yang menanggung beban kematian seorang diri. Di sisi lain, Shen Yu merasakan badai salju abadi di dalam jiwa Lin Xue, sebuah penolakan absolut terhadap dunia luar yang hanya menyisakan satu kehangatan untuknya seorang.
Biarkan apinya masuk, Xue'er, suara jiwa Shen Yu bergema.
Gelombang energi Yang murni berwarna emas kemerahan mengalir memasuki lautan es Lin Xue. Awalnya, teratai-teratai es di dalam Dantian Lin Xue menolak keras, mendesis dan mencoba membekukan api tersebut. Pertarungan antara Es Waktu dan Api Waktu Primordial membuat tubuh fisik Lin Xue di luar sana bergetar hebat, darah menetes dari sudut bibirnya.
Kendalikan, jangan dilawan! Gunakan waktu untuk mengukur ritme apinya! perintah Shen Yu, mengalirkan Hukum Cahaya dewa yang ia miliki untuk menstabilkan turbulensi tersebut.
Lin Xue menggertakkan giginya. Ia memutar Dao Waktu-nya. Sedikit demi sedikit, ia memperlambat laju pembekuan esnya, membiarkan energi emas dari Fusang mencairkan lapisan terluar Dantian-nya.
Proses itu memakan penderitaan spiritual yang sangat luar biasa, namun ikatan di antara mereka membuat semuanya menjadi melodi kehancuran yang indah. Kegelapan Shen Yu membungkus cahaya, sementara kedinginan Lin Xue memeluk panasnya. Yin dan Yang berputar, membentuk diagram Taiji raksasa di dalam lautan kesadaran mereka.
Di luar, di dalam gua magma, pemandangan yang tercipta sungguh spektakuler.
Akar Pohon Fusang purba itu mengering dengan kecepatan gila, esensinya disedot habis. Di sekitar tubuh Lin Xue, ribuan kelopak bunga teratai mekar, namun warnanya bukan lagi ungu murni. Kelopak teratai itu kini setengah berwarna es transparan, dan setengahnya lagi menyala dengan api emas kemerahan.
Dua kutub ekstrem alam semesta telah bersatu di dalam satu wadah fana!
BOOOOOOOOOOM!
Sebuah pilar cahaya berputar dari warna perak dan emas meledak menembus atap fosil tengkorak raksasa Puncak Matahari Kembar, membelah langit merah Surga Ketiga.
Di luar gunung, Yao Ji yang sedang mengawasi pasukan langsung jatuh berlutut, wajah cantiknya memucat karena teror. Tekanan yang turun dari langit bukanlah tekanan satu monster, melainkan dua!
Di dalam gua yang kini telah meredup dan mendingin akibat hancurnya Akar Fusang, Shen Yu perlahan menarik telapak tangannya.
Ia membuka matanya, menatap wanita di hadapannya.
Lin Xue membuka mata ungunya. Kini, ada kilatan api emas yang menari anggun di kedalaman pupilnya. Ia menghembuskan napas panjang, dan uap napasnya membekukan lahar sisa di sekitarnya dalam sedetik, namun es itu sendiri memancarkan hawa yang bisa membakar kulit.
[Terobosan Berhasil: Setengah Langkah Dewa Sejati (Half-Step True God)]
Lin Xue mengepalkan tangannya. Pedang Teratai Waktu yang melayang di sisinya kini beresonansi dengan suara nyanyian burung gagak emas dan dentingan jam pasir purba.
"Kekuatan ini..." Lin Xue menatap tangannya dengan takjub. "Api yang tidak membakar, namun mematikan kehidupan melalui waktu."
"Sempurna," Shen Yu bangkit berdiri, menyeringai puas melihat pengerjaannya. "Ratu-ku kini memiliki cakar yang pantas untuk mencabik-cabik wajah-wajah suci dari Surga Kesembilan."
Lin Xue tersenyum manis, sebuah senyuman yang kini memiliki daya hancur jauh melebihi Dao Pesona milik Yao Ji. Ia berdiri dan menunduk hormat. "Semua berkat jalan yang Guru bukakan."
"Simpan formalitas itu," Shen Yu melangkah memimpin keluar dari gua fosil. "Puncak Matahari Kembar ini sudah kehabisan sari patinya. Kita kembali ke atas, ada banyak anjing fana dan dewi buangan yang harus kita tertibkan."
Ketika Shen Yu dan Lin Xue melangkah keluar dari gerbang istana Puncak Matahari Kembar, seluruh puluhan ribu pasukan Malam Abadi, sisa-sisa Klan Gagak Emas, dan utusan Kuil Teratai Darah bersujud di tanah. Mereka merasakan dua tekanan Setengah Dewa yang saling melengkapi sang Ketiadaan dan sang Kehidupan-Kematian.
Yao Ji merangkak maju dengan wajah menempel ke tanah bata merah.
"K-Kaisar Malam... Ratu Abadi..." Yao Ji bergetar, kini ia benar-benar sadar bahwa rencananya untuk menggunakan Shen Yu sebagai pion adalah lelucon paling bodoh yang pernah ia pikirkan dalam hidup abadinya. "Hamba membawa laporan dari batas wilayah Surga Ketiga."
Shen Yu berhenti melangkah, menatap dewi buangan itu dari sudut matanya. "Bicara."
"Energi dari hancurnya Roda Dewa Matahari dan terobosan Ratu Abadi terlalu masif," lapor Yao Ji, suaranya parau. "Ruang dimensi di atas Surga Ketiga beresonansi. Sebuah pilar cahaya perak telah turun di perbatasan Dataran Ilusi... Itu adalah Proyeksi Roh dari Surga Keempat."
"Surga Keempat?" Shen Yu mengangkat sebelah alisnya. Ia tahu Surga Keempat adalah zona penyangga, rumah bagi sekte-sekte pertapa kuno yang netral dan tak peduli pada urusan duniawi.
"Utusan itu tidak membawa pedang," lanjut Yao Ji. "Ia membawa segel undangan kosmik. Mereka meminta kehadiran penguasa wilayah Surga Ketiga yang baru dalam Turnamen Penentuan Era."
Lin Xue menyipitkan mata teratainya. "Turnamen? Saat kita sedang berperang terbuka dengan Pengadilan Langit?"
"Ini adalah tradisi kuno sebelum Taiyi berkuasa," jelas Yao Ji. "Turnamen itu mewajibkan perwakilan elit dari faksi penantang melawan perwakilan Pengadilan Langit dalam arena yang diisolasi oleh hukum alam. Jika Anda menolak, Surga Keempat akan menutup total jalan ke atas. Tapi... jika Anda menang, Anda akan memegang sebagian dari Segel Kunci Surga Kesembilan secara sah."
Shen Yu terdiam sejenak. Senyum arogannya yang khas kembali terukir perlahan. Menggiling armada surga itu menyenangkan, tapi menghancurkan juara-juara terbaik kebanggaan Taiyi di hadapan seluruh surga, dalam sebuah arena di mana sang Kaisar Langit tak bisa ikut campur?
Itu adalah panggung yang sempurna bagi seorang Tiran.
"Siapkan armadaku, Mo Han," perintah Shen Yu dingin. "Tampaknya kita diundang ke sebuah panggung pertunjukan."