Anela adalah janda muda beranak satu yang telah belajar bangkit setelah pernikahan pertamanya hancur karena pengkhianatan. Hidup mandirinya membawanya menjadi wanita dewasa yang kuat, anggun, dan memikat—dengan aura sensual alami yang membuatnya mudah menarik perhatian pria.
Rico adalah pembasket terkenal, tampan, kaya, dan dominan dalam cara yang tenang namun penuh karisma. Pertemuan mereka dimulai dari satu malam yang penuh ketegangan hasrat dan rasa penasaran yang sulit dijelaskan.
Apa yang awalnya hanya percikan gairah berubah menjadi hubungan yang semakin dalam—dipenuhi tarikan emosional, ketegangan hasrat, dan keinginan untuk memiliki satu sama lain di tengah dunia mereka yang berbeda. Namun cinta mereka harus menghadapi masa lalu, tekanan karir, dan kenyataan bahwa cinta panas tidak selalu mudah untuk dipertahankan.
Semakin mereka mendekat, semakin kuat pula rasa ingin memiliki… dan semakin berbahaya cinta yang mereka sembunyikan dari dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENJELASAN
Mobil Anela meluncur keluar dari parkiran mall dengan gerakan agak terlalu cepat.
Ia bahkan tidak menyalakan musik.
Kepalanya penuh.
Bayangan ciuman itu terus muncul seperti iklan yang tidak bisa di-skip.
Wanita itu memegang wajah Rico dengan cara yang terlalu akrab.
Bukan seperti orang baru kenal.
Bukan seperti rekan kerja.
Lebih seperti… seseorang yang pernah sangat dekat.
Anela menggertakkan gigi pelan.
“Brengsek.”
Ia memukul setir pelan.
Tentu saja.
Tipe laki-laki seperti Rico pasti punya sejarah perempuan sepanjang musim liga.
Atlet.
Tampan.
Terkenal.
Tubuhnya seperti dibuat khusus untuk bikin perempuan kehilangan akal sehat.
Dan bodohnya… Anela juga hampir ikut kehilangan akal.
Ia mengingat malam sebelumnya.
Cara Rico menatapnya.
Cara pria itu menyentuhnya dengan penuh perhatian—bukan terburu-buru seperti laki-laki yang hanya ingin menaklukkan.
Justru itu yang membuatnya makin kesal sekarang.
Kalau Rico hanya brengsek biasa, mungkin Anela tidak akan peduli.
Tapi Rico terlalu… meyakinkan.
Terlalu hangat.
Terlalu membuatnya merasa diinginkan.
Dan sekarang ternyata pria itu bisa saja mencium perempuan lain di café mall seperti itu.
“Bagus. Aktor juga ternyata,” gumam Anela sinis.
Ia memutuskan satu hal saat mobilnya berhenti di lampu merah.
Cukup.
Rico masuk ke kategori laki-laki yang tidak boleh terlalu dekat dengan hidupnya.
Ia sudah pernah menikah dengan pria yang tampak sempurna di luar tapi berantakan di dalam.
Ia tidak akan mengulang kesalahan yang sama.
Tidak untuk atlet playboy dengan senyum berbahaya.
Tidak peduli seberapa… luar biasa malam itu terasa.
Anela menelan ludah.
Ia benci mengakuinya, tapi tubuhnya masih ingat.
Sensasi itu.
Koneksi yang jarang ia rasakan bahkan selama pernikahannya dulu.
“Ugh. Stop,” gumamnya kesal pada dirinya sendiri.
Lampu berubah hijau.
Mobilnya melaju.
Di saat yang sama—
Ponselnya berbunyi.
Nama di layar membuatnya langsung memutar mata.
Rico.
Anela menatap layar beberapa detik.
Biarkan saja.
Panggilan itu berhenti.
Lalu muncul pesan.
Rico:
Where are you?
Anela tertawa kecil.
Berani juga dia.
Ia mengetik balasan cepat.
Anela:
Tidak penting.
Beberapa detik.
Typing…
Rico:
Kamu di mall tadi?
Jantung Anela berdetak lebih cepat.
Oh.
Jadi dia sadar.
Bagus.
Ia mengetik tanpa ragu.
Anela:
Iya.
Typing muncul lagi.
Lama.
Seperti Rico sedang memilih kata.
Lalu pesan masuk.
Rico:
Itu bukan seperti yang kamu pikir.
Anela langsung tertawa pendek.
Klasik.
Kalimat paling basi di dunia laki-laki.
Ia mengetik:
Anela:
Tenang aja. Aku gak mikir apa-apa.
Pause.
Lalu tambahan:
Anela:
Karena aku gak peduli.
Beberapa detik tidak ada balasan.
Lalu—
Ponselnya berdering lagi.
Rico menelepon.
Anela menatap layar.
Tidak diangkat.
Berdering lagi.
Tidak diangkat.
Ketiga kalinya.
Ia mematikan suara.
Lima menit kemudian ponselnya berbunyi lagi.
Pesan baru.
Rico:
Anela. Dengerin dulu.
Rico:
Please.
Anela memutar mata.
“Wow. Atlet nasional pakai kata please.”
Ia hampir tidak membalas.
Hampir.
Tapi bagian kecil dalam dirinya—yang masih penasaran dengan pria itu—mendorong jarinya mengetik.
Anela:
Kalau mau jelasin, jelasin ke perempuan yang kamu cium tadi.
Send.
Beberapa detik.
Lalu muncul balasan.
Rico:
Dia mantan.
Anela mendengus.
Tentu saja.
Semakin klise.
Ia tidak membalas lagi.
Beberapa menit kemudian, pesan baru muncul lagi.
Rico:
Dia yang nyium duluan.
Pause.
Rico:
Dan kamu kabur sebelum aku sempat jelasin.
Anela menggeleng.
“Ya ampun.”
Ia tidak tahu mana yang lebih mengganggu—
Fakta bahwa Rico mungkin memang playboy…
Atau fakta bahwa sebagian dirinya masih ingin mendengar penjelasan pria itu.
Karena satu hal yang membuatnya semakin kesal adalah ini:
Ia tidak pernah merasakan chemistry seperti itu sebelumnya.
Bukan hanya fisik.
Ada sesuatu yang menggebu.
Liar.
Dan entah kenapa… terasa nyata.
Masalahnya?
Pria seperti Rico jarang datang dengan hubungan yang rapi.
Dan Anela tidak mau lagi masuk ke hubungan yang setengah-setengah.
Ia ingin sesuatu yang serius.
Stabil.
Bukan drama atlet dengan mantan yang masih berkeliaran.
Ponselnya berbunyi lagi.
Pesan terakhir malam itu.
Rico:
Kamu boleh marah.
Pause.
Rico:
Tapi jangan pura-pura aku bukan apa-apa.
Jantung Anela berdetak lebih keras.
Ia menatap layar cukup lama.
Lalu mengunci ponselnya.
“Sayangnya, Rico…”
gumamnya pelan di dalam mobil.
“…aku lagi belajar gak jatuh ke pria yang terlalu seksi buat dipercaya.”
Namun yang tidak Anela tahu—
Di sisi lain kota—
Rico sedang duduk di mobilnya dengan rahang tegang, menatap layar ponsel yang tidak lagi mendapat balasan.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun dikelilingi perempuan—
Ia merasa seperti sedang mengejar seseorang yang benar-benar tidak mudah ditaklukkan.
Dan entah kenapa…
Itu justru membuatnya semakin menginginkan Anela.
Bukan hanya tubuhnya.
Tapi perempuan keras kepala, yang berani menutup pintu di wajahnya.
Perempuan yang semakin cantik saat dia tertawa, Perempuan yang semakin sexy saat tersenyum,
Perempuan yang semakin menggemaskan dengan jokes nakalnya.
________