NovelToon NovelToon
Putri Posesif Tuan Gavin & Dokter Bedah Misterius

Putri Posesif Tuan Gavin & Dokter Bedah Misterius

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / CEO / Berbaikan / Cinta pada Pandangan Pertama / Enemy to Lovers
Popularitas:14.9k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

Novel ini adalah sekuel dari novel yang berjudul: Dinikahi Sang Duda Kaya yang sudah tamat sebelumnya.

Alea Ardiman, "The Smiling Shark" yang jenius namun anti-cinta, harus berurusan dengan dr. Rigel Kalandra setelah jatuh pingsan. Rigel, dokter bedah saraf yang dingin, adalah satu-satunya pria yang berani membanting laptop kerja Alea dan mengabaikan ancaman kekayaannya.
​"Simpan uang Anda, Nona Alea. Di ruangan ini, detak jantung Anda lebih penting daripada Indeks Harga Saham Gabungan."
​Alea merasa tertantang, tanpa menyadari bahwa Rigel sebenarnya adalah pewaris tunggal konglomerat farmasi sekaligus "Investor Paus" yang diam-diam melindungi perusahaannya. Ketika Ratu Saham yang angkuh bertemu Dokter Sultan yang diam-diam bucin, siapakah yang akan jatuh cinta duluan di bawah pengawasan ketat Papa Gavin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Bubur Ayam & Gengsi

​​"Ini apaan? Lem kertas?"

​Alea menatap nampan makanan di hadapannya dengan tatapan jijik yang tidak ditutup-tutupi. Di dalam mangkuk keramik putih itu, terdapat gumpalan bubur saring berwarna putih pucat tanpa topping sedikit pun. 

Tidak ada ayam suwir, tidak ada kacang, apalagi kerupuk. Hanya bubur polos dan kuah bening yang menyedihkan.

​"Bubur saring. Proteinnya dari ikan gabus yang sudah diblender halus," jawab Rigel datar sambil menarik kursi mendekat ke ranjang.

​"Gila ya? Gue ini CEO, bukan bayi panti asuhan! Gue bayar kamar VVIP puluhan juta semalam cuma buat dikasih makan lem tikus begini?" protes Alea, mendorong nampan itu menjauh. "Ganti! Gue mau steak wagyu medium rare. Atau minimal sop buntut hotel Borobudur!"

​"Lambung kamu itu lagi luka parah, Alea. Dindingnya tipis kayak kertas tisu kena air. Kalau kamu paksa masukin daging merah sekarang, siap-siap saja muntah darah lagi," Rigel menahan nampan itu agar tidak jatuh, lalu mengambil mangkuk buburnya.

​"Bodo amat! Gue nggak nafsu. Bawa pergi!" Alea memalingkan wajah, melipat tangan di dada dengan angkuh.

​Rigel menghela napas pendek. Dia meletakkan mangkuk di tangan kiri, dan sendok di tangan kanan.

​"Oke. Kamu punya dua pilihan," ucap Rigel dingin.

​Alea menoleh sinis. "Apa? Mati atau diam lagi? Basi ancaman lo."

​"Bukan. Pilihannya: makan ini lewat mulut baik-baik, atau saya pasang selang NGT lewat hidung kamu sampai masuk ke lambung. Prosesnya sakit, bikin mual, dan selangnya bakal nempel di muka cantik kamu seharian. Mau yang mana?"

​Mata Alea membelalak horor. Dia tahu prosedur itu. Dia pernah melihatnya di film dan itu terlihat mengerikan.

​"Lo... lo ngancem gue terus sih jadi dokter!"

​"Saya nggak ngancem. Saya kasih opsi medis. Hitungan ketiga. Satu."

​Rigel menyodorkan sendok berisi bubur itu ke depan mulut Alea.

​"Dua."

​Alea menggeram kesal. Harga dirinya rasanya diinjak-injak. Tapi membayangkan selang plastik masuk lewat hidungnya jauh lebih menakutkan. Dengan sangat terpaksa, Alea membuka mulutnya sedikit.

​"Aaa..." Rigel menyuapkan bubur itu.

​Alea mengunyah—atau lebih tepatnya melumat—bubur hambar itu dengan wajah seperti orang menelan racun.

​"Pinter," puji Rigel, nadanya terdengar seperti memuji anak TK.

​"Rasanya kayak air kobokan," gerutu Alea setelah menelan.

​"Mulut kamu yang pait. Asam lambung naik bikin lidah mati rasa," Rigel meniup sendok kedua dengan sabar sebelum menyodorkannya lagi. "Lagi. Habisin setengah mangkuk baru boleh stop."

​Alea hendak protes, tapi melihat tatapan tajam Rigel di balik kacamata itu, nyalinya menciut lagi. Ada sesuatu dari cara Rigel menatapnya yang membuatnya menurut. Dominasi pria itu begitu natural, tidak dibuat-buat.

​Tanpa sadar, Alea mulai menikmati—bukan buburnya, tapi perhatiannya. Rigel menyuapinya dengan telaten. 

Dia bahkan sigap mengelap sudut bibir Alea dengan tisu setiap kali ada sisa bubur yang menempel, gerakannya lembut dan hati-hati, kontras dengan mulut pedasnya.

​Jantung Alea berdesir aneh. Biasanya laki-laki mendekatinya dengan membawa bunga atau tas mewah. Tapi pria ini... cuma modal bubur hambar dan tisu, kenapa Alea merasa diperlakukan bak ratu?

​"Alea!"

​Suara bariton yang berat dan penuh kekhawatiran memecah momen hening itu. Pintu kamar VVIP terbuka lebar dengan kasar.

​Dua sosok paruh baya yang masih terlihat sangat mempesona melangkah masuk dengan tergesa-gesa.

​Gavin Ardiman. Meski rambutnya sudah mulai memutih di bagian pelipis, aura kekuasaan dan ketampanannya makin matang di usia lima puluhan. Dia masih mengenakan coat panjang khas musim dingin Eropa, wajahnya panik luar biasa.

​Di sampingnya, Kiana Elvaretta berjalan anggun. Di usia empat puluh tujuh tahun, wanita itu seolah menolak tua. Kulitnya masih kencang, tubuhnya ramping berbalut dress mahal dan scarf sutra. Matanya yang cerdas langsung memindai seluruh ruangan dalam hitungan detik.

​"Papa? Mama?" Alea tersedak buburnya saking kagetnya. "Uhuk!"

​Rigel dengan sigap menepuk punggung Alea pelan, lalu memberikan air hangat.

​"Minum dulu. Pelan-pelan," perintah Rigel lembut, mengabaikan kehadiran dua konglomerat di belakangnya.

​Gavin langsung menerjang ke sisi ranjang, menatap putri sulungnya dengan mata berkaca-kaca.

​"Ya Tuhan, Kakak! Kamu kenapa bisa sampai muntah darah?! Papa kan udah bilang jangan forsir kerja! Kamu mau bikin Papa jantungan di pesawat?!" cerocos Gavin sambil memegang wajah Alea, ngecek suhu tubuh anaknya itu dengan tangan gemetar. "Siapa yang suruh kamu kerja rodi? Bilang sama Papa, biar Papa bakar kantornya!"

​"Pa, astaga... Alea oke, kok. Cuma telat makan dikit," Alea berusaha menenangkan ayahnya yang overdramatic.

​"Telat makan dikit apanya? Laporan Zahra bilang kamu pingsan di ruang rapat!" Gavin menoleh ke arah Rigel dengan tatapan menyelidik tajam. Insting predatornya keluar. "Dan kamu siapa? Kenapa kamu suapin anak saya?"

​Rigel meletakkan mangkuk bubur di meja dengan tenang. Dia berdiri tegak, tingginya hampir menyamai Gavin. Dia tidak menunduk, tidak gugup. Dia menatap balik mata Gavin dengan sopan namun berani.

​"Saya dr. Rigel. Dokter penanggung jawab Alea," jawab Rigel tegas. "Alea dehidrasi berat dan lambungnya iritasi. Dia menolak makan sendiri, jadi saya harus memastikan nutrisinya masuk. Ada masalah, Pak?"

​Gavin menyipitkan mata. Biasanya, dokter-dokter muda akan gemetar atau membungkuk hormat padanya. Tapi anak muda ini... tatapannya tenang sekali.

Terlalu tenang.

​"Kamu tau siapa anak saya?" tanya Gavin intimidatif.

​"Tahu. Pasien yang paling susah diatur di bangsal ini," jawab Rigel jujur.

​Alea melotot. "Heh! Dokter Kulkas! Mulutnya ya!"

​Kiana, yang sedari tadi diam mengamati interaksi itu, melangkah maju. Dia menyentuh lengan Gavin pelan untuk menenangkannya.

​"Sudah, Vin. Jangan marahin dokternya. Dia justru lagi ngerjain tugas kita," ucap Kiana lembut, tapi matanya menatap Rigel dengan binar geli yang tersembunyi.

​Kiana melihat sisa bubur di sudut bibir Alea yang belum sempat dilap, dan melihat bagaimana tangan Rigel masih reflek memegang gelas air di dekat tangan Alea—berjaga-jaga kalau Alea tersedak lagi. Bahasa tubuh yang sangat protektif.

​Dan yang lebih mengejutkan Kiana adalah Alea. Putri tirinya yang biasanya galak dan anti diatur laki-laki, barusan diam saja disuapi paksa.

​"Maaf ya, Dokter Rigel. Suami saya memang panikan kalau soal anak gadisnya," kata Kiana ramah, mengulurkan tangan.

​Rigel menyambut uluran tangan Kiana sopan. "Tidak masalah, Bu. Wajar orang tua khawatir. Tapi Alea butuh istirahat total sekarang. Tolong jangan diajak bicara soal bisnis dulu."

​"Tentu," Kiana tersenyum.

​Rigel mengangguk singkat. "Kalau begitu saya permisi dulu. Nanti saya cek lagi satu jam lagi. Alea, buburnya habiskan. Awas kalau dibuang."

​Setelah memberi peringatan terakhir pada Alea, Rigel melangkah keluar ruangan dengan wibawa yang tak terbantahkan.

​Gavin menatap punggung Rigel sampai pintu tertutup.

​"Songong banget tuh dokter. Berani-beraninya dia nyuruh-nyuruh Alea," gerutu Gavin, tapi nadanya tidak semarah tadi. Dia duduk di tepi ranjang, memeluk Alea lagi.

​Kiana berdiri di belakang Gavin, memijat bahu suaminya sambil menatap pintu yang baru saja tertutup. Senyum penuh arti terukir di bibir merahnya.

​Dia menunduk, membisikkan sesuatu ke telinga Gavin agar Alea tidak dengar.

​"Gavin, kayaknya anak kita ketemu pawangnya."

1
Mineaa
wkwkwkwk.....kopi ga tuh.......
aya Aya wae nich dokter satu......
Arix Zhufa
nah ini calon suami idaman....pasti klo udh nikah gk bakal pelit sama istri
Savana Liora: iya. mantap yak
total 1 replies
Arix Zhufa
mau baca cerita soal mama kiana & papa gavin ach
Savana Liora: bacalah kak. dijamin seru. dinikahi sang duda kaya judulnya
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
hati hati Alea macan mau ngamuk mending siap siap panggil pawangnya 🤣🤣
Mineaa
duiiihh..... papa gavin lg konslet kaya nya......hati hati pa.... mulutmu harimaumu....
Alea di tantangin......
papa jual......Alea beli....
Tarwiyah Nasa
waht Alea mewarisi sifat kiana
Aidil Kenzie Zie
up lagi donk tor lagi sert
Aidil Kenzie Zie
👍 Dok
Nisa Naluri
hahahahah🤣....ngakak
Bu Dewi
lanjut kak
Savana Liora: siap kk
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
kirain Rigel bakal pamer
Savana Liora: lihat lanjutannya besok. lebih daripada pamer
total 1 replies
Arix Zhufa
makin seru aja
Aidil Kenzie Zie
Papa Gavin nggak dicek dulu siapa sebenarnya dokter Rigel
Savana Liora: nantik2 katanya
total 1 replies
Arix Zhufa
ini adek tiri ya min?
Savana Liora: iya kk
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
panggil Mama Kia pawang papa Gavin
Aidil Kenzie Zie
Alea masuk jebakan Batman Arka 🤣🤣
Arix Zhufa
si arka dpt dobel untung...
Arix Zhufa
keren lo cerita nya
Arix Zhufa
gak mgkn Rigel jatuh cinta tiba2
Arix Zhufa
😄😄😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!