Bagaimana rasanya dihancurkan oleh orang-orang yang seharusnya melindungimu? Dari orang tua yang egois hingga 'cinta' yang berujung pada tindak kriminal dan hilangnya kehormatan. Novel ini adalah perjalananku menghadapi kenyataan bahwa dunia tidak pernah adil. Tentang bagaimana berdiri di antara pengkhianatan keluarga dan trauma masa remaja yang merusak harga diri. Saat pintu-pintu baru mulai terbuka, justru ingin lari. Karena tahu, tidak semua yang datang berniat menyembuhkan beberapa mungkin hanya ingin mematahkan apa yang sudah retak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjelisitinjak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 17
Kenangan pahit itu tiba-tiba menyeruak, memaksa masuk ke sela-sela kebahagiaan wisudaku malam ini. Aku memejamkan mata, dan seketika aku terlempar kembali ke ruang tamu rumah lama kami, tujuh tahun yang lalu.
Suasananya begitu mencekam.
Flasback on
Mama duduk bersimpuh di lantai sambil terisak hebat, memegangi kedua tanganku yang gemetar karena amarah dan ego masa muda.
"Hana, dengerin Mama, Nak..." suara Mama parau, matanya sembab menatapku penuh permohonan.
"Mama cuma mau kamu bahagia. Mama nggak mungkin membiarkan kamu menghabiskan sisa hidupmu dengan lelaki seperti itu. Dia nggak punya masa depan yang jelas, Hana! Semua orang di lingkungan itu tahu siapa dia... pengonsumsi obat-obatan terlarang, hidupnya berantakan. Apa kamu mau hancur bersamanya?"
"Tapi aku cinta sama dia, Ma! Mama nggak ngerti!" teriakku histeris saat itu, buta oleh perasaan yang kukira adalah segalanya.
Brak!
Papa menggebrak meja, berdiri dengan wajah merah padam. Amarahnya meluap, sesuatu yang jarang kulihat sebelumnya.
"Cinta?! Kamu bilang itu cinta?!" suara Papa menggelegar, menunjuk ke arahku.
"Kamu itu masih di bawah umur, Hana! Kamu belum tahu apa-apa! Kamu belum bisa membedakan mana cinta yang tulus dan mana obsesi yang cuma bakal merusak masa depanmu! Lelaki itu cuma membawa pengaruh buruk, dan Papa nggak akan sudi menyerahkan putri Papa pada orang seperti dia!"
Mama semakin emosi, ia berdiri dan mengguncang bahuku.
"Dia sudah merenggut kehormatanmu, dia membawa kamu lari dari rumah ini, dan sekarang kamu masih membelanya? Dimana hati nurani kamu sebagai anak, Hana? Kamu mau kami mati karena menanggung malu?!"
flashback off
Kejadian itu... perdebatan yang berakhir dengan tangisan dan pengusiran itu, adalah awal dari keruntuhan keluargaku. Aku ingat betapa keras kepalanya aku saat itu, menganggap orang tuaku sebagai musuh, tanpa menyadari bahwa mereka sedang berusaha menarikku dari tepi jurang yang sangat dalam.
Kini, duduk di kamarku yang baru, di kota yang berbeda, aku baru menyadari betapa benarnya ucapan mereka. Wira memang menghancurkanku. Namun, rasa bersalah karena pernah melawan orang tua sedahsyat itu masih sering menghantuiku di tengah malam seperti ini.
Aku menyandarkan punggungku di pintu kamar, membiarkan dinginnya kayu meresap ke kulitku. Ingatan tentang kemarahan Papa dan tangisan Mama tadi terasa sangat mencekam, tapi ada sisi lain yang mereka tidak pernah pahami.
Sisi yang membuatku begitu kukuh mempertahankan Wira saat itu.
Jauh sebelum badai besar itu datang rumah ini sudah lebih dulu menjadi neraka bagiku.
Aku masih ingat jelas, bertahun-tahun yang lalu, meja makan ini bukanlah tempat penuh tawa seperti tadi malam.
Meja ini adalah saksi bisu piring-piring yang beradu dengan bentakan. Papa dan Mama bisa bertengkar hebat hanya karena masalah sepele garam yang kurang, jemputan yang terlambat, atau tagihan yang membengkak. Mereka tidak segan saling memaki di depanku, seolah aku hanya pajangan tak bernyawa di sudut ruangan.
Aku tumbuh besar dengan rasa lapar akan kasih sayang yang tak pernah terpenuhi. Aku haus akan perhatian, tapi mereka terlalu sibuk dengan ego masing-masing.
Lalu, Wira datang.
Di saat aku merasa duniaku runtuh, Wira ada di sana. Dia adalah orang pertama yang mendengarkan ceritaku tanpa menghakimi. Dia adalah "obat" bagi kesepianku yang akut. Saat aku menangis karena mendengar Papa dan Mama bertengkar di lantai bawah, Wira akan menungguku di ujung gang, memberiku pelukan yang tidak pernah kudapatkan di rumah.
"Jangan nangis, Han. Ada aku di sini," bisiknya waktu itu, dan aku percaya padanya lebih dari aku percaya pada siapa pun di dunia ini.
Dia memberiku dunia yang berbeda, dunia yang penuh warna meski perlahan warna itu mulai menggelap karena pengaruh lingkungan dan gaya hidupnya.
Bagiku saat itu, lebih baik hancur bersama Wira daripada mati perlahan dalam kedinginan di rumah sendiri. Itulah yang membuatku buta. Aku mencari perlindungan di tempat yang salah, pada orang yang justru menarikku ke dalam jurang yang lebih dalam.
Aku menatap ijazahku yang tergeletak di atas meja.
Aku sudah berhasil pulang ke rumah yang sekarang penuh cinta ini. Papa dan Mama sudah berubah, mereka sudah damai. Tapi apakah aku bisa benar-benar melupakan laki-laki yang pernah menjadi satu-satunya tempatku bersandar saat mereka sendiri yang menghancurkanku?
Aku memejamkan mata rapat-rapat mencoba mengusir sesak yang mendadak menghimpit paru-paruku. Getaran itu...
sialnya masih ada. Jauh di lubuk hatiku yang terdalam ada bagian dari diriku yang masih menginginkan Wira, masih merindukan sosok yang dulu menjadi satu-satunya tempatku bersembunyi.
Tapi di saat yang sama, luka yang dia torehkan terlalu lebar untuk diabaikan.
Aku teringat percakapan terakhir kami sesaat sebelum duniaku benar-benar gelap.
"Wir, aku rindu kamu entah kenapa aku rindu..aku lemas banget. Dokter bilang kandunganku lemah, aku stres menghadapi Papa dan Mama setiap hari," ucapku sambil terisak, memohon sedikit simpati dari satu-satunya laki-laki yang seharusnya melindungiku.
Bukannya kata-kata penenang, yang kudengar justru tawa hambar yang menyakitkan di seberang sana.
"Kandungan lemah?"
bentaknya, suaranya terdengar kasar dan itu pertama kali dia kasar padaku.
"Halah kamu terlalu cengeng han, lagian untuk apa kamu ngehubungin aku cuma buat bilang itu? Lagian, aku juga nggak yakin itu anakku. Kalau memang itu anakku, nggak mungkin aku dipenjara secepat ini. Mungkin kamu sengaja laporin aku atau main sama cowok lain di belakangku, hah?!"
Hatiku hancur berkeping-keping saat itu. Aku terisak, tak mampu lagi mengeluarkan kata-kata. Sakit hati? Itu bahkan tidak cukup menggambarkan apa yang kurasakan.
Dia adalah laki-laki pertama dan satu-satunya yang pernah menyentuhku, yang sudah mengambil segala yang kupunya, namun dia justru meragukan darah dagingnya sendiri hanya karena egonya yang terluka di balik jeruji besi.
Dia tidak pernah mau tahu betapa hancurnya aku saat itu. Terjepit di antara orang tuaku yang menatapku dengan kebencian dan dia yang justru menuduhku dengan kejam. Aku tidak punya tempat untuk berpaling. Setiap pilihan yang kuambil terasa salah. Jika aku memilih dia, aku menjadi anak durhaka. Jika aku memilih orang tuaku, aku dianggap mengkhianati cinta.
Aku hanya bisa menangis saat itu, sendirian di kamar yang gelap, meratapi nasib janin di rahimku yang perlahan-lahan kehilangan detak jantungnya karena ibunya sudah tidak punya keinginan untuk hidup.
Kini, di malam wisudaku yang indah ini, aku bertanya-tanya Apakah Wira yang sekarang mengirimiku pesan rindu adalah Wira yang sama dengan yang menghancurkan mentalku waktu itu? Ataukah penjara telah mengubahnya?
Ponselku bergetar lagi. Sebuah notifikasi pesan baru muncul, tapi kali ini bukan dari Wira.
• Han, jangan lupa cuci muka ya sebelum tidur. Tadi kamu kelihatan capek banget pas diantar pulang. Mimpi indah, Lulusan Terbaik•
Aku menatap layar ponselku, mengabaikan tumpukan notifikasi dari Wira yang terasa mencekik.
Aku memilih membuka pesan dari Tomi. Entahlah, ada ketenangan yang menjalar setiap kali melihat namanya muncul. Dia seolah menjadi jangkar di tengah badai yang siap menelan pribadiku yang baru ini.
Aku mulai mengetik balasan untuknya.
📱. Hana: "Iya, Tom. Ini baru selesai beresin ijazah. Kamu juga istirahat ya, tadi kan yang paling heboh se-gedung itu kamu, pasti capek banget."
Tak butuh waktu lama, ponselku bergetar lagi.
Tomi: "Hahaha! Itu namanya selebrasi, Han. Lagian mumpung belum pusing sama dunia kerja, malam ini kita harus tidur nyenyak. Eh, tapi serius, makasih ya udah jadi bagian dari masa kuliahku yang seru ini."
Hana: "Aku yang makasih, Tom. Tanpa lelucon receh kamu, mungkin aku udah nyerah pas revisi bab empat kemarin."
Tomi: "Tenang, stok leluconku masih banyak sampai kita kerja nanti. Besok pagi rencananya aku mau cari udara segar sekalian sarapan bubur ayam legendaris dekat kampus. Kamu mau ikut? Aku jemput jam 7 ya?"
Aku menatap pesan terakhir itu cukup lama. Ada rasa ingin ikut, ingin merasakan hembusan angin pagi tanpa beban. Tapi kelelahan fisik dan emosional seharian ini benar-benar menguras tenagaku. Mataku mulai terasa sangat berat, dan rasa kantuk yang luar biasa menyerangku begitu saja.
Tanpa sadar, jempolku berhenti bergerak di atas layar. Aku tertidur lelap dengan ponsel yang masih menyala di samping bantal, membiarkan ajakan Tomi menggantung tanpa jawaban, dan ribuan pesan Wira terkunci dalam kebisuan malam.