Arya, seorang pewaris sekte abadi yang dikhianati dan kehilangan kekuatannya, terperangkap dalam tubuh seorang "menantu benalu" yang dihina oleh keluarga istrinya di kota metropolitan modern. Dengan ingatan masa lalu dan sisa kekuatan spiritualnya, ia harus membangun ulang fondasi kekuatannya, menaklukkan dunia bisnis, melindungi wanita yang ia cintai, dan perlahan mengungkap rahasia alam semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Kehangatan Semangkuk Mi dan Ancaman dari Utara
Aroma kaldu ayam dan bawang putih yang ditumis perlahan menguar di dapur kediaman Kusuma. Jam di dinding menunjukkan pukul dua pagi.
Arya melangkah masuk melalui pintu belakang, embun malam masih menempel di jaket katunnya. Aroma darah dari markas Gagak Hitam telah ia bersihkan dengan energi spiritualnya di perjalanan pulang, namun aura dingin nan mematikan masih samar-samar tersisa di sorot matanya.
Namun, aura itu seketika mencair saat ia melihat pemandangan di depannya.
Nadia, CEO dingin yang kini mengendalikan seluruh Grup Kusuma, berdiri di depan kompor dengan rambut panjang yang dicepol asal-asalan. Ia mengenakan piyama sutra beruang yang sangat kontras dengan citra kakunya di kantor, sedang sibuk mengaduk panci berisi mi instan.
Mendengar langkah kaki, Nadia menoleh. Keterkejutan melintas di matanya, sebelum digantikan oleh kelegaan yang tak bisa ia sembunyikan.
"Kau baru pulang?" tanya Nadia pelan. Ia tidak bertanya dari mana, meski jauh di lubuk hatinya ia tahu suaminya baru saja menyelesaikan sesuatu yang berbahaya.
Arya tersenyum tipis, melangkah mendekat dan bersandar di meja dapur. "Mencari udara segar. Kenapa kau belum tidur? Ayah bilang besok pagi kau ada rapat akuisisi sisa aset pamanmu."
"Aku kelaparan. Membaca tumpukan dokumen membuatku tidak bisa tidur," jawab Nadia, menuangkan mi tersebut ke dalam dua mangkuk. Ia menyodorkan satu mangkuk yang porsinya lebih besar kepada Arya. "Makanlah. Aku tahu kau tidak hanya sekadar 'mencari udara segar'."
Arya menatap mangkuk mi yang mengepul itu. Di masa lalunya, sebagai Kaisar Abadi, ia disajikan hidangan dari daging naga suci dan anggur dewata. Namun entah mengapa, semangkuk mi instan buatan wanita di hadapannya ini terasa jauh lebih berharga.
Mereka duduk berhadapan di meja makan kecil. Keheningan menyelimuti, namun bukan lagi keheningan yang canggung dan penuh kebencian seperti tiga tahun terakhir. Ada rasa saling menghargai yang mulai tumbuh berakar.
"Arya," panggil Nadia perlahan, matanya menatap kuah mi. "Keluarga Atmaja... dan orang-orang berbaju hitam yang menyerang rumah sakit. Ayah memberitahuku bahwa semua ancaman itu tiba-tiba lenyap malam ini. Kudengar dari asistenku, Herman Atmaja melarikan diri dari Kota Emerald membawa keluarganya hanya dengan pakaian di badan."
Nadia mengangkat wajahnya, menatap lurus ke dalam mata Arya yang gelap dan tenang. "Apakah ini karena dirimu?"
Arya meletakkan sumpitnya. Ia tidak mengangguk, tapi juga tidak menyangkal. Ia mengulurkan tangannya melintasi meja, mengusap punggung tangan Nadia yang dingin.
"Nadia, aku pernah berjanji. Di kehidupan ini, aku akan menjadi langit yang melindungimu," ucap Arya dengan nada yang sangat lembut, namun memuat bobot sumpah seorang kaisar. "Selama aku bernapas, tidak akan ada satu orang pun di dunia ini yang berani membuatmu mengerutkan kening."
Wajah Nadia memerah. Jantungnya berdebar kencang dengan ritme yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Pria benalu yang dulu ia benci kini menjelma menjadi pilar tak tergoyahkan yang menopang dunianya.
"Terima kasih," bisik Nadia tulus, menunduk untuk menyembunyikan senyumnya.
Malam itu, Arya memakan habis mi tersebut hingga tetes kuah terakhir.
Keesokan paginya, Kota Emerald diguncang oleh badai tak kasat mata.
Dunia bisnis di permukaan hanya tahu bahwa Keluarga Atmaja bangkrut dan melarikan diri karena salah investasi. Namun, di dunia bawah tanah, beritanya bagaikan gempa berkekuatan sembilan skala Richter.
Sindikat Gagak Hitam, penguasa pembunuh bayaran di kota itu, rata dengan tanah dalam semalam. Pemimpin mereka ditemukan gila, terus bergumam tentang "Naga yang turun dari langit".
Di kantor pusat Emerald Group, Han Shixiong berdiri menghadap jendela kacanya, mendengarkan laporan dari tangan kanannya.
"Semua sisa-sisa properti Keluarga Atmaja telah kita akuisisi dengan harga dasar, Tuan. Dan dunia bawah kini benar-benar ketakutan. Mereka menjuluki sosok misterius semalam sebagai 'Sang Algojo Emerald'," lapor asisten tersebut.
Han Shixiong tersenyum penuh hormat. Algojo? Mereka terlalu meremehkan Guru Besar Vajra. "Bagus. Pastikan tidak ada rekam jejak yang mengarah pada Tuan Arya atau Keluarga Kusuma. Bersihkan semuanya," perintah Han.
"Namun, Tuan..." Asisten itu ragu-ragu sejenak. "Ada satu masalah. Penghancuran Gagak Hitam rupanya menarik perhatian 'Keluarga Harimau Utara' di Ibu Kota Provinsi. Gagak Hitam ternyata adalah cabang bayangan yang menyetor upeti bulanan kepada mereka."
Mata Han Shixiong menyipit. Keluarga Harimau Utara, atau Keluarga Li. Mereka bukanlah keluarga bisnis biasa seperti Atmaja. Mereka adalah Keluarga Bela Diri Kuno. Di dalam keluarga itu, terdapat para praktisi bela diri sejati yang mampu menghancurkan batu dengan tangan kosong, eksistensi yang berada di atas hukum konvensional.
Di saat yang sama, ratusan kilometer dari Kota Emerald, di sebuah paviliun bergaya Tiongkok kuno di Ibu Kota Provinsi.
Seorang pria tua dengan janggut putih panjang sedang berlatih Tai Chi di halaman. Setiap gerakannya membelah udara dengan suara whosh yang tajam, menandakan energi internal (Qi) yang sangat kental.
Seorang pria paruh baya berlutut di pinggir halaman, keringat dingin membasahi dahinya.
"Tuan Besar Li," ucap pria yang berlutut itu. "Gagak Hitam di Emerald telah dihancurkan. Menurut saksi yang tersisa, pelakunya hanya satu orang. Seorang pemuda."
Gerakan pria tua itu terhenti. Ia membuka matanya, dan seberkas niat membunuh memancar kuat.
"Menghancurkan puluhan anggota Gagak Hitam bersenjata sendirian? Pemuda itu pasti sudah menyentuh ranah Grandmaster bela diri internal," gumam Tuan Besar Li. "Berani sekali dia memotong tangan kananku di wilayah Selatan."
Tuan Besar Li menoleh pada pria yang berlutut. "Kirimkan Tiga Serigala Li ke Kota Emerald. Bawa pemuda itu ke hadapanku hidup-hidup. Jika dia melawan, patahkan seluruh tulang tubuhnya. Biarkan kota kecil itu tahu, siapa penguasa sebenarnya di provinsi ini!"