NovelToon NovelToon
Sistem Peningkatan Kekayaan

Sistem Peningkatan Kekayaan

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat / Kaya Raya
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Demon Heart Sage

Gu Yanqing hidup miskin, tanpa latar belakang, tanpa peluang.
Hingga suatu hari, Sistem Peningkatan Kekayaan aktif—memberinya kesempatan untuk naik kelas, selama semua yang ia peroleh masuk akal dan sah.

Dari nol ke kaya, dari diremehkan ke dikelilingi orang-orang yang terlihat tulus.
Tapi di dunia uang dan status, kepercayaan punya harga.

Dan saat harga itu terlalu mahal, tidak semua orang sanggup membayarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 : Laporan Palsu

Ruangan kantor Zhao Haoran tidak luas, tetapi tertata presisi. Lemari arsip logam berdiri rapat di sisi kiri. Di atas meja kayu gelap, dua tumpukan dokumen tersusun sejajar—laporan keselamatan resmi dari Dongkou Port Group dan satu map tipis berisi salinan rekaman CCTV yang dibawa Gu Yanqing.

Gu Yanqing duduk tegak, punggung lurus, kedua tangan terlipat di atas paha. Tatapannya tidak bergerak dari layar laptop yang baru saja diputar.

Rekaman CCTV itu buram, sudut pengambilan statis dari atas gudang kontainer. Waktu tercetak di pojok kanan atas: 14:37:12.

Zhao Haoran memajukan kursinya beberapa sentimeter.

“Putar ulang dari menit ke-14:36,” katanya tenang.

Gu tidak berbicara. Ia memutar ulang.

14:36:48.

Sebuah alat berat tipe forklift bergerak dari sisi kiri layar, membawa peti baja. Kecepatan konstan. Tidak tampak gangguan.

14:37:05.

Seorang pekerja berjalan di belakang forklift, mengenakan helm kuning.

14:37:18.

Forklift berhenti mendadak. Peti bergeser.

14:37:22.

Benturan terjadi.

Zhao tidak bereaksi emosional. Ia hanya mencatat waktu di secarik kertas.

14:37:22 — titik insiden.

Ia lalu menarik laporan keselamatan resmi dari tumpukan kanan. Halaman ketiga memuat kronologi kejadian.

“Menurut laporan resmi,” Zhao membaca pelan, “insiden terjadi pada pukul 15:05.”

Gu tidak mengangkat alis. Ia sudah membaca bagian itu sebelumnya.

“Selisih dua puluh delapan menit,” lanjut Zhao.

Ia membalik halaman.

“Keterangan menyebutkan forklift kehilangan kendali akibat rem tidak responsif setelah hujan deras pukul 14:50.”

Zhao berhenti.

Ia kembali menatap layar.

Rekaman 14:36 menunjukkan permukaan lantai kering. Tidak ada genangan. Tidak ada pantulan cahaya dari air.

“Apakah ada rekaman setelah 14:50?” tanya Zhao.

Gu menjawab pendek. “Tidak ada. Kamera mati pukul 14:42.”

Zhao menuliskan lagi.

Kamera mati 14:42.

Ia mengetuk meja dengan ujung pulpen.

“Jika insiden terjadi pukul 15:05 seperti laporan, maka kamera seharusnya masih aktif setidaknya sampai saat itu. Tetapi rekaman berhenti jauh sebelum waktu yang mereka klaim.”

Gu mengangguk tipis.

Perbedaan pertama sudah jelas: waktu tidak sinkron.

Zhao menarik napas perlahan.

“Kita lanjutkan.”

Ia membuka bagian struktur tanggung jawab.

Di laporan resmi, tercantum nama pengawas lapangan: Wang Jicheng. Disebut hadir di lokasi dan memberikan instruksi sebelum kejadian.

Zhao menggeser kursor video kembali ke menit 14:35.

Ia memperbesar gambar semampunya.

Beberapa pekerja terlihat. Satu mengenakan helm biru, dua helm kuning. Tidak ada rompi pengawas dengan garis reflektif merah—atribut standar yang biasanya dikenakan oleh pengawas lapangan.

“Apakah Anda mengenali Wang Jicheng secara visual?” tanya Zhao.

Gu menjawab, “Saya sudah menanyakan kepada dua pekerja. Mereka menyatakan Wang Jicheng tidak berada di lokasi hari itu.”

Zhao berhenti mencatat.

“Apakah ada bukti tertulis?”

“Absensi manual. Saya memotret halaman tanggal kejadian.”

Gu menyerahkan foto cetak kecil.

Zhao memeriksa.

Nama Wang Jicheng ditandai cuti sakit.

Zhao tidak menunjukkan ekspresi apa pun.

Ia kembali ke laporan resmi.

Di sana tertulis jelas: Pengawas lapangan hadir dan melakukan pengarahan keselamatan pukul 14:45.

Zhao menyilangkan kedua tangannya.

“Ini perbedaan kedua,” katanya datar. “Keberadaan pihak yang tercatat tidak sesuai dengan fakta visual dan absensi.”

Gu menatap layar.

Rekaman mentah itu tidak dramatis. Tidak ada narasi. Tidak ada pembelaan. Hanya gerakan, waktu, dan posisi.

Sementara laporan tertulis mencoba membangun cerita.

Zhao membalik ke halaman kronologi detail.

“Menurut laporan, sebelum insiden terjadi, forklift telah menunjukkan tanda-tanda gangguan rem sejak pukul 14:55 dan sudah diperingatkan oleh pengawas.”

Ia kembali memutar video dari 14:36.

Forklift bergerak stabil. Tidak ada zig-zag. Tidak ada hentakan mendadak sebelum 14:37:18.

“Gangguan rem tidak tampak dalam rekaman,” Zhao menyimpulkan.

Gu berkata tenang, “Gerakan lurus. Kecepatan konstan. Tidak ada perlambatan bertahap.”

Zhao mengangguk.

Perbedaan ketiga: kronologi dibalik.

Dalam laporan, penyebab teknis muncul lebih dahulu, lalu insiden. Dalam video, insiden terjadi tanpa tanda awal yang dilaporkan.

Zhao berdiri, berjalan ke papan tulis kecil di dinding.

Ia menulis dua kolom.

Kolom kiri: Rekaman CCTV. Kolom kanan: Laporan resmi.

Di bawah Rekaman CCTV: 14:37:22 — Insiden. Lantai kering. Pengawas tidak terlihat. Gerakan forklift stabil sebelum benturan.

Di bawah Laporan Resmi: 15:05 — Insiden. Hujan pukul 14:50. Pengawas hadir 14:45. Gangguan rem sejak 14:55.

Zhao mundur satu langkah.

Dua narasi berdiri berdampingan.

Yang satu mentah dan tidak berbicara.

Yang lain rapi, terstruktur, dan penuh penjelasan.

“Ketidaksesuaian ini bukan sekadar kesalahan pencatatan waktu,” Zhao berkata perlahan. “Jika hanya selisih lima menit, kita bisa mempertimbangkan kelalaian administratif. Tetapi selisih hampir tiga puluh menit mengubah struktur tanggung jawab.”

Gu tetap diam.

Ia tahu ke mana arah analisis ini.

Zhao melanjutkan, “Jika insiden terjadi 14:37, maka setiap klaim tentang pengarahan pukul 14:45 tidak relevan terhadap insiden tersebut. Artinya, kronologi dalam laporan tidak mungkin benar.”

Gu menambahkan dengan nada datar, “Mereka membangun sebab setelah akibat.”

Zhao menoleh sekilas.

“Ya. Narasi sebab-akibat dipindahkan untuk mengalihkan tanggung jawab.”

Ruangan menjadi lebih sunyi.

Tidak ada kemarahan. Hanya konsentrasi.

Zhao kembali duduk.

“Pertanyaannya sekarang,” katanya, “apakah ini kelalaian individu atau keputusan struktural?”

Gu tidak menjawab segera.

Ia menatap lagi rekaman.

Peti baja itu bergeser bukan karena rem gagal. Sudut forklift terlihat terlalu miring saat berhenti. Seolah-olah muatan tidak seimbang.

“Distribusi beban,” Gu berkata pelan. “Peti tidak terikat sempurna.”

Zhao mencatat.

“Jika benar distribusi beban tidak sesuai prosedur, maka tanggung jawab awal berada pada tim logistik dan pemeriksa keselamatan muatan.”

Ia membuka bagian lampiran laporan.

Di sana tertulis bahwa semua prosedur pemeriksaan telah dilakukan sesuai standar.

Zhao menghela napas tipis.

“Laporan ini menyatakan tidak ada pelanggaran prosedur sama sekali.”

Gu menatapnya.

“Itu tidak konsisten dengan rekaman.”

Zhao menutup laporan perlahan.

Beberapa detik berlalu.

Kemudian layar di depan Gu berkedip halus.

Panel sistem muncul, bersih tanpa simbol berlebihan.

Status Analisis Bukti: Perbandingan data selesai.

Temuan: Dokumen manipulatif terkonfirmasi.

Tingkat Kepastian: Tinggi.

Gu tidak menunjukkan reaksi. Panel itu tidak memberi solusi. Hanya penandaan.

Ambang asumsi telah terlampaui.

Ini bukan kesalahan penulisan tanggal.

Ini bukan kekeliruan kecil dalam pencatatan.

Struktur laporan dibangun ulang untuk menyesuaikan hasil yang diinginkan.

Panel menghilang.

Zhao berbicara lagi.

“Jika kita membawa ini ke persidangan perdata, kita bisa menggugat kelalaian dan kompensasi. Tetapi dengan bukti manipulasi seperti ini, dimensi kasus berubah.”

Gu mengangkat pandangannya.

“Menjadi lebih besar.”

“Menjadi lebih dalam,” Zhao mengoreksi.

Ia menunjuk kolom kanan di papan tulis.

“Ketika dokumen resmi mengandung kronologi yang tidak mungkin terjadi, ada dua kemungkinan. Pertama, penyusun laporan tidak melihat rekaman. Kedua, penyusun laporan melihat rekaman dan tetap memilih versi berbeda.”

Gu menjawab tanpa ragu. “Kemungkinan kedua.”

Zhao mengangguk.

“Jika demikian, maka ini bukan kesalahan teknis. Ini tindakan sadar.”

Kata-kata itu tidak diucapkan dengan tekanan, tetapi bobotnya jelas.

Tindakan sadar berarti niat.

Niat membuka pintu ke ranah hukum yang berbeda.

Gu bersandar tipis di kursi.

Ia merasakan kepuasan yang terkendali. Bukan karena kemenangan, tetapi karena struktur logika akhirnya lengkap.

Data tidak berbohong.

Yang berbohong adalah narasi.

Zhao mengambil laporan sekali lagi.

“Apakah Anda menyimpan salinan asli rekaman?”

“Sudah diarsipkan di dua lokasi berbeda,” jawab Gu.

Zhao menatapnya sejenak.

“Tindakan pencegahan yang baik.”

Gu tidak tersenyum.

Ia hanya memastikan semua kemungkinan telah dihitung.

Zhao menutup map dengan perlahan.

“Langkah berikutnya harus hati-hati. Begitu kita mengangkat isu manipulasi dokumen, tekanan akan meningkat.”

Gu memahami.

Ini bukan lagi sekadar sengketa kompensasi pekerja.

Jika manipulasi terbukti, reputasi perusahaan akan terdampak. Dan perusahaan besar tidak akan diam.

Zhao berdiri kembali di depan papan.

Ia melingkari tulisan “15:05”.

“Perbedaan waktu ini adalah celah utama.”

Lalu ia melingkari “Pengawas hadir 14:45”.

“Dan ini kontradiksi struktural.”

Ia menurunkan pulpen.

“Bukti telah melewati tahap dugaan.”

Gu berdiri perlahan.

Tatapannya tetap stabil.

Konsekuensi dari langkah ini tidak ringan. Tetapi ia tidak menunjukkan keraguan.

Di kepalanya, semua data tersusun rapi.

Waktu.

Posisi.

Ketiadaan.

Ketidaksesuaian.

Satu demi satu.

Tidak ada yang bersifat emosional.

Semua berbasis fakta.

Dan fakta, ketika ditempatkan berdampingan, membentuk sesuatu yang lebih tajam daripada tuduhan.

Zhao kembali duduk.

“Kita lanjut ke implikasi hukumnya setelah ini,” katanya.

Gu mengangguk.

Di atas meja, laporan resmi itu tampak rapi dan meyakinkan.

Namun di hadapan rekaman mentah, narasi tertulis itu mulai retak.

Retakan kecil.

Tetapi cukup untuk melihat struktur di baliknya.

Dan ketika struktur itu runtuh, yang jatuh bukan hanya satu nama.

...

Zhao Haoran tidak langsung berbicara setelah papan tulis penuh dengan dua kolom perbandingan itu. Ia duduk kembali, merapikan laporan keselamatan resmi ke posisi sejajar dengan tepi meja, seolah-olah sedang menyusun ulang struktur perkara di dalam pikirannya.

Gu Yanqing menunggu.

Ia tahu bagian berikutnya bukan lagi soal menemukan perbedaan teknis. Ini tentang mengartikan perbedaan itu dalam bahasa hukum.

Zhao membuka kembali halaman kronologi dan menunjuk satu paragraf.

“Pemalsuan atau manipulasi laporan keselamatan,” katanya tenang, “dalam konteks hukum administrasi dan ketenagakerjaan, bukan pelanggaran ringan.”

Gu tidak menyela.

“Jika sebuah perusahaan dengan sengaja mengubah waktu kejadian untuk menghindari tanggung jawab prosedural, maka itu memenuhi unsur pernyataan tidak benar dalam dokumen resmi internal yang berdampak pada hak pekerja.”

Ia berhenti sejenak, memastikan kalimatnya presisi.

“Dan jika dokumen itu digunakan sebagai dasar penolakan kompensasi, maka kerugiannya nyata.”

Gu menyandarkan punggungnya tipis pada kursi.

“Konsekuensinya?”

Zhao menjawab tanpa emosi, “Kasus ini tidak lagi murni sengketa kompensasi perdata.”

Ia mengambil kertas kosong dan mulai menyusun kerangka.

Struktur Gugatan Revisi:

Kelalaian prosedur keselamatan.

Manipulasi kronologi kejadian.

Penyajian dokumen tidak akurat yang merugikan pihak korban.

Tanggung jawab struktural manajemen.

Gu membaca daftar itu dalam diam.

“Tanggung jawab struktural,” ia mengulang pelan.

Zhao mengangguk.

“Ketika manipulasi menyentuh dokumen resmi, tanggung jawab tidak berhenti pada operator lapangan atau mandor. Dokumen keselamatan biasanya melalui jalur verifikasi.”

Ia membuka bagian akhir laporan.

“Terdapat kolom verifikasi internal. Penyusun laporan. Pemeriksa. Dan otorisator.”

Gu memperhatikan dengan cermat.

“Jika hanya Wang Jicheng yang tercantum,” Zhao melanjutkan, “maka kita bisa menganggap ini tindakan individu. Tetapi jika laporan telah melewati tahapan pemeriksaan formal, maka sistem perusahaan terlibat.”

Gu menatap lagi papan tulis.

Waktu tidak sinkron.

Pengawas tidak hadir.

Kronologi dibalik.

Ia berbicara dengan nada rata, “Mereka tidak sekadar menulis ulang kejadian. Mereka membangun ulang tanggung jawab.”

Zhao menatapnya singkat.

“Dan itu artinya, ada motif.”

Kata itu tidak diucapkan dengan tekanan dramatis. Ia berdiri sendiri sebagai kesimpulan logis.

Zhao membuka laptopnya dan mulai mengetik draf perubahan gugatan.

“Tambahan unsur manipulasi dokumen akan memperluas ruang lingkup pembuktian. Kita harus menyiapkan perbandingan waktu dalam bentuk tabel resmi. Sertakan tangkapan layar dengan cap waktu yang jelas.”

Gu mengangguk.

“Saya sudah menyiapkan cadangan resolusi tinggi.”

“Bagus.”

Zhao melanjutkan, “Selain itu, kita ajukan permintaan resmi kepada pengadilan untuk memerintahkan perusahaan menyerahkan rekaman server asli dan log internal sistem CCTV.”

Gu memahami implikasinya.

“Jika mereka menolak?”

“Penolakan dapat ditafsirkan sebagai indikasi penghilangan atau pengaburan bukti.”

Suasana di ruangan semakin padat, bukan oleh emosi, tetapi oleh bobot konsekuensi.

Zhao menutup laptopnya sementara.

“Ada satu hal lagi yang perlu Anda pahami, Tuan Gu.”

Gu menatapnya.

“Begitu kita memasukkan unsur manipulasi dokumen, pihak perusahaan akan memandang ini sebagai ancaman reputasi, bukan sekadar klaim uang.”

Gu menjawab singkat, “Saya sudah memperkirakan itu.”

“Tekanan bisa datang dalam berbagai bentuk. Negosiasi. Intimidasi halus. Atau upaya penyelesaian cepat dengan syarat tertentu.”

Gu tidak menunjukkan perubahan ekspresi.

“Selama semua berjalan sesuai hukum, saya tidak keberatan tekanan meningkat.”

Zhao memperhatikan wajahnya beberapa detik.

Ia melihat stabilitas, bukan keberanian kosong.

“Baik.”

Zhao kembali membuka laporan keselamatan dan membalik ke halaman terakhir.

Di sana terdapat kolom tanda tangan.

Ia membaca pelan.

“Penyusun laporan: Li Qiang. Pemeriksa internal: kosong.”

Ia berhenti.

Kolom berikutnya tertulis: Otorisasi.

Zhao menyipitkan mata sedikit.

“Ini menarik.”

Gu condongkan badan sedikit ke depan.

Zhao memutar laporan agar Gu dapat melihatnya.

Di bawah kata “Otorisasi”, terdapat tanda tangan tinta biru yang rapi, diikuti cap perusahaan.

Di bawahnya tercetak nama.

Gu membaca dalam diam.

Bukan Wang Jicheng.

Bukan Li Qiang.

Nama yang tercantum adalah Direktur Operasional Dongkou Port Group.

Ruangan menjadi sangat sunyi.

Tidak ada suara selain dengung halus pendingin ruangan.

Zhao berbicara perlahan, seolah memastikan setiap kata memiliki tempatnya.

“Dokumen ini tidak hanya disusun di tingkat lapangan.”

Ia mengetuk ringan bagian tanda tangan.

“Ini disahkan oleh manajemen operasional.”

Gu tidak langsung bereaksi.

Ia memproses struktur hierarki di dalam pikirannya.

Direktur operasional berarti posisi manajemen menengah-atas. Bukan staf administratif. Bukan pengawas lapangan.

Jika tanda tangan itu asli, maka laporan yang memuat kronologi tidak benar telah melewati meja manajemen tingkat tinggi.

“Apakah ini praktik rutin?” Gu bertanya datar.

“Untuk insiden yang mengakibatkan cedera serius dan potensi klaim kompensasi besar, ya. Biasanya laporan akhir harus mendapatkan otorisasi.”

Zhao menutup laporan perlahan.

“Artinya, manipulasi ini bukan tindakan sepihak seorang mandor.”

Gu berdiri dan berjalan mendekati papan tulis.

Ia menatap dua kolom perbandingan itu.

Masalahnya tidak lagi sesederhana kesalahan di lapangan.

Ini menyentuh jalur komando.

“Dengan tanda tangan ini,” Zhao melanjutkan, “jika kita membuktikan bahwa kronologi dalam laporan tidak sesuai fakta, maka tanggung jawab dapat merambat ke tingkat pengambil keputusan.”

Gu memalingkan wajahnya sedikit.

“Kasus ini menyentuh struktur.”

“Benar.”

Tidak ada euforia. Tidak ada kepuasan berlebihan.

Hanya kesadaran bahwa skala konflik meningkat satu tingkat.

Gu kembali ke kursinya.

Ia menyadari bahwa sejak awal, perkara ini tidak berdiri sendiri. Ada pola penolakan firma hukum sebelumnya. Ada tekanan internal yang membuat banyak pihak enggan terlibat.

Kini alasan itu mulai jelas.

Zhao melipat kedua tangannya di atas meja.

“Kita harus bergerak sistematis. Tidak boleh ada kesalahan prosedural dari pihak kita.”

Gu menjawab singkat, “Semua bukti akan diverifikasi ulang.”

“Baik.”

Zhao menatap laporan itu sekali lagi.

“Tuan Gu, begitu gugatan diperbarui dengan unsur ini, Anda harus siap menghadapi kemungkinan eskalasi. Bukan hanya pembelaan hukum, tetapi juga manuver bisnis.”

Gu menatap lurus ke depan.

“Saya memahami bahwa kekuasaan memiliki lapisan.”

Ia mengucapkannya tanpa nada sinis, tanpa tantangan.

Hanya pernyataan fakta.

Zhao mengangguk pelan.

“Dan kita baru saja menyentuh lapisan berikutnya.”

Di atas meja, tanda tangan direktur operasional itu terlihat jelas di bawah cahaya lampu.

Tinta biru yang tenang.

Cap perusahaan yang resmi.

Sebuah pengesahan.

Gu Yanqing menyadari satu hal dengan sangat jernih:

Jika laporan itu runtuh, yang dipertanyakan bukan hanya prosedur keselamatan.

Yang dipertanyakan adalah integritas manajemen Dongkou Port Group.

Dan begitu pertanyaan itu diajukan secara terbuka, konflik ini tidak lagi berada di tingkat mandor atau pengawas lapangan.

Ia telah naik.

Satu tingkat lebih tinggi.

Babak berikutnya tidak akan memperdebatkan menit dan detik.

Ia akan memperdebatkan tanggung jawab di ruang rapat manajemen.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!