‼️MC BERSIFAT IBLIS‼️
Langit memberinya takdir kejam, dibenci Oleh Qi, tidak memiliki dantian, bahkan tidak memiliki meridian.
Dibuang oleh ayahnya sendiri.
Sifat lembut Lu Daimeng hilang tak tersisa, digantikan oleh sifat iblis yang mengerikan.
Dia adalah anti dao, sebuah jalan yang tercipta karena perlawanan kepada langit.
Dia tidak di takdirkan untuk naik menuju puncak.
Dia di takdirkan untuk menghancurkan puncak itu sendiri.
Ini adalah kisah dari apa yang mereka sebut
ANTI DAO.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alam Rahasia Lembah Gunung Jinting 7: Harta Naga
Dunia di dalam tengkorak Lu Daimeng tidak lagi sunyi.
Dulu, pikirannya adalah perpustakaan yang tenang dan dingin, tempat dia menyusun strategi dengan logika manusia. Sekarang, perpustakaan itu telah bergabung dengan kawah gunung berapi.
Otak-nya kini bekerja dalam dua lapisan realitas.
Lapisan pertama (Korteks Manusia) menganalisis geometri gua, menghitung jarak, dan merumuskan rencana.
Lapisan kedua (Korteks Naga) merasakan getaran elektromagnetik, energi mental, mencium bau rasa takut dari kejauhan, dan memiliki dorongan purba untuk menimbun.
Lu Daimeng melangkah meninggalkan altar tempat dia baru saja melakukan operasi transplantasi brutal pada dirinya sendiri. Dia berjalan menuju bagian belakang gua, tempat sebuah lorong alami yang lebih besar menganga.
Dia tidak butuh obor. Mata Triple Pupil-nya, yang kini diperkuat oleh persepsi naga, bisa melihat dalam kegelapan total seolah-olah siang hari. Dinding gua berpendar dengan warna-warna spektrum energi yang indah.
Dia sampai di ujung lorong.
Dan matanya melebar.
Bukan karena kaget, tapi karena resonansi.
Di depannya, terbentang sebuah kavern (ruang gua raksasa) yang luasnya setara alun-alun kota. Dan kavern itu penuh.
Gunungan harta karun.
Ini bukan harta karun manusia yang rapi. Ini adalah timbunan naga.
Ada pilar-pilar emas murni yang dicabut dari reruntuhan peradaban kuno. Ada ribuan senjata—pedang, tombak, perisai—yang tertancap di tanah seperti hutan besi, sebagian besar berkarat, tapi yang terbuat dari bahan spiritual masih berkilau. Ada permata-permata sebesar kepala kerbau yang berserakan sembarangan.
Dan yang paling penting: Batu Roh.
Jutaan.
Batu Roh tingkat rendah, menengah, hingga tingkat tinggi, menumpuk seperti bukit pasir. Mereka memancarkan uap Qi yang begitu padat hingga membentuk awan-awan kecil yang menurunkan hujan spiritual di dalam gua.
"Ibu naga ini..." suara Lu Daimeng bergema ganda, berat dan berwibawa. "Dia menimbun banyak harta untuk di makan oleh anaknya, saat menetas."
Jantung Naga di dada kanannya berdetak kencang: DUM! DUM!
Itu bukan detak jantung karena keserakahan manusia. Itu adalah detak jantung kepemilikan. Insting naga di dalam darahnya berteriak: INI MILIKKU.
Lu Daimeng berjalan mendekati tumpukan harta itu. Dia mengambil sebuah Cincin Penyimpanan kuno yang tergeletak di atas tumpukan emas. Cincin itu besar, terbuat dari logam hitam, mungkin milik kultivator raksasa zaman dulu yang dibunuh oleh ibu naga.
Selama ini, Lu Daimeng hanya bisa merusak cincin penyimpanan. Dia menggunakan Dark Null untuk menghapus segelnya, yang mengakibatkan isinya muntah keluar dan cincinnya tidak bisa di gunakan lagi. Itu metode barbar. Metode sekali pakai.
Tapi sekarang, dia menghadapi masalah logistik. Dia tidak bisa membawa gunung harta ini dengan tangan. Dia butuh cara untuk menyimpan, bukan menghancurkan.
"Cincin penyimpanan bekerja dengan memanipulasi lipatan ruang menggunakan frekuensi Qi tertentu," analisis otak manusianya.
"Ruang adalah wilayah kekuasaan Naga," bisik insting naganya.
Lu Daimeng memegang cincin itu.
Dia tidak mengalirkan Dark Null. Energi ketiadaan itu akan merusak cincin ini.
Sebaliknya, dia memusatkan perhatian pada Jantung Naga di dada kanannya.
Dia memejamkan mata. Dia merasakan ritme detak jantung itu. Dia memvisualisasikan aura ungu—Niat Naga—mengalir dari jantungnya, ke bahu, ke lengan, dan ke ujung jari.
Niat Naga memiliki sifat dominasi. Ia tidak meminta izin pada hukum ruang cincin; ia memerintah hukum ruang cincin itu.
"Buka," perintah Lu Daimeng. Bukan dengan suara, tapi dengan Niat.
Dia mengalirkan aura ungu (Darknull atau Energi yang dipompa oleh jantung naga) itu ke dalam cincin.
ZING.
Cincin kuno itu bergetar. Formasi segel yang sudah tertidur ribuan tahun, yang biasanya membutuhkan kode jiwa rumit, tiba-tiba tunduk. Segel itu mengenali otoritas yang lebih tinggi dari pembuatnya. Otoritas spesies puncak.
Ruang di dalam cincin itu terbuka untuk pikiran Lu Daimeng. Luas. Kosong. Stabil.
"Berhasil," Lu Daimeng membuka matanya. Keenam pupilnya berputar puas. "Aku kini bisa menabung. Hahahaha."
Dia mulai bekerja.
Dia menggunakan Niat Naga untuk mengaktifkan cincin itu, dan menggunakan Dark Null di tangan kirinya untuk mengangkat benda-benda menggunakan energi mental atau telekinetik—benda-benda itu melayang masuk ke dalam cincin.
Dia menyapu ruangan itu.
Senjata tingkat tinggi. Masuk.
Batu Roh Tingkat Tinggi. Masuk.
Logam langka. Masuk.
Kitab-kitab kuno yang terbuat dari kulit binatang purba. Masuk.
Dia mengisi cincin itu sampai penuh. Lalu dia mengambil cincin lain dari tumpukan harta, membukanya dengan dominasi naga, dan mengisinya lagi.
Dia melakukan ini selama berjam-jam.
Dia mengosongkan semua harta didalam Gua itu tanpa terkecuali.
Setelah dia mengamankan semua harta itu, Lu Daimeng berdiri di tengah gua yang kini kosong.
Dia merasa... kuat.
Bukan hanya kuat secara fisik. Tapi kuat secara finansial. Dengan sumber daya ini, dia bisa membiayai evolusinya sendiri sampai ke tahap selanjutnya.
"Sudah waktunya," katanya.
Dia berbalik meninggalkan tempat itu.
Lu Daimeng berjalan kembali ke gua depan, melewati tulang bayi naga yang sudah dia makan, lalu dia menyimpan tulang tersebut untuk digunakan di kemudian hari.
Dia melangkah keluar dari zona altar.
Udara di mulut gua terasa berbeda.
Di luar sana, di zona mati yang tertutup abu vulkanik, suasananya hening. Tapi itu keheningan kuburan.
Lu Daimeng melangkah keluar. Kakinya yang telanjang menapak di atas abu.
Di depannya, beberapa meter dari mulut gua, tergeletak pemandangan yang menyedihkan.
Ada beberapa mayat yang ada disekitar gua, yang diserang oleh kawanan Kera wajah merah.
Mereka adalah kelompok Kultivator Liar yang sebelumnya mencoba membunuhnya.
Mereka tidak mati karena Lu Daimeng.
Tubuh mereka tercabik-cabik. Kepala putus. Usus terburai. Bekas gigitan dan cakaran yang brutal memenuhi sisa daging mereka. Wajah mereka membeku dalam ekspresi teror murni.
"Kera Hantu," Lu Daimeng mengenali pola lukanya.
Kawanan Kera Hantu Wajah Merah yang mengejarnya dulu ternyata tidak pergi. Mereka menunggu di perbatasan zona mati. Dan ketika para kultivator ini lari keluar dari gua dalam keadaan panik dan terluka, mereka menjadi santapan empuk.
Lu Daimeng berjalan mendekati mayat-mayat itu.
Lu Daimeng berlutut. Dia mengambil cincin penyimpanan dari jari mereka, sebagian jari putus.
"Sangat sayang jika di tinggalkan," gumamnya.
Dia berjalan dari satu mayat ke mayat lain, memunguti cincin dan kantong penyimpanan mereka. Dia tidak peduli dengan mayat-mayat itu. Bagi dia, mereka hanya kurir yang gagal mengantar paket.
Setelah selesai menjarah, Lu Daimeng berdiri di perbatasan zona mati.
Di depannya, hutan lebat Zona Dalam dimulai kembali. Pohon-pohon raksasa, semak belukar, dan kegelapan.
Dan di balik kegelapan itu... ada mata.
Banyak mata.
KIK... KIK... KIK...
Suara itu muncul lagi.
Dari balik dahan, dari balik akar, puluhan sosok bermunculan.
Kera Hantu Wajah Merah.
Mereka kembali. Jumlahnya lebih banyak dari sebelumnya. Mungkin empat puluh ekor. Mereka mencium bau Lu Daimeng—bau naga yang samar tertutup oleh bau darah segar dari mayat kultivator.
Pemimpin mereka, seekor Mandrill Jantan Raksasa (Ranah pembentukan Jiwa Tahap 5), turun dari pohon. Wajahnya merah darah, tanpa kulit, memamerkan otot-otot wajah yang berdenyut dan taring kuning yang panjang.
Dia menatap Lu Daimeng.
Dulu, dia melihat Lu Daimeng sebagai mangsa yang terluka.
Sekarang, dia melihat Lu Daimeng sebagai ancaman yang menantang wilayahnya.
"GRAAAA!" Pemimpin kera itu meraung, memukul dadanya sendiri.
Empat puluh kera lainnya ikut memekik, menciptakan gelombang suara yang memecahkan gendang telinga. Mereka ingin mengintimidasi.
Lu Daimeng berdiri diam. Rambutnya berkibar pelan.
Dia tidak mengambil pedang. Dia tidak mengambil senjata apapun.
Dia tersenyum.
Senyum itu memperlihatkan gigi taring yang sedikit memanjang dan berkarakteristik karnivora.
"Kalian masih di sini?" tanya Lu Daimeng. Suaranya tenang, tapi membawa getaran Niat Naga yang membuat udara di sekitarnya menjadi berat.
"Bagus. Aku sedikit lapar saat ini."
Pemimpin kera itu merasa terhina. Mangsa ini tidak lari?
"SERANG!" raungan pemimpin itu memerintahkan.
Sepuluh kera pertama melompat serentak. Mereka cepat, ganas, dan beracun. Cakar mereka dialiri Qi kotor yang bisa membusukkan daging.
Lu Daimeng tidak bergerak.
Tapi bayangannya bergerak.
Di bawah kakinya, bayangan hitam tiba-tiba memanjang, lalu berdiri.
Avatar Jiwa.
Sosok hitam legam yang identik dengan Lu Daimeng terlepas dari tubuh aslinya. Avatar itu tidak memiliki wajah, hanya dua titik ungu menyala di bagian mata.
Avatar itu melesat menyongsong sepuluh kera itu.
Ia tidak memukul. Ia mengalir.
Tubuh Avatar itu terbuat dari Dark Null padat. Saat kera pertama mencakar Avatar itu, cakarnya menembus bayangan... dan larut.
Sreeet.
Kera itu memekik saat tangannya hilang dimakan ketiadaan.
Avatar itu membentuk lengannya menjadi bilah pedang bayangan.
SLAASH!
Satu gerakan horizontal.
Tiga kera terpotong menjadi dua. Tidak ada darah yang muncrat, karena luka mereka langsung dikonsumsi oleh Dark Null. Mereka jatuh sebagai potongan daging kering.
Tujuh kera sisanya panik. Mereka menyerang Avatar itu dengan gigitan, tapi menggigit Avatar itu sama saja menggigit ruang hampa. Gigi mereka patah.
Sementara Avatar itu membantai barisan depan, Lu Daimeng yang asli mulai berjalan maju.
Santai. Pelan.
Pemimpin Kera melihat anak buahnya mati sia-sia melawan bayangan itu. Dia marah. Dia melompat, melewati Avatar, langsung mengincar Lu Daimeng.
"GRAAA!"
Pemimpin Kera itu menghantamkan tinjunya ke kepala Lu Daimeng. Tinju itu dilapisi Qi tanah yang berat, cukup untuk menghancurkan Logam tingkat 2.
Lu Daimeng mengangkat tangan kirinya.
BAM!
Dia menangkap tinju raksasa itu dengan telapak tangan terbuka.
Tanah di bawah kaki Lu Daimeng retak, tapi tubuhnya tidak bergeser satu inci pun.
Pemimpin Kera itu terbelalak. Matanya melebar karena kaget. Kekuatannya tertahan total.
Lu Daimeng mencengkeram kepalan tangan kera itu.
"Lemah," kata Lu Daimeng.
KRAK.
Lu Daimeng meremas. Tulang-tulang tangan pemimpin kera itu hancur menjadi serbuk di dalam dagingnya.
"KIIIIKKKK!" Pemimpin kera itu menjerit.
Dia mencoba menendang perut Lu Daimeng. Tapi Lu Daimeng sudah bergerak lebih dulu.
Lutut kanan Lu Daimeng naik, menghantam selangkangan kera itu dengan kecepatan suara.
BUGH!
Kera itu terangkat ke udara, matanya melotot keluar.
Sebelum kera itu jatuh, Lu Daimeng menangkap lehernya dengan tangan kanan.
Dia menarik wajah merah kera itu mendekat ke wajahnya sendiri.
Jarak mereka hanya beberapa sentimeter.
"Kau suka memakan manusia, kan?" bisik Lu Daimeng.
Lu Daimeng membuka mulutnya.
Rahangnya terkilir, membuka lebih lebar dari manusia normal—sifat biologis yang dia adopsi dari naga.
Dan dia menggigit.
Dia menggigit langsung wajah merah pemimpin kera itu.
CRUNCH.
Gigi Lu Daimeng menembus tulang, hidung, dan otot wajah kera itu.
Kera itu meronta liar, memukul-mukul punggung Lu Daimeng. Tapi kulit Lu Daimeng terlalu keras. Pukulan itu tidak berarti apa-apa.
Lu Daimeng menyentakkan kepalanya ke belakang.
SREEEET!
Dia merobek sebagian besar wajah kera itu. Daging, otot, dan tulang rawan terlepas dalam satu gigitan mengerikan.
Darah kera menyembur ke wajah Lu Daimeng, mandi darah yang panas dan amis.
Lu Daimeng tidak memuntahkannya. Dia mengunyahnya. Dia menelannya di depan seluruh kawanan kera itu.
Pemimpin kera itu jatuh ke tanah, menutupi wajahnya yang kini hanya tinggal tengkorak berdarah. Dia melolong, suara yang penuh dengan penyesalan dan teror absolut.
Lu Daimeng berdiri di atasnya. Wajahnya berlumuran darah, matanya bersinar gila dalam kegelapan hutan.
Avatar di belakangnya berhenti membantai. Ia kembali masuk ke dalam bayangan Lu Daimeng.
Tiga puluh kera yang tersisa mematung.
Mereka adalah predator. Mereka mengerti hierarki.
Dan di depan mereka, berdiri sesuatu yang mengerikan.
Lu Daimeng menatap kawanan itu.
"Lari," bisiknya.
Suaranya pelan. Tapi Otak naga dan Anti Dao di otaknya memproyeksikan niat itu sebagai ledakan mental yang menghantam otak setiap kera di sana.
LARI ATAU DIMAKAN.
"KIIIIIKKKK!"
Kepanikan massal terjadi.
Kawanan kera itu berbalik dan lari. Mereka saling tabrak, memanjat pohon, menjerit ketakutan, berusaha menjauh sejauh mungkin dari monster manusia berpupil tiga itu.
Dalam hitungan detik, hutan itu sunyi.
Hanya ada suara napas sekarat dari pemimpin kera di kaki Lu Daimeng.
Lu Daimeng menunduk. Dia menginjak kepala pemimpin kera itu.
SPLAT.
Hening.
Lu Daimeng menyeka darah dari mulutnya dengan punggung tangan.
Lu Daimeng berdiri sendirian di perbatasan zona mati.
"Latihan pemanasan selesai," kata Lu Daimeng.
Dia melangkah masuk ke dalam hutan yang lebih gelap. Mengeluarkan aura naga miliknya, untuk menakuti para beast lemah di sekitarnya.
Bersambung...