NovelToon NovelToon
Takdir Cahaya & Kegelapan

Takdir Cahaya & Kegelapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: fernan Do

raja kegelapan dan ratu cahaya" 2 entitas yang tidak seharusnya bisa bersatu dan kekuatan yang seharusnya saling tolak menolak namun dikalahkan oleh takdir yang berjalan secara mutlak...menjalin sebuah cinta yang membuat kesucian cahaya menjadi dianggap najis dan kekejaman kegelapan dianggap lemah karena hubungan yang mereka jalanii

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fernan Do, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

delapan bulan dalam bayang bayang

Waktu adalah sungai yang mengalir tenang di Desa Aethelgard, namun bagi para utusan dewa yang bersembunyi di balik rimbunnya hutan perbatasan, delapan bulan terakhir terasa seperti teka-teki yang menguras logika. Mereka berdiri mematung di bawah perlindungan jubah Null-Ether, mengamati setiap gerak-gerik di rumah kayu itu.

Namun, yang mereka lihat bukanlah sosok Sang Raja Kegelapan yang agung, melainkan seorang pria jangkung yang tampak selalu waswas jika mendengar suara pintu terbuka.

Setiap fajar menyingsing, Ferdi sudah berada di kebun. Sifat dinginnya masih ada, tetapi sekarang dibalut dengan kecemasan yang nyata.

Ia memetik buah jeruk emas dan pir madu dengan kecepatan luar biasa, bukan karena ingin segera berperang, tapi karena ia takut mendengar suara lengkingan Vani jika sarapan belum siap saat matahari mulai meninggi.

"Satu keranjang lagi... ayolah, sedikit lagi sebelum Vani bangun," gumam Ferdi sambil menyeka keringat dingin di pelipisnya.

Ia melangkah menuju kandang ternak dengan langkah berjinjit agar tidak menimbulkan suara gaduh. Ayam-ayamnya yang kian banyak mulai berkokok, membuat Ferdi panik.

"Ssst! Diam! Kalau Vani bangun karena kalian, aku tidak akan memberi kalian gandum premium lagi!" bisik Ferdi dengan wajah serius yang terlihat konyol.

Ia masuk ke sarang ayam, mengambil telur satu per satu. "Satu, dua... tiga puluh. Sempurna."

Ferdi memisahkan sepuluh butir telur terbaik untuk makan pagi putri kecilnya dan sang istri yang cerewet. Sapi perahnya melenguh saat Ferdi mengusap punggungnya. Ferdi segera memberikan tumpukan rumput segar.

"Makan yang banyak, hasilkan susu yang enak. Kau tahu sendiri kan, Vani sangat teliti soal gizi Silvia? Kalau susumu encer, aku yang kena omel seharian."

Sawah padi dan ladang jagung mereka tumbuh sangat lebat. Ferdi bekerja keras mencangkul dan menanam kembali buah-buahan untuk dijual,

karena ia tahu Vani akan memeriksa catatan keuangan setiap malam. Salah satu angka tidak cocok, dan Ferdi harus siap mendengarkan ceramah panjang tentang "manajemen ekonomi rumah tangga".

Vani, Sang Penguasa Rumah Tangga

Di dalam rumah, Vani sedang duduk di meja makan dengan wajah serius. Di depannya terdapat tumpukan koin perak yang ia susun berdasarkan ukurannya.

Silvia, sang putri kecil berkulit halus, kini sudah hampir berusia dua tahun. Ia mulai belajar berjalan, langkahnya gontai namun sangat aktif, dan ia tampaknya tahu betul siapa "pelayan" setianya di rumah ini.

"FERDI! Kemari kau!" suara Vani menggema dari ruang tengah.

Ferdi yang sedang memetik jagung di luar langsung tersentak. Bahunya menciut seketika. Ia menjatuhkan jagungnya dan berlari secepat kilat menuju pintu rumah.

"I-iya, Sayang? Ada apa? Apa ada piring yang pecah? Bukan aku pelakunya!" jawab Ferdi dengan napas tersengal saat sampai di depan Vani.

Vani menunjuk ke arah Silvia yang sedang menarik-narik ujung jubah hitam legendaris Ferdi—jubah yang dulu ditakuti seluruh semesta, kini hanya menjadi mainan tarikan bagi seorang balita.

"Lihat anakmu! Dia hampir tersandung karena jubahmu ini berserakan di lantai! Kau ini naruh barang tidak pernah benar, ya? Bagaimana kalau dia jatuh dan benjol?"

"Maaf, Vani... tadi aku terburu-buru ke ladang," bisik Ferdi sambil buru-buru mengambil jubahnya dan melipatnya dengan sangat rapi, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan di masa kejayaannya.

"Alasan saja! Kau pikir mengurus anak itu mudah? Aku harus menghitung biaya daging untuk pertumbuhan ototnya, memantau asupannya, dan kau malah menambah pekerjaanku dengan membuat rumah berantakan!"

Vani terus mengomel sambil merapikan koin-koinnya. "Sekarang, ambilkan air hangat. Silvia mau mandi. Dan jangan terlalu panas! Kau ingat kejadian bulan lalu? Kulitnya sampai kemerahan karena kau tidak becus mengatur suhu air!"

"Baik, segera kusiapkan," jawab Ferdi patuh. Ia melirik Silvia yang justru tertawa kecil melihat ayahnya diperintah.

Silvia merangkak ke arah kaki Ferdi, memegang celananya dan berteriak,

"Pa-pa! Pa-pa!"

lalu tiba-tiba ia merengek kencang karena ingin digendong.

"Duh, Silvia Sayang, jangan menangis... Ayah sedang sibuk..." Ferdi mencoba membujuk, wajahnya tampak sangat tertekan.

"Gendong dia, Ferdi! Masa begitu saja harus disuruh?" omel Vani lagi.

Ferdi akhirnya menggendong Silvia sambil berusaha menyiapkan air mandi. Pemandangan Sang Raja Kegelapan yang menggendong balita sambil meniup-niup air hangat adalah sesuatu yang bisa membuat para dewa pingsan jika melihatnya secara langsung.

Di balik pepohonan raksasa, para utusan dewa saling bertukar pandang melalui perangkat komunikasi batin. Mereka sudah mengintai selama delapan bulan, dan mental mereka mulai terganggu melihat kelakuan Ferdi.

"Apakah kita yakin dia adalah Ferdi yang asli?"

tanya salah satu pengintai dengan nada ragu.

"Pria itu baru saja meminta maaf pada istrinya karena salah menaruh kain lap. Ini memalukan bagi sejarah peperangan."

"Jangan remehkan dia," jawab sang pemimpin pengintai. "Lihat koordinat energi anak itu. Saat dia menangis tadi, gelombang kekuatannya memancar sangat kuat.

Itu sebabnya lokasi mereka begitu mudah kita kunci. Ferdi mungkin terlihat seperti budak rumah tangga, tapi energinya tetap besar. Kita harus menunggu sampai Vani lengah, karena dialah yang memegang kendali emosional di rumah itu."

Para pengintai itu sengaja menekan energi sihir mereka serendah mungkin. Mereka tetap berada dalam bayangan, menunggu saat Silvia dipisahkan dari perlindungan Vani atau saat Ferdi sedang benar-benar lelah dengan pekerjaannya.

Sore harinya, suasana rumah sedikit lebih tenang. Vani duduk di teras sambil menggendong Silvia. Ia tersenyum lembut, terus-menerus mencium pipi sang putri.

"Anak pintar... nanti kalau sudah besar jangan galak-galak seperti Papa, ya," bisik Vani.

Vani kemudian memberikan ASI kepada Silvia. Di saat itulah, Silvia terlihat paling bahagia.

Ia memainkan baju Vani dengan tangan kecilnya, sesekali tertawa pelan. Ferdi yang baru saja selesai mengambil 1 ekor ayam dari kandang untuk makan malam, berdiri di kejauhan. Ia tidak berani mendekat karena takut mengganggu momen tersebut dan berakhir dengan omelan baru.

Ferdi melanjutkan pekerjaannya dengan teliti. Ia memetik buah-buah matang, menanam bibit baru, dan memastikan ternaknya kenyang.

Meski ia takut pada Vani, rasa cintanya pada keluarga kecil ini adalah kekuatan yang sebenarnya. Ia bekerja tanpa menyadari bahwa ia sedang diawasi oleh musuh-musuh dari masa lalunya.

"Vani, ayamnya sudah kubersihkan. Mau dimasak sekarang atau nanti?" tanya Ferdi dari ambang pintu dapur, suaranya sangat hati-hati.

"Nanti! Tunggu Silvia tidur dulu! Kau ini tidak lihat aku sedang apa?!" jawab Vani ketus dari teras.

Ferdi menghela napas, duduk di kursi dapur sambil menatap telur-telur ayam yang ia kumpulkan tadi. "Baiklah... aku akan menunggu."

Di luar sana, para utusan dewa mulai bergerak perlahan, memperkecil lingkaran pengintaian mereka. Tangisan Silvia yang terdengar dari pagi hingga siang tadi telah menjadi mercusuar yang memandu mereka tepat ke depan pintu rumah Ferdi. Kedamaian yang dibangun dengan omelan dan kerja keras itu, kini berada di ujung tanduk.

Namun mereka merencanakannya besok saat Vani pergi ke pasar dan saat Silvia tertidur dan Ferdi sedang bertani.

"kita lakukan besok saja!"seru panglima pengintai tersebut

"siap bos " kata para anak buahnya

1
Anonymous
jadi kerajaan luxeria itu penuh dengan sejarah yaa
fernan Do: yup saya memang sengaja membuat bab 1 agar langsung berkonflik nah nanti di bab bab special bakal terungkap mengapa mereka berperang dan konflik konflik terdahulu
total 1 replies
Anonymous
ceritanya penuh plot wist yaa ternyata
fernan Do: hehe iyaa agar tidak terlalu sejalan harus ada kejutan juga kak
total 1 replies
Anonymous
lanjut besok yaaaa🙏😍
fernan Do: oke kak terimakasih sudah mau baca yaa saya akan upload setiap hari cerita saya hehe🙏🙏🙏😍
total 1 replies
Anonymous
semangat autor
Ahmad Muhajir
semangat thor wkwkwk
fernan Do: yoii bang semangat juga bang 🙏🙏🙏💪
total 1 replies
Anonymous
wahh aku tau niat Ferdi baik namun dia malah buat Vani khawatir
Anonymous
disini Ferdi seperti ingin sekali membuat Vani bahagia namun dia malah membuat Vani ngomel ngomel🤣
fernan Do: hahaha betul sekali Ferdi terlihat konyol padahal dia adalah raja kuat dahulu
total 1 replies
Anonymous
bagus ceritanya sedikit nyambung cuman aku harap bisa diperbaiki yaa semangat
fernan Do: makasih saya akan memperbaiki kesalahan saya dan membuatnya lebih baik lagi terima kasih yaa 🙏😍😍
total 1 replies
fernan Do
semangat
fernan Do
semangat meskipun gada yang liat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!