NovelToon NovelToon
Immortal Emperor: Dao Abadi

Immortal Emperor: Dao Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Mengubah Takdir / Kelahiran kembali menjadi kuat / Epik Petualangan / Perperangan / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:19.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Di Benua Timur, di mana pegunungan menusuk awan dan kabut spiritual menyelimuti hutan purba, nyawa manusia biasa seringkali tidak lebih berharga daripada rumput di tepi jalan.

Desa Sungai Jernih adalah tempat yang damai, tersembunyi di lembah kecil di kaki Pegunungan Kabut Hijau. Penduduknya hidup sederhana bertani, berburu, dan menyembah "Para Abadi" yang terkadang terlihat terbang melintasi langit dengan pedang cahaya. Bagi mereka, para kultivator itu adalah dewa pelindung.

Namun bagi Li Wei, hari ini, dewa-dewa itu membawa neraka.

Li Wei, pemuda berusia lima belas tahun dengan tubuh kurus namun sorot mata tajam, sedang menuruni bukit dengan keranjang anyaman di punggungnya. Ia baru saja selesai mencari tanaman obat liar. Ibunya sakit batuk sejak musim dingin lalu, dan tabib desa berkata akar Ginseng Roh tingkat rendah mungkin bisa membantu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 26: Roh Penjaga Tungku

Di dalam gubuk utama Lembah Abu, cahaya lampu minyak berkedip-kedip menerangi gulungan kulit binatang purba yang terbentang di atas meja.

Tie Shan menunjuk sebuah diagram rumit dengan jarinya yang kasar dan penuh kapalan.

"Ini dia, Saudara Li. Ambisi terbesar guruku seumur hidupnya: Meriam Auman Naga (Dragon Roar Cannon)."

Li Wei mengamati gambar itu. Itu bukan senjata perorangan, melainkan senjata pengepungan (siege weapon). Sebuah tabung logam raksasa yang dirancang untuk memadatkan Qi Alam dalam jumlah masif dan menembakkannya sebagai sinar kehancuran.

"Guru percaya bahwa jika senjata ini selesai, satu tembakan bisa menembus pertahanan kultivator Foundation Establishment," suara Tie Shan bergetar penuh hormat. "Sayangnya, ini terhenti karena kami kekurangan material inti yang mampu menahan panas ledakan Qi."

"Material apa?" tanya Li Wei.

"Kristal Api Guntur (Thunder Flame Crystal)," jawab Tie Shan. "Guru menyimpannya di Ruang Harta Terlarang di dalam Tungku Utama Puncak Besi. Dia berencana menggunakannya saat ulang tahun sekte, tapi..."

Kalimatnya terputus. Mereka semua tahu apa yang terjadi. Puncak Besi jatuh sebelum senjata itu lahir.

Li Wei menatap peta sekte yang kini dipenuhi tanda merah (wilayah musuh).

"Jika kita punya meriam ini, kita tidak perlu takut pada serangan jumlah besar. Kita bisa menembak jatuh kapal perang atau Golem Darah dari jarak jauh," analisis Li Wei.

"Tapi Puncak Besi sekarang adalah benteng musuh," tambah Xiao Lan cemas. "Menyusup ke sana sama saja mengantar nyawa."

Li Wei berdiri, menyampirkan jubah hitam penyamaran di bahunya.

"Justru karena itu tempat Sumber daya, penjagaannya pasti fokus di gudang luar, bukan di reruntuhan tungku dalam yang dianggap sudah hancur," kata Li Wei. "Tie Shan, kau tahu jalan tikus yang hanya diketahui murid inti?"

Tie Shan mengangguk mantap, mengambil palu besinya. "Aku tahu setiap retakan di gunung itu. Aku akan memimpin jalan."

"Kita berangkat malam ini. Hanya kita berdua."

Puncak Penempaan Besi.

Dulu, tempat ini selalu bising dengan suara TANG-TANG palu yang berirama dan nyanyian para pandai besi. Udaranya panas, tapi penuh semangat kehidupan.

Sekarang, Puncak Besi sunyi dan dingin, diselimuti aura merah darah.

Li Wei dan Tie Shan merayap di balik bayang-bayang tebing curam di sisi utara puncak. Berkat Cincin Penyembunyi Aura Li Wei dan pengetahuan medan Tie Shan, mereka berhasil menghindari patroli udara Iblis Kelelawar.

Tie Shan berhenti di depan sebuah batu besar yang tertutup lumut. Ia menekan tiga titik tertentu pada batu itu dengan irama khusus.

Klek.

Batu itu bergeser, memperlihatkan lorong sempit yang berbau belerang.

"Ini jalur pembuangan asap kuno," bisik Tie Shan. "Langsung menuju ke jantung gunung."

Mereka masuk. Lorong itu panas dan sempit. Semakin dalam mereka berjalan, semakin kuat bau darah yang bercampur dengan bau logam cair.

Akhirnya, mereka sampai di sebuah lorong yang menghadap ke Aula Tungku Agung.

Pemandangan di bawah membuat darah Tie Shan mendidih.

Tungku Agung, kebanggaan sekte, kini digunakan oleh murid-murid Sekte Darah untuk melebur pedang-pedang suci milik murid Langit Biru yang gugur. Mereka melelehkan senjata-senjata itu menjadi cairan besi, lalu mencampurnya dengan darah manusia untuk membuat rantai pasung dan paku penyiksa.

"Bajingan..." geram Tie Shan, tangannya mencengkeram pinggiran hingga batu itu retak. "Mereka merusak seni tempa suci dengan ilmu sihir kotor!"

Li Wei menahan bahu Tie Shan. "Tahan. Kemarahanmu tidak akan menyelamatkan warisan gurumu. Kita ambil kristalnya, baru kita bakar tempat ini nanti."

Tie Shan menarik napas panjang, menelan amarahnya. "Kau benar. Ruang Harta ada di balik patung Pendiri di ujung aula."

Mereka menunggu hingga pergantian penjaga. Saat celah terbuka, Li Wei dan Tie Shan meluncur turun tanpa suara, menggunakan bayangan pilar-pilar raksasa untuk bergerak.

Mereka sampai di belakang patung raksasa Pendiri Puncak Besi.

Tie Shan mengiris jarinya, meneteskan darah ke alas patung. Mekanisme pengunci darah aktif. Pintu rahasia terbuka tanpa suara.

Mereka menyelinap masuk.

Di dalam, ruangan itu kecil dan sederhana. Tidak ada emas atau permata. Hanya rak-rak berisi logam langka dan sebuah meja kerja yang berantakan, seolah-olah pemiliknya baru saja meninggalkannya sebentar.

Di tengah ruangan, melayang sebuah kotak batu giok yang disegel dengan jimat kuning.

"Itu dia," bisik Tie Shan. "Kristal Api Guntur."

Namun, saat Tie Shan melangkah maju untuk mengambilnya, sebuah suara tua dan lelah bergema di ruangan itu.

"Siapa yang berani mengganggu tidurku?"

Api dari tungku kecil di sudut ruangan tiba-tiba menyala sendiri. Api itu berkumpul, membentuk wujud transparan seorang pria tua bungkuk dengan jenggot panjang.

Tie Shan membeku. Air mata langsung menggenang di mata raksasanya. Ia menjatuhkan lututnya ke lantai dengan keras.

DUM!

"Guru!" isak Tie Shan, bersujud hingga dahinya menyentuh lantai. "Murid tidak berbakti Tie Shan... datang terlambat!"

Itu adalah Sisa Jiwa (Remnant Soul) dari Tetua Ou Ye, Kepala Puncak Besi.

Tetua itu menatap Tie Shan dengan tatapan kosong sejenak, lalu kesadarannya perlahan kembali.

"Shan'er? Kau masih hidup?" hantu itu tersenyum lemah. "Bagus... Bagus. Aku khawatir garis keturunan Puncak Besi telah putus."

"Guru... Sekte Darah telah menguasai Puncak. Murid... Murid melarikan diri seperti pengecut..."

"Lari untuk menempa di hari lain bukanlah pengecut, itu kebijaksanaan," potong Tetua Ou Ye. "Aku meledakkan tubuh fisiku untuk menyegel ruangan ini dari luar, berharap kau atau saudaramu akan datang mengambil warisan terakhir."

Tatapan hantu itu kemudian beralih ke Li Wei yang berdiri hormat di pintu. Mata tua itu menyipit saat melihat batang besi hitam di punggung Li Wei.

"Dan kau membawa tamu menarik. Anak muda, senjata di punggungmu itu... baunya seperti bintang yang mati dan darah naga."

Li Wei membungkuk hormat. "Salam, Tetua Ou. Saya Li Wei. Senjata ini saya temukan di Paviliun Harta."

"Fragmen Tombak Penembus Langit..." Tetua Ou Ye mengangguk pelan. "Benda keras kepala itu akhirnya memilih tuan. Bagus. Setidaknya sekte ini masih punya taring."

Tetua Ou Ye menoleh kembali ke Tie Shan.

"Shan'er, waktuku tidak banyak. Sisa jiwaku bertahan hanya untuk menjaga Kristal ini. Sekte Darah mencoba mendobrak segelku setiap hari."

Hantu itu melambaikan tangan. Kotak giok itu melayang ke tangan Tie Shan. Segelnya terlepas, memperlihatkan kristal merah-ungu yang memancarkan percikan petir.

"Ambillah. Buatlah Meriam itu. Tunjukkan pada iblis-iblis itu bahwa api Puncak Besi tidak hanya untuk membentuk logam, tapi juga untuk membakar kejahatan."

"Murid bersumpah!" teriak Tie Shan.

"Dan satu hal lagi..." Tetua Ou Ye menatap Li Wei. "Li Wei, tolong jaga si bodoh ini. Dia punya tangan dewa, tapi hatinya terlalu lunak. Di dunia yang gila ini, dia butuh pedang pelindung."

"Saya akan menjaganya dengan nyawa saya, Tetua," janji Li Wei.

Tetua Ou Ye tersenyum lega. Wujud transparannya mulai pudar, menjadi butiran cahaya api.

"Tungku tidak pernah mati selama apinya masih menyala di hati penempa. Pergilah..."

Cahaya itu lenyap. Ruangan kembali gelap.

Tie Shan tetap bersujud selama beberapa detik, bahunya berguncang menahan tangis.

Li Wei membiarkannya sejenak. Ini adalah perpisahan yang diperlukan.

"Tie Shan," panggil Li Wei pelan setelah beberapa saat. "Guru Ou sudah tenang. Sekarang giliran kita untuk melaksanakan wasiatnya."

Tie Shan mengangkat wajahnya. Matanya merah, tapi tidak ada lagi keraguan di sana. Hanya tekad yang membara seperti besi cair.

Ia berdiri, menyimpan kristal itu di dadanya.

"Ayo pergi, Saudara Li. Aku akan membangun meriam terhebat yang pernah dilihat dunia ini."

Mereka berbalik hendak keluar.

Namun, tepat saat mereka mencapai pintu, formasi di luar berbunyi nyaring.

WIIING! WIIING!

Rupanya, hilangnya sisa jiwa Tetua Ou Ye memicu deteksi otomatis yang dipasang Sekte Darah di pintu luar.

"Penyusup di Ruang Harta!" teriak suara dari luar.

Li Wei mencabut tongkatnya. Tie Shan mengangkat palunya.

"Sepertinya jalan pulang tidak akan semulus jalan pergi," kata Li Wei menyeringai tipis.

Tie Shan mendengus, aura membunuhnya meledak. "Bagus. Aku butuh pelampiasan."

"Ayo kita buat sedikit keributan sebelum pergi."

1
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Lanjut Up Thor
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Tetap semangat Thor 💪💪
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Bakal ada pertarungan seru 👍
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Mantap 👍
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Li Wei meningkatkan Kultivasi nya 👍👍
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Pokoke Mantap 👍
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Mantap 👍
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very very very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very very very niCe Thor..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!