NovelToon NovelToon
Rebel Hearts

Rebel Hearts

Status: tamat
Genre:Berbaikan / Dikelilingi wanita cantik / Playboy / Anak Genius / Percintaan Konglomerat / Obsesi / Tamat
Popularitas:17.8k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Kau tahu apa masalahmu, Salena? Kau terlalu sibuk menjadi sempurna sampai lupa caranya menjadi manusia." — Zane Vance.
"Dan kau tahu apa masalahmu, Vance? Kau pikir dunia ini panggung sirkusmu hanya karena teman-teman bodohku memanggilmu Dewa. Dasar alay." — Salena Ashford

Zane Vance (21) pindah ke Islandia bukan untuk mencari musuh. Tapi saat di hari pertama dia sudah mendebat Salena Ashford—si putri konglomerat kampus yang kaku dan perfeksionis—perang dunia ketiga resmi dimulai.

Semua orang memuja Zane. Mereka memanggilnya "Dewa dari New York" karena pesonanya yang bad boy, dingin, dan Urakan Ganteng (ini kata teman Selena), kecuali Salena.
Namun, semakin keras Salena berusaha menendang Zane dari tahtanya, semakin ia terseret masuk ke dalam rahasia hidup cowok itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Konfrontasi di Mansion Utama

Pagi menyingsing dengan cahaya pucat yang menembus celah-celah jendela kabin, menyinari sisa-sisa gairah semalam yang masih tertinggal di udara. Zane masih terlelap, napasnya teratur dan tenang dalam pelukan Salena, seolah beban New York telah menguap sepenuhnya dari pundaknya.

 Namun, ketenangan itu seketika pecah saat ponsel Salena yang tergeletak di meja kayu samping ranjang bergetar hebat.

Salena, dengan mata yang masih setengah terpejam dan tubuh yang masih terbungkus kehangatan pelukan Zane, meraih ponselnya. Nama yang muncul di layar seketika membuat jantungnya seolah berhenti berdetak: Father.

"Halo, Papa?" bisik Salena, suaranya masih serak.

"Salena, Papa dan Mama baru saja mendarat di Keflavík," suara ayahnya terdengar tegas namun hangat dari seberang sana.

"Kami mempercepat perjalanan pulang dari Swiss karena mendengar kabar ada keributan di rumah semalam dari kepala keamanan. Kami akan langsung menuju rumah peristirahatan di pegunungan, karena satpam bilang kau membawa tamu ke sana."

Salena mendadak terduduk tegak, menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos. Sesak yang ia rasakan semalam karena kenikmatan kini berganti menjadi sesak karena kepanikan. "Papa... kalian pulang sekarang?"

"Kami sudah di dalam mobil, sekitar empat puluh menit lagi sampai. Siapkan dirimu, Salena. Papa ingin tahu siapa pria yang membuatmu sampai harus mengungsi ke sana," ucap ayahnya sebelum menutup telepon.

Salena menatap layar ponselnya yang sudah gelap dengan tatapan kosong. Ia melirik ke arah Zane yang terbangun karena suaranya.

 Zane mengerjap, rambutnya yang acak-acakan dan sisa luka di bibirnya justru membuatnya tampak sangat tampan di mata Salena.

"Ada apa, Sal?" gumam Zane, suaranya berat khas bangun tidur, seraya mencoba menarik Salena kembali ke dalam dekapannya.

"Zane, bangun," ucap Salena dengan nada mendesak. "Orang tuaku... mereka sudah di Islandia. Mereka akan sampai di sini dalam kurang dari satu jam."

Zane seketika terperanjat dan duduk tegak. "Orang tuamu? Tuan dan Nyonya Ashford?"

"Iya! Dan kau harus tahu, ayahku jauh lebih mengintimidasi daripada Phoenix saat marah," kata Salena sambil bergegas turun dari ranjang untuk mencari pakaiannya yang berserakan. "Mereka pulang karena mendengar keributan mu dengan Phoenix semalam. Kharel benar-benar berhasil mengacaukan segalanya."

Zane terdiam sejenak, menatap Salena yang panik. Namun, bukannya ikut panik, Zane justru turun dari ranjang dengan tenang, memperlihatkan tubuhnya yang penuh tato di bawah cahaya pagi. Ia mendekati Salena dan memegang kedua tangannya.

"Tenanglah, Salena," katanya dengan suara yang dalam dan mantap. "Aku tidak akan lari. Aku sudah berjanji semalam bahwa aku akan menyerahkan segalanya padamu. Jika itu artinya aku harus menghadapi ayahmu dan mengakui bahwa aku mencintai putrinya di tengah kekacauan ini, maka aku akan melakukannya."

Salena menatap mata Zane, mencari keraguan di sana, namun ia hanya menemukan keteguhan. Ini bukan lagi sekadar drama antara mereka dan Kharel; ini adalah ujian sesungguhnya bagi hubungan mereka di depan keluarga Ashford yang sangat menjaga kehormatan.

"Zane, ayahku sangat ketat tentang reputasi. Jika dia tahu tentang Kharel dan drama New York itu..."

"Maka biarkan dia mendengarnya langsung dariku, bukan dari mulut berbisa Kharel," potong Zane. "Pakailah pakaianmu. Kita akan menyambut mereka bersama."

Perjalanan kembali ke mansion utama Ashford terasa jauh lebih lambat bagi Salena. Ternyata orang tuanya Tidak jadi kerumah peristirahatan, Mereka menunggu Salena Di mansion Utama.

Setiap kali mobil melewati guncangan kecil di jalanan pegunungan, Salena meringis pelan, merasakan sensasi pegal dan sedikit nyeri yang tertinggal di tubuhnya, sebuah jejak manis dari gairah membara yang mereka lalui semalam.

Zane, yang memegang kemudi dengan satu tangan sementara tangan lainnya menggenggam jemari Salena, sesekali melirik ke arah kekasihnya.

Melihat ringisan halus dan wajah memerah Salena, sebuah senyum tipis yang penuh kemenangan sekaligus kasih sayang terukir di bibirnya.

"Kau baik-baik saja, Sayang?" tanyanya lembut, suaranya mengandung nada menggoda yang membuat jantung Salena berdebar.

"Jangan tersenyum seperti itu, Zane Sebastian," gumam Salena sambil memalingkan wajah ke arah jendela, berusaha menyembunyikan rona merah yang menjalar hingga ke lehernya. "Ini semua gara-gara kau yang tidak tahu waktu."

Zane terkekeh pelan, mengecup punggung tangan Salena. "Aku hanya memastikan bahwa kau tahu kau milik siapa sekarang."

Begitu mobil berhenti di depan pilar-pilar megah mansion keluarga Ashford, suasana mendadak berubah menjadi formal dan tegang.

Di sana, berdiri dua sosok berwibawa, Tuan Ashford yang berwajah keras dan Nyonya Ashford yang elegan namun memiliki tatapan setajam elang.

Salena turun dari mobil dengan gerakan yang sedikit kaku dan berhati-hati. Langkahnya tidak seangkuh biasanya, ia berjalan dengan perlahan, sesekali sedikit meringis yang tidak luput dari pengamatan tajam ibunya. Zane segera berada di sampingnya, secara naluriah menyodorkan lengannya untuk menjadi tumpuan Salena.

Mereka berdua berjalan menuju teras utama, menghadapi dua orang paling berkuasa di Islandia.

"Salena," sapa ayahnya, suaranya berat dan penuh wibawa. Tatapannya kemudian beralih pada Zane, menilai setiap inci pria yang berdiri di samping putrinya, terutama luka di bibir Zane dan tato-tato yang terlihat di balik kerah jaketnya.

"Siapa pria ini? Dan kenapa ada laporan tentang perkelahian berdarah di apartemenmu semalam?"

Salena menarik napas panjang. Ia berdiri tegak, meski tubuhnya masih terasa lelah. Ia mengeratkan genggamannya pada lengan Zane, memberikan sinyal keberanian.

"Papa, Mama," ucap Salena dengan suara jernih yang tidak menyisakan keraguan. "Kenalkan, ini Zane Sebastian Vance. Dia adalah kekasihku."

Suasana mendadak menjadi sangat sunyi. Para pelayan di sekitar mereka seolah berhenti bernapas. Nama Vance bukanlah nama asing di telinga kelas atas seperti keluarga Ashford, namun melihat pewaris dinasti Vance berdiri di sini dengan wajah babak belur demi putri mereka adalah pemandangan yang tak terduga.

"Kekasih?" ibunya mengulangi kata itu dengan nada bertanya, matanya menyipit melihat betapa posesifnya Zane merangkul pinggang Salena. "Putriku yang dingin ini membawa seorang pria yang tampak seperti baru saja keluar dari arena tinju?"

Zane melangkah maju satu langkah, melepaskan rangkulannya pada Salena untuk membungkuk hormat dengan sangat sopan, sisi bangsawan New York-nya kini keluar dengan sempurna.

"Tuan, Nyonya," kata Zane dengan nada tenang namun penuh percaya diri. "Maafkan penampilan saya yang berantakan ini. Tapi benar apa yang dikatakan Salena. Saya mencintainya, dan saya berada di sini untuk melindunginya, meski itu artinya saya harus menghadapi badai dari masa lalu saya sendiri."

Ayah Salena menatap Zane dengan tajam untuk waktu yang lama, mencari celah kebohongan di mata biru pria itu.

"Vance, ya? Aku tahu ayahmu. Tapi aku tidak tahu putra Vance memiliki kebiasaan berkelahi di tanah orang lain."

"Zane melakukan itu untuk membelaku, Pa," potong Salena cepat.

"Kita akan bicara di dalam," putus ayahnya sambil berbalik masuk. "Siapkan teh. Dan Zane... kuharap kau punya penjelasan yang sangat bagus sebelum Kharel Renaud atau siapa pun wanita gila yang menelepon kantor Papa tadi pagi berhasil merusak nama baik keluarga ini."

Zane dan Salena saling berpandangan. Kharel ternyata sudah mulai bergerak lebih cepat.

🌷🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰🥰

1
Xiao Lian Na ¿?
Aduh gaberani bacaa
falea sezi
suka deh g bertele tele g ribet q ksih hadiah
falea sezi
licik tp q suka andai feo pinter pasti dia g mati tragis sayang dia lemah entah niru siapa sifat goblok nya.. gk kayak katya yg badas
Xiao Lian Na ¿?
Baperrr😍
falea sezi
rencana sempurna
falea sezi
pdhl keluarganya zaen berpengaruh masak ngilangin benalu yg bunuh anak nya g bs lemah amat
falea sezi
phoenik goblok
falea sezi
Karel ini jalang bgt ya g bersukur dpet phoenik dan phoenik nya goblok kayak g ada cwek. lain aja
Epha Yusra
ceritanya bagus... berbeda...
Vina Vina
Sedihnyaaaa...../Sob/
falea sezi
Zane sebenarnya suka Karel. gk sih Thor
Anisa Muliana
padahal keluarga Vance berpengaruh di New York masak gk ada pembalasan utk si penabrak? kenapa rasanya kayak pasrah aja gtu..dan yg bergerak utk membalas malah Katiya..😌
Anisa Muliana
ditunggu update ceritanya thor..😁
Anisa Muliana
serius ceritanya seru thor😍 dan bikin deg"an bacanya Krn gk bisa nebak alurnya kyk gmna..
Anisa Muliana
sepertinya seru ceritanya thor😊
sakura
...
anggita
ikut dukung ng👍like sama iklan☝saja.
anggita
tato yg keren😚
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!