Janu Manggala adalah seorang pemuda polos yang tak menyadari bahwa dirinya memiliki kesaktian Tiada Tanding... Segala jenis pusaka tunduk di hadapannya, ucapannya langsung menjadi kenyataan, dan orang orang yang menunjukan kesaktiannya di mata Janu mereka hanyalah orang gila...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abdul Rizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wijoyo dan dunia lain
Pria paruh baya itu membuka matanya secara perlahan, dia langsung memandangi wajah Janu yang ada di sana.
Haaa!
Pria paruh baya yang tampak seperti gembel atau pertapa itu kaget.
Haaa!
Janu juga kaget. Keduanya berteriak satu sama lain. Setelah beberapa detik berlalu akhirnya keduanya diam.
"Siapa kamu kakek tua?" Tanya Janu yang berada di sana..
Kemudian keduanya terdiam saling memandang. Suasana berangsur tenang.
Janu kemudian melemparkan kayunya kesamping, sebab menurutnya pria ini bukanlah orang gila, melainkan seorang pertapa.
Janu buru buru berucap kepada pria yang ada di depannya ini, "maafkan saya pak, saya tidak tahu kalau anda sedang bertapa di tempat ini." Ucap Janu dengan tulus.
Pria paruh baya itu tak langsung menjawab Janu, melainkan memandangi Janu dari atas sampai bawah.
Dia sedikit menganggukan kepalanya.. dalam hatinya pria paruh baya itu berucap, "sungguh kasihan, bagaimana mungkin manusia biasa seperti orang ini, yang memiliki sopan santun, di kirim menuju dunia lain yang tidak ada jalan keluarnya ini?"
"Apakah dia memiliki salah yang begitu besar? Siapa orang yang tega mengirimnya datang ketempat ini?" Imbuhnya dalam hati.
Pria itu menghirup udara dalam dalam.
Uhuk! Uhuk!
Dia batuk, karena dia lupa udara di tempat ini adalah udara yang sangat pengap..
Buru buru dia menghentikan batuknya dan langsung berucap, "nak, siapa kamu? Mengapa kamu ada di tempat ini?"
"Perkenalkan nama aku adalah Wijoyo.." imbuhnya.
"Apakah kamu tahu tempat apa yang kamu datangi ini?" Tanya Wijoyo.
Janu tersenyum, "tentu saja tahu, Pak Wijoyo."
"Ah ya! Perkenalkan nama saya Janu Manggala. Tempat ini adalah tempat khusus!" Jawab Janu.
Ketika mendengar hal ini, Wijoyo menganggukan kepalanya. Memang benar ini adalah tempat khusus, tempat orang orang di masukan ke dalam dunia lain dan tidak akan ada jalan keluar. Tempat buangan para bajingan yang mendapatkan hukuman mati.. secara perlahan orang yang terkurung di sini pasti akan mati, dan akan menjadi tumbal Sang Bethari Panggodo Pangrencono sosok yang menguasai tempat ini.
Tiba tiba Wijoyo merasakan keanehan dari ekspresi yang di tunjukan Janu, "tunggu, mengapa kamu tampak bahagia?" Tanya Wijoyo yang kaget mendengar nada bicara Janu yang terkesan senang.
Janu sedikit bingung, "memangnya ada apa, Pak? Bukankah ini adalah tempat wisata?" Tanya Janu.
Seketika itu juga Wijoyo terhuyung huyung kebelakang, kepalanya hampir menubruk pohon yang ada di belakangnya..
Kemudian Wijoyo menjatuhkan rahangnya menatap ke arah Janu, "tempat Wisata? Apakah kamu gila!" Ucap Wijoyo.
Wijoyo benar benar kaget ketika mendengar ini, tempat ini adalah dunia lain tanpa jalan keluar. Jauh sekali dari unsur tempat wisata. Sangat konyol sekali apabila ada orang yang datang ke tempat ini dengan mengatakan ini adalah tempat wisata!
Tidak ada yang bisa di harapkan di tempat ini, hanya kematian perlahan yang merenggut jiwa semua orang yang terjebak di dalam tempat ini.
Kesengsaraan yang di hindari semua orang.
Janu sedikit bingung dengan apa yang di ucapkan oleh Wijoyo. Kemudian Janu mengingat kembali bahwa Wijoyo ini adalah seorang petapa.
"Ah aku tahu!" Ucap Janu dalam hatinya, "sepertinya Pak Wijoyo ini menganggap tempat ini sebagai tempat sakral, namun sepertinya pembangun Villa gratis itu membangun villa yang mepet dengan tempat ini."
Janu menggaruk kepalanya, "saya hanya menghadiri undangan... saya sebenarnya tidak tahu tentang detail tempat ini.." jawab Janu dengan sungkan.
Wijoyo menegang mendengar apa yang di ucapkan Janu ini. Terlebih lagi masuk ke tempat ini tak bisa sembarangan, seorang harus membaca mantra sakral.
Itu kunci untuk masuk ke tempat ini, kunci masuk yang tak bisa di gunakan sebagai kunci keluar.
"Sangat aneh.." ucap Wijoyo, "apakah kamu benar benar datang ke tempat ini untuk berwisata?" Tanya wijoyo.
"Tentu saja!" Jawab Janu, "apakah kamu tidak melihat motorku?"
Seketika itu juga Wijoyo kembali terhuhung huyung kebelakang.
"Sialan, kamu benar benar membawa motor ke tempat seperti ini?" Ucap Wijoyo yang kaget bukan main ketika melihat barang modern itu ada di tempat ini.
Kemudian Wijoyo menatap motor itu dengan ekspresi serius, "sepertinya keluaran terbaru..." ucap Wijoyo yang belum pernah melihat motor seperti itu.
Janu terlihat bingung ingin menjawab seperti apa.
Wijoyo kemudian berucap, "tinggalah di sini, setidaknya di sini aku bisa melindungimu..." ucap Wijoyo dengan ekspresi tulus. Wijoyo benar benar ingin menyelematkan pria polos ini dari kematiannya.
"Hah?" Janu menggaruk kepalanya dengan ekspresi heran, "melindungi dari apa?" Tanya Janu.
Wijoyo kembali mengedutkan matanya memandangi Janu ini, "apakah orang ini tidak merasakan betapa pengapnya udara di tempat ini?" Tanya Wijoyo dalam hatinya.
"Apakah orang ini tidak merasakan, bahwa di tempat ini banyak sekali hal hal janggal?" Wijoyo benar benar bingung dengan pemuda polos yang ada di depannya ini.
"Aku akan terus saja, aku mencari bangunan atau villa di sekitar tempat ini." Ucap Janu.
Ketika mendengar hal ini seketika Wijoyo berucap, "kamu ingin pergi dari tempat ini?" Wijoyo terlihat menegang.
"Nak, apakah kamu ingin masuk ke dalam pondok kayu yang ada di pinggiran danau itu?" Tanya Wijoyo.
Janu termenung ketika mendengar apa yang di ucapkan oleh Wijoyo ini, "pondok kayu pinggir danau?" Janu berpikir, "apakah itu villanya?"
Janu menganggukan kepalanya, "benar, aku ingin kesana!"
"Hah?!!!" Wijoyo tercengang, "apakah kamu benar benar sudah gila!"
Janu merasa semakin aneh ketika dekat dekat dengan Wijoyo ini, "apakah pertapa ini terlalu banyak bertapa sehingg menjadi sedikit aneh?" Tanya Janu dalam hatinya.
Janu tak banyak berpikir, dia langsung berucap, "pak Wijoyo, sepertinya anda lelah, saya sepertinya mengganggu istirahat anda. Lebih baik saya teruskan perjalanan saya. Permisi." Ujar Janu yang langsung pamit.
Secara mengejutkan Wijoyo tak menghentikan Janu sama sekali. Wijoyo hanya diam dan memandangi Janu.
Sambil menghela nafas panjang Wijoyo berucap, "sayang sekali, pemuda polos ini ingin mati!"
***
Janu terlihat kesulitan menjalankan motornya karena tak cocok dengan medan hutan ini.
"Sialan, lebih baik aku istirahat sebentar!" Ucap Janu sambil menghentikan motornya kemudian duduk di bawah pohon untuk istirahat sejenak.
"Eh... apa itu?!" Ucap Janu yang tiba tiba langsung berdiri. Memandangi selendang merah yang tiba tiba menghilang di balik pohon.
Janu mendekati ke arah pohon tersebut untuk melihat apa yang terjadi.
Hap!
Ketika Janu berada di balik pohon ia tak melihat apapun.
"Hmm... apakah hanya halusinasiku saja?" Tanya Janu sambil menggaruk kepalanya dengan ekspresi heran. Dia yakin sekali melihat sebuah selendang yang menghilang.
Apa yang tak di ketahui Janu, di balik pohon lainnya sebuah selendang merah tiba tiba berubah menjadi wanita cantik dengan wajah pucat ketakutan.
"A... aku-- aku.. aku hampir saja mati!" Batinnya dengan panik.