Arsy Raihana Syahira percaya hidupnya akan sempurna. Pernikahan yang tinggal menghitung hari mendadak batal, setelah ia memergoki calon suaminya sendiri berselingkuh dengan sahabat yang selama ini ia percayai dengan sepenuh hati.
Belum sempat Arsy bangkit dari keterpurukan, cobaan lain kembali menghantam. Ayahnya mengalami serangan jantung dan terbaring kritis setelah mengetahui pengkhianatan yang menimpa putri kesayangannya. Dalam satu waktu, Arsy kehilangan cinta, kepercayaan, dan hampir kehilangan orang yang paling ia cintai.
Di tengah kehancuran itu, datanglah Syakil Arrafiy—CEO sekaligus teman semasa sekolah, dan lelaki yang diam-diam telah mencintai Arsy sejak lama. Mendengar kabar tentang Arsy, Syakil datang ke rumah sakit tanpa ragu. Di hadapan ayah Arsy yang terbaring lemah, Syakil mengucapkan sebuah permohonan yang tak pernah Arsy bayangkan sebelumnya: melamar Arsy sebagai istrinya.
Maukah Arsy menerima lamaran pernikahan dari laki laki yang telah lama mencintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Untuk sesaat, Syakil berdiri memandangi Arsy yang mulai memakan bubur ayam pemberiannya perlahan. Tidak banyak, hanya beberapa suap kecil, tapi cukup untuk membuat dada Syakil terasa hangat dengan cara yang aneh. Bukan hangat karena bangga, melainkan karena lega. Ia tahu Arsy tidak akan makan kalau tidak benar-benar dipaksa oleh keadaan. Dan fakta bahwa perempuan itu mau menyentuh makanannya hari ini, adalah kemenangan kecil yang berarti besar baginya.
Namun rasa itu hanya bertahan beberapa detik. Getaran ponsel di saku celananya mengganggu momen itu. Syakil menghela napas pendek lalu melirik ke arah Pak Rahman yang terbaring dengan mata terpejam, lalu ke arah Arsy yang masih fokus pada makanannya. Ia tidak ingin percakapan ini terdengar di ruangan ini. Pelan-pelan, ia melangkah mendekat ke Arsy.
“Arsy, aku keluar sebentar,” katanya lirih. “Ada telepon penting yang harus ku jawab.”
Arsy mendongak. Matanya sempat bertemu dengan mata Syakil sesaat, lalu ia mengangguk kecil.
“Iya,” jawabnya singkat.
Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, Syakil melangkah keluar ruang IGD, menutup pintu kaca itu dengan hati-hati, lalu berjalan menjauh ke lorong yang lebih sepi sebelum akhirnya mengangkat panggilan teleponnya.
Begitu pintu tertutup, suasana IGD kembali sunyi. Arsy menghembuskan napas kecil setelah sarapannya habis. Ia menutup kotak makanannya, lalu menyeka bibirnya pelan dengan tisu. Tubuhnya terasa sedikit lebih kuat dibandingkan sebelumnya, meski lelah itu belum benar-benar pergi.
Ia berdiri, berniat meletakkan kotak makanan itu ke meja samping. Dan saat itulah pintu ruang IGD terbuka dengan cukup keras dan membuat Arsy maupun pak Rahman sama sama tersentak.Langkah kaki yang berat dan tergesa-gesa masuk ke dalam ruangan, disertai aura panas yang langsung terasa bahkan sebelum orang itu berbicara.
Radit.
Wajah laki-laki itu terlihat keras. Rahangnya mengunci. Matanya merah dan dipenuhi amarah yang tidak lagi ia repot-repot sembunyikan. Nafasnya terdengar berat, seolah ia baru saja menahan kemarahan terlalu lama dan kini tidak peduli lagi di mana ia meluapkannya.
“ARSY!” teriak Radit dengan keras, tajam, dan penuh kebencian.
Arsy membeku.
“Radit…” napasnya tercekat. “Kamu ngapain ke sini?”
Radit tidak menjawab. Ia melangkah cepat menghampiri Arsy dan berhenti tepat di hadapannya dengan jarak yang terlalu dekat. Matanya menyapu Arsy dari ujung kepala sampai kaki, lalu menyeringai miring.
“Bagus ya akting kamu,” katanya sinis. “Main peran jadi korban. Jadi perempuan lemah. Sambil diem-diem mainin hidup orang seenaknya.”
Arsy menelan ludahnya dengan keras. Jantungnya langsung berdetak tak karuan.
“Radit, tolong,” katanya cepat sambil melirik ke arah ranjang ayahnya. “Ayahku lagi sakit. Kita ngomong di luar aja, ya?”
Radit tertawa pendek. Tidak ada humor di sana. Hanya ejekan menyakitkan yang terus ia lontarkan kepada Arsy.
“Oh, sekarang kamu peduli?” suaranya meninggi. “Setelah apa yang kamu lakukan ke aku?”
Arsy maju satu langkah, menurunkan suaranya meski dadanya mulai naik turun.
“Aku nggak tahu kamu ngomong apa,” katanya tertekan. “Tapi tolong, jangan buat keributan di sini. Aku mohon.” pinta Arsy namun membuat Radit justru semakin mendekat. Suaranya kini tidak lagi ditahan.
“Dasar perempuan munafik!” bentaknya. “Licik! Pura-pura nggak tahu apa-apa padahal kamu yang paling tahu!”
Pak Rahman tersentak di atas ranjang. Matanya terbuka, napasnya memburu, yang mana hal itu membuat Arsy langsung panik.
“Radit!” bisik Arsy dengan tajam. “Hentikan!”
Ia meraih pergelangan tangan Radit dengan cepat dan berusaha menariknya menjauh dari ranjang ayahnya. “Ayo keluar,” pinta Arsy dengan putus asa. “Kumohon.”
Namun yang terjadi justru sebaliknya. Radit menepis tangan Arsy dengan kasar. Gerakannya kuat dan penuh emosi. Membuat
Arsy terhuyung ke belakang, nyaris kehilangan keseimbangan. Jika tidak berpegangan pada sisi ranjang, tubuhnya mungkin sudah jatuh ke lantai.
“Jangan sentuh aku!” bentak Radit.
Pak Rahman berusaha bangkit. Tubuhnya gemetar hebat, tangannya mencengkeram seprai.
“Arsy…” suaranya lemah tapi panik. “Nak…”
“Ayah jangan bangun!” Arsy langsung menghampiri ranjang, menahan tubuh ayahnya agar tetap berbaring. “Ayah, tolong, jangan bergerak.”
Namun Pak Rahman tidak berhenti mencoba. Matanya merah, napasnya memburu melihat putrinya hampir terjatuh setelah didorong oleh Radit.
“Kurang ajar…” gumam pak Rahman lirih, marah bercampur lemah. “Jangan pernah kau sentuh putriku.”
Radit menoleh sekilas ke arah Pak Rahman, lalu kembali ke Arsy dengan tatapan dingin.
“Dia kau pak tua!!!” bentak Radit dengan sinis. “Dan untukmu Arsy, tolong berhentilah berpura-pura nggak tahu apa-apa.”
Arsy berdiri di antara Radit dan ayahnya dengan tubuhnya yang gemetar.
“Aku serius nggak ngerti apa yang kamu maksud, Radit.” katanya dengan suara bergetar tapi tegas. “Kalau kamu marah, kita bisa bicarakan baik-baik. Tapi bukan di sini.”
Radit mendengus.
“Kamu pikir aku bodoh?” kata Radit dengan cepat. “Karier aku hancur hari ini itu semua gara gara kamu. Dan kamu berdiri di sini bilang nggak tahu apa-apa? Wah hebat Arsy, hebat. Kau memang pandai berpura pura.”
Arsy terdiam.
“Apa? Aku nggak pernah—”
Radit tertawa keras. Suara itu memantul di dinding IGD dan menusuk ke telinga.
“Katakan padaku, bagaimana caranya kau bisa menjadi pemilik rumah sakit tempatku bekerja sekarang?!” potong Radit dengan amarah meledak. “Kamu yang bikin aku dipecat! Semua ini permainan kamu kan!”
Arsy benar-benar terkejut. Wajahnya pucat.
“Apa…?” suaranya nyaris tak keluar. “Radit, aku bahkan nggak tahu soal itu. Kau ini sedang bicara apa?”
“Cukup!” teriak Radit sembari menunjuk Arsy. “Hentikan semua sandiwara ini!”
Arsy menggeleng keras. Air matanya mulai jatuh tanpa bisa ia tahan.
“Aku bersumpah, aku nggak tahu apa yang terjadi sama kamu,” Arsy terisak. “Aku bahkan nggak keluar dari rumah sakit ini sejak ayahku dirawat.”
Radit menatap Arsy dengan tajam, seolah mencari kebohongan di wajah Arsy. Namun kemarahan itu sudah terlanjur membara dan menutup logikanya.
“Kamu hebat ya,” katanya dingin. “Bisa hancurin hidup seseorang sambil kelihatan suci.”
Pak Rahman menggenggam seprai kuat-kuat. Napasnya makin berat.
“Arsy…” panggilnya lemah.
Arsy langsung menoleh. “Ayah tenang, ya. Arsy nggak apa-apa.”
Ia kembali menatap Radit, suaranya hampir memohon.
“Radit, aku mohon. Kalau masih ada sedikit saja rasa hormat kamu ke aku, aku mohon tolong kau keluar dari sini. Kita bicarakan semuanya diluar”
“Tidak,” katanya keras. “Aku nggak akan keluar dari sini sebelum masalahku selesai.”
Arsy berdiri gemetar di tempatnya, dadanya sesak, air matanya jatuh tanpa henti. Di hadapannya berdiri lelaki yang dulu ia cintai, kini berubah menjadi sosok asing yang penuh kebencian. Dan di belakangnya, ada ayahnya yang sedang berjuang hidup dan mati. Situasi itu terasa seperti jebakan yang sempit bagi Arsy.
Arsy menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan dirinya sendiri meski tangannya gemetar hebat. Dadanya terasa sesak, bukan hanya karena ketakutan, tapi juga karena kelelahan yang sudah menumpuk sejak semalam. Matanya yang basah menatap Radit dengan sungguh-sungguh, seolah berharap masih ada sisa logika di balik kemarahan lelaki itu.
dpsng alat monitor jantung, aku yg bntu jaga di rs tiap mlm/Pray//Cry/
Lihat anakmu pak😭
Kami lah nyalahin si Radit